Kitab Tasauf

Terjemahan Kitab Nashoihul Ibad

8. Sepuluh Hal Duniawi Tidak Pantas Disukai oleh Ulama

Ada yang mengatakan, suatu ketika Yahya bin Mu:adz Ar Razi r.a. melihat seorang fagih (alim) menyukai duniawi, lalu kepadanya Ar Razi berkata:

“Wahai, yang mempunyai ilmu dan sunah, gedung-gedungmu ala Kaisar Romawi, rumah-rumahmu ala Kisra Persia, tempat-tempat tinggalmu ala (Jarun zaman Nabi Musa, gerbang-gerbangmu menjulang tinggi ala raja Thalut, busana-busanamu semewah Jalut, jalan-jalan hidupmu aliran setan, perbuatan-perbuatanmu aliran Marwan, kekuasaanmu macam Firaun, hakim-hakimmu gegabah dalam memutus hukum lagi pula gemar makan suap dan khianat, dan para imammu setolol Jahiliah, kalau begitu di mana pelaksanaan ajaran Muhammad?”

Gedung yang bagaikan gedung kaisar, kaisar yaitu gelar untuk rajaraja Romawi. Rumah yang bagaikan rumah Kisra, yakni Raja Persia. Qarun ialah hartawan yang menentang Nabi Musa dan akhirnya ia sendiri ditelan bumi berikut harta kekayaannya. Thalut ialah seorang Raja di masa Nabi Dawud, sedang Jalud adalah raja musuhnya, yang kemudian terbunuh dalam peperangan melawan Nabi Dawud. Marwan bin Hakam, ialah seorang raja dalam Dinasti Umawiyah yang berkuasa setelah Muawiyah II, yaitu tahun 65 H./684 M. Dua orang utra Marwan, Abdul Malik dan Abdul Aziz. Abdul Malik menurunkan Walid, Sulaiman, Yazid, dan Hisyam, semuanya menjadi raja di Syam berturut-turut. Sedang Abdul Aziz menurunkan Umar, juga menjadi raja di Syam setelah Sulaiman, saudara sepupunya tersebut.

Berkata seorang penyair:

Wahai, orang yang munajat kepada Tuhannya dengan berbagai macam tutur kata dan orang yang mencari tempat tinggalnya di negeri yang penuh sentosa.

Wahai, orang yang menunda-nunda tobat dan tahun ke tahun  apakah yang membuatmu melihat ada di antara orang yang meluruskan dirimu?

Wahai, orang yang lengah sungguh! kalau saja engkau lakukan puasa di harimu dan engkau semarakkan sepanjang malammu dengan salat

Dan engkau persempit dirimu dengan sedikit makan dan sedikit saja minum, niscaya lebih patut engkau untuk memperoleh kedudukan yang mulia dan memperoleh kemuliaan yang agung dani sisi. Tuhan seluruh manusia beroleh juga keridaan yang agung dari Tuhan Maha Agung lagi Maha Mulia.

Penyair lainnya berkata:

Pilihlah pekerjaan yang baik untuk kamu kerjakan, sungguh teman seseorang dalam kubur adalah amal perbuatan

Jika engka sibuk dengan sesuatu maka janganlah kesibukan itu berupa sesuatu . yang tidak diridai oleh Allah

Tiada yang menyertai manusia sesudah mati di dalam kubur selain dari amal perbuatannya Ingatlah!

 Sesungguhnya manusia itu hanyalah tamu yang singgah sebentar kemudian pergi.

Penyair lainnya mengatakan:

Kepada rumah aku bertanya:

Katakan kepadaku sedang apa para kekasih

Kepadaku rumah berkata

Mereka diam sejenak dan telah pergi lagi ‘

Kataku lagi

Hai, rumah ke mana mereka pergi biar aku cari

Hai, rumah tahukah anda? di tempat mana mereka kini berada

Rumah berkata:

Mereka telah menempati kuburan dan telah bertemu dengan teman demi Allah, dengan hasil-yang mereka usahakan

Alangkah buruknya mereka yang teperdaya dan tertipu oleh angan-angan

 Hai, orang yang bertanya kepadaku tentang mereka yang telah direnggut oleh negaranya

Di dalam lembaran-lembaran kaum itu hanya tercatat perbuatan-perbuatan buruk dan kesalahan-kesalahan

Jika mereka meminta tolong | tiada seorang pun yang mampu menolong mereka tiada tempat berlindung bagi mereka di alam kubur dan tidak ada upaya bagi mereka untuk menyelamatkan diri

Kecuali kesedihan dan penyesalan di alam kubur mereka akan tetapi ………..

tiada gunanya penyesalan mereka karena nasi telah menjadi bubur.

9. Sepuluh Perkara yang Dibenci Oleh Allah Swt.

Sebagian hukama berkata:

“Allah swt. memurkai sepuluh hal dari sepuluh orang, ialah: Kekikiran  dari hartawan, kesombongan dari orang fakir, kerakusan dari ulama, tidak punya malu dari wanita, cinta duniawi dari orang tua, malas berbuat bagi pemuda, sikap zalim bagi penguasa, penakut bagi pasukan berang, perasaan superior bagi orang-orang zuhud, dan sikap riya bagi ahli ibadah.”

Mengenai kekikiran (bakhil), seorang bijak berkata: “Kikir dapat melebur sifat kemanusiaan dan meneguhkan adat istiadat kebinatangan.”

Tentang kesombongan, diriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Jika seseorang mengatakan, celakalah manusia, maka dia orang yang paling celaka.” (H.R. Muslim).

Larangan ini bagi orang yang mengatakan demikian, karena menyombongkan dirinya dan mengecilkan orang lain, maka ini dilarang.

Adapun kerakusan bagi ulama, dapat dihubungkan pemahamannya dengan kisah Nabi Musa dan Nabi Khidhir a.s. Di kala tanpa diketahui alasannya, Nabi Khidhir mengajak Nabi Musa memugar dinding sebuah rumah tak berpenghuni, sementara itu mereka berdua tengah dicekam rasa haus dan lapar. Sekonyong-konyong Nabi Musa berkata:

“.. Jika Tuan menghendaki, maka Tuan dapat memungut upah untuk pekerjaan ini…”

Nabi Khidhir menjawab:

“Saat inilah, tiba perpisahan antara aku dan kamu…”

Di kala terjadi dialog yang mengandung unsur tamak ini, datanglah seekor kijang di tengah-tengah mereka berdua: belahan tubuh kijang yang ada di dekat Nabi Musa mentah, sementara belahan yang berada di dekat Nabi Khidhir telah masak.

Tentang persamaan malu, Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang tidak punya malu, maka dia tidak punya agama, barangsiapa yang tidak punya malu di dunia, maka dia tidak akan masuk surga.” (H.R. Ad-Dailami).

Adapun kecintaan dunia dari orang tua, Abu Bakar Al-Maraghi berkata: “Orang yang berakal, adalah orang yang memikirkan urusan dunia dengan qanaah dan menunda-nunda, terhadap urusan akhirat dengan tamak dan segera, dan terhadap urusan agama dengan ilmu dan bersungguh-sungguh.” Mengenai kezaliman bagi para penguasa, diriwayatkan bahwa Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang rida terhadap penguasa dengan sesuatu yang dibenci oleh Allah, maka dia keluar dari agama Allah.” (H.R. Al-Hakim).

Perasaan superior (merasa lebih daripada orang lain), adalah jelas dilarang agama. Bebarapa hadis Nabi menjelaskan hal tersebut, di antaranya Nabi saw. bersabda:

“Barangsiapa yang memuji dirinya sendiri atas amal saleh, maka lenyaplah rasa syukurnya dan amalnya dihapus.” — (H.R. Abu Nu’aim). Diriwayatkan Pula bahwa Nabi saw. bersabda:

“Tidak ada seorang pun yang memakai baju untuk kehebatan, kemudian dia dilihat orang lain kecuali Allah tidak melihatnya pada hari Kiamat sebelum ia menaggalkannya.” (H.R. Ath-Thabrani). Diriwayatkan pula, bahwa Nabi saw. bersabda:

“Celakalah anak Adam, mengapa dia sombong, sesungguhnya dia adalah bangkai yang baunya mengganggu orang yang melewatinya, anak Adam diciptakan dari tanah dan dia akan kembali ke tanah.” (H.R. Ad-Dailami).

Adapun riya (pamer), adalah sebagaimana dalam sabda Nabi saw.:

“Jauhilah, jangan sampai kamu mencampurkan perbuatan taat kepada Allah dengan kesenangan dipuji manusia, karena akan leburlah amalamal perbuatanmu.” (H.R. Ad-Dailami).

Adanya pujian orang yang datang sendiri tanpa diharapkannya, adalah tidak mengapa, karena hal semacam itu tidak tergolong riya. Sebagaimana diriwayatkan dari Abu Dzar r.a., dia berkata: “Ada yang bertanya kepada Rasulullah saw.:

“Bagaimanakah menurut tuan seseorang yang melaksanakan amal baik, kemudian dia dipuji oleh orang lain?” Beliau menjawab: “Itu adalah berita gembira yang disegerakan bagi orang mukmin.” (H.R. Muslim).

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56 57Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker