26. Empat Golongan Manusia dengan Empat
Nabi Dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Sesungguhnya Allah swt. berhujah pada hari Kiamat dengan empat orang atas empat orang lain, yaitu: Terhadap kaum hartawan, Allah mengemukakan Nabi Sulaiman bin Dawud: terhadap hamba sahaya, Allah mengemukakan Nabi Yusuf, terhadap orang-orang sakit, Allah mengemukakan Nabi Ayub: dan atas orang-orang fakir, Allah mengemukakan Nabi Isa.”
Misalnya, Allah menanyai orang kaya tentang sebab dia meninggalkan ibadah, lalu dia menjawab: “Kami sibuk dengan urusan harta dan kerajaan kami”, maka Allah membantah: “Lebih besar mana dengan kerajaan Sulaiman dan lebih banyak mana dibanding harta Sulaiman, toh, dia tidak meninggalkan ibadah.”
Terhadap hamba sahaya yang meninggalkan ibadah dengan alasan ‘ karena sibuk melayani tuannya, Allah membantah: “Hamba-Ku, si Yusuf, juga menjadi hamba yang melayani penguasa tinggi Mesir sekalian, tapi dia tidak meninggalkan ibadah.”
Terhadap orang fakir yang meninggalkan ibadah, Allah membantah: Hamba-Ku Isa adalah orang melarat di dunia, ia tak punya rumah, harta juga istri, tapi ia tidak meninggalkan ibadah. .
27. Meskipun Seorang Hamba Berdosa, Allah Tetap Memberikan Anugerah Kepadanya
Dari Sa’d bin Hilal r.a., dia menyatakan:
“Sesungguhnya seorang hamba jika berbuat dosa, maka Allah swt. tetap memberinya empat perkara, yaitu rezeki tidak akan dihalangi darinya, kesehatan tidak akan dihalangi darinya, dosa tidak ditampakkan kepadanya dan siksaan tidak akan ditimpakan kepadanya dengan cepat.”
Seorang hamba jika dia menjadi orang yang selalu berbuat dosa, maka Allah telap memberi kenikmatan kepadanya dengan empat perkara, yaitu Allah tidak menahan rezeki untuknya, Allah akan memberikan kesehatan baginya, Allah menutupi dosa-dosanya dan siksaan tidak akan ditimpakan kepadanya dengan tepat, yakni pada waktu dia sedang melakukannya, namun Allah swt. memberi tempo kepadanya, tetapi tidak akan membiarkannya.
Dihikayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi Adam a.s. berkata: Sesungguhnya Allah memberikan kepada umat Muhammad empat kehormatan yang tidak diberikan-Nya kepadaku. Pertama, tobatku diterima di Mekah, sedangkan umat Muhammad bertobat di mana saja, niscaya tobat mereka diterima. Kedua, sesungguhnya aku berpakaian, namun ketika aku berbuat maksiat, Dia menjadikanxu telanjang, sedangkan ketika umat Muhammad berbuat maksiat dalam keadaan telanjang, justru Dia memberikan pakaian kepada mereka. Ketiga, ketika aku berbuat maksiat, Dia memisahkanku dengan istriku, sedang umat Muhammad jika berbuat dosa, Allah tidak memisahkan mereka dari istriistrinya. Keempat, aku telah berbuat dosa di surga, maka Dia mengusirku darinya,.sedangkan bila umat Muhammad berbuat maksiat kepada Allah di luar surga, justru Dia memasukkannya ke surga, jika mereka bertobat.”
28. Meninggalkan Empat Hal untuk Menuju Empat Perkara
Dari Hatim Al-Asham – semoga Allah merahmatinyakatanya:
“Barangsiapa berpaling dari empat hal untuk menuju empat yang lain, maka menemukan surga: Berpaling dari tidur untuk menuju kubur, berpaling dari kesombongan untuk menuju timbangan, berpaling dari pengangguran menuju titian dan berpaling dari syahwat menuju surga.”
Berpaling dari tidur menuju kubur, artinya ialah mengurangi tidur untuk memperbanyak amal-amal perbuatan yang dapat digunakan bekal kelak di alam kubur.
Berpaling dari kesombongan menuju timbangan, artinya mengakhiri sikap sombong dan congkaknya untuk memperbanyak amal-amal kebajikan yang dapat menambah bobot timbangan amalnya kelak.
Berpaling dari pengangguran menuju titian, artinya pada saat-saat senggang dipenuhi dengan amal perbuatan yang dapat mempercepat masa tempuh pada titian kelak.
Berpaling dari syahwat untuk menuju surga, artinya meninggalkan ajakan hawa nafsu untuk kemudian bersusah payah menunaikan perintah-perintah agama. Memang, menurut hadis, surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak diinginkan bagi hawa nafsu dunia.
29. Empat Hal pada Empat Jalan Lain
Dari Hamid Al-Laffaf -semoga Allah merahmatinya-, dia berkata:
“Empat hal telah saya cari pada empat jalan dan ternyata keliru, kemudian saya temukan dalam empat yang lain: saya mencari kekayaan. dalam harta, ternyata saya temukan dalam gana’ah: mencari kesenggangan. dalam kemewahan, ternyata saya temukan dalam sedikitnya harta: saya mencari kelezatan-kelezatan dalam kenikmatan, ternyata saya temukan dalam badan yang sehat’ dan saya mencari ilmu dengan perut yang kenyang, ternyata saya temukan dalam keadaan perutlapar.”
Menurut Hamid Al-Lafaf, kekayaan itu berada dalam gana’ah: yaitu perasaan puas dalam menerima bahagian dari Allah swt. Yang dimaksud dengan kelezatan di sini ialah, kelezataan indrawi. Selanjutnya dalam naskah lain dikatakan: “Dan saya mencari rezeki di bumi, ternyata saya temukan di langit.” Maksudnya, rezeki itu telah ditentukan pembagiannya di langit yaitu di Lauh Mahfudh.
30. Empat Hal yang Sedikitnya Itu Termasuk Banyak
Ali r.a. berkata:
“Empat perkara yang sedikit saja terjadi sudah dihitung banyak yaitu sakit, fakir, api dan permusuhan.”
Empat perkara yang menyakiti manusia walaupun sedikit, yaitu fakir, yakni tidak memiliki segala yang dibutuhkan, api dan permusuhan, yakni berharap agar orang lain berada dalam bahaya.
Tentang permusuhan Nabi bersabda:
“Pangkal akal setelah iman kepada Allah swt., adalah kasih sayang kepada sesama manusia.”
Selain itu, Nabi Sulaiman a.s. juga bersabda kepada putranya:
“Janganla kamu menda banyak mempunyai seribu sahabat, seribu sahabat itu sedikit dan janganlah kamu menganggap sedikit mempunyai seorang musuh, karena seorang musuh itu berarti banyak.”









One Comment