BAB V NASIHAT TENTANG ENAM PERKARA
Pada bab ini terdapat tujuh belas nasihat, terdiri dari dua hadis dan” selebihnya adalah atsar.
1. Enam Perkara Asing pada Enam Tempat .
Nabi saw, bersabda:
“Enam hal asing pada enam tempat, yaitu: Mes jid terasing di kalangan masyarakat yang tidak salat di dalamnya, mushaf terasing di rumah mereka yang tidak mau membacanya: ajaran Alqur-dn terasing di dalam hati orang fasik: wanita muslimah yang salehah terasing di tangan laki-laki zalim yang buruk perangai, laki-laki muslim yang saleh terasing di tangan wanita hina yang buruk perangai, ulama terasing di tengah masyarakat yang tidak memperhatikan petuahnya, selanjutnya Nabi . bersabda: Sesungguhnya di-hari Kiamat Allah tidak akan memandang mereka yang mengabaikam ulama dengan pandangan kasih sayang.”
Enam perkara yang termasuk asing, jika berada pada enam tempat, yaitu:
Mesjid, asing apabila dibangun di antara orang-orang yang tidak melaksanakan salat di mesjid itu.
Mushaf, asing apabila berada di rumah orang-orang yang tidak membaca mushaf tersebut.
Ajaran Alqur-an, asing jika dihafalkan oleh orang fasik, yaitu orang yang meyakini. Alqur-an dalam hatinya dan tidak mengamalkan kandungannya.
Wanita muslimah yang taat kepada Allah dan Rasul-Nya serta melaksanakan berbagai kebaikan, merasa asing apabila berada di lindungan suami yang melakukan kebatilan. Nabi saw. bersabda:
“Di antara kalian yang paling saya cintai, adalah orang yang bagus akhlaknya, ringan tangan serta murah hati, dapat mengasihi serta dikasihi.”
Maksud hadis ini, terletak dalam berperangai yang baik Jemah lembut, wajah ceria, sedikit marah dan perkataannya baik.
Rasulullah saw. bersabda:
“Ahli surga adalah setiap orang yang rendah hati, yang lemah lembut, yang murah hati dan yang ceria.”
Bandingannya dengan orang yang buruk perangai, adalah sebagaimana dikatakan oleh segolongan pujangga:
“Orang yang bagus perangai itu, membawa kesenggangan diri sendiri dan keselamatan orang yang bergaul dengannya, sedang orang buruk perangai membuat kesusahan diri sendiri dan malapetaka orang yang bergaul dengannya.” ,
Laki-laki muslim yang saleh merasa asing jika laki-laki itu beristrikan perempuan yang rendah budi pekertinya, hina leluhur dan keturunannya.
Orang alim merasa ‘asing jika berada di antara orangorang yang tidak menerima pembicaraannya. .
Dalam masalah di atas dinyatakan, bahwa di hari Kiamat Allah tidak menatapkan pandangan kasih sayang kepada mereka. Kata mereka di sini dapat juga diartikan mencakup semua yang disebut sebelumnya, yaitu: Orang yang tidak salah dalam mesjid lingkungannya, tidak membaca mushaf yang tersimpan di rumahnya, orang fasik, wanita buruk perangai, laki-laki buruk perangai dan orang yang tidak memperhatikan petuah ulama.
2. Enam Orang yang Mendapat Laknat dari Allah swt., Rasulullah saw. dan Para Nabi Lainnya
Nabi saw. bersabda:
“Enam orang yang saya laknat, dilaknat juga oleh Allah dan oleh setiap Nabi yang diterima doanya, yaitu: Orang yang menambahi isi kitab Allah, orang yang mendustakan gadar Allah, penguasa yang sewenang-wenang menindas sehingga memuliakan orang yang dihinakan Allah . dan menghinakan orang yang dimuliakan Allah, orang yang menghalalkan perbuatan yang terlarang dilakukan di tanah haram Allah, orang yang menghalalkan perbuatan terlarang terhadap keturunan dan kerabatku, dan orang yang berpaling dari sunahku, sesungguhnya di hari Kiamat Allah swt. tidak memandangi mereka dengan pandangan kasih sayang.” | (H.R. At-Tirmidzi dan Al-Hakim).
Enam orang yang dikutuk oleh Nabi Muhammad saw., Allah swt. dan oleh para nabi yang lain, yaitu:
- Orang yang menambah isi Kitab Allah, yaitu orang yang memasukkan sesuatu yang tidak ada dalam Alqur-an dan menakwilkannya dengan sesuatu yang tidak benar.
- Orang yang mendustakan ketentuan Allah swt., yaitu hubungan kehendak yang bersifat zat dengan beberapa perkara pada waktu tertentu dan sebab tertentu yang merupakan suatu perumpamaan dari gadar.
- Penguasa yang sewenang-wenang, yang mengagungkan orang yang telah dihinakan oleh Allah dan menghina orang yang telah diagungkan oleh Allah.
- Yang menghalalkan apa yang telah diharamkan oleh Allah swt., yaitu orang yang melakukan segala sesuatu yang haram dan mengerjakannya di Tanah Haram, Mekah.
- Yang melakukan perbuatan terlarang terhadap keturunan dan kerabat Rasulullah saw., yaitu orang yang berlaku maksiat, mendurhakai dan menzalimi keturunan dan kerabat Rasulullah saw.
- Orang yang berpaling dari Sunah Rasulullah saw., karena meremehkannya.
3. Enam Perkara yang Mengajak Manusia pada Enam Perkara
Abu Bakar Ash-Shiddiq r.a. berkata:
“Sesungguhnya iblis itu berada di depanmu, nafsu di sebelah kananmu, hawa di sebelah kirimu, dunia di belakangmu, anggota tubuh di sekelilingmu, dan Yang Maha Perkasa di atasmu, si iblis -semoga tertimpa laknat Allahmengajakmu meninggalkan agama, nafsu mengajakmu berbuat maksiat, hawa memanggilmu menuju syahwat, dunia mengajakmu agar memilihnya melupakan akhirat, anggota tubuh mengajakmu berbuat dosa-dosa, sedang Yang Maha Perkasa mengajakmu menuju surga dan ampunan, sementara Allah berfirman: Mereka mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak menuju surga dan ampunan. Barangsiapa menuruti ajakan iblis, maka hilanglah agamanya, siapa menuruti nafsu, maka hilanglah roh insaninya, siapa menuruti hawa, maka hilanglah akalnya, siapa menuruti dunia, maka hilanglah akhiratnya: siapa menuruti ajakan anggota tubuh, maka hilanglah surganya: dan barangsiapa menuruti ajakan Allah swt., maka hilanglah kejelekan-kejelekannya dan memperoleh seluruh kebaikan.”
Gambaran yang dikemukakan oleh Abu Bakar r.a. tentang diri kita dengan iblis, nafsu, keinginan (hawa), dunia, anggota badan kita dan Allah, adalah sebagai berikut:
- Iblis berdiri di depan mata kita, menuntun pada kebatilan.
- Nafsu berada di sebelah kanan kita.
3, Hawa berada di sebelah kiri kita.
- Dunia berada di belakang kita.
- Semua anggota tubuh berada di sekitar kita.
6 . Zat Yang Maha Perkasa berada di atas kita, yakni sesuai dengan kekuasaan-Nya, karena kekuasaan-Nya di atas kekuasaan kita. Allah menundukkanmu pada kehendak-Nya.
Masing-masing mengajak ke arah yang berbeda:
- Iblis -laknatullahmengajakmu untuk meninggalkan syariat.
- Nafsu amarah mengajak kita pada maksiat. Pada suatu hadis diriwayatkan, Nabi saw. Bersabda:
– “Allah membuat perumpamaan dengan satu jalur jalan yang lurus, pada dua lambung jalan itu terdapat dua gapura dengan beberapa intu yang terbuka, pada pintu-pintu itu terpandang kelambu yang 601, dan pada pintu jalan terdapat seorang yang menyeru: “Wahai, manusia semua saja, masuklah pada jalan ini, lurus tanpa membelok:’: sementara ada pula pengundang lain dari pintu-pintu tersebut seraya pengundang kedua ini menyeru: ‘Celaka kamu, jangan dibuka itu! Kalau kamu buka, maka kamu harus masuk.’ Jalan dalam kiasan ini – adalah Islam, dua gapura adalah batasan-batasan Allah, pintu-pintu . terbuka ialah larangan-larangan Allah, sedang pengundang pada ujung jalan ialah Kitab Allah dan pengundang dari atas ialah nasihat Allah yang ada dalam hati orang muslim.” (H.R. Imam Ahmad dan Muslim).
3 Syahwat mengajak kita untuk melampiaskan keinginan kita.
- Dunia mengajak kita untuk memilihnya, yakni mendahulukan atas . – akhirat. Seorang penyair berkata dalam Bahar Thawi:
Maha suci Zat yang menempatkan hari pada tempatnya, dan yang menjadikan manusia ada yang miskin dan yang kaya
Orang yang berakal cerdik, adakalanya sulit mencari penghidupannya, sedang orang bodoh, adakalanya engkau jumpai mudah mendapat rezeki
Inilah yang membuat hati kebingungan dan seorang yang alim lagi dalam ilmunya pun tak mampu menganalisanya.
- Anggota tubuh mengajak kita untuk berbuat dosa.
- Zat Yang Maha Perkasa mengajak kita ke surga dan ampunan. Penyair lain menggubah puisinya dalam Bahar Kamil sebagai berikut:
Manusia itu potret zamannya ,
ukuran sepatu pun sesuai padannya.
Orang-orang di zamanmu,
hidupnya seperti zaman itu:
dalam bertingkah dan meliku-liku
Demikian pula
bila zaman telah rusak
manusia pun ikut rusak.
Orang yang memenuhi ajakan iblis, maka hilanglah agamanya, yakni agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw. Orang yang memenuhi ajakan nafsu, maka hilanglah rohnya, yakni hakikat manusianya. Nafsu adalah sesuatu yang lembut yang ditunggangi roh binatang, yaitu iblis yang lembut, yang bersumber di dalam hati dan menjalar ke seluruh bagian dan melalui urat-urat.
Orang yang memenuhi hawa, maka hilanglah akalnya, yaitu kekuatan nafsu yang berbicara dan semua individu mengisyaratkan dengan perkataannya. Akal adalah alat bekerja, setaraf dengan pisau jika dinisbat dengan alat pemotong. Orang yang memenuhi ajakan dunia, maka akan hilang akhiratnya, karena dunia dapat membahayakan akhirat. Orang yang memenuhi ajakan anggota badan, maka hilanglah surga daripadanya.
Dalam suatu riwayat Nabi saw. bersabda:
“Setiap hamba mempunyai dua rumah, satu rumah di surga dan yang lainnya rumah di neraka. Adapun orang mukmin, dia membangun rumahnya di surga dan dia menghancurkan rumahnya yang ada di neraka. Adapun orang kafir, maka dia menghancurkan rumahnya di surga dan membangunnya di neraka.” (H.R. Dailami).
Orang yang memenuhi ajakan Allah, maka hilanglah kejelekannya dan dia mendapatkan semua kebaikan. Dalam suatu riwayat Nabi saw. bersabda:
“Tidak akan masuk surga seorang pun, melainkan dia akan melihat tempat duduknya di neraka kalau dia berbuat jelek, agar bertambah syukur. Dan tidak akan masuk neraka seorang pun, melainkan dia akan melihat tempat duduknya di dalam surga kalau dia berbuat baik, agar menjadi penyesalan padanya.” (H.R. Bukhari).
4. Allah Menyembunyikan Enam Perkara di dalam Enam Hal
Sayidina Umar -semoga Allah meridainyaberkata:
“Sesungguhnya Allah Ta’ala menyembunyikan enam perkara di dalam enam hal, yaitu: Menyembunyikan rida-Nya dalam perbuatan taat, menyembunyikan murka-Nya dalam perbuatan maksiat, menyembunyikan Lailatul Dadar dalam bulan Ramadan, menyelinapkan waliwalinya di tengah-tengah manusia, dan menyisipkan kematian di . sepanjang umur, menyembunyikan salat Wustha di salat lima waktu.”
Menurut Umar r.a. ada enam perkara yang tersembunyi di dalam enam hal, yaitu:
Keridaan dalam ketaatan, maksudnya agar manusia bersungguhsungguh dalam mengerjakan semua ketaatan dengan harapan dapat menemukannya. Kita tidak boleh menghina ketaatan, sekalipun sangat kecil, karena barangkali keridaan Allah ada di dalamnya.
Kemurkaan Allah swt. dalam kemaksiatan, maksudnya agar manusia menjauhi kemaksiatan. Kita tidak boleh meremehkan kemaksiatan, sekalipun sangat kecil, karena di dalamnya terdapat kemurkaan Allah.
Lailatul Qadar pada bulan Ramadan, maksudnya agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan semua bulam Ramadan dengan beribadah, karena pahala sunah pada bulan Ramadan ini seperti pahala fardu pada bulan selain bulan Ramadan. Hal tersebut seperti terdapat pada hadis, ibadah sunah yang dilakukan tepat di malam Lailatul Jadar itu, bernilai ibadah fardu.
Bahkan An-Nakha’i mengatakan:
“Satu rakaat salat dalam Lailatul Gadar lebih utama dibanding seribu rakaat di luar Lailatul Qadar dan sekali membaca tasbih di situ lebih utama dibanding seribu kali membacanya di luar malam itu.”
Hendaklah bersungguh-sungguh menghidupkan semua malam Ramadan untuk mendapatkan Lailatul Qadar, karena Lailatul Oadar lebih baik daripada seribu bulan, yaitu 83 tahun 4 bulan.
Dalam sebuah hadis marfu’ Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa berzina atau minum khamar di bulan Ramadan, maka dia dikutuk Allah swt. dan malaikat yang ada di langit sampai datang tanggal yang sama di tahun depan.” (H.R. Ath-Thabrani).
Jadi, orang yang berbuat kejelekan di bulan Ramadan, kemudian mati sebelum mengalami Ramadan berikutnya, tidak mempunyai kebajikan di sisi Allah yang dapat menjaga dirinya dari api neraka. Oleh karena itu, bertakwalah kepada Allah Ta’ala di bulan Ramadan, karena pada bulan Ramadan ini kebaikan dilipatgandakan. Begitu pula dengan kejelekan, dilipatgandakan pada bulan Ramadan.
Para kekasih Allah diselinapkan di tengah-tengah para manisia: maksudnya agar manusia tidak menghina seorang pun dari wali (kekasih Allah), melainkan memohon doa dengan harapan menemui wali. Oleh sebab itu, seseorang jangan menghina orang lain, karena siapa tahu dia adalah wali Allah.
Ajal kematian disisipkan di sepanjang usia, maka hendaklah di setiap denyut jantung selalu digunakan menghimpun bekal untuk mati dengan cara beribadah, karena siapa tahu kematian datang dengan tiba-tiba.
Salat Wustha, yakni salat yang paling utama dan istimewa disembunyikan Allah dalam salat lima waktu, maksudnya agar manusia mencarinya pada semua salat. :
Selain itu, Allah menyembunyikan nama-Nya yang agung, agar manusia bersungguh-sungguh dapat dikabulkan. Allah menyembunyikan waktu ijabah (dikabulkan doa) pada hari Jumat dan Allah menyembunyikan ayat Sab’ul Matsani, agar manusia bersungguh-sungguh membaca semua ayat Alqur-an.
5. Orang Mukmin Mengalami Enam Macam Ketakutan
Utsman r.a. berkata:
“Orang mukmin sesungguhnya menghadapi enam macam ketakutan: Pertama, takut kepada Allah, jangan-jangan direnggut imannya: Kedua, takut kepada para malaikat penjaga, jangan-jangan dicatat hal-hal yang dapat menyingkap kejelekannya kelak di hari Kiamat, Ketiga, takut kepada setan, jangan-jangan membatalkan amal perbuatannya: Keempat, takut kepada malaikat maut, jangan-jangan ia merenggut nyawanya di saat dia lengah: Kelima, takut pada dunia, jangan-jangan membuatnya tertipu dan lengah dari akhirat, Keenam, takut kepada keluarga serumah dan para famili, jangan-jangan membuatnya sibuk, sehingga lengah dari mengingat Allah.”
Menurut Utsman r.a., enam perkara yang harus ditakuti oleh orang yang beriman, yaitu:
- Takut dicabut keimanannya oleh Allah waktu dia diambil nyawanya. Diriwayatkan, bahwa Ibnu Mas’ud menunjukkan doa sebagai berikut:
“Ya, Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu iman yang tidak kembali murtad, kenikmatan yang tiada habis, bidadari bermata jeli yang tiada hentinya, dan menemani Nabi-Mu, Muhammad saw., di surga yang tertinggi lagi kekal.”
- Takut kepada malaikat pencacat amal. Mereka mencatatkan sesuatu yang membuat malu pada hari Kiamat, Nabi saw. bersabda:
“Terbuka kejelekan di dunia, lebih ringan daripada terbukanya kejelekan di akhirat.” (H.R. Ath-Thabrani).
Manawi berkata: “Noda yang ada pada diri terbuka di dunia, hingga membuat dia dipermalukan, lebih ringan daripada menyembunyikan noda itu sampai hari Kiamat, karena di hari Kiamat akan disebarkan pada semua makhluk.” Oleh karena itu, seorang sahabat mengakui dosanya kepada Nabi saw., agar Nabi saw. berkenan menghukumnya dan dia tidak mencabut pengakuannya, padahal Nabi saw. mengisyaratkan untuk mencabut pengakuannya, karena dia mengetahui terbuka kejelekan di dunia dengan menjalani hukuman, lebih ringan daripada terbuka kejelekan di akhirat.
- Takut kepada setan, jangan-jangan membatalkan amalnya.
- Takut kepada malaikat maut, ketika dalam keadaan lupa dari Allah swt. dengan mendadak tanpa didahului sebab kematian.
- Takut pada dunia, yakni ditipu dengan melupakan akhirat dan dia lupa terhadap kedahsyatan akhirat.
- Takut kepada keluarga mereka yang wajib dibiayai, yakni takut disibukkan oleh mereka sehingga dia tidak ingat kepada Allah swt. dan tidak taat kepada-Nya.









One Comment