Syekh Ismail Ibnu Ibrahim al-Jabarti berkata:
“Semua kebaikan dikumpulkan di malam hari. Dan tak akan diperoleh kewalian seseorang kecuali di waktu malam.”
Sayyid Abdullah bin Abu Bakar Alaydrus berkata:
“Barangsiapa yang menginginkan kemurnian makrifat, hendaklah selalu menangis (dengan merendahkan diri di hadapan Allah) di waktu tengah malam.”
Sabda Rasulullah Saw :
“(Rahmat) Allah turun ke bumi, pada sepertiga malam terakhir.” Lalu Ia berseru, “Barangsiapa yang berdoa, akan Kukabulkan. Barangsiapa memohon ampun, akan Kuampuni. Barangsiapa meminta, akan Kuberi, Dan barangsiapa bertobat, akan Aku terima tobatnya. Rahmat turun mulai sepertiga malam hingga terbit fajar.”
Andaikata tidak ada hadis lain yang menganjurkan bangun malam selain hadis ini, maka ia telah memadai. Padahal di dalam Al-Qur’an dan as-Sunnah banyak dijumpai anjuran supaya bangun malam itu.
Dengan mengerjakan solat malam para ahli makrifat mendapatkan derajat yang mulia, merasakan nikmatnya dekat dengan Allah, cintanya kepada Allah, lezatnya bermunajat dan berdialog dengan Nya sehingga sebagian orang arif berkata:
“Apabila penghuni surga itu berada dalam keadaan seperti yang kami rasakan saat ini, maka mereka benar-benar berada dalam kehidupan yang baik.”
Orang yang arif lainnya berkata:
“Ahlul Lail (orang yang bangun malam untuk ibadah) mirip ahlul lahwi (orang yang menghabiskan waktunya untuk bersenang-senang) di waktu malam mereka.” (Maksudnya, sama-sama merasakan kenikmatan, pen.)
Orang arif lainnya ada yang berkata:
“Selama empat puluh tahun tidak ada yang menyedihkanku, kecuali terbitnya fajar.”
Kenikmatan solat malam ini tidak dapat dirasakan, melainkan setelah mencicipi kepayahan dan penderitaan di dalam bangun malam tersebut. Sebagaimana perkataan Atbah al-Ghulam:
“Aku telah bersusah solat malam selama dua puluh tahun, sesudah itu baru aku rasakan kenikmatannya selama dua puluh tahun.”
Jika Anda bertanya: “Surat apakah yang kubaca dan berapa jumlah rakaat yang aku kerjakan untuk solat tahajud?”
Jawabnya: Ketahuilah, bahwa Rasulullah Saw tidak memberi aturan khusus mengenai surat yang dibaca ketika solat tahajud. Hanya saja lebih utama membaca Al-Qur’an dengan tertib, sedikit demi sedikit sehingga engkau dapat mengkhatamkannya dalam satu bulan, kurang atau lebih tergantung pada kemampuanmu masing-masing.
Ada beberapa riwayat yang menjelaskan jumlah rakaat, yaitu 7, 9, dan 13 rakaat. Tetapi Rasulullah sendiri paling sering mengerjakan 11 rakaat, jumlah inilah yang lebih patut engkau kerjakan.
Disunnahkan apabila engkau bangun tidur mengusap wajahmu sambil berdoa:
“Segala puji bagi Allah yang menghidupkan kami, setelah mematikan kami. Dan hanya kepada-Nya kami kembali”
Lalu membaca ayat:
“Sesungguhnya tentang kejadian langit dan bumi, dan silih bergantinya siang dan malam itu menjadi tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal, yaitu orang-orang yang mengingat Allah ketika berdiri, duduk, dan waktu berbaring. Dan mereka memikirkan kejadian langit dan bumi sambil berkata, “Ya Tuhan kami tiadalah Engkau menciptakan ini (semua) dengan sia-sia, Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka. Ya Tuhan kami, sesungguhnya orang yang Engkau masukkan ke neraka, maka orang itu telah Engkau hinakan. Dan tiada penolong bagi orang-orang yang berbuat zalim. Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar seruan yang menyeru kepada keimanan, yaitu berimanlah kepada Tuhanmu! Lalu kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa kami dan hapuslah kesalahan kami dan matikanlah kami bersama orang-orang yang baik. Ya Tuhan kami, berikanlah kepada kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui perantaraan para Rasul-Mu dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidaklah ingkar janji.” Lalu Tuhan mereka mengabulkan permohonannya, (seraya berfirman), “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan (pahala) amalan orang yang beramal di antara kamu, baik pria atau wanita. Sebagian dari kamu adalah turunan dari yang lain (sebangsa). Maka orang-orang yang hijrah dan diusir dari negerinya dan disakiti, untuk membela agama-Ku dan mereka yang berperang lalu terbunuh, maka sesungguhnya Aku hapuskan segala kesalahannya dan Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, itu adalah sebagian pahala dari sisi Allah dan di sisi-Nya pahala yang baik.” Janganlah engkau terpedaya oleh kebebasan orang-orang kafir bergerak di dalam negeri. (Yang demikian itu adalah) kesenangan sementara kemudian tempat tinggal mereka adalah jahanam dan itu adalah tempat yang seburuk-buruknya. Tetapi orang-orang yang takwa pada Tuhannya, untuk mereka adalah surga yang mengalir air sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya serta mendapatkan hidayah dari sisi Allah. Dan sesuatu yang di sisi Allah adalah untuk orang-oran yang paling baik. Sesungguhnya di antara orang-orang ahli kitab ada yang beriman kepada Allah dan (terhadap) kitab yang diturunkan kepadamu (yakni Al-Qur’an) dan kepada kitab yang diturunkan kepada mereka (yakni Taurat dan Injil), mereka merendahkan diri kepada Allah. Mereka tidak menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang rendah. Untuk mereka mendapatkan pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah sangat cepat menghisabnya. Wahai orang-orang yang beriman, sabarlah kamu (atas ketaatan dan musibah) dan sabarlah (melawan musuhmu) dan tetaplah (atas semangat jihad). Dan takutlah kepada Allah. Mudah-mudahan kamu berbahagia (dengan masuk surga dan selamat dari api neraka).” (QS. Ali-Imran: 190-200)
Setelah membaca ayat-ayat tersebut, lalu bersiwaklah dan sempurnakanlah wudhumu. Selanjutnya solatlah sunnah dua rakaat dengan cepat. Kemudian solatlah delapan rakaat (dengan niat solat Witir) dengan memperpanjang bacaan-bacaannya dengan dua rakaat satu salam, atau empat rakaat satu salam, dan boleh juga delapan rakaat langsung dengan satu salam.
Jika engkau masih berinisiatif dan bersemangat solat, kerjakanlah solat sunnah sekehendakmu. Kemudian akhiri dengan solat Witir tiga rakaat dengan satu salam atau dua salam. Bacalah surat al-A’la, surat al Kafirun pada rakaat kedua. Dan surat al-Ikhlas, al-Falaq dan an-Nas pada rakaat ketiga. Dan jangan dikira solat Witir yang sebelas rakaat selain dari rakaat yang kami tuangkan dalam paragraf lalu, sama sekali tidak. Dan sesungguhnya tidak ada riwayat dari Rasulullah Saw selain apa yang kami ceritakan kepadamu. Allah Maha Mendengar dan Mengetahui.









One Comment