2. Sepuluh Anugerah yang Sangat Berharga
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata:
“Tidak ada seorang hamba yang dianugerahi sepuluh hal, melainkan ia akan selamat dari berbagai bencana dan penyakit, dia sederajat dengan Mugarraabin serta ia akan mendapatkan derajat orang yang bertakwa, yaitu: Pertama, jujur yang terus-menerus disertai hati yang qanaah (puas dengan apa yang ada). Kedua, kesabaran yang sempurna disertai dengan rasa syukur yang terus-menerus. Ketiga, kefakiran yang abadi yang diikuti dengan sikap zuhud. Keempat, berpikir yang terusmenerus disertai dengan perut lapar. Kelima, keprihatinan yang abadi diikuti dengan takut yang terus-menerus. Keenam, kerja keras yang terus-menerus disertai sikap rendah diri. Ketujuh, keramahan yang terus-menerus disertai dengan kasih sayang. Kedelapan, cinta yang terus-menerus disertai rasa malu. Kesembilan, ilmu yang bermanfaat diikuti dengan pengamalan yang terus-menerus. Kesepuluh, iman yang langgeng yang disertai dengan akal yang kuat.”
Yang dimaksud dengan Mugarrabin di sini, ialah orang yang dekat dirinya kepada Allah. Sedang Muttagin (orang yang bertakwa), ialah mereka yang meninggalkan kemauan hawa nafsu dan menyingkiri semua larangan Allah.
Kejujuran adalah Permulaan kebahagiaan. Dan ada dikatakan:
“Barangsiapa yang sedikit kejujurannya, maka sedikit temannya.” ..
Tentang kesabaran, Nabi saw. bersabda:
“Iman yang paling utama, adalah sabar dan murah hati.” (H. R. Ad-Dailami).
Diriwayatkan pula, bahwa Nabi s: saw. bersabda:
“Sebaik-baik senjata orang mukmin, adalah sabar dan doa”
Dalam hubungannya dengan sikap puas dan syukur dengan apa yang ada, lebih jauh Sayid Syekh Abdul Qadir berkata: “Bagaimana dapat dibilang baik, jika anda mengagumi amal-amal kebajikan sendiri dan merasa bahwa semua itu karena kesanggupan diri sendiri serta minta pahala untuk itu, padahal semuanya ini karena taufik Allah dan anugerahNya. Kalau toh anda menyingkiri maksiat, maka itu juga karena bimbingan Allah. Kapan lagi anda mau bersyukur atas semua itu, dan kapan pula anda akan mengakui kenikmatan-kenikmatan Allah yang ditumpahkan buat anda. Allah adalah yang menitahkan anda, menitahkan perbuatan anda berikut segala bentuk usaha anda. Anda hanyalah yang berusaha dan Allah-lah Yang Maha Pencipta.”
Tentang kefakiran, Nabi saw. bersabda:
“Wahai, golongan orang fakir, buatlah hati kalian rela pada (takdir) Allah, maka kalian akan beroleh pahala kefakiran kalian, jika tidak rela, maka tiada pahala bagi kalian.” –
Sementara itu, segolongan hukama mengatakan: Kecukupan dirimu dari sesuatu lebih bagus daripada kebutuhanmu kepadanya.
Mengenai terus-menerus berpikir, Nabi saw. bersabda:
“Berpikirlah tentang segala sesuatu, tapi jangan berpikir tentang Zat Allah, karena terdapat tujuh ribu cahaya di antara langit ke tujuh sampai Kursi Allah dan Allah di atas itu semua.”
Dalam riwayat lain, Nabi saw. bersabda:
“Allah menyayangi suatu kaum yang mereka disangka orang lain sakit, “ padahal mereka itu tidak sakit.” (H.R. Ibnu Mubarak).
Dalam hubungannya dengan terus-menerus prihatin dan takut kepada Allah, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Seandainya kalian mengetahui apa yang ada pada Allah buat kalian, pasti kalian senang untuk bertambah fakir dan butuh.” (H.R. At-Tirmidizi).
Diriwayatkan pula, bahwa Nabi saw. bersabda: ‘
“Telah cukup membuktikan ilmu seseorang bila ia takut kepada Allah, dan cukup membuktikan kebodohannya bila ia mengagumi amal perbuatannya sendiri.” | (H.R. Al-Baihaqi).
Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya yang masuk ke surga hanyalah: orang yang mengharapkannya dan sesungguhnya orang yang menjauhi neraka hanyalah orang yang takut terhadapnya dan sesungguhnya Allah hanya . merahmati orang yang penyayang.”
Adapun tawaduk (rendah hati), diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Bersikap tawaduk dan bergaullah bersama orang-orang miskin, maka anda menjadi.masuk kelompok warga besar Allah dan keluar dari sikap kesombongan.” (H.R. Abu Nu’aim).
Syekh Abdul Qadir Al-Jailani berkata:
“Bila kamu memerangi nafsumu dan kamu membunuhnya dengan senjata yang berupa pembangkangan terhadap ajakannya, maka Allah akan menghidupkan nafsu itu kembali, dan ia pun menyerangmu kembali dan mengajakmu pada berbagai kesenangan dan kelezatan, supaya kamu kembali memeranginya dan Allah mencatat pahala yang terus-menerus bagimu karenanya.”
Hal itu sesuai dengan firman Allah swt.:
“Beribadahlah kepada Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan,” (Q.S. Al-Hijr: 99).
Maksud ayat ini ialah: Tentang jiwamu, wahai, makhluk yang paling mulia sampai datang kepadamu mati. Nafsu disebut nafsu, karena bertentangan dengan ibadah, nafsu enggan beribadah dan ia mengharapkan yang bertentangan dengan ibadah.
Mengenai sikap kasih sayang, disebutkan dalam hadis:
“Sesungguhnya Allah mencurahkan kasih sayang-Nya kepada hambahamba-Nya yang penyayang.”
– Tentang cinta kepada Allah berikut malu kepadaNya, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Apakah kamu sekalian suka untuk masuk ke surga?” Mereka berkata: “Ya, wahai, Rasulullah.” Rasul bersgbda: “Sedikitkanlah angan-angan kalian dan tetapkanlah ajal kalian di depan mata, dan malulah kalian kepada Allah dengan sebenarnya.” Mereka berkata: “Wahai, Rasulullah, kami semua malu kepada Allah.” Rasulullah saw. bersabda: “Malu kepada Allah bukan begitu, akan tetapi malu kepada Allah tidak lupa pada kuburan dan kehancuran tubuh, tidak melupakan perut dan makanan yang dikandungnya dan kalian jangan melupukan kepala dan apa yang dipikirkannya. Barangsiapa yang menginginkan kemuliaan akhirat, dia akan meninggalkan perhiasan dunia, saat itulah seorang hamba merasa malu kepada Allah dan di situ pula ia mendapat pertolongan dari Allah.” ‘ (H.R. Abu Nu’aim).
Tentang ilmu dan pengamalannya, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Pelajarilah ilmu apa pun yang engkau mau mempelajarinya dan Allah tidak membuat ilmu bermanfaat untukmu sehingga engkau mau mengamalkan ilmu yang telah engkau pelajari itu.” (H.R. Ibnu Adi).
Diriwayatkan juga, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Afat kejuaraan adalah aman dipuji secara berlebihan, afat keberanian adalah: kegemaran menyimpang dari kebenaran, afat kemurahan adalah menyebut-nyebut pemberian, afat kecaruikan adalah kesukaan mejeng, afat ibadah ialah menghentikannya, afat omongan ialah dusta, afaz ‘ilmu talah lupa, afat sikap murah haw talah sikap tolol, afat kedudukan adalah kesombongan dan afat kedermawanan adalah pengeluaran secara berlebihan.” (H.R. Al-Baihaqi).
Mengenai akal yang kuat/tangguh, hendaklah diketahui bahwa akal itu sumber peradaban. Sebagian sastrawan berkata:
“Sebaik-baik anugerah adalah akal dan sejelek-jelek musibah adalah kebodohan.”
Sebagian sastrawan berkata pula:
“Teman setiap orang ialah akalnya, dan musuhnya ialah kebodoharnya dan sungguh Allah telah menjadikan akal sebagai pokok dan tiang agama.”









One Comment