25. Lima Perkara yang Menyesatkan
Sebagian ahli ibadah mengatakan dalam munajatnya:
“Oh, Tuhanku, lamunan yang melantur telah menipu aku, kecintaan terhadap duniawi telah merusak diriku, setan juga menyesatkan jalanku, hawa nafsu pendorong kejahatan itu telah menghalang-halangi aku dari kebenaran, dan teman yang jahat telah membantu aku melakukan maksiat, maka tolonglah aku, wahai, Tuhan, penolong terhadap mereka yang mohon pertolongan dan jika Engkau tidak memberiku rahmat, maka siapa lagi selain Engkau yang dapat merahmati aku.”
Lima hal yang dikemukakan oleh sebagian ahli ibadah kepada Allah SWT., yaitu:
- Lamunan yang melantur telah menipunya, Allah swt. mencela dengan firman-Nya: “
“Biarkanlah mereka di dunia mi makan dan bersenang-senang dan dilalaikan oleh angan-angan (kosong), maka kelak mereka akan mengetahui akibat perbuatan mereka.” (Q.S. Al-Hjjr: 3).
- Kecintaan terhadap duniawi telah menjerumuskannya ke dalam kecelakaan. Diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda: ‘
“Barangsiapa hatinya diracuni kecintaan dunia, maka melekat padanya tiga perkara: Sengsara yang tiada akhir deritanya, tamak yang tidak berkepuasan dan lamunan yang berkepanjangan tanpa arah tujuannya.” (H.R. Ath-Thabrani).
Setan telah menyesatkannya ke jalan yang menyimpang. Hawa nafsu pendorong kejahatan telah menghalang-halanginya dari kebenaran. Ali r.a. berkata: Aku merasa khawatir terhadap kamu dengari dua perkara, yaitu mengikuti keinginan nafsu dan panjang angan-angan. Sesungguhnya mengikuti keinginan nafsu akan menghalangi dari yang hak (benar) dan panjang angan-angan akan menjadikan lupa akhirat.
Sulaiman Ad-Darani berkata: Amal yang utama adalah menyalahi keinginan nafsu.
Teman yang jahat telah membantunya melakukan maksiat, Adi bin Zaid mengatakan dalam syairnya dari Bahar Thawil:
Janganlah bertanya tentang kelakukan seseorang,
namun bertanyalah tentang kelakuan temannya
Karena setiap manusia
mengikuti kepada yang menemaninya.
Apabila kamu berada dalam suatu kaum,
maka bertemanlah kamu dengan orang-orang pilihan mereka
Janganlah kamu berteman dengan orang yang celaka,
karena engkau akan menjadi celaka bersamanya.
26. Di Akhir Zaman Orang Akan Mencintai Lima Hal dan Melupa kan Lima yang Lain
Nabi saw. bersabda:
“Akan datang saatnya, di mana umatku menggemari lima hal dan melupakan lima yang lain: Menggemari duniawi dan melupakan ukhrawi, menggemari hidup dan lupa mati, menggemari gedung-gedung bermahligai dan lupa kubur, menggemari harta benda dan melupakan hisab dan mereka mencintai makhluk dan melupakan Khalik, Allah swt.”
Di akhir zaman, umat akan mencintai lima perkara dan melupakan lima perkara, yaitu:
Mencintai dunia dan melupakan akhirat. ‘ .
Menggemari hidup dan melupakan mati. Dari Aisyah, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Barangsiapa yang membaca ‘Allahamma baarik lii fii mauti wa fiimaa ba’dal maut’ (ya, Allah, berkatilah saya dalam kematian dan sesudahnya) setiap hari dua puluh lima kali, kemudian dia mati di atas tempat tidurnya, maka Allah memberikan kepadanya pahala orang yang mati syahid.” (H.R. Ath-Thabrani).
Mencintai gedung-gedung, yakni rumah-rumah yang dibentengi dan melupakan kubur dan kesusahan-kesusahannya.
Menggemari harta benda dan melupakan hisab. Diriwayatkan, sesungguhnya Nabi « saw. bersabda:
“Zuhud ialah kamu mencintai apa-apa yang dicintai Penciptamu dan kamu benci terhadap apa-apa yang dibenci Penciptamu, kamu keluar dari dunia yang halal seperti kamu keluar dari dunia yang haram, karena halalnya menjadi hisaban, dan yang haramnya menjadi siksaan, kamu harus menyayangi orang-orang muslim, seperti kamu menyayangi . dirimu sendiri, kamu harus mencegah dari perkataan yang tidak bermanfaat bagimu, seperti kamu mencegah dari perkara yang haram, kamu harus mencegah dari makan yang banyak, seperti kamu mencegah dari harta duniawi dan hiasannya, seperti kamu mencegah dari api dan kamu harus memendekkan angan-anganmu tentang dunia, maka inilah zuhud di dunia.” (H.R. Ad-Dailami).
Mencintai makhluk dan melupakan Khalik, Allah swt. Apabila seseorang berangan-angan, dia lupa akan mati, kesusahan-kesusahan di akhirat, cinta pada dunia dan bergaul dengan makhluk, hatinya menjadi keras, sehingga meninggalkan kewajiban, bermalas-malasan untuk mencari bekal di akhirat dan memperlambat berbuat tobat. Rasulullah saw. melewati suatu majelis yang di dalamnya terdengar suara terbahak-bahak, beliau bersabda:
“Kamu harus mencampurkan majelis-majelismu dengan perkara yang mengeruhkan kelezatan-kelezatan.” Mereka bertanya: “Apakah yang mengeruhkan kelezatan-kelezatan itu?” Beliau bersabda: “Maut.”
27. Lima Keindahan yang Ditopang oleh Lima Perkara
Yahya bin Mu’adz Ar-Razi berkata dalam munajatnya:
“Oh, Tuhanku, tiada indah suatu malam, kecuali dengan bermunajat kepada-Mu: tiada indah suatu sinar, kecuali berbuat taat kepada-Mu: tiada indah suatu siang, kecuali berbuat taat kepada-Mu: tiada indah dunia ini, kecuali dengan menyebut (berzikir) kepada-Mu, tiada indah akhirat, kecuali bersamaan ampunan-Mu, dan tiada surga, melainkan dengan melihat wajah-Mu.”
Tentang keindahan duniawi, secara gamblang dapat dipahami dari Nabi saw.:
“Sesungguhnya dunia itu terlaknat, dan terlaknat pula seluruh isinya, kecuali perbuatan mengingat/zikir Allah dan yang sepadan dengannya serta orang alim dan orang belajar.” (H.R. An-Nasai).
Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:
“Setelah Allah’menurunkan Nabi Adam dari surga ke arcapada (bumi), maka susahlah segala sesuatu yang semula mendampinginya, kecuali emas dan perak: kemudian Allah berfirman pada benda tersebut: ‘Aku mendampingkan engkau pada hamba-Ku, kemudian hamba itu Aku lepas dari sampingmu dan semua pihak yang semula mendampinginya, merasa susah karenanya kecuali engkau berdua.’ Dua benda itu pun menjawab: “Tuhan kami, Engkau Maha Mengetahui, bahwa Justru membuat kami berdua berdampingan dengannya selagi ia menaatiMu, dan setelah itu ia pun durhaka kepada-Mu, maka kami tidak merasa susah atas nasib selanjutnya.’ Lalu Allah berfirman kepada keduanya: ‘Demi ketinggian-Ku dan Keagungan-Ku, niscaya aku akan .membuat-Mu berharga, sehingga tidak dapat diperoleh segala sesuatu melainkan denganmu berdua’.” (H.R. Ad-Dailami).
Ali -karramallahu wajhahu wa radhiyallaahu ‘anhumengatakan dalam munajatnya, dalam syair dari Bahar Waafir: .
Oh……….
Bukankah dengan anugerah-Mu itu
Engkau telah meridengar doa seorang hamba yang lemah dan dirundung petaka
Yang tenggelam di dalam lautan kesusahan karena sedih yang tertawan oleh dosa-dosa dan kesalahan
Aku menyeru setiap hari dengan rendah hati seraya mengagungkan nama-Mu dalam menyanjung dan berdoa kepada-Mu
Sesungguhnya bumi seluruhnya terasa sempit olehku dan seluruh penduduk bumi juga tidak mengetahui obat untukku
Tolonglah daku
Sesungguhnya aku memohon ampun kepada Engkau
Wahai, Zat Yang Maha Agung
Wahai, Zat Yang aku harapkan!
Aku datang kepada Engkau sambil menangis
kasihanilah tangisku
maluku kepada Engkau lebih banyak daripada kesalahanku
Aku mempunyai kesusahan hanya Engkau-lah yang mampu membuka kesusahanku
Aku mempunyai penyakit hanya Engkau-lah obat penyakitku
Aku tergugah oleh harapanku maka kukatakan, wahai, Tuhanku! Harapanku, semoga Engkau mewujudkan harapanku .
Balasan kepadaku adalah siksaan yang Engkau timpakan kepadaku ‘tetapi aku tetap berlindung dengan kebaikan anugerah-Mu
Wahai, Zat, yang aku harapkan ampunilah aku, wahai, Tuhanku, karena cekaman bencana tengah menimpaku.









One Comment