17. Sepuluh Kata Hikmah
Pernah dikisahkan, bahwa salah seorang raja memanggil lima ahli hikmah supaya berkumpul. Ia meminta agar masing-masing mengemukakan dua kata hikmah, maka jumlah keseluruhan terkumpul sepuluh kata hikmah. Ahli hikmah pertama mengatakan:
“Takut kepada Maha Pencipta (Allah) menjadi jaminan keamanan, sedang merasa aman dari siksa Allah menjadi sumber ketakutan. Tidak merasa takut kepada sesama makhluk itu pangkal kemerdekaan, sedang merasa takut kepada sesama makhluk itu pangkal kemerdekaan.”
Ahli hikmah kedua mengatakan:
“Adanya harapan kepada Allah itu merupakan kekayaan yang tidak tergoyahkan oleh kefakiran dan putus asa dari kemurahan Allah itu merupakan kefakiran yang tidak dapat tertutup oleh kekayaan.”
Dalam hubungan ini Dzun Nun Al-Misri berkata:
“Barangsiapa merasa puas dengan yang dimilikinya, maka ia tidak begitu memerlukan orang-orang yang hidup bersamanya dan dapat melebihi di atas teman-teman sebayanya.”
Ada yang mengatakan:
“Barangsiapa matanya melotot kepingin terhadap sesuatu yang ada di tangan orang lain, maka kesusahannya tambah panjang.”
Segolongan pujangga berkata dalam Bahar Wafir:
Kemurahan hati di saat dia sendiri lapar,
dapat menaikkan harga diri pemuda, ,
pada suatu hari ia berbuat cemar
di hari itu pula ia menjadi mulia.
Maksudnya, bahwa kesanggupan bermurah hati, di saat diri sendiri tengah kelaparan, dapat menaikkan harga diri. Jika kesanggupan ini dimiliki oleh pemuda, lalu di suatu saat pemuda tersebut berbuat cemar, maka kecemaran itu akan tertutup dan terhapus lantaran kemurahan hatinya. ,
Ahli hikmah ketiga mengatakan:
“Kemelaratan harta itu tidak berbahaya, selagi dibarengi kekayaan hati dan kekayaan harta tidak bermanfaat, selagi diberengi kemelaratan hati.”
Wahab mengatakan: Sesungguhnya kemuliaan dan kekayaan keduanya keluar berjalan sambil mencari teman, kemudian keduanya bertemu dengan qanaah, maka tetaplah mereka berdua.
Di dalam Kitab Zabur disebutkan:
“Orang yang qanaah itu kaya, walaupun dia kelaparan.”
Ahli hikmah keempat mengatakan:
“Kekayaan hati hanya akan menambahkan kekayaan bagi dermawan dan kemelaratan hati juga hanya akan menambahkan kemelaratan bagi kekayaan harta.”
Dalam hubungan ini Ad-Daqqaq menyatakan:
“Barangsiapa yang tidak disertai ketakwaan di dalam kefakirannya, maka dia akan memakan yang haram.”
Ahli hikmah kelima mengatakan:
“Mengambil kebaikan yang sedikit lebih baik daripada meninggalkan kejelekan yang banyak dan meninggalkan semua kejelekan lebih baik daripada mengambil kebaikan yang sedikit.”
Perkataan ahli hikmah kelima ini mendekati perkataan sebagian tabib: “Semua delima itu baik dan semua ikan itu jelek, namun makan ikan sedikit lebih baik daripada delima yang banyak.”









One Comment