21. Lima Perkara Penyebab Iblis Celaka dan Lima Hal Penyebab Adam a.s. Bahagia
Muhammad bin Dauri -rahimahullah-berkata-:
“Iblis celaka sebab lima perkara, yaitu tidak mengakui dosa, tidak bersedih, tidak mencela dirinya sendiri, tidak mengazam berniat tobat, dan putus asa dari rahmat Allah. Sedangkan Adam a.s. bahagia karena lima perkara, yaitu mengakui dosa, menyesali atas dosanya, menyalahkan dirinya sendiri, segera bertobat dan tidak putus asa dari rahmat Allah.”
Nabi Adam a.s. bahagia karena mengakui dosanya, sebagaimana dalam pengakuan beliau termuat dalam sebuah ayat Alqur-an:
“Wahai, Tuhan kami, kamu telah berbuat zalim serhadap dm kami sendiri, jika Engkau tidak mengampuni kami, dan tidak memberi rahmat kepada kami, niscaya kamu termasuk orang-orang yang merugi.”
Dari Aisy r.a.: 250
“Sesungguhnya hamba, jika mau mengakui dosanya kemudian bertobat, maka Allah berkenan menerima tobatnya.” (H.R. Al-Bukhari dan Muslim).
Dari riwayat Abdullah bin Mas’ud, mengatakan: Nabi saw. “bersabda:
“Barangsiapa berbuat kesalahan atau berbuat dosa, kemudian menyesalinya perbuatan itu, maka penyesalan itulah tebusannya.” . (H.R. Al-Baihaqi).
22. Lima Pegangan yang Harus Dipatuhi
Dari guru Syekh Hatim Al-Asham, yaitu Syaqiq Al-Balkhi mengatakan:
“Laksanakanlah lima perkara ini: beribadalah kepada Allah sebanyak apa yang kamu perlukan dari-Nya: berdosalah kepada Allah sejauh kamu mampu memikul siksa-Nya: Himpunlah bekal di dunia sebanyak usiamu di dunia, dan berbuatlah derni surga, seukur kedudukan surga yang kamu kehendaki.”
Warga surga itu bertingkat-tingkat, sesuai dengan banyak-sedikit amal kebajikannya. Untuk yang tertinggi kebajikannya, maka tingkatan surganya juga paling tinggi.
Dalam kesempatan lain Syaqiq Al-Balkhi mengatakan: “Saya mencari lima hal, kemudian saya temukan pada lima perkara, yaitu: Saya mencari kesanggupan meninggalkan dosa, lalu saya temukan pada salat Dhuha: saya mencari pancaran sinar dalam kubur, lalu saya temukan pada salat Lail (salat malam): saya mencari jawaban terhadap Mungkar dan Nakir, kemudian saya temukan pada pembacaan Alqur-an, saya mencari kemampuan melintasi titian, lalu saya temukan pada puasa dan sedekah: dan saya mencari teduhan Arasy, ternyata saya temukan dalam mengasingkan diri.
Syaqiq Al-Balkhi ialah anak seorang hartawan. Dalam suatu perjalanan siaganya ke Turki, sempat memasuki sebuah rumah penyembahan berhala. Di samping banyak terdapat berhala, diketahui juga banyak pendeta yang berkepala gundul dan tidak berjenggot. Kepada seorang pelayan di situ Syagig berkata: “Anda diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Hidup, Maha Mengetahui dan Maha Kuasa. Sembahlah kepada-Nya, tidak perlu lagi menyembah pada berhala-berhala yang tidak berbahaya juga tidak berguna!” Dengan diplomatis pelayan itu menjawab: “Jika benar, apa yang kamu katakan, bahwa Tuhan Maha Kuasa memberi rezeki kepadamu di negerimu sendiri, mengapa Tuan dengan susah payah datang kemari untuk berniaga?” Maka terketuklah hati Syagig dan untuk selanjutnya menempuh kehidupan Zuhud.
Kisah lain tentang kezuhudan Syagig, menuturkan jalan cerita yang berbeda. Bermula dia melihat seorang hamba bermain-main, sementara kehidupan perekonomian mengalami paceklik, yang melanda manusia secara merata. Kepada hamba itu Syaqiq bertanya: “Apakah kerja Anda, bukankah Anda tahu orang-orang sedang menderita karena paceklik?” Si hamba itu menjawab: “Saya tidak mengalami paceklik, karena majikanku memiliki perkampungan subur yang hasilnya mencukupi keperluan kami.” Di sinilah Syaqiq mulai terketuk hatinya dan berkata: “Jika hamba tersebut tidak memikirkan rezeki karena majikannya memiliki . perkampungan yang subur, toh si majikan itu sendiri adalah makhluk yang melarat, maka bagaimana bisa patut jika orang muslim memikirkan rezekinya, sedang Tuhannya Maha Kaya?”
23. Lima Hal Lebih Utama
Umar r.a. berkata:
“Aku melihat semua teman karib, maka aku tidak melihat teman karib yang lebih utama daripada memelihara ucapan: aku melihat semua pakaian, maka aku tidak melihat pakaian yang utama daripada wira, aku melihat semua harta benda, maka aku tidak melihat harta benda yang lebih utama daripada qanaah, aku melihat semua kebaikan, maka aku tidak melihat kebaikan yang lebih utama daripada nasihat: dan aku melihat semua makanan, maka aku tidak melihat makanan yang lebih lezat daripada sabar.”
Maksud dari perkataan Umar r.a. adalah: Teman karib yang lebih utama adalah memeliharan lisan. Banyak perbedaan antara orang yang diam karena menjaga ucapan bohong dan mengumpat dengan orang yang diam agar diberi kehormatan oleh raja.
Pakaian yang lebih utama adalah takwa. Menurut Ibrahim bin Adham, warak ialah meninggalkan setiap yang subhat, sedangkan meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat disebut meninggalkan kelebihan-kelebihan.
Rasullah saw. bersabda kepada Abi Hurairah:
“Lakukanlah wira’i, maka anda menjadi orang yang paling tinggi ibadahnya.”
Kekayaan paling utama adalah qanaah. Qanaah adalah tidak melihat perkara yang tidak ada dan merasa cukup dengan perkara yang ada dijelaskan oleh sabda Rasulullah saw.:
“Tadilah kamu orang yang warak, niscaya menjadi orang yang palmg beribadah: jadilah kamu orang yang qanaah, niscaya kamu menjadi orang yang bersyukur, cmtailah untuk orang lam apa-apa yang kamu Cintai untuk dirimu sendiri, niscaya kamu menjadi orang mukmin yang paling sempurna, berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang menjadi sempurna, berbuat baiklah dalam bertetangga dengan orang yang menjadi tetanggamu, niscaya kamu menjadi orang muslim yang sempurna: dan sedikitlah dalam tertawa, karena banyak tertawa itu akan menjadikan hati mati.”
Kebaikan yang utama adalah nasihat-nasihat, yaitu benar dalam perbuatan. Kebaikan terdiri atas dua macam, yaitu pemberian dan makruf (kebajikan). Pemberian adalah berderma dengan mengorbankan harta di jalan yang terpuji tanpa ada maksud agar diganti. Rasulullih saw. bersabda:
“Hati tertarik karena cinta kepada orang yang telah berbuat baik kepadanya dan membenci kepada orang yang telah berbuat jelek kepadanya. “
Dengan “demikian, di dalam kebaikan itu terdapat kerelaan manusia dan di dalam takwa terdapat kerelaan Allah swt. Barangsiapa yang telah mengumpulkan keduanya, maka kebahagiaanya telah sempurna dan nikmatnya telah meliputi.
Makruf (kebajikan) terdiri atas dua macam, yaitu ucapan (manis ucapannya dan baik pribadinya) dan perbuatan (memberikan penghormatan dan menolong orang yang tertimpa bencana).
Makanan yang paling lezat adalah sabar. Sabar terdiri atas tiga rukun, yaitu menahan nafsu dan benci pada Qadha (ketentuan), menahan ucapan dari ucapan yang jelek dan menahan anggota badan dari ” menempeleng, merobek-robek saku, menjerit-jerit, mencoreng-coreng muka dan meletakkan tanah di atas kepala.
Barangsiapa yang melakukan tiang-tiang ini, maka dia memperoleh keutamaan Sabar, sedangkan sabar merupakan setengah dari iman dan bencananya merupakan pemberian kebaikan semata. Sabar terdiri atas beberapa bagian, yaitu sabar terhadap perkara yang diusahakan, sabar terhadap perintah Allah swt. dan sabar terhadap larangan-Nya. Sabar terhadap perkara yang tidak diusahakan dan menanggung takdir Allah.
24. Lima Perkara Terpuji yang Dikandung oleh Zuhud
Dari segolongan hukama, katanya:
“Di dalam zuhud terdapat lima perkara terpuji: Percaya penuh kepada Allah, terbebas diri dari sesama makhluk, tulus ikhas dalam berbuat, kesanggupan memikul kezaliman dan kecukupan diri dengan apa yang ada di tangan.”
Menurut sebagian hukama, zuhud itu mengandung lima perkara terpuji, yaitu:
Berpegang teguh kepada Allah serta cinta fakir. Seperti yang dikatakan Abdullah bin Al-Mubarak, Syagig Al-Balkhi dan Yusuf bin Asbath: Salah satu tanda zuhud, yaitu tidak akan kuat zuhudnya selain dengan berpegang teguh kepada Allah swt.
Terbebas diri dari sesama makhluk, sebagaimana dikatakan oleh Abu Sulaiman Ad-Darani: Zuhud ialah meninggalkan apa-apa yang melalaikan dari Allah swt.
Tulus ikhas dalam berbuat, sebagaimana dikatakan oleh Yahya bin Muadz: Seseorang tidak akan sampai pada hakikat zuhud, hingga padanya ada tiga perkara, yaitu amal tanpa iming-iming, ucapan tanpa disertai perasaan tamak dan kemuliaan ‘tanpa kepangkatan.
Kesanggupan memikul kezaliman, sebagaimana dipahami dari sabda Nabi saw.:
“Zuhud di dunia itu bukanlah mengharamkan perkara yang halal dan bukan menyia-nyiakan harta, tetapi kezuhudan di dunia itu janganlah kamu lebih berpegang teguh pada apa-apa yang ada di tanganmu dari apa-apa yang ada di tangan Allah dan jika kamu ditimpa musibah, maka kamu lebih suka andaikan musibah itu tetap ditimpakan kepadamu, karena memandang pahalanya.” (H.R. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).
Kecukupan diri dengan apa yang ada di tangan, dikatakan oleh AlJunaidi, “Zuhud ialah mengosongkan hati dari perkara yang tiada di tanganmu.”
Sufyan Ats-Tsauri berkata: “Zuhud di dunia ialah pendek anganangan, bukan dengan makan yang kasar dan bukan pula dengan memakai pakaian yang sejenis mantel, inilah yang termasuk dari tanda-tanda zuhud dan sebab-sebab yang membangkitkannya. Jadi, orang yang zuhud ialah orang yang tidak bergembira atas dunia atau harta yang dimilikinya dan tidak berduka atas dunia atau harta yang tidak dimilikinya.”









One Comment