15. Sepuluh Siksa Bagi Orang yang Banyak Tertawa
Bersabda Rasulullah saw.:
“Barangsiapa banyak tertawa, maka dig akan disiksa dengan sepuluh siksaan, yaitu hatinya akan mati, tidak punya rasa malu, disenangi setan, dibenci oleh Allah Yang Maha Penyayang, di hari Kiamat ia akan dimunagasyah, Nabi saw. berpaling darinya pada hari Kiamat, dikutuk oleh malaikat, dibenci oleh ahli langit dan ahli bumi, lupa terhadap semua perkara dan dia akan merasa malu.”
Seorang ulama berkata: “Tertawanya orang mukmin, adalah suatu kelalaian dari hatinya.”
Dalam sebuah hadis, Abu Idris Al-Khaulani meriwayatkan dari Abu Dzar Al-Ghifari, dia berkata, bahwa Rasulullah saw. bersabda:
“Hindarilah terlalu banyak tertawa, karena hal itu dapat mematikan hati, dan menghilangkan sinar wajah.”
16. Sepuluh Ramuan Pembasuh Dosa dan Obat Penyakit Hati
Hasan Al-Bashri r.a. berkata: Ketika saya berkeliling di jalan-jalan kota Bashrah dan di pasarnya dengan seorang pemuda ahli beribadah, tiba-tiba saya melihat seorang tabib yang sedang duduk di atas kursi. Dia dikelilingi oleh laki-laki, perempuan dan anak-anak. Di tangan mereka masing-masing terdapat gelas yang berisi air. Mereka meminta resep obat untuk penyakitnya. Kemudian pemuda yang bersamaku maju ke depan tabib, lalu dia berkata: “Wahai, Tabib, apakah kamu punya obat yang mampu membersihkan dosa dan menyembuhkan penyakit hati?” Kemudian si tabib itu menjelaskan:
“Ambillah sepuluh macam ramuan. Ambillah akar pohon fakir bersama akar-akar pohon tawaduk (kerendahan hati), jadikanlah/campurkanlah padanya tumbuhan tobat, taruhlah ke dalam lumpang keridaan, tumbuklah dengan penumbuk qanaah, simpan di kuali takwa, lalu tuangkanlah padanya air malu, didihkanlah dengan api mahabbah, tuangkanlah ke gelas syukur, kemudian kipasilah dengan kipas harapan, lalu minumlah dengan sendok pujian, sesungguhnya jika kamu mengerjakan hal itu, maka akan menjadi obat bagimu dari semua penyakit dan bencana di dunia dan akhirat.”
Dalam keterangan di atas, tampak kefakiran dan kerendahan hati diserupakan dengan pohon, karena sama-sama menjulang tinggi. Juga disebut akar, karena akar adalah pangkal kehidupan setiap tetumbuhan. Karena itu, kalimat di atas dimaksudkan dengan “Ambillah akar-akar yang menjadi pangkal hakikat kefakiran dan tawaduk (kerendahan hati), dua hal yang menjulang tinggi di sisi Allah.” Ibnu Atha’ mengatakan: Tawaduk adalah menerima hak yang datang dari siapa pun. Ibnu Abbas menyatakan: Termasuk tawaduk ialah seseorang mau minum sisa kawannya.
Al-Qusyairi berkata:
“Fakir adalah simbol para wali dan perhiasan ahli Sufi, dan pilihan Allah untuk kekasih-kekasih-Nya, yaitu orang-orang yang takwa dan para nabi.”
Sedangkan maksud “Ihlij” ialah sejenis tumbuhan yang dapat dipakai membersihkan kotoran. Kata Ihlij tobat, artinya tobat yang serupa dengan Ihlij dalam hal sama-sama berfungsi sebagai pembersih. Ihlij mampu membersihkan kotoran lahiriah, sedang tobat dapat menyapu bersih kotoran batiniah, yaitu dosa-dosa.
Nabi saw. bersabda:
“Orang yang jaga dari dosa, seperti orang yang berdosa.”
Rida diserupakan dengan lumpang, karena sama-sama berfungsi sebagai tempat (wadah) menumbuk sesuatu. Menurut Imam Nawawi: Rida adalah kegembiraan hati terhadap pahitnya qadha.
Ruwaim berkata: Rida adalah menerima berbagai hukum dengan senang.
Qanaah, menurut segolongan ulama adalah membuang harapan terhadap sesuatu yang belum ada dengan mencukupkan diri pada apa yang telah ada di tangan.
Menurut Abu Sulaiman Ad-Darani: Qanaah berkaitan dengan rida, setahap dengan warak berkaitan dengan zuhud. Qanaah adalah permulaan rida, warak adalah permulaan zuhud.
Tentang takwa, seperti dikatakan oleh Abu Abdillah Ruzabadi: Takwa adalah menjauhi apa-apa yang menjauhkanmu dari Allah.
Ibnu Atha’ berkata: Takwa itu mempunyai luar dan dalam. Adapun luarnya adalah memelihara hudud (batas-batas) Allah, sedang dalamnya adalah niat dan ikhlas.
Perasaan malu, seperti dikatakan oleh Al-Junaid adalah: Suatu kondisi jiwa yang timbul dari kesadaran akan adanya nikmat dan kekurangan pengabdian diri.
Dzun Nun Al-Misri berkata: Malu adalah wujud kehebatan yang ada dalam hati sebagai akibat dari sikap garang kepada Allah yang dilakukan dahulunya.
Mengenai Mahabbah (rasa cinta), Abu Yazid Al-Bustami berkata: Mahabbah ialah menganggap sedikit terhadap jasa besar dari diri sendiri dan menganggap banyak terhadap jasa sedikit dari si kekasih. Abu Abdillah Al-Oarsyi berkata: Substansi mahabbah adalah kesanggupan memberikan seluruh dirimu kepada orang yang engkau cintai tanpa ada yang tersisa sedikit pun.
Syukur adalah: Pengakuan akan mencurahkan nikmat dari si pemberi dalam kerangka hormat dan merendah diri.
Adapun rojak (harapan), menurut Abu Abdillah bin Khafif adalah: Rasa optimis terhadap kemurahan anugerah Allah. Juga ada yang mengatakan: Rojak adalah melihat akan adanya keluasan rahmat Allah.









One Comment