BAB II NASIHAT YANG TERDIRI DARI TIGA PERKARA
Bab ini memuat lima puluh nasihat, tujuh di antaranya berupa hadis, sedangkan selebihnya berupa atsar
1. Mengeluh, Susah Duniawi, Merendah Diri kepada Orang Kaya
Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa di pagi hari mengadukan kesulitan hidup, sama halnya ia mengeluh kepada Tuhannya. Barangsiapa di pagi hari merasa susah karena urusan duniawi, berarti di pagi itu juga benci kepada Allah. Dan barangsiapa merendah diri kepada orang kaya karena hartanya, niscaya benar-benar telah sirna dua pertiga agamanya.”
Memang pengaduan hanya layak disampzikan kepada Allah, sebab mengeluh kepada-Allah itu merupakan doa. Sedang pengaduan kepada sesama manusia, adalah menjadi alamat bahwa tidak rela dalam menerima bagian dari Allah. Dalam sebuah hadis Abdullah bin Mas’ud meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda:
“Bukankah aku belum mengajarkan kepada kalian kalimat yang diucapkan oleh Nabi Musa a.s. ketika menyeberangi laut bersama Bani Israil?”
Kami menjawab: “Benar, ya, Rasulullah!”
Beliau bersabda: “Ucapkanlah: Ya, Allah, hanya untuk-Mu segala buji, hanya kepada-Mu-lah tempat mengadu, Engkau-lah tempat minta pertolongan dan tiada daya upaya dan kekuatan, melainkan dengan pertolongan Allah Yang Maha Mulia dan Maha Agung.”
Al-A’masy berkata: “Setelah aku mendengar kalimat-kalimat itu dari Syaqiq Al-Asadi bangsa Kufah, dan dia menerimanya dari Abdullah r.a., maka aku tidak meninggalkannya.”
Kemudian dia berkata: “Telah datang kepadaku seseorang yang datang ketika aku sedang bermimpi, dia berkata: Hai, Sulaiman, tambahlah kalimat-kalimat itu dengan:
“.. dan kami mohon pertolongan kepada-Mu atas kerusakan yang menimpa kami dan mohon kepada-Mu kemaslahatan dalam seluruh urusanku.”
Barangsiapa yang sedih karena perkara-perkara dunia, maka dia sungguh-sungguh marah kepada Allah, karena tidak rela Qadha dari Allah dan tidak sabar atas bencana dari-Nya serta tidak iman pada Qadar dari-Nya. Hal ini karena segala yang terjadi di dunia itu adalah berdasar (adha dan Qadar-Nya.
Dan barangsiapa yang merendahkan dirinya kepada orang kaya karena kekayaannya, maka sesungguhnya dia telah kehilangan dua pertiga agamanya.
Syariat hanya membolehkan memuliakan manusia karena kebaikan dan ilmunya, bukan karena kekayaannya. Oleh sebab itu, barangsiapa yang memuliakan harta kekayaan berarti telah menghina ilmu dan kebaikan. Sayid Syekh Abdul @adir Al-Jailani -Qaddasa sirrahumengatakan: “Segala tingkah laku setiap orang mukmin harus berdasarkan pada tiga perkara: Melaksanakan segala perintah, menjauhi larangan dan meridai gadar. Paling tidak keadaan orang mukmin itu tidak lepas dari salah satunya. Oleh sebab itu, setiap orang mukmin harus tetap memperhatikan hatinya dan seluruh anggota badannya untuk melaksanakan ketiga hal itu.”
2. Tiga Perkara yang Tidak Dapat Dicapai dengan Tiga Cara
Dari Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a.:
“Tiga perkara tidak dapat dicapai dengan tiga cara: kekayaan tidak tercapai dengan lamunan,.kemudaan tidak tercapai dengan rambut semiran dan sehat tidak tercapai dengan obat-obatan.”
Kekayaan tidak akan berhasil dengan angan-angan, tetapi dengan bagian dari Allah swt. Kemudaan tidak akan dapat diperoleh dengan menyemir rambut dan kesehatan tidak bisa diperoleh dengan obatobatan, tetapi dengan kesembuhan dari Allah swt.
3. Sebagian Akal, Ilmu dan Penghidupan
Dari Umar r.a.:
“Kasih sayang yang baik terhadap manusia adalah setengah akal, kebaikan pertanyaan itu setengah ilmu dan kebaikan pengaturan itu adalah sebagian penghidupan.”
Tentang baiknya kasih sayang, memang sesuai dengan hadis riwayat Ibnu Hibban, Ath-Thabrani dan Al-Baihaqi, dari Jabir bin. Abdullah, sesungguhnya Nabi saw., bersabda: ,
“Ramah tamah terhadap manusia adalah sedekah.”
Ramah tamah di sini dapat dengan ucapan maupun perbuatan. Hal itu akan mendatangkan pahala seperti halnya sedekah. Sebagian keramahtamahan Nabi saw. adalah beliau tidak pernah mencela sesuatu makanan, tidak menghardik pelayan dan tidak pernah memukul seorang wanita. Kebalikan dari ramah tamah adalah menjilat atau mengambil muka.
Bertanya dengan baik kepada para ulama, adalah setengah dari ilmu, karena ilmu dapat dihasilkan dari sana. Sedang pengaturan urusan yang baik, yaitu menjalankan urusan dengan mengetahui akibat-akibatnya, adalah sebagian penghidupan, yakni usaha manusia untuk kelangsungan hidupnya. ,
4. Supaya Disenangi Allah, Malaikat dan Orang-orang Muslim
Dari Utsman r.a.:
“Barangsiapa meninggalkan dunia, maka disenangi Allah, siapa meninggalkan dosa, niscaya disenangi malaikat dan barangsiapa yang mencegah tamak terhadap orang-orang muslim, maka dia dicintai kaum muslimin”
Meninggalkan dunia artinya mengurangi makan dan tidak senang pujian dari manusia. Orang yang meninggalkan dunia disenangi Allah, karena tidak riya dan tidak congkak. .
Orang yang meninggalkan dosa disenangi malaikat, karena tidak menambah kesibukan malaikat yang bertugas mencatat kejelekan.
Sedang orang yang tidak tamak, disenangi kaum muslimin, karena tidak mengotori hati mereka.
5. Islam, Taat dan Kematian
Dari Ali r.a.:
“Di antara kenikmatan dunia cukuplah untukmu kenikmatan Islam. Di antara kesibukan, cukuplah untukmu kesibukan berbuat taat. Dan di antara pelajaran, cukuplah kematian sebagai pelajaran bagimu.”
Kenikmatan terbesar yang oleh Allah dianugerahkan kepada hamba, adalah pada saat Dia mengeluarkan hamba-Nya dari yang tiada menjadi ada, dari kegelapan kufur menuju cahaya Islam.
Taat kepada Allah merupakan kesibukan yang paling besar. Sesungguhnya maut itu sebuah peringatan yang cukup untuk menjadi pelajaran bagimu. Adapun kematian, adalah nasihat yang paling besar bagi manusia. –
6. Tiupan Nikmat, Pujian dan Tutup Keaiban
Dari Abdullah bin Mas’ud r.a.:
“Banyak orang yang hanyut terbuai kenikmatan, banyak orang yang termakan fitnah oleh pujian dan banyak juga orang yang tertipu oleh tutup keaiban.”
Banyak orang yang lupa daratan karena diberikan banyak kenikmatan. Karena banyak mendapat pujian, orang dapat masuk dalam jaringan fitnah dan bencana. Banyak orang teperdaya dan lupa akhirat, lantaran aib dirinya selalu tertutup.









One Comment