Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Nashoihul Ibad

10. Enam Hal Sebagai Penguat Bagi yang Lain

Hasan Bashri r.a. berkata:

“Seandarnya tidak ada para wali abdal, maka meledaklah bumi berikut isinya. Seandainya tidak ada orang-orang saleh, maka binasalah orangorang jahat. Seandainya tidak ada ulama, maka semua manusia seperti binatang. Seandainya tidak ada penguasa, maka satu sama lain saling membinasakan. Seandainya tidak ada orang yang lemah, maka hancurlah dunia. Dan seandainya tidak ada angin, maka semua yang ada berbau busuk.”

Menurut Hasan Bashri r.a., ada enam hal sebagai penguat bagi yang lain: 

Pertama: Wali-wali Abdal sebagai penguat bagi dunia.

Tentang jumlah wali Abdal, Nabi saw. bersabda:

“Jumlah Abdal adalah empat puluh orang, dua puluh orang ada di Syam dan delapan belas orang ada di Irak. Apabila salah seorang di antara mereka meninggal dunia, maka Allah akan menggantikannya dengan yang lain pada posisinya. Apabila sudah datang suatu urusan (kiamat), maka semua abdal meninggal dunia, pada waktu itulah akan terjadi kiamat.” :  (H.R. Hakim).

Dalam suatu riwayat Nabi saw. bersabda:

“Bumi tidak akan sepi dari 40 orang seperti kekasih Allah Maha Penyayang, karena mereka diturunkan air hujan dan karena mereka diberi pertolongan, tiada seorang pun di antara mereka yang meninggal dunia, melainkan Allah menggantikannya denga n yang lain pada bosisinya.”  (H.R. Thabrani).

Pada hadis lain diriwayatkan, Nabi saw. bersabda:

“Tiga hal, barangsiapa memilikinya, maka termasuk wali Abdal, yaitu rida menerima ketentuan Allah, sabar dalam menyingkiri laranganlarangan Allah, marah karena Allah.” (H.R. Ibnu Adi).

Kedua: Orang-orang yang saleh sebagai penguat bagi orang-orang yang berbuat kerusakan.

Ketiga: Ulama sebagai penguat semua manusia, andaikata tidak ada ulama, maka semua manusia seperti binatang.

Abu Laits berkata: “Barangsiapa yang duduk di sisi orang alim dan tidak mampu menghafal ilmu sedikit pun, maka dia akan tetap mendapat tujuh keramat, yaitu pertama, mendapat keutamaan orang yang belajar. . Kedua, terpelihara dari dosa. Ketiga, turun rahmat kepadanya ketika dia keluar dari rumahnya. Apabila rahmat turun kepada kelompok tersebut, maka mereka mendapat suatu bagian rahmat. Keempat, akan dicatat sebagai ketaatan, selama dia mendengarkannya. Apabila hatinya sempit karena tidak paham, maka kebingungannya menjadi perantara ke hadirat Allah swt. Kelima, dia akan melihat keagungan orang alim. Keenam, dia akan melihat kehinaan orang fasik, sehingga tabiatnya akan cenderung pada ilmu. Ketujuh, hatinya akan menolak perbuatan fasik.”

Keempat: Penguasa sebagai penguat rakyat, karena bila tidak ada penguasa, maka satu sama lain saling membinasakan.

Kelima: Orang yang lemah: sebagai penguat isi dunia, andaikan tidak ada orang yang lemah, maka hancurlah dunia.

Keenam: Angin sebagai penguat perkara yang akan berbau. Andaikan tidak ada angin, maka semua yang ada berbau busuk.

11. Enam Macam yang Harus Ditakuti

Sebagian ahli hikmah berkata:

“Barangsiapa yang tidak takut kepada Allah, maka tidak akan selamat dari tergelincir lisan, siapa yang tidak takut bertemu dengan Allah, maka hatinya tidak terelak dari haram dan subhat: siapa yang tidak putus harapannya dari makhluk, maka dia tidak akan selamat dari . kerakusan, barangsiapa yang tidak memelihara amalnya, maka tidak akan selamat dari perbuatan riya. Siapa yang tidak memohon pertolongan kepada Allah, agar dipelihara hatinya, maka tidak akan selamat dari hasud, siapa yang tidak melihat kepada orang yang lebih utama ilmu dan perbuatannya, maka dia tidak akan selamat dari ujub.”

Orang yang tidak takut kepada Allah, maka dia tidak akan selamat dari terpelesetnya lidah. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Keuntungan besar bagi orang yang dapat mengendalikan lisannya merasa cukup luas berada di rumah. sendiri, dan menangis karena menyesali kesalahan perbuatannya.” (H.R. Thabrani).

Orang yang tidak takut bertemu dengan Allah, maka hatinya tidak akan selamat dari yang haram dan subhat.

Tentang haram dan subhat. Haram ada dua macam:

  1. Haram karena zatnya, yaitu barang-barang yang zatnya memang – haram, seperti darah, bangkai (selain hati dan limpa dan selain bangkai ikan dan belalang) dan sebagainya. Barang haram dalam kelompok ini bagaimanapun tetap haram. Ia dapat. dihalalkan, jika dimakan sekadar untuk mempertahankan nyawa.
  2. Haram sebab lain, yaitu barang-barang yang zatnya sendiri halal, tetapi ia diharamkan karena ada faktor-faktor dari luar. Misalnya air dan nasi, zat keduanya adalah halal, tetapi bisa menjadi haram karena faktor dari luar, misalnya didapat dari hasil pencurian.

Akan halnya subhat, ia ada tiga macam, yaitu:

  1. Sesuatu yang diyakini keharamannya, dan masih diragukan apakah ia memang halal. Untuk yang demikian ini, dihukumi haram.
  2. Sesuatu yang diyakini kehalalannya, dan masih diragukan apakah ia memang haram. Untuk yang demikian ini, jika ditinggalkan termasuk perbuatan warak.
  3. Sesuatu yang belum jelas halal-haramnya. Hal yang seperti ini, seyogianya ditinggalkan.

Dalam masalah menghadapi subhat, Nabi bersabda:

“Tinggalkanlah apa-apa yang meragukanmu, ambillah yang tidak meragukanmu, karena benar adalah menenangkan dan dusta adalah meragukan.” (H.R. At-Tirmidzi).

Menurut Syekh Hamzawi, maksud hadis ini ialah: Tinggalkanlah segala sesuatu yang masih anda ragukan kehalalannya untuk memungut sesuatu yang lain, yang tidak diragukan lagi kehalalannya.

Orang yang tidak putus harapan dari makhluk, niscaya terjerumus ke dalam kerakusan. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Mohonlah olehmu perlindungan kepada Allah dari sikap tamak yang membawa pada kekejian itu, tamak yang menuntun pada sesuatu yang tidak dapat diharapkan, dan tamak yang semestinya tidak usah ditamakkan.” (H.R. Imam Ahmad, Ath-Thabrani dan Al-Hakim).

Orang yang tidak memelihara amalnya, maka tidak akan selamat dari perbuatan riya. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda:

“Janganlah mencampurkan taat kepada Allah dengan menginginkan dipuji oleh manusia, maka rusaklah amalmu.” (H.R. Ad-Dailami).

Orang yang tidak memohon pertolongan kepada Allah untuk menjaga hatinya, maka dia tidak akan selamat dari perbuatan hasud. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Perbuatan dengki dapat merusakkan iman, seperti jadam madu.” (H.R. Dailami).

Orang yang tidak melihat kepada orang yang lebih utama ilmu dan amalnya, maka dia tidak akan selamat dari perbuatan sombong. Dalam suatu riwayat Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang memuji dirinya melakukan amal saleh, maka sungguh sesatlah syukurnya, dan rusak amalnya.” (H.R. Abu Nu’aim).

Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Bukan perbuatan baik, seseorang menampakkan ucapan dengan lidahnya, sedang ujubnya melekat dalam hatinya.” (H.R. Daruquthni).

Diriwayatkan pula, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya ujub akan merusak amal selama tujuh puluh tahun.” — (H.R. Dailami).

12. Enam Faktur Penyebab Kerusakan Hati

Dari seorang tabiin terbesar, Hasan Al-Basri r.a., dia berkata:

“Sesungguhnya kerusakan hati itu disebabkan oleh enam hal: Pertama, mereka sengaja berbuat dosa dengan harapan dapat tobat: kedua, mereka menuntut ilmu, tapi tidak mengamalkannya: Ketiga, jika mereka mengamalkannya, namun tidak ikhlas: keempat, mereka makan rezeki dari Allah, namun tidak bersyukur, kelima, mereka tidak rela dengan bagian dari Allah, keenam, mereka mengebumikan orang-orang mati, namun tidak mau mengambil pelajaran daripadanya.”

Ilmu yang tidak ditindaklanjuti dengan pengamalan, tidak berguna, karena buah ilmu justru pada pengamalannya itu. Tentang pengamalan yang tanpa ikhlas, berarti pengamalan itu bohong, karena ketidak bohongan itu pangkal, sedang ikhlas merupakan cabangnya. Di antara doa Imam Ahmad bin Hanbal adalah sebagai berikut:

“Wahai, Zat yang menunjukkan kepada orang yang bingung, tunjukkanlah aku ke jalan orang-orang yang benar dan jadikanlah aku ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang ikhlas.”

Mengenai syukur terhadap rezeki yang dianugerahkan Allah. Maksud syukur di sini ialah memperlakukan seluruh anggota tubuhnya pada jalan rida Allah dan membelanjakan hartanya pada jalan itu pula.

Sehubungan dengan sikap rela menerima bagian dari Allah, Syekh Abdul Oadir Al-Jailani berkomentar: “Relakanlah dirimu dalam menerima sesuatu yang sedikit dan bersungguh hatilah dalam sikap itu, niscaya kamu akan berpindah pada yang.lebih tinggi dan lebih baik, dengan perasaan senang itu, kamu akan bahagia, tenteram dan terpelihara, tidak merasa lelah di dunia dan akhirat, kemudian kamu akan meningkat lagi pada yang lebih kamu senangi.”

Tentang mengambil pelajaran dari kematian, Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya kuburan adalah awal tempat akhirat, jika seseorang selamat dari kubur, maka lebih mudah untuk tahap selanjutnya. Jika : seseorang tidak selamat dari kubur, maka untuk tahap selanjutnya lebih susah.” (H.R. At-Tirmidzi, Ibnu Majah dan Al-Hakim).

Pada hadis lain, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya mati itu mengejutkan, apabila saudaramu ” mati, ucapkanlah, ‘Sesungguhnya kami kepunyaan Allah dan kami kembali kepada-Nya, dan sungguh kami kembali kepada Tuhan kami. Ya, Allah, ya, Tuhan kami, catatkanlah dia beserta orang-orang yang berbuat baik di sisi-Mu dan simpanlah bukunya Ji ‘Illiyin dan gantilah keturunannya dengan yang lain. Ya, Allah, ya, Tuhan kami, janganlah Engkau mencegah pahalanya kepada kami dan janganlah Engkau menguji kami setelah kematiannya” ” (H.R. AthThabrani).

Selain hadis tersebut, diriwayatkan Nabi saw. “bersabda:

“Barangsiapa yang mendengar orang muslim meninggal dunia, kemudian ia mendoakan kebaikan, maka Allah akan mencatat baginya pahala orang yang melayat di waktu hidupnya dan orang yang mengantarkan ke kuburan waktu meninggalnya.” (H.R. Ad-Darugutni).

13. Enam Siksaan bagi Ahli Dunia

Hasan Al-Basri berkata:

“Barangsiapa yang mengharapkan dunia dan memilih dunia daripada akhirat, maka Allah akan menyiksa dengan enam siksaan, tiga siksaan di dunia dan tiga lainnya di akhirat. Adapun tiga siksaan di dunia adalah berangan-angan tanpa batas, sangat rakus tanpa kecukupan, dan diambil darinya manisnya ibadah. Adapun tiga siksaan yang ditimpakan di akhirat, yaitu ketakutan pada hari Kiamat, hisab yang sangat dahsyat dan penyesalan yang tidak berkesudahan.”

Menurut Hasan Al-Bashri, orang yang memilih dunia dan meninggalkan akhirat, maka baginya ada enam siksaan, tiga siksaan di dunia dan tiga lainnya di akhirat. Adapun tiga siksaan di dunia, yaitu:

  1. Berangan-angan yang tanpa ada batasnya. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Kaitan antara manusia, lamunan dan ajal kematian, adalah semisal kematian di sebelahnya dan lamunan ‘di depannya, sementara itu mengejar lamunan di depannya, sekonyong-konyong kematian datang dan menerkamnya.” (H.R. Ibnu Abi Dunya).

Pada hadis lain diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Banyak orang yang menghadapi hari depan tidak dapat menyempurnakan dan banyak orang menunggu hari esok tidak dapat sampai. Kalau kamu melihat ajal di perjalanannya, maka kamu akan membenci anganangan dan tipu dayanya.” (H.R. Ad-Dailami).

  1. Sangat rakus tanpa pernah merasa cukup. Kerakusan dapat membuang keutamaan jiwa, mencegah kesempurnaan ibadah dan membangkitkan hajat pada yang subhat. Orang yang rakus tidak mempunyai tujuan tertentu yang ditunggu dan tiada ujung yang terbatas dianggap cukup. Karena apabila ia sampai pada anganangannya dengan kerusakan, maka hal itu mendorong untuk lebih rakus dan lebih berangan-angan.
  1. Diambil darinya manisnya ibadah, karena dunianya itu menyibukkannya dari akhirat.

Adapun tiga siksaan yang ada di akhirat, yaitu:

  1. Pada hari Kiamat akan menemukan urusan yang menakutkan dan mengejutkan.
  2. Hisaban yang sangat dahsyat.
  3. Penyesalan yang tidak berkesudahan, artinya kesedihan yang lama.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker