31. Empat Hal yang Hanya Bisa Diketahui oleh Empat Orang
Hatim Al-Asham -semoga Allah memberikan rahmat kepadanyaberkata:
“Empat hal yang tidak diketahui nilainya kecuali oleh empat orang, yaitu: Kemudaan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang tua, , kebahagiaan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang yang tertimpa ..bencana, kesehatan, nilainya hanya bisa diketahui oleh orang-orang sakit, dan kehidupan, nilainya diketahui oleh orang yang telah mati.”
Segala sesuatu tidak dapat diketahui selain oleh lawannya. Kemudian tidak dapat diketahui nilainya selain oleh orang-orang yang telah lanjut usia. Kebahagiaan tidak dapat diketahui nilainya selain oleh orang-orang yang ditimpa bencana. Sehubungan dengan h hal ini, Imam Al-Ghazali berkata:
. “Tidak dapat mengetahui nilai kekayaan, kecuali orang fakir.”
Penyair Abu Nuwas menggubah puisi dalam Bahar Thawil sebagai berikut:
Dosa-dosaku
Jika aku pikirkan itu banyak
namun rahmat Tuhanku
lebih luas daripada dosadosaku
Aku tidak tamak
tentang kebaikan yang telah aku kerjakan .
namun aku tamak kepada rahmat Allah
Dia adalah Allah Tuhanku
yang menciptakan ku
sedang aku adalah hamba-Nya
aku mengakui dan tunduk
Apabila dosa-dosaku diampuni
maka itulah rahmat
Namun jika selain itu,
maka tak ada yang dapat aku lakukan
Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang tidak ingin amal-amal jeleknya dihisab dan catatan amal keburukannya dibeberkan, maka seusai salat hendaklah berdoa dengan doa ini:
“Wahai, Allah, sesungguhnya ampunan-Mu lebih diharapkan ketimbang perbuatanku dan rahmat-Mu lebih luas ketimbang dosaku. Ya, Allah, jika diriku sepatutnya menggapai rahmat-Mu, namun rahmat-Mu lebih patut menjangkau diriku, karena bentangan rahmatMu meratai segala sesuatu: wahai, Tuhan Yang Maha Pengasih di atas segala-galanya.”
32. Keistimewaan Bagi Mereka yang Ketika di Dunia Ditimpa Bencana
Dari Nabi saw., beliau bersabda:
“Apabila telah terjadi hari Kiamat, maka timbangan diletakkan, lalu ahli salat didatangkan? maka dipenuhi pahala-pahala mereka sesuai perhitungan-mizan, lalu didatangkan orang-orang yang berpuasa dan diterimakan pahala mereka sesuai dengan perhitungan mizan: dan akhirnya didatangkan orang-orang yang tertimpa bencana, untuk mereka tidak diperhitungkan dengan mizan dan tidak pula dibentangkan kepada mereka catatan amalnya, lalu diberi pahala sepenuhnya tanpa hitungan, sehingga orang-orang yang selamat mengharapkan beroleh kedudukan seperti mereka karena banyaknya pahala dari Allah swt.”
Sabda Nabi di atas menerangkan bahwa amal salat, puasa dan haji, semuanya akan ditimbang. Namun ada amal yang tidak akan ditimbang, yaitu orang-orang yang sewaktu di dunia ditimpa musibah. Mereka sabar menghadapinya, sehingga pada hari Kiamat, orang-orang yang sewaktu di dunianya senantiasa berada dalam kesenangan, kemudahan dan kekayaan, mereka mengharapkan dapat seperti orang-orang yang ditimpa musibah, karena banyaknya pahala yang diberikan kepada mereka.
33. Empat Perenggut Mengancam Anak Adam
Sebagian hukama mengatakan:
“Anak cucu Adam akan menghadapi empat macam renggutan: Malaikat maut akan merenggut nyawanya, ahli waris akan merenggut hartanya, ulat akan merenggut daging tubuhnya dan para penuntut akan merenggut pahala amalnya.”
Empat yang akan merenggut manusia, yaitu:
- Malaikat maut akan merenggut roh anak Adam dengan paksa.
- Ahli waris merampas harta bendanya setelah anak Adam meninggal “dunia.
- Ulat akan menggerogoti jasadnya di dalam kubur.
- Penuntut atau lawan-lawan yang mempunyai hak menuntut orang yang lupa kepada mereka, dengan c cara menyita harta si alim mengumpat atau memukulnya dan sebagainya, merampas amal salehnya jika si zalim mempunyai amal saleh. Apabila tidak ada ama salehnya, maka dosa si teraniaya dilimpahkan kepada si zalim.
34. Empat Macam Kesibukan yang Tidak Lepas dari Empat Faktor
Sebagian hukama mengatakan:
“Barangsiapa yang sibuk dengan hawa nafsunya, maka pasti mam perempuan, barangsiapa yang sibuk mengumpulkan harta benda, maka pasti terjerumus ke barang haram: barangsiapa yang sibuk mengurus kemaslahatan arang-orang muslim, maka harus. ramah tamah, dan barangsiapa yang sibuk dengan ibadah, maka harus punya ilmunya.”
Orang yang sibuk dengan keinginan-keinginan syahwat, maka akan terjerumus main perempuan. Orang yang sibuk mengumpulkan harta, maka akan terlibat barang haram. Orang yang sibuk mengurus manfaat bagi orang-orang muslim, maka harus bersikap lemah lembut kepada mereka dalam ucapan dan perbuatan. Orang yang sibuk dengan ibadah,
Apabila tidak mengetahui tata caranya, maka ibadahnya tidak akan sah. Jadi, ibadah tidak dapat dilepaskan dari ilmu.
35. Empat Amal yang Paling Berat
Sayidina Ali r.a, berkata:
“Amal perbuatan yang sungguh paling berat ada empat: Memberi ampun di saat marah, suka berderma di saat melarat, berbuat iffah (enggan) ketika sendirian dan berkata benar terhadap orang yang ditakuti atau diharapkan jasanya.”
Menurut Ali -karrama wajhahu-, amal yang paling berat ada empat perkara:
- Memaafkan seseorang jika kita sedang marah. Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa menghentikan marahnya, maka Allah menghentikan siksa atasnya.”
Dalam hadis lain Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa yang mencegah marahnya, melapangkan kerelaannya, mendermakan kebaikannya, menghubungkan kerabatnya dan menunaikan amanatnya, maka Allah Azza wa Jalla memasukkan dia pada hari Kiamat dalam cahaya-Nya Yang Maha Agung.” (H.R. Ad-Dailami).
- Dermawan, walaupun sedang susah, yakni memberikan harta benda ‘ kepada yang membutuhkannya.
- Enggan melakukan hal yang haram, sekalipun sedang sendirian. Orang yang afif ialah orang yang mengurus perkara-perkara yang sesuai dengan syarak dan kepribadian.
- Ucapan yang hak kepada orang yang ditakutinya, misalnya kepada sultan yang zalim atau diharapkan, yakni orang yang diharapkan ampunan atau pemberiannya.
36. Empat Waktu Bagi Orang yang Berakal
Dalam kitab Zabur disebutkan, Allah swt. memberi wahyu kepada Nabi Dawud a.s.:
“Sesungguhnya orang yang berakal yang cerdik-pandai itu tidak akan lepas dari empat saat: Saat di mana dia menghadap Tuhannya, saat di mana dia membuat perhitungan atas dirinya, saat di mana dia pergi menemui para teman yang menunjukkan aib-aib dirinya dan saat di mana dia memisahkan diri dari kelezatan hidup yang halal.”
Dalam rangka menghadap Tuhan dapat dilakukan dengan cara berzikir, membaca firman-Nya, mengadukan hal ihwal hidupnya dan sebagainya.
Dalam rangka membuat perhitungan, dapat dilakukan dengan cara mencatat semua perbuatannya, kemudian dilakukan perhitungan pada ujung siang dan malam. Dengan begini, akan jelas yang ia lakukan, bersyukur atau justru istigfar.
37. Empat Pengabdian yang Merupakan Pangkal Segala Ibadah
Segolongan hukama berkata:
“Seluruh badah berpangkal pada empat pengabdian: Setia memenuhi janji, melestarikan pelaksanaan segala hukum, sabar menghadapi ketiadaan sesuatu yang diharapkan dan rela dengan apa yang ada.”
Setia memenuhi janji, artinya setia dalam menunaikan fardu-fardu Allah. Melestarikan hukum, artinya menjauhi larangan-larangan Allah. Dan rela dengan apa adanya, baik sandang pangan, maupun papan.









One Comment