6. Sepuluh Orang Merasa Mukmin, Padahal Mereka Kafir
Nabi saw. bersabda:
“Ada sepuluh orang dari umat ini yang kafir terhadap Allah Yang Maha Agung, namun mereka sendiri merasa mukmin, ialah: Orang yang membunuh orang muslim atau Dzimmi (penduduk non muslim pada negara Islam yang loyal terhadap pemerintah) tanpa hak yang semestinya, orang penyihir, orang bermasa bodoh yang tidak punya cemburu pada keluarganya, orang yang menentang kewajiban zakat, orang yang minum khamar, orang yang telah berkewajiban haji tapi tidak mau menunaikannya, orang yang menyalakan api fitnah, orang yang menjual senjata kepada ahli perang, orang yang menggauli wanita pada duburnya dan orang yang menggauli saudara mahram. Jika dia menduga bahwa perbuatan-perbuatan ini halal, maka dia menjadi kafir.”
Termasuk keluarga yang harus dicemburui di sini ialah istri/suami, anak dan saudara. Sedang yang dimaksud dengan cemburu itu sendiri, ialah rasa tidak rela jika mereka melakukan perbuatan-perbuatan yang berlawanan dengan kehendak agamanya. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda:
“Ada sebagian kecemburuan yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Dan sesungguhnya kesombongannya ada yang dicintai Allah dan ada yang dibenci Allah. Adapun kecemburuan yang dicintai Allah adalah kecemburuan terhadap hal yang mencurigakan. Adapun kecemburuan yang dibenci Allah adalah kecemburuan bukan pada hal yang mencurigakan. Adapun kesombongan yang dicintai Allah adalah kesombongan seseorang dalam perang dan pada waktu bersedekah (supaya diikuti orang lam). Adapun kesombongan yang dibenci Allah adalah kesombongan seseorang dalam kezaliman dan keangkuhan.” (H.R. Ahmad, Abu Dawud, An-Nasai dan Ibnu Hibban).
Diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya di hari Kiamat Allah Tu’ala tidak berkenan menerima pengabdian maupun keadilan dari Ash-Shaggur: Ada yang bertanya: ‘Apakah Ash-Shaggur itu, wahai, Rasulullah? Nabi menjelaskan: AshShaggur ialah orang yang mempersilakan para laki-laki lain untuk masuk kepada keluarganya (istri, anak wanita dan saudara-saudara wanita).” : (H.R. Al-Baihaqi).
Mengenai keengganan membayar zakat, Nabi saw. bersabda:
“Tidak ada yang mempunyai emas dan perak yang tidak memberikan haknya, melainkan apabila hari Kiamat dibuatkan baginya lempenganlempengan dari api, lalu dipanaskan dengan api neraka Jahanam, lalu diseterika pinggang, kening dan punggungnya. Jika telah dingin, maka dipanaskan lagi pada suatu hari yang ukurannya 50.000 tahun hingga semua perkara di antara sesama hamba telah diputuskan, kemudian ia melihat jalannya ke surga atau neraka.”
Adapun kejahatan minum khamar, telah disebutkan dalam hadis:
“Peminum arak akan dikumpulkan dalam keadaan wadahnya digantungkan pada lehernya, gelas di tangannya, baunya lebih busuk daripada bangkai yang ada di bumi, semua makhluk yang melewati mengutuknya.”
Adapun tenggang keengganan menunaikan ibadah haji bagi orang yang telah berkewajiban, Allah berfirman:
“… Barangsiapa yang kufur, sesungguhnya Allah Maha kaya dari semua alam.” (Q.S. Aali Imran: 97).
Yakni, barangsiapa yang meninggalkannya dengan mengiktikadkan tidak wajib haji, maka sesungguhnya Allah Maha Kaya dari semesta alam. Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. berdoa untuk umatnya pada hari Arafah dan beliau memohonkan ampunan untuk mereka, maka Allah memberikan wahyu kepadanya:
“Sesungguhnya Aku telah mengampuni mereka pada dosa-dosa antara Aku dan mereka, tetapi Aku tidak akan mengampuni kezaliman mereka kepada sesamanya.”
Kemudian Nabi menambah permohonan ampunan dan berkata:
“Sungguh Engkau Maha Kuasa untuk memaafkan permusuhan mereka.”
Namun Allah belum mengabulkannya pada malam itu. Maka pada pagi hari di Muzdalifah, Allah memberikan wahyu kepadanya, Dia mengabulkan permohonannya, dan tersenyumlah beliau seraya bersabda:
“Saya heran kepada musuh Allah, iblis, ketika Allah mengabulkan doaku, dia menjerit karena kecelakaan dan kehancuran seraya menaburkan tanah di kepalanya.”
7. Sepuluh Proses Menjadi Seorang Mukmin yang Sempurna
Nabi saw. bersabda:
“Tidaklah seorang hamba -di langit maupun di bumidisebut seorang mukmin, sebelum ia menjadi orang yang banyak bersilaturahmi, dia ndak menjadi orang yang bersilaturahmi, sebelum dia muslim, dia tidak menjadi orang muslim, sebelum orang lain merasa aman dari tangan dan lidahnya: dia tidak menjadi muslim, sebelum dia alim, dia tidak menjadi alim, sebelum mengamalkan ilmunya, dia tidak mengamalkan ilmunya, sebelum dia bersikap zuhud: dia tidak menjadi orang zuhud, sebelum dia menjadi orang warak, dia tidak akan menjadi orang yang warak sebelum dia bersikap tawaduk, dia tidak menjadi orang yang . tawaduk, sebelum dia mengenal dirinya sendiri, dan dia tidak mampu mengenali dirinya sendiri, sebelum dia berpikir dalam bicaranya.”
Tentang menjadi orang yang tawaduk (rendah hati), Anas bin Malik mengatakan:
“Rasulullah saw. suka menjenguk orang sakit, mengantarkan jenazah, menunggangi keledai dan menghadiri undangan dari hamba sahaya.”
Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang baik rupanya, berkedudukan yang mengharumkannya, serta rendah hati (tawaduk), maka dia termasuk orang yang dekat – dengan Allah pada hari Kiamat.” (H.R. Abu Nu’aim).
Menjadi orang yang arif (mengenali) dirinya sendiri, seorang penyair berkata:
Wahai, anak cucu Adam
Kesejahteraan hidup jangan menipumu
adalah terbatas umurmu
Tiada lain
engkau bagaikan tanaman yang hijau ranum
setiap perkara akan ditimpa penyakit
Jika kamu selamat dari berbagai penyakit
di saat ajalmu, tiba kamu pasti dituai.
Adapun selalu memfungsikan akal dalam berbicara, Bisyr bin AlHarits berkata:
“Jika engkau kagum mengapa bicara, diamlah! Dan jika engkau kagum mengapa diam, bicaralah!”









One Comment