BAB IV NASIHAT TENTANG LIMA PERKARA
Pada bab ini terdapat dua puluh tujuh nasihat, terdiri atas enam hadis dan selebihnya atsar
1. Jangan Merendahkan Lima Perkara
Diriwayatkan dari Nabi saw.:
“Barangsiapa yang meremehkan lima perkara, maka dia rugi lima perkara, yaitu barangsiapa yang meremehkan para ulama, maka rugi agamanya: Barangsiapa yang meremehkan umara (para pemimpin) maka rugi dunianya, barangsiapa yang meremehkan tetangga-tetangga, maka rugi manfaat-manfaatnya, barangsiapa yang meremehkan kerabat-kerabatnya, maka rugi kecintaannya, dan barangsiapa yang meremehkan ahlinya, maka rugi kemanisan hidupnya.”
Mengabaikan ulama dapat mengakibatkan kerugian agama, sebab para ulama adalah sumber pengetahuan agama. Sedang mengabaikan pejabat (penguasa) dapat mengakibatkan rugi dunia, sebab di tangan merekalah urusan dunia dan kendali menanganinya.
Tentang mengabaikan tetangga, Nabi bersabda:
“Demi Zat yang jiwaku berada dalam kekuasaan-Nya. Tidak beriman seorang hamba, sehingga ia menyukai tetangganya, seperti dia menyukai dirinya sendiri.” (H.R. Muslim).
Dalam hadis lain Nabi bersabda:
“Sesungguhnya menyukai orang yang mempunyai tetangga jahat dan karena Allah ia tetap bersabar menghadapi gangguan kejahatannya itu, sehingga Allah beri imbalan secukupnya, dengan tetap hidup atau mematikannya.”
Barangsiapa yang meremehkan saudara atau famili, maka merusak kecintaan mereka. Barangsiapa yang meremehkan istrinya, maka rugi kemanisan hidupnya.
2. Mencintai Lima dan Melupakan Lima
Nabi saw. bersabda:
“Bakal datang suatu masa di mana umatku menyukai lima hal dan melupakan lima lainnya: Mereka suka dunia dan lupa akhirat, suka rumah dan melupakan kubur, suka harta dan melupakan perhitungannya, suka keluarga serumah dan lupa bidadari surga, suka dirinya sendiri dan lupa Allah, mereka adalah orang-orang yang berlepas diri dariku dan aku pun berlepas diri dari mereka.”
Maksud hadis di atas, jika orang-orang telah mencintai lima hal dan melupakan lima perkara sebagai bandingannya, maka mereka adalah orang-orang yang jauh dari Nabi saw., dan Nabi saw. pun jauh dari mereka. Lima hal yang dimaksud yaitu:
- Sibuk dengan dunia dan melupakan amal untuk bekal di akhirat.
- Menghias rumah-rumah dan meninggalkan amal yang akan digunakan untuk menerangi kuburnya.
- Sibuk mengumpulkan harta benda dan melupakan perhitungan Allah swt. untuk harta benda mereka. Sesungguhnya dari harta benda itu, yang halal akan dihisab dan yang haram akan menjadi siksa.
- Mencintai istri dan anak-anaknya, melupakan pahala yang ada di surga. ,
5. Mengikuti kehendak dirinya sendiri dan meninggalkan perintahperintah Allah swt.
3. Allah Menganugerahkan Lima Hal dan Mempersiapkan Lima Hal yang Lain
Nabi saw. bersabda:
“Allah tidak memberikan lima kepada seseorang, melainkan telah mempersiapkan lima hal yang lain, yaitu Dia tidak memberikan syukur kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya tambahan, Dia tidak memberikan doa kepadanya, melainkan telah menyediakan untuknya ijabah, Dia tidak memberikan kepadanya istigfar, melainkan telah menyediakan untuknya ampunan, Dia tidak memberikan untuknya tobat, melainkan telah menyediakan penerimaan tobat, dan Dia tidak memberikan kepadanya sedekah, melainkan Dia telah menyediakan untuknya menerima (sedekah itu).” –
Allah telah mempersiapkan tambahan kenikmatan sebelum seseorang berbuat syukur, seperti dalam firman Allah:
“…. jika kalian bersyukur, niscaya aku menambah (nikmat) untuk kalian ….”
Tentang ijabah doa, Allah berfirman:
“Berdoalah kalian kepada-Ku, maka Aku berkenan mengabulkan doa kalian.”
Dalam suatu hadis Nabi berdoa:
“Ya, Allah, sungguh aku memohon kepada-Mu jiwa yang tenang serta mengimankan terjadinya perjumpaan dengan Engkau, rela menerima keputusan-Mu dan qanaah pada pemberian-Mu.” (H.R. Ath-Thabrani).
Tentang ampunan yang telah disediakan sebelum istigfar dipanjatkan, Allah berfirman:
“Bacalah istigfar kepada Tuhanmu, Sesungguhnya Dia Maha. Pemberi Ampun.”
Dalam sebuah hadis Nabi bersabua.
“Andaikata kamu membuat kesalahan hingga kesalahan-kesalahanmu itu mencapai langit, kemudian kamu bertobat, niscaya Allah menerima tobatmu.” — (H.R. Ibnu Majah).
Tentang diterimanya tobat, Nabi bersabda:
“Sebelum dunia diciptakan empat ribu tahun lagi, di sekeliling Arasy ditulis: ‘Sesungguhnya Aku Maha Pengampun bagi orang yang bertobat, beriman dan beramal saleh, kemudian dia mendapatkan petunjuki’.” (H.R. Ad-Dailami).
Tentang diterimanya sedekah, Nabi bersabda:
“Setiap orang berada di bawah naungan sedekahnya, hingga hisab antara sesama manusia selesai.” . (H.R. Imam Ahmad).
Selain itu dalam hadis lain diriwayatkan, bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda:
“Tidaklah seseorang yang bersedekah dengan suatu sedekah semaramata mengharapkan rida Allah, melamkan Allah berfirman pada hari Kiamat: Har, hamba-Ku! Kamu mengharapkan pahala-Ku, maka Aku tidak akan merendahkanmu, Aku mengharamkan neraka atas tubuhmu dan masuklah kamu ke surga dari pintu mana saja yang kamu inginkan.” (H.R. Ibnu Laal).









One Comment