26. Sepuluh Faktor Penyebab Hati Menjadi Mati :
Dari Syaqiq Al-Balkhi, dia berkata: “Ibrahim bin Adam berjalan-jalan di pasar Basrah, lalu orang-orang berkumpul kepadanya. Ibrahim bin Adham berkata ketika mereka menanyakan tentang firman Allah:
“Berdoalah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengabulkan doa kalian.”
Padahal kami telah bertahun-tahun berdoa, mengapa Allah belum juga mengabulkan doa kami.
Ibrahim menjawab:
“Hatimu telah mati karena sepuluh perkara. Pertama, engkau mengenali Allah, tetapi tidak menunaikan hak-Nya. Kedua, engkau membaca Kitab Allah, tapi tidak mau mengamalkannya. Ketiga, engkau mengaku bermusuhan dengan iblis, tetapi mengikuti tuntunannya. Keempat, engkau mengaku cinta Rasul, tetapi meninggalkan tingkah laku dan sunah beliau. Kelima, engkau mengaku senang surga, tetapi tidak berusaha menuju padanya. Keenam, engkau mengaku takut neraka, tetapi tidak mengakhiri perbuatan-perbuatan dosa. Ketujuh, engkau mengakui bahwa kematian itu hak, tetapi tidak mempersiapkan diri untuk menghadapinya. Kedelapan, engkau asyik meneliti aib-aib orang lain, tetapi melupakan aib-aib dirimu sendiri. Kesembilan, engkau makan rezeki Allah, tetapi tidak bersyukur kepada-Nya. Kesepuluh, engkau menanam orang-orang matimu, tetapi tidak mengambil pelajaran dari peristiwa itu.” |
Bersyukur kepada Allah adalah memuji dengan segala kebagusankebagusan-Nya yang telah dianugerahkan, kemudian taat kepada-Nya.
Mengambil pelajaran dari peristiwa kematiaan ialah dengan cara meningkatkan kesadaran diri. Jika seseorang telah sadar, bahwa pasti akan mengalami mati, maka timbul kesenangannya terhadap perbuatanperbuatan baik dan takut melakukan perbuatan jelek.
Dalam kaitannya dengan masalah doa ini, diriwayatkan dari Ibnu Abi Hatim, sesungguhnya Jibril berkata kepada Nabi sebagai berikut: “Tiada aku diutus menemui seseorang yang lebih menyenangkan kepadaku, kecuali diutus menemui engkau. Tidakkah sebaiknya aku mengajarimu suatu doa yang sengaja kusimpan untukmu dan tidak pernah aku ajarkan kepada seorang pun sebelum engkau. Doa Ini dapat engkau unjukkan di kala senang maupun susah. Ucapkanlah:
“Wahai Yang Menerangi langit dan bumi, wahai, Yang Mendirikan langit dan bumi, wahai, Yang Dibutuhkan langit dan bumi, wahai, Yang Menghiasi langit dan bumi, wahai, Yang Memperindah langit dan bumi, wahai, Yang Maha Agung lagi Maha Mulia, wahai, Yang “. Menolong orang yang Memohon pertolongan, dan penghabisan yang dicmtai orang-orang yang beribadah, Yang Melonggarkan kebingungan dari orang-orang yang bingung, Yang Menghilangkan kesusahan orang-orang yang susah, wahai, Penolong orang-orang yang memekikkan rmtihan, dan wahai, Tuhan Yang Mengabulkan permintaan orang-orang yang beribadah.”
Kemudian kamu meminta kepada Allah kebutuhan dari berbagai kebutuhan, baik duniawi maupun ukhrawi.
27. Sepuluh Kalimat Doa di Malam Hari Arafah
Nabi saw. bersabda: .
“Tidaklah seseorang yang berdoa dengan doa ini pada malam Arafah sebanyak seribu kali, yaitu sepuluh kalimat, lalu dia memohon sesuatu kepada Allah, melainkan Dia akan memberi permintaannya, selama dia tidak meminta putus hubungan silaturahmi atau permintaan yang berupa dosa.”
Adapun sepuluh kalimat tersebut, seperti dinyatakan Ibnu Abbas lebih lanjut ialah:
“Pertama, Maha Suci Tuhan yang Arasy-Nya di langit: Maha Suci Tuhan yang kerajaan dan kekuasaan-Nya di bumi: Maha Suci Tuhan yang jalan-Nya di lautan, Maha Suci Tuhan yang roh-Nya di angkasa, Maha Suci Tuhan yang kekuasaan-Nya di neraka, Maha Suci Tuhan Yang Mengetahui alam rahim: Maha Suci Tuhan yang hukum-Nya di alam kubur: Maha Suci Tuhan yang meletakkan bumi di atas air, lalu menjadi keras: Maha Suci Tuhan yang tidak ada perlindungan maupun keselamatan, melainkan kepada-Nya Yang Maha Mulia.”
Kata ‘di langit” maksudnya di atas. Arasy di atas Al-Kursi, di mana yang disebut terakhir ini berada di atas langit (di atasnya atas).
Kerajaan dan kekuasaan Allah dikemukakan di bumi, adalah menurut kenyataan yang mampu kita pahami.
Jalan Allah berada di laut, maksudnya bahwa laut itu terbentang luas dan dapat membawa orang ke mana saja tujuannya.
Roh Allah berada di angkasa, maksud roh di sini adalah angin yang tersimpan di dalam bumi ketiga. Angin. ini diletakkan pada atmosfir antara bumi dan langit.
Kekuasaan Allah berada di dalam neraka (api), karena itu siapa pun dilarang membunuh (menyiksa) binatang dengan api.
Allah mengetahui alam rahim, tidak ada yang mengetahui apa saja yang ada dalam rahim kecuali Allah swt.
Keputusan Allah berada di dalam kubur, artinya tidak ada yang dapat memutuskan bahagia atau celaka bagi orang yang berada dalam kur.









One Comment