BAB VII NASIHAT TENTANG DELAPAN PERKARA
Bab ini terdiri atas lima nasihat, yaitu satu hadis dan selebihnya atsar.
1. Delapan Perkara yang Tidak Pernah Merasa Kenyang dari Delapan Hal .
Nabi saw. bersabda:
“Delapan perkara yang tidak pernah merasa kenyang dari delapan hal, yaitu: Mata tidak pernah kenyang dengan melihat, bumi tidak pernah kenyang dari curah hujan, wanita tidak pernah kenyang dari laki-laki, orang alim tidak pernah kenyang dengan ilmu, peminta tidak pernah kenyang dengan permintaan, orang rakus tidak pernah kenyang dengan penumpukan harta, laut tidak pernah kenyang dengan air, dan api tidak pernah kenyang dengan kayu bakar.”
Dalam hubungannya dengan pernyataan, bahwa orang alim tidak pernah merasa kenyang dengan ilmu yang dimilikinya, berarti selalu ingin memperoleh ilmu lebih lanjut. Syarat yang dapat menyempurnakan ilmu, yang perlu diperhatikan oleh seorang penuntut ilmu agar sukses citacitanya:
- Akalnya berkemauan untuk menyingkap hakikat permasalahan.
- Kecerdasannya mampu mengilustrasikan detail ilmu pengetahuan.
- Daya ingatan yang kuat untuk menghafal segala sesuatu yang pernah tergores dalam benaknya dan yang dapat dipahami dari ilmunya.
- Antusias yang mengabadikan semangat belajar dan tidak merasa bosan.
- Membatasi diri pada bahan yang tidak terlalu berat untuk dipelajari.
- Memperoleh kesempatan yang memungkinkan dicapai intensifikasi belajar dan kuantitas yang sebanyak-banyaknya.
- Terhindar dari rintangan-rintangan yang membuat kendornya belajar, baik berupa keresahan maupun penyakit.
- Panjang umur dengan tempo belajar yang luas, sedemikian rupa agar dapat belajar sebanyak-banyaknya untuk mencapai tingkat yang sesempurna mungkin.
- Beruntung dapat memperoleh guru alim yang murah hati dengan ilmunya, lagi pula telaten dalam memberikan pelajaran.
Apabila sembilan syarat ini sempurna atau terpenuhi, maka dia adalah siswa yang paling sukses. Syekh Iskandar berkomentar dalam hal ini:
“Orang yang menuntut ilmu itu membutuhkan empat perkara, yaitu: Waktu, kesungguhan, akal dan minat. Untuk lebih sempurnanya ditambah satu lagi, yaitu guru yang bijaksana.”
Tentang kegemaran meminta-minta, Nabi saw. bersama:
“Barangsiapa membuka permintaan, maka Allah akan membuka pintu kefakiran baginya di dunia dan akhirat. Barangsiapa yang membuka pintu pemberian karena mencari rida Allah, maka Allah akan memberikan kepadanya kebaikan di dunia dan di akhirat.” (H.R. Ibnu Jarir).
Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Tiada seseorang yang membuka pintu permintaan untuk dirinya sendiri di mana ia meminta sesuatu kepada manusia, melainkan Allah membukakan pintu kefakiran buatnya, karena perbuatan menahan diri dari meminta itu lebih bagus.” (H.R. Ibnu Jarir).
Orang rakus tidak pernah kenyang dengan tumpukan harta. Perlulah diketahui, bahwa dunia terdiri atas tiga macam, yaitu: Dunia yang mengandung pahala, dunia yang mengandung hisab dan dunia yang mengandung siksa. Dunia yang mengandung pahala, ialah dunia yang menjadi perantara untuk menyampaikan kebaikan dan menyelamatkan dari kejahatan. Dunia semacam itu, adalah pemberian untuk orang mukmin dan merupakan ladang untuk akhirat, itulah dunia yang halal yang mencukupinya. Dunia yang mengandung hisab adalah dunia yang menyibukkan dari melaksanakan perintah Allah, pada waktu mencarinya tidak bercampur dengan perkara yang dilarang. Dunia yang mengandung siksa, adalah dunia yang dapat memutuskan dari melaksanakan perintah Allah, dan menyeret pada pelanggaran larangan-larangan Allah swt.
Ketahuilah, bahwa banyak orang yang mencari dunia dengan bermacam-macam cara, antara lain yaitu:
- Orang mencari dunia (harta) dengan niat menggunakannya nanti untuk menyambungkan tali kerabat dan menyumbang mereka yang kekurangan. Orang terbilang dermawan, ia mendapat pahala jika kenyataan perbuatannya sesuai dengan niat tersebut. Tetapi tidak ada hikmah baginya, karena orang yang bijak bestari itu tidak pernah mencari sesuatu yang belum jelas apa yang terjadi di kala sesuatu tersebut telah diperoleh.
- Orang yang mencari dunia (harta) dengan niat memenuhi kehendak seleranya, dan bermewah-mewah dengan berbagai kelezatan. Orang ini terbilang kelompok binatang.
- Orang mencari harta dengan niat gagah-gagahan dan persaingan serta kesombongan, maka orang seperti ini dianggap orang yang dungu, yang teperdaya, bahkan orang yang celaka.
2. Delapan Perhiasan
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata:
“Tidak meminta-minta adalah hiasan kefakiran, bersyukur adalah perhiasan nikmat, sabar adalah perhiasan bencana, tawaduk adalah perhiasan leluhur: sikap penyantun menjadi hiasan ilmu, rendah hati menjadi hiasan penuntut ilmu: meninggalkan pemberian adalah perhiasan kebaikan: dan khusyuk adalah perhiasan salat.”
Menurut Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a., ada delapan perhiasan bagi delapan perkara:
Pertama, tidak meminta-minta adalah perhiasan kefakiran. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Bingkisan orang mukmin di dunia adalah kefakiran.” “ (H.R. Ad-Dailami). :
Kedua, syukur adalah perhiasan nikmat. Bersyukur penyebab kekalnya berbagai nikmat yang telah ada dan perantara untuk mendapatkan nikmat yang belum ada.
Ketiga, sabar adalah perhiasan bencana. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Sabar itu menjadi penutup berbagai kebingungan dan menolong berbagai urusan.” Ali bin Abi Thalib r.a. berkata:
“Kesabaran adalah kendaraan yang tidak pernah terjerembab. Dan qanaah adalah pedang yang tidak pernah tumpul.”
Keempat, sopan santun adalah hiasan leluhur, yaitu segala sesuatu yang menjadi kebanggan manusia, baik berupa nasab, agama, harta benda, kemurahan hati maupun keberaniannya. Di antara tanda-tanda tawaduk (sopan santun), adalah suka merendahkan diri dan menerima kebenaran dari mana pun-datangnya, baik dari atasan maupun bawahan.
Kelima, sikap penyantun, sebagaimana dijelaskan dalam hadis Nabi saw. sebagai berikut:
“Bahwa seorang perempuan dari tawanan berbicara kepada Nabi saw., kemudian Nabi saw. bertanya kepadanya: ‘Siapa kamu?” Dia menjawab: ‘Anak seorang laki-laki yang pemu ‘ah, yaitu Hatim.’ Kemudian Nabi saw: berkata: ‘Kasihanilah kaum yarg mulia, kemudian diajatuh hma, kasihanilah orang yang kaya, kemudi ia fakir, kasihanilah orang alim yang terlantar di tengah-tengah orang bodoh.”
Keenam, rendah hati adalah perhiasan orang yang menuntut ilmu. Mengenai kemuliaan penuntut ilmu, Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang keluar untuk mencari ilmu, maka Allah akan membukakan kepadanya pintu ke surga, dan malaikat merentangkan sayapnya, dan untuknya pula para malaikat penghuni langit serta ikanikan di laut memohonkan rahmat kepada Allah.” (H.R. Abu Ya’la).
Ketujuh, tidak menerima pemberian adalah perhiasan kebaikan, yakni perbuatan yang baik.
Kedelapan, khusyuk adalah perhiasan salat, yaitu rasa takut yang terusmenerus di dalam hati.









One Comment