3. Sepuluh Perkara Belum Menjadi Baik Tanpa Dibarengi Sepuluh yang Lain
Umar r.a. berkata:
“Sepuluh hal belum menjadi baik tanpa dibarengi sepuluh yang lain, ialah: Akal belum baik tanpa dibarengi sikap wira’i, amal perbuatan belum baik tampa dibarengi ilmu, keberuntungan belum baik tanpa dibarengi takwa kepada Allah, penguasa belum baik tanpa dibarengi keadilaan, reputasi belum baik tanpa dibarengi adab (kesopanan), kesenangan belum nyaman tanpa dibarengi keamanan, kekayaan belum baik tanpa dibarengi sikap qanaah (menerima apa adanya), ketinggian nasab belum baik tanpa dibarengi sikap tawaduk (rendah hati) dan perjuangan menuju kebenaran belum baik tanpa diiringi taufik Allah.”
Akal tanpa sikap wira’i itu belum dinilai baik, sebagaimana Amir bin Qais berkata:
“Jika akalmu mengerti tentang sesuatu yang tidak pantas, maka kamu orang yang berakal.”
Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda:
“Akal adalah cahaya di dalam hati yang dapat membedakan antara hak dan batil.”
Mengenai amal perbuatan yang disertai ilmu, Nabi saw. bersabda:
“Sebaik-baik amal adalah ilmu mengenai Allah, karena sesungguhnya amal sedikit maupun banyak akan bermanfaat beserta ilmu dan sesungguhnya amal baik sedikit maupun banyak tidak akan bermanfaat beserta kebodohan.” (H.R. Al-Hakim).
Keberuntungan belum baik tanpa dibarengi takwa kepada Allah, baik keberuntungan berupa kesuksesan mencapai sesuatu yang dicita-citakan maupun terhindar dari mara bahaya. Nabi saw. bersabda:
“Tidak akan masuk neraka orang yang menangis karena takut siksa Allah, sehingga air susu masuk lagi ke dalam teteknya.” (H.R. Abu Hurairah).
Mengenai keadilan penguasa, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Orang yang paling dicintai Allah swt. dan paling dekat dengan-Nya besok pada hari Kiamat, adalah pemimpin yang adil. Adapun orang yang paling dimurkai Allah swt. dan paling jauh dengan-Nya di hari Kiamat, adalah pemimpin yang berbuat aniaya.”
(H.R. Imam Ahmad dan At-Tirmidzi).
Adapun reputasi, semisal prestasi ilmu atau prestasi keberanian, itu belum baik tanpa dibarengi tata adab: Segolongan ahli hikmah berkata:
“Ilmu adalah kemuliaan yang ada tara nilainya dan adab (kesopanan) adalah harta yang tidak dikhawatir .
Mengenai kedermawanan, Nabi saw. bersabda:
“Orang dermawan itu-dekat kepada Allah, dekat | kepada manusia, dekat pada surga, dan jauh dari neraka. Orang kikir itu jauh dari Allah, jauh dari manusia, jauh dari surga dan dekat dengan neraka. Orang bodoh yang pemurah lebih dicintai oleh Allah daripada ahli ibadah yang kikir.”
Mengenai qanaah dan wira’i dalam kefakiran, Nabi saw. bersabda:
-“Jadilah engkau orang wira’i, maka kamu menjadi orang yang ahli ibadah, dan jadilah kamu orang yang qanaah maka kamu menjadi manusia yang paling bersyukur. Cintailah orang lain seperti engkau . mencintai dirimu sendiri, maka engkaulah orang mukmin, berlaku. baiklah kamu kepada tetangga, maka engkaulah orang muslim, dan kurangilah tertawamu, karena terlalu banyak tertawa dapat mematikan hati. “
Abdullah Ibnul Mubarak berkata:
“Menampakkan kecukupan di saat jatuh miskin lebih bagus daripada miskin itu sendiri.”
Adapun sikap tawaduk yang harus dilakukan oleh orang yang tinggi nasab dan pangkatnya, adalah menerima kebenaran dan tidak berpaling dari hukum.
Suatu perjuangan dapat dikatakan diiringi taufik Allah, jika ternyata dalam setiap gerak langkah j juangnya itu selalu berada pada jalan Allah yang penuh dengan rida-Nya.
Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Perjuangan yang paling utama adalah memerangi hawa nafsumu dalam rangka mencari rida Allah.” (H.R. Ad-Dailami).
4. Sepuluh Hal yang Paling Sia-sia
Utsman r.a. berkata:
“Ada sepuluh perkara yang paling tersia-siakan, ialah: Orang alim yang tidak dapat dijadikan tempat bertanya, ilmu yang tidak diamalkan, pendapat benar yang tidak diterima, senjata yang tidak dipakai, mesjid yang tidak digunakan salat, mushaf (Alqur-an) yang tidak dibaca, harta yang tidak diinfakkan, kuda yang tidak ditunggangi, ilmu zuhud yang ada pada hati orang yang cinta dunia, dan umur panjang yang tidak dipakai bekal untuk kepergiannya (menuju akhirat).”
Ilmu Zuhud di hati orang yang mencintai duniawi, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang bertambah pandai ilmunya, kemudian dia tidak bertambah zuhud mengenai dunia, maka hanya akan menambah jauh . dari Allah.”
5. Sepuluh Perkara Terbaik
Ali -karramallaahu wajhahuberkata:
“Ilmu adalah sebaik-baik warisan, etika itu sebaik-baik pekerjaan, takwa itu sebaik-baik bekal, ibadah adalah sebaik-baik perdagangan, amal saleh adalah sebaik-baik penuntun (menuju surga), perangai terpuji adalah sebaik-baik teman (di dunia dan akhirat), sikap lembah manah adalah sebaik-baik penolong, qanaah adalah sebaik-baik kekayaan, taufik adalah sebaik-baik pertolongan dan kematian itu sebaik-baik pendidik menuju perangai terpuji.”
Mengenai ilmu sebagai harta warisan, Nabi saw. bersabda:
“Muliakanlah orang-orang yang berilmu, karena mereka pewaris para nabi. Barangsiapa yang memuliakan mereka, berarti memuliakan Allah dan Rasul-Nya.” (H.R. Ath-Thabrani).
Tentang takwa sebagai bekal paling berharga menuju akhirat, hendaknya diketahui, bahwa pangkal takwa ialah meninggalkan perbuatan syirik (menyekutukan Allah), kemudian meninggalkan maksiat, kejelekan, menjauhi subhat dan meninggalkan berlebihan, begitulah pengertian takwa dari Abi Ali Daqaq r.a.
Adapun sikap qanaah sebagai kekayaan yang paling berharga, dapat dipahami dari firman Allah swt.:
“Barangsiapa yang beramal saleh dari lakilaki maupun perempuan dan dia seorang mukmin, kami akan menghidupkannya dengan kehidupan yang baik.” (Q.S. An-Nahl: 97).
Kebanyakan ahli tafsir berkata: “Kehidupan yang baik di dunia adalah qanaah.”









One Comment