Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Mutammimah Al Jurumiyah

ISIM YANG BERAMAL SEPERTI FIIL

Ketahuilah, bahwa pada dasarnya kata yang dapat beramal itu hanya fiil. Tetapi ada tujuh isim yang bisa beramal seperti amal fiil, yaitu: Mashdar, isim fail, shighat mubalaghah, isim maf’ul, sifat musyabbahah, isim tafdhil dan isim fiil.

  1. Amal Mashdar dan Syarat-syaratnya

Pertama adalah mashdar, dengan syarat tempatnya bisa ditempati oleh fiil bersama   atau , Contoh:

– Mengagumkan padaku pukulanmu pada Zaid.

Kata  dalam kalimat di atas dibaca nashab, karena menjadi maf’ul dari mashdar, yaitu kata . Kata itu bisa ..   ditempati oleh fiil bersama ( ) atau   , Sehingga menjadi:

atau   Mashdar dalam beramal itu terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Di-mudhaf-kan pada salah satu ma’mul-nya, contoh:

– Seandainya Allah tidak menolak manusia.

Dalam kalimat di atas mashdar ( ) di-mudhaf-kan pada , ma’mul marfu’-nya, yaitu kata   sedangkan kata menjadi maf’ul-nya.

Dalam kaliamt di atas mashdar ( ) di-mudhaf-kan pada ma’mul manshub (maf’ul), yaitu kata   .

  1. Di-tanwin. Contoh:

Dalam kalimat di atas, mashdar ( ) memakai tanwin dan beramal seperti fiil, mempunyai fail dan maf’ul. Failnya  dibuang, berupa dhamir  yang ada pada kata “abi, fakdir-nya adalah   , sedangkan maf’ul-nya adalah kata  

  1. Diberi Al ( ). Contoh:

Dalam kalimat di atas, mashdar   bersamaan Al (  ) dan beramal menashabkan kata   menjadi maf’ul-nya. Amal mashdar yang disertai Al itu hukumnya syadz.

  1. Amal Isim Fail

Kedua, adalah isim fail, seperti:   dan lain-lainnya.

Syarat Amal Isim Fail

Apabila isim fail bersamaan dengan Al (  ), maka bisa beramal secara mutlak, tanpa Syarat, contoh:

– Ini orang yang memukul Zaid kemarin.

– Ini orang yang memukul Zaid sekarang.

– Ini orang yang memukul Zaid besok.

Apabila isim fail tidak bersamaan dengan Al ( ), maka harus memenuhi dua syarat:

  1. Mengandung makna sekarang atau akan datang.
  1. Didahului oleh nafi, istifham, dijadikan khabar atau menjadi sifat, contoh:
  2. Didahului oleh nafi:

Zaid bukanlah orang yang memukul Amar.

  1. Didahului oleh istifham:

Apakah Zaid orang yang memukul Amar.

  1. Dijadikan khabar: :

Zaid adalah orang yang memukul Amar.

  1. Menjadi sifat:

Saya bertemu dengan laki-laki yang memukul Amar.

III. Amal Sighat Mubalaghah

Ketiga, adalah sighat mubalaghah, yaitu tiap-tiap kata yang mengikuti wazan.

  1.  
  2.  
  3.  

4.

  1.  

Sighat mubalaghah ini seperti isim fail, apabila bersamaan dengan Al (  ), maka bisa beramal secara mutlak, tanpa syarat, contoh:

– Telah datang orang yang banyak memukul Zaid.

Tapi apabila tidak bersamaan dengan Al ( ), maka harus memenuhi syarat-syarat yang berlaku pada isim fail, yang antara lain didahului oleh nafi, contoh:

-Zaid bukanlah orang yang banyak memukul Amar.

  1. Amal Isim Maf’ul

Keempat, adalah isim maf’ul, seperti  . Isim maf’ul ini beramal seperti fiil mabni majhul. Syarat-syarat amalnya, seperti syarat-syarat yang berlaku pada amal isim fail, contoh:

– Telah datang orang yang hambanya dipukul.

– Zaid adalah orang yang hambanya dipukul.

Kata dalam dua kalimat di atas menjadi naibul fail dari isim maf’ul 

  1. Amal Isim Sifat Musyabbahah

Kelima, adalah Isim Sifat Musyabbahah (diserupakan) dengan isim fail yang butuh pada satu maf’ul, seperti   Ma’mul (kata yang menjadi ‘sasaran amal) isim sifat musyabbahah itu mengalami tiga keadaan, yaitu:

  1. Rafa’, menjadi fail. Contoh:

Kata   dibaca rafa’ menjadi fail isim sifat musyabbahah

Kata dibaca rafa’ menjadi fail isim sifat musyabbahah

  1. Nashab, diserupakan maf’ul bih, apabila terdiri dari isim makrifat, contoh:

Kata  adalah isim makrifat, dibaca nashab — disamakan dengan maf’ul bih dari isim sifat musyabbahah

  1. Nashab, menjadi tarnyiz, apabila terdiri dari isim nakirah, contoh:

Kata   dalam kalimat di atas adalah isim nakirah yang dibaca nashab menjadi tamyiz dari isim sifat musyabbahah

  1. Jer, menjadi mudhaf ilaih. Contoh:

Syarat Ma’mul Isim Sifat Musyabbahah

Ma’mul (kata yang menjadi sasaran amal) isim sifat musyabbahah itu tidak boleh mendahului isim sifat musyabbahah dan harus mengandung dhamir yang kembali pada kata yang disifati oleh isim sifat musyabbahah, baik secara lafzhi atau maknawi, seperti:

  1. Amal Isim Tafdhil

Keenam, adalah isim tafdhil, seperti  . Isim tafdhil itu tidak bisa menashabkan kata menjadi maf’ul dan tidak boleh merafa’ kan isim zhahir, kecuali dalam masalah Al-Kuhlu (celak).

Batasan masalah Al-Kuhlu ialah susunan kata yang di dalamnya terdapat nafi yang sesudahnya terdapat isim jenis yang disifati dengan isim tafdhil, dan sesudahnya terdapat isim yang diungguli dengan dua sudut pandangan yang berbeda, seperti:

“Saya tidak pernah melihat seorang laki-laki yang di matanya terdapat celak yang lebih bagus (sedap dipandang) daripada celak yang ada di mata Zaid.”

Kata   dalam kalimat di atas adalah isim jenis yang jatuh sesudah nafi (  ) yang disifati dengan isim tafdhil   dan sesudahnya terdapat isim yang dibaca rafa’, yaitu   . Kata   dalam kalimat tersebut termasuk asing, karena tidak mengandung dhamir. Isim tafdhil ini bisa beramal pada tamyiz, seperti dalam firman Allah:

Aku lebih banyak daripada kamu dalam hal harta. Juga pada jer majrur dan zharaf, contoh:

– Zaid lebih mulia daripada kamu pada hari ini.

VII. Amal Isim Fiil

Ketujuh, adalah isim fiil.

Macam-macam Isim Fiil Isim fiil itu ada tiga macam, yaitu:

  1. Isim yang bermakna ffil amar, seperti:

   bermakna  (diamlah)  

  bermakna     (tahanlah)  

     bermakna  (kabulkanlah) 

 bermakna     (retapilah Zaid)  

     bermakna  (ambillah)  

  1. Isim yang bermakna fiil madhi, seperti:

  bermakna (jauh)

  bermakna (berpisah)

  1. Isim yang bermakna fiil mudhari’, seperti:

   bermakna (sedang sakit)

   bermakna (berkata “hus”) 

Amal Isim Fiil

Iism fiil itu beramal seperti fiil yang semakna dengannya, jika bermakna fiil madhi, maka isim fiil beramal seperti fiil madhi, jika bermakna fiil amar, maka isim fiil beramal seperti fiil amar dan jika bermakna fiil mudhari’, maka beramal seperti amal fiil mudhari’. Ma’mul (kata yang menjadi sasaran amal) isim fiil itu tidak boleh mendahului isim fiil. Isim fiil yang di-tanwin itu dihukumi nakirah. Sedang yang tidak di-tanwin dihukumi makrifat.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker