Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Nashoihul Ibad

BAB VI NASIHAT TENTANG TUJUH PERKARA

Dalam bab ini i terdapat sepuluh nasihat, lima di antaranya khabar’ (hadis) dan lima atsar.

1. Tujuh Golongan Mendapat Naungan dari Allah

Dari Abu Hurairah r.a.: dari Nabi saw., beliau bersabda:

“Tujuh golongan, mereka akan dinaungi oleh Allah di bawah naungan: Arasy kelak di hari tiada naungan melainkan naungan Allah, yaitu: Imam yang adil, pemuda yang tumbuh beribadah kepada Allah swt., – orang yang zikir kepada Allah swt. di kesepian sampai bercucuran air matanya karena takut kepada Allah, orang yang jiwanya tertambat pada mesjid, bila ia keluar dari mesjid seraya kembali lagi, orang yang. memberikan sedekah secara diam-diam sehingga tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya itu, dua orang yang saling menyayangi karena Allah, berkumpul dan berpisah karena Allah, serta laki-laki yang diajak perempuan cantik (untuk berbuat mesum dengannya), maka dia a menolaknya dan mengatakan, sungguh aku takut kepada Allah swt.”

Imam yang adil di sini ialah setiap orang yang menangani urusan umat Islam, baik para pejabat maupun hakim.

Orang yang beribadah dari usia muda, di sini dikhususkan kepada Pemuda, karena dia tempat bergejolak syahwat.

Orang yang ingat kepada Allah dengan lisannya atau dengan har dalam keadaan menyendiri, tidak dilihat selain oleh Allah. Air matany, Meleleh karena takut kepada Allah.

Orang yang jiwanya tertambat di mesjid, yakni hatinya sangat menyenangi mesjid, dan selalu berjamaah di mesjid.

Orang yang memberikan sedekah secara diam-diam, sehingga seolah. olah tangan kirinya tidak tahu apa yang diberikan oleh tangan kanannya, yakni kalau tangan kiri diumpamakan sebagai orang yang bangun, maka dia tidak mengetahui sedekah tangan kanan karena tersembunyi. : Menurut pendapat lain, yang dimaksud adalah manusia.

Dua orang yang saling menyayangi karena Allah, bukan karena tujuan duniawi. Mereka menjalin kasih sayang sampai meninggal dunia.

Laki-laki yang menolak ajakan perempuan cantik untuk berbuat maksiat, karena takut kepada Allah.

Mereka semua itulah yang kelak pada hari Kiamat akan mendapatkan naungan dari Allah swt.

Abu Syamah menuturkan tujuh golongan tersebut dalam gubahan nazham pada Bahar Thawil, sebagai berikut:

Bersama Nabi yang mulia

Sungguhnya ada tujuh golongan

Allah meletakkan mereka di bawah naungan-Nya

Orang yang menyayangi dan orang yang menjaga diri pemuda (gemar beribadah) dan orang yang suka memberi

orang menangis, dan orang salat (di mesjid Ilahi)

juga pemimpin yang adil.

2. Orang Bakhil Diancam oleh Tujuh Perkara

Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata:

“Orang bakhil tidak akan terhindar dari tujuh hal: Ia mati, kemudian hartanya diwarisi oleh orang yang membelanjakannya untuk keperluan di luar yang diperintahkan Allah: ia dikuasai oleh penguasa jahat yang merampas hartanya setelah menyakitinya dulu: Allah membangkitkan nafsu syahwatnya, sehingga memusnahkan hartanya: ia sendiri mempunyai kemauan membangun atau memugar bangunan di tempat rawan, yang menyebabkan hartanya musnah, ia tertimpa musibah duniawi semacam kebanjiran, kebakaran atau kecurian dan sebagainya, ia terserang penyakit abadi, hingga habis untuk biaya berobatnya: atau mungkin ia menanam hartanya dalam suatu lokasi, kemudian lupa letak tempatnya dan tidak dapat menemukannya kembali.”

Atau mungkin ia mati sebelum sempat memberikan kepada orang lain, di mana letak hartanya itu disimpan, sehingga harta hilang tanpa bekas, karena tiada ahli waris yang mengetahuinya.

Demikianlah tujuh kemungkinan yang kenyataannya dapat membuktikan seluruhnya. Semoga Allah melindungi kita dari sikap bakhil.

3. Tujuh Sebab Akibat Buruk yang Merusak Hati

Umar r.a. berkata:

“Siapa banyak tertawa, maka sedikit wibawanya, siapa meremehkan manusia, maka ia diremehkannya: siapa banyak-banyak melakukan sesuatu, maka ia dikenal oleh ahli sesuatu itu: siapa banyak bicaranya, maka banyak pula salahnya, siapa banyak salahnya, maka ‘sedikit perasaan malunya: siapa sedikit perasaan malunya, maka sedikit pula – wira’inya, dan siapa yang sedikit wira’inya, maka matilah hatinya.”

Tujuh sebab akibat buruk, yaitu:

Pertama, orang yang banyak tertawa, maka hilang wibawanya dan orang lain tidak menghormatinya. Abu Dzar Al-Ghifari berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:

“Janganlah banyak tertawa, karena banyak tertawa akan mematikan hati dan menghilangkan cahaya muka”

Diriwayatkan dari Nabi saw., bahwa beliau bersabda:

 “Senda gurau adalah tipu daya dari setan dan tipu muslihat dan hawa nafsu.”

Umar bin Abdul Aziz berkata: “Jauhilah bersenda gurau, karena senda gurau adalah pekerjaan orang yang dungu, yang dapat mengakibatkan. iri.

Selain itu, Al-Mawardi berkata dalam bait syairnya:

Sungguh …..

bergurau itu awal mulanya manis

tetapi pada akhirnya permusuhan

Orang yang mulia akan benci pada senda gurau

sedang orang yang dungu senang melakukannya

Kedua, orang yang menyepelekan orang lain, maka dia disepelekan.

Ketiga, orang yang berbuat sesuatu, maka akan terkenal, seperti perkataan Sayidina Ali bin Abi Thalib r.a:

“Harga diri seseorang terletak pada keahliannya.”

Keempat, orang yang banyak bicara, maka banyak kesalahannya. .Diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Sesungguhnya manusia yang paling banyak dosanya pada hari Kiamat, adalah yang paling banyak membicarakan sesuatu yang tidak berguna bagi dirinya”

Ibnu Nashr). Diriwayatkan pula, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Lisan akan disiksa dengan suatu siksaan yang tubuh pun tidak akan disiksa dengan siksaan itu, lalu lidah berkata: “Wahai, Tuhanku, mengapa Engkau menyiksaku dengan suatu siksaan yang Engkau tidak menyiksa pada tubuh?” Maka dijawab: ‘Karena telah keluar perkataan darimu yang telah sampai ke Timur dan Barat, dengan perkataanmu itu mengalir darah yang haram. Demi kemuliaan-Ku, Aku akan menyiksamu dengan suatu siksaan yang Aku tidak menimpakannya pada tubuh sedikit pun’.” (H.R. Abu Nu’aim).

Kelima, orang yang banyak salahnya, maka sedikit malunya. Sebagian hukama berkata:

“Barangsiapa yang memakai baju malu, maka orang lain tidak bakal melihat nodanya.”

segolongan pujangga berkata:

“Hidupnya wibawa dengan punya rasa malu, sebagaimana hidupnya pohon dengan air.”

Saleh bin Abd. Qudus mendendangkan syairnya dalam Bahar Thawil sebagai berikut:

 “Apabila telah sedikit air mukanya (wibawanya), maka sedikit pula rasa malunya, tidak ada keindahan pada muka jika sedikit air mukanya, Jagalah rasa malumu sungguh rasa malu menunjukkan pekerjaan yang mulia.”

Keenam, orang yang sedikit malunya, maka sedikit wira’inya. Wira’i adalah menjauhi perkara yang subhat karena takut terjerumus pada yang haram.

Ketujuh, orang yang sedikit wira’inya, maka mati hatinya, yaitu dia tidak akan menerima peringatan. Orang yang paling jauh dari Allah, ialah orang yang keras hatinya.

4. Tujuh Kalimat dalam Harta Terpendam dan Dua Anak Yatim pada Zaman Nabi Musa a.s.

Allah swt. berfirman:

” ternyata di bawahnya terdapat kanzun (simpanan) untuk mereka (dua anak yatim) dan ternyata ayah mereka adalah orang saleh.” (Q.S. Al-Kahfi: 82)

Dua anak yatim ini bernama Ashram dan Sharim, sedang ayah mereka yang dinyatakan sebagai orang saleh tersebut, bernama: Kaasyih.

Dalam masalah kanzun ini, diriwayatkan dari Utsman bin Affan r.a., beliau menjelaskan:

“Kanzun adalah lempengan emas yang tertulis padanya tujuh kalimat:

– Saya heran kepada orang yang tahu akan mati, namun dia tertawa.

– Saya heran kepada orang yang tahu bahwa dunia rusak, namun dia menyenanginya.

– Saya heran kepada orang yang tahu bahwa semua urusan sesuai dengan ketetapan Allah, namun dia masih bingung karena urusan – Saya heran kepada orang yang telah mengetahui adanya hisab, namun dia mengumpulkan harta.

– Saya heran kepada orang yang telah mengetahui adanya neraka, tapi ia malah berbuat dosa.

– Saya heran kepada orang yang telah mengetahui secara yakin “adanya surga, tetapi ia bersenang-senang dengan dunia.

– Dan saya heran kepada orang yang telah mengetahui setan sebagai musuh, tetapi ia justru menaati ajakannya.

5. Tujuh Perkara Melebihi Keadaan

Kepada Ali bin Abi Thalib -karramallahu wajhahuditanyakan hal-hal sebagai berikut:

“Apakah yang lebih berat dibanding langit? Apa yang lebih luas daripada | bumi? Apa yang lebih kaya dibanding laut? Apa yang lebih keras daripada batu? Apa yang lebih panas dibanding api? Apa yang lebih dingin daripada air zamharir? Apa yang lebih pahit dibanding racun?”

Kemudian beliau menjawab sebagai berikut: |

“Berbuat bohong kepada makhluk lebih berat daripada langit. Yang hak (benar) lebih luas daripada bumi. Hati yang qanaah lebih kaya  daripada laut, hati orang munafik lebih keras daripada batu, penguasa yang zalim lebih panas daripada api, hajat (kebutuhan) terhadap orang jahat itu lebih dingin daripada Zamharir, dan sabar lebih pahit dibanding racun. Pendapat lain menyebutkan: Perbuatan adu domba lebih pahi daripada racun.”

Hati orang munafik lebih keras daripada batu, sebab batu dapat pecah ‘ dihantam besi dan dapat mencekung karena tetes air hujan yang cukup lama, tapi hati orang munafik tidak dapat dipengaruhi oleh berbagai nasihat.

Mengenai perbuatan adu domba Nabi saw. bersabda:

“Orang yang gemar berbuat adu domba tidak dapat masuk surga.” (H.R. Al-Bukhari, Muslim dan Abu Dawud).

Selain itu, diriwayatkan pula, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Bukan dari golonganku orang yang hasud orang yang mengadu ‘ domba, dan orang yang suka berdukun, dan saya bukan dari golongan mereka.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker