3. Delapan Anugerah
Umar r.a. berkata:
“Barangsiapa yang menyingkiri berlebih-lebih dalam bicara, maka dianugerahi hikmah. Siapa yang menyingkiri berlebih-lebihan dalam melihat, niscaya dianugerahi hati yang khusyuk. Barangsiapa yang menyingkiri berlebih-lebih dalam makan, niscaya dianugerahi kelezatan ibadah. Barangsiapa menghindari berlebih-lebihan dalam tertawa, maka dianugerahi kewibawaan. Barangsiapa meninggalkan bergurau, niscaya dianugerahi wibawa yang anggun. Barangsiapa menyingkiri cinta dunia, maka dianugerahi kecintaan akhirat. Barangsiapa meninggalkan kesibukan meneliti aib orang lain, niscaya dianugerahi perbaikan aib dirinya sendiri. Dan barangsiapa meninggalkan mengintai-intai keadaan Allah swt., maka dia akan dianugerahi kebebasan dari kemunafikan.”
Tentang berbicara terlalu banyak, Nabi saw. bersabda:
“Manisnya iman tidak akan masuk ke dalam hati seseorang, hingga dia meninggalkan sebagian pembicaraan karena dikhawatirkan berdusta, walaupun pembicaraannya itu benar, dan meninggalkan sebagian perbuatan yang terlihat, walaupun perbuatan itu benar.” (H.R. Ad-Dailami).
Masalah hati yang khusyuk, di antara gejalanya adalah: Jika seseorang tetap dapat menerima dengan rela bila dimarahi, ditentang atau ditolak.
Mengenai meninggalkan makan terlalu banyak, Nabi saw. bersabda:
“Barangsiapa menahan diri dari makanan yang sangat berlebihan – dengan kesabaran yang baik, maka Allah akan menempatkannya di dalam surga Firdaus, sesuai dengan kehendak-Nya.” (H R. Abu Syekh). Nabi saw. bersabda lagi:
“Siapa saja yang menginginkan syahwatnya, kemudian dia mengekangnya dan melupakan keinginan dirinya, maka dia diampuni dosanya.” (H.R. Darughutni).
Tertawa dalam hubungannya dengan kewibawaan, Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya seseorang yang melontarkan kata-kata hanya membuat orang lain tertawa, adalah ia akan menukik lebih jauh dibanding jarak antara langit dan bumi, dan niscaya terpeleset lisan itu lebih dahsyat daripada terpeleset kedua kaki.”
Tentang bergurau, Nabi saw, bersabda:
“Diam itu menjadi pemuka/rajanya budi pekerti, barangsiapa bergurau maka dha akam diremehkan orang.” (H.R. Ad-Dailami).
Jika terpaksa harus bergurau, maka bagi orang yang berakal selalu berpangkal pada dua hal:
- Merindukan orang berteman dan kasih sayang kepada teman bergaul.
- Untuk menghilangkan kebosanan dan menghilangkan kebingurigan berbicara. Juga tidak menggunakan hal-hal yang jorok.
Tentang kecintaan terhadap dunia atau akhirat, perlulah diketahui, bahwa sesungguhnya dunia dan akhirat itu saling mencari dan dicari. Orang yang selalu mencari dunia, ia pun selalu dikejar akhirat sampai kemarian tiba dan mencekik lehernya.
Tentang kegemaran menilai noda orang lain, Nabi saw. tera
“Enam perkara dapat membatalkan berbagai amal: Sibuk dengan noda orang lain, mencintai dunia, sedikit malu, panjang angan-angan dan zalim yang tidak henti-hentinya.” . (H.R, Ad-Dailami).
4. Delapan Tanda Orang yang Makrifat
Dari Utsman r.a. ia berkata:
“Tanda-tanda orang yang inakrifat ada delapan: Hatinya , penuh rasa takut tapi penuh harapan, lisannya penuh puji dan puja, kedua matanya penuh dengan rasa malu dan tangis, kehendaknya disertai dengan tidak berkehendak sendiri dan senang meninggalkan dunia, dan mencari keridaan Tuhannya.”
Rasa takut itu berpangkal pada makrifat hati terhadap keagungan Allah swt., keperkasaan dan kekayaan-Nya dari semua makhluk-Nya dan yang keras siksa-Nya kepada orang yang bermaksiat. Dari pengenalan seperti ini, maka timbullah suatu kondisi mental yang kemudian disebut dengan sikap khauf (takut). Buah yang dikehendaki oleh khauf ini ialah kesanggupan seseorang meninggalkan segala per-buatan maksiat. Sedang rojak (harapan), berpangkal pada pengenalan hati terhadap luas rahmat Allah, agung anugerah dan indah janji Allah, semua itu akan diberikan kepada orang yang taat kepada-Nya. Dari pengenalan ini, maka timbullah suatu kondisi mental gembira, yang kemudian disebut harapan. Sedang buah yang diharapkan ialah semangat untuk melakukan kebajikan.
Dalam sebuah hadis diriwayatkan, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Tiada terkumpul harapan dan rasa takut dalam hati seorang mukmin, melainkan Allah Yang Maha Mulia dan Maha. Agung mengaruniai apa yang diharapkan dan mengamankannya dari ketakutan.” (H.R. Ath-Thabrani).
Mengenai tangis penyesalan, Nabi saw. bersabda:
“Kalau saja tangis Nabi Dawud dan tangis penduduk bumi dibandingkan dengan tangis Nabi Adam, maka tidak akan membandinginya.” (H.R. Ibnu Asakir).
5. Delapan Kebaikan Tidak Dinilai Baik Jika Tidak Disertai Delapan Perkara
Dari Sayidina Ali -karramallaahu wajhahu-, dia berkata:
“Tiada kebaikan dalam salat tanpa khusyuk, tiada kebaikan dalam berpuasa tanpa menahan pembicaraan yang tidak berguna, tiada kebaikan dalam membaca Alqur-an tanpa memikirkan isinya, tiada” kebaikan dalam ilmu tanpa wira’i, tiada kebaikan dalam harta benda yang tidak dibarengi kedermawanan, tiada kebaikan dalam persahabatan yang tidak diikuti saling menjaga (dari kejelekan), tidak ada kebaikan dalam kenikmatan yang tidak abadi, dan tiada kebaikan dalam doa yang tidak dipanjatkan dengan ikhlas.”
Berbuat khusyuk dalam sebagian salat itu wajib, bukan sekadar menjadi syarat, demikian dikemukakan guru kita Ahmad Ash-Shahrawi. Kepada sebagian para nabi, Allah menurunkan wahyu sebagai berikut:
“Wahai, hamba-Ku, berikanlah air mata dari matamu dan khusyuk dari hatimu, kemudian berdoalah, karena Aku mengabulkan doamu, Aku Yang Maha Dekat lagi Maha Memperkenankan doa.”
Wira’i dalam berilmu adalah menjaga dari yang subhat dan yang haram, karena sabda Nabi saw. seperti yang tercantum di bawah ini:
“Barangsiapa yang menghindari subhat, maka dia membersihkan diri bagi agama dan harga dirinya. Barangsiapa yang terjerumus pada yang subhat, maka dia terjerumus pada yang haram.”
Tiada kebaikan dalam harta benda yang tidak dibarengi dengan kedermawanan. Dalam suatu riwayat, Nabi saw. bersabda:
“Tiada seorang yang membuka pintu pemberian, baik sedekah atau relasi, melainkan Allah akan menambahnya lebih banyak lagi, dan tiada seseorang yang membuka pintu permintaan agar ia memperoleh lebih banyak lagi, melaikan Allah akan memperbesar kekurangannya.” – (H.R. Al-Baihaqi).
Mengenai persahabatan, Nabi saw. bersabda:
“Hendaklah kamu bersahabat dengan para kawan yang tulus hatinya, karena mereka menjadi hiasan di kala bahagia dan menjadi perisai di ‘ saat terjadi bencana.”
Abu Zubair meriwayatkan dari Sahal bin Sa’d, bahwa Nabi saw. bersabda:
“Seorang itu banyak temannya, akan tetapi tidak ada kebaikan bersahabat dengan orang yang tidak melihat kebenaran yang ada padamu, seperti engkau melihat kebenaran yang ada padanya.”
Tidak ada kebaikan dalam nikmat yang tidak abadi. Sebagian ulama berdoa dengan doa di bawah ini:
“Ya, Allah, janganlah Kau hilangkan nikmat-Mu dariku yang telah Engkau berikan kepadaku.”
Tiada kebaikan dalam doa yang tidak dipanjatkan dengan ikhlas. Dalam hal ini Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya hati ini adalah wadah, maka sebaik-baik wadah adalah yang dapat menghimpun. Jika kamu sekalian memohon kepada Allah,” maka memohonlah kepada-Nya dengan penuh keyakinan bahwa akan dikabulkan, karena Allah tidak berkenan mengabulkan doa dari orang yang memanjatkannya dengan hati yang lalai.” (H.R. Ath-Thabrani).









One Comment