AMIL YANG MASUK PADA MUBTADA’ DAN KHABAR
Macam-macam Amil yang Masuk pada Mubtada’ dan Khabar
Amil yang masuk pada mubtada’ dan khabar itu disebut Amil Nawasikh. Sedangkan Amil Nawasikh yang masuk pada mubtada’ dan khabar itu ada tiga, yaitu:
Pertama, amil yang merafa ‘kan mubtada’ dan menashabkan khabar, yaitu berupa dan saudara-saudaranya, huruf-huruf yang disamakan dengan fiil-fiil Muqarabah.
Kedua, amil yang menashabkan mubtada’ dan merafa’kan khabar, yaitu berupa dan saudara-saudara serta Nafi Jinsi.
Ketiga, amil yang menashabkan mubtada’ dan khabar sekaligus, yaitu berupa dan saudara-saudaranya.
1. Kaana (. ) dan Saudara-saudaranya
Kaana (. ) dan saudara-saudaranya itu merafa’kan mubtada’, karena serupa dengan fail. Selanjutnya, ia disebut sebagai isimnya dan menashabkan khabar, karena serupa dengan Maf’ul. Selanjutnya, ia disebut sebagai khabarnya. Contoh:
Kata. sebelum dimasuki berkedudukan sebagai mubtada Setelah dimasuki , berubah menjadi isim , tidak lagi disebut mubtada’. Sedangkan kata sebelum dimasuki , berkedudukan sebagai khabar dan dibaca rafa”. Tetapi setelah dimasuki ia berubah menjadi khabar dan barus dibaca nashab. Bentuk susunan kalimat tersebut sebelum dimasuki adalah:
Pembagian Kaana (. ) dan Saudara-saudaranya dalam Beramal
Fiil-fiil ini (Kana dan saudara-saudaranya) dalam beramal terbagi menjadi tiga bagian, yaitu:
- Beramal merafa’kan mubtada’ dan menashabkan khabar tanpa syarat, yaitu: .
- contoh:
- , Contoh:
- contoh:
- contoh:
- contoh:
- contoh:
- contoh:
- contoh:
- Beramal dengan syarat didahului oleh nafi, nahi atau doa, yaitu:
- , contoh:
– Dan mereka senantiasa berselisih.
“Hai, temanku, bersiap-siaplah kamu, dan ingatlah selalu akan mati, karena lupa mati itu merupakan kesesatan yang nyata.
– Semoga hujan selalu menyiramimu.
- contoh: Hasan selalu membaca pelajaran-pelajarannya.
- , contoh: Kami akan tetap menyembah patung anak sapi ini.
- contoh: Orang-orang Islam selalu berpuasa pada bulan Ramadhan.
- Beramal dengan syarat didahului oleh Ma ( ) Mashdariyyah ZharJiyyah, yaitu: , contoh: Selama akui masih hidup.
Ma (. ) yang menyertai ini disebut Mashdariyah, karena ia . , ditakdirkan sebagai mashdar, yaitu: . Kalau diperkirakan menjadi .Ma (. ) tersebut disebut zharfiyyah, sebab menjadi ganti zharaf berupa kata . Jadi, ditakdirkan menjadi Posisi Khabar Kaana ( ) dan Saudara-saudaranya dalam Kalimat
Khabar Kana dan saudara-saudaranya itu boleh diletakkan di tengahtengah antara kana dan isimnya, contoh: Adalah hak kami menolong orang-orang yang beriman.
Kata adalah khabar Kana, yang posisinya di antara dan isimnya, yaitu: Bentuk asal susunan tersebut adalah:
“Bertanyalah kepada orang-orang, jika engkau tidak mengetahui tentang saya dan mereka. Sebab, tidaklah sama antara orang yang mengetahui”
dan orang yang tidak mengetahui.”
Kata dalam separo syair di atas berkedudukan sebagian Ia berada di antara lafal dan isimnya, yaitu kata Kalau menurut bentuk asal susunan adalah:
Khabar Kana ( ) dan saudara-saudaranya itu bahkan boleh mendahului Kana ( ) dan saudara-saudaranya itu sendiri, kecuali Laisa ( ) dan Daama ( ). Contoh: . Orang yang alim adalah Zaid.
Bentuk asli susunan kalimat di atas adalah: Adalah Zaid orang yang alim.
Amal Tashrif Kana dan Saudara-saudaranya
Tashrifan Kana ( ) dan saudara-saudaranya, seperti bentuk mudhari ‘, amar, mashdar dan isim fail dari Kana dan saudara-saudaranya Itu dapat beramal sebagaimana bentuk madhi-nya. Contoh:
- Dari fiil mudhari’ Kana: Supaya mereka menjadi orang-orang yang beriman.
- Dari ftil amar Kana:
– Katakanlah, jadilah kalian batu atau besi.
- Dari mashdar Kana:
– Telah menggembirakanku keberadaan Ali sebagai siswa yang giat.
- Dari isim fail Kana:
– Dan tidaklah semua orang yang menampakkan manis mukanya itu adalah saudaranya, jika dia tidak menolongmu.
- Dari isim maf’ul Kana:
– Muhammad itu dijadikan orang yang mulia.
Kana dan Saudaranya yang Tidak Mempunyai Khabar
Kana ( ) dan saudara-saudaranya itu bisa diberlakukan sebagai Fiil Tam, artinya tidak mempunyai khabar, kecuali zaala ( ), faria dan laisa ( ). Ketiga saudara Kana ini selalu diberlakukan sebagai fiil naqis (mempunyai isim dan khabar), contoh: .
“Dan jika orang yang berutang itu dalam kesulitan, maka berilah tempo sampai dia dalam keadaan lapang.”
“Maka bertasbihlah kepada Allah, ketika kalian berada di waktu petang dan ketika kalian di waktu pagi.”
Kana ( ) dalam contoh pertama itu berfungsi sebagai fiil tam, karena itu ia hanya mempunyai isim, yaitu kata , tidak memiliki khabar.
Kata dan dalam contoh kedua itu berfungsi sebagai Jiil tam, karena itu kata dan itu hanya mempunyai isim, berupa dhamir dan tidak memiliki khabar.
Ketentuan yang Berlaku pada Kana secara Khusus .
Kana (. ) itu memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh saudara-saudaranya. Di antara keistimewaan kana adalah:
- Boleh diberlakukan sebagai tambahan (tidak berarti apa-apa), dengan syarat lafalnya berbentuk madhi dan berada di tengah kalimat. Contoh:
– Betapa bagus si Zaid.
Kana ( ) dalam kalimat tersebut adalah tambahan. Susunan kalimat tersebut sama dengan
- Kana ( )dan isimnya boleh dibuang, sedangkan khabarnya masih tetap ada. Biasanya berada sesudah dan Syarthiyyah. Contoh:
– Carilah, walaupun berupa cincin dari besi.
Kata dalam kalimat di atas dibaca nashab, karena berkedudukan sebagai khabar kana ( ) yang telah dibuang bersama isimnya. Asal susunan kalimat tersebut adalah:
– Apabila amalnya baik, maka balasannya baik, dan apabila amalnya buruk, maka balasannya buruk.
Kata dalam kalimat di atas dibaca nashab, karena berkedudukan sebagai khabar kana (. ) yang telah dibuang bersama isimnya. Asal susunan kalimat tersebut adalah:
- Nun lafal kana (. ), ketika mudhari” boleh dibuang, apabila beri’rab Jazem dan tidak bertemu dengan huruf mati serta tidak bertemu dhamir muttashil yang beri’rab nashab. Contoh:
– Dan aku bukanlah seorang pezina.
– Dan janganlah engkau bersempit dada.
– Dan jika ada kebaikan sebesar dzarrah.
Kata dalam contoh pertama berasal dari kata . Kata dalam contoh kedua dan ketiga berasal dari kata:
Huruf yang Serupa dengan Laisa (. )
Adapun huruf-huruf yang disamakan dengan laisa ada empat, yaitu: , Maa , Laa (. ), In ( ) dan Laata ( ).
1 Syarat Maa bisa beramal Laisa
Adapun huruf maa ( ) menurut orang Hijaz itu bisa beramal seperti laisa ( ) dengan syarat: –
- Tidak bersamaan dengan in ( ).
- Khabar maa tidak didahului oleh huruf Illaa ( ).
- Khabar maa tidak mendahului isim-nya.
- Ma’mul khabar maa tidak mendahului isimnya, kecuali jika ma tersebut terdiri dari zharaf atau jar majrur.
Contoh maa (. ) yang memenuhi syarat-syarat tersebut adalah:
– Tidaklah Zaid pergi.
– Bukanlah ini seorang manusia.
– Bukanlah istri mereka itu, ibu mereka.
Maa ( ) yang Tidak Memenuhi Syarat .
Apabila maa () itu disertai in ( ), maka tidak bisa beramal seperti laisa. Contoh:
– Tidaklah Zaid berdiri.
Demikian juga apabila khabarnya didahului huruf Illaa (. ). Contoh:
– Muhammad itu tidak lain, kecuali seorang rasul.
Termasuk juga apabila khabar maa ( ) mendahului isimnya. Contoh:
– Tidaklah orang yang berdiri itu Zaid.
Begitu pula maa (. ) tidak bisa beramal seperti laisa, apabila ma’mul khabar tidak berupa zharaf dan mendahului isimnya. Contoh:
– Zaid tidak memakan makanan.
Apabila ma ‘mul khabar terdiri dari zharaf, maka maa ( ) tetap bisa beramal seperti laisa, contoh:
– Zaid tidak duduk di sisimu.
Kata adalah menjadi isim maa, dan khabarnya berupa kata Sedangkan kata adalah ma’mul . Asal susunan kalimat di atas adalah:
Menurut orang-orang Tamim, maa ( ) itu tidak bisa beramal seperti amal /aisa, meskipun telah memenuhi syarat-syarat tersebut di atas.
- Syarat Laa ( ) Bisa Beramal Seperti. Laisa
Adapun Laa ( ) menurut orang-orang Hijaz, itu bisa beramal seperti Laisa ( ) dengan syarat-syarat yang ada pada maa ( ) dan ditambah satu syarat lagi, yaitu isim dan khabarnya harus berupa Isim Nakirah. Contoh:
– Tidak ada laki-laki yang lebih mulia daripada kamu.
Amal laa ( ) ini umumnya.sering terdapat dalam syair. Contoh:
“Bersabarlah, karena tidak ada sesuatu di muka bumi ini yang kekal, dan tidak ada tempat berlindung yang dapat menyelemarkan diri dari apa yang telah diputuskan Allah.”
Kata dalam separo pertama syair di atas, berkedudukan sebagai isim laa ( ), sedang khabarnya berupa kata Kau Keduanya nakirah.
Kata dalam separo kedua syair tersebut, berkedudukan sebagai isim laa ( ), sedang khabarnya berupa kata . Keduanya adalah nakirah.
- Syarat In ( ) Beramal seperti Laisa (“153 )
Adapun In ( ) nafi itu bisa beramal seperti amal Jaisa, menurut penduduk Aliyah, dengan syarat-syarat yang berlaku pada lafal maa ( ), baik isimnya terdiri dari isim makrifat atau nakirah. Contoh:
– Tidaklah Zaid itu berdiri.
Ada ungkapan yang populer di kalangan penduduk Aliyah, yang berbunyi:
“Tidaklah seseorang itu lebih baik daripada orang lain, kecuali sebab kesehatannya.”
- Syarat Laata ( ) Beramal seperti Laisa (. )
Adapun lafal Laata ( ) itu bisa beramal seperti amal Laisa, ( ) dengan syarat isim dan khabarnya berupa lafal dan salah satu isim atau khabarnya dibuang, tetapi umumnya yang dibuang adalah isimnya. Contoh:
-Kemudian mereka meminta tolong, padahal waktu-waktu itu, bukanlah saat untuk melarikan diri.
Kata dalam kalimat di atas berkedudukan sebagai khabar Laata (. ), sedangkan isimnya dibuang, yang berupa kata Susunan aslinya adalah:
Kalimat di atas boleh juga dibaca: Dengan merafa kan kata , karena berkedudukan sebagai isim Laara ( ), sedangkan khabarnya dibuang. Susunan aslinya adalah:
Al-Af’al Al-Muqarabah
Al-Af’al Al-Muqarabah itu ada tiga bagian, yaitu:
- Fiil yang digunakan untuk menunjukkan dekatnya khabar. Lafalnya yaitu : dan
- Fiil yang digunakan untuk mengharapkan terjadi peristiwa yang terkandung dalam khabar. Lafalnya yaitu: dan
- Fiil yang digunakan untuk menunjukkan pengertian memulai atau kesiapan. Fiil seperti ini jumlahnya banyak, antara lain:
Amal Al-Af’alul Muqarabah
Al-Af’al Al-Muqarabah tersebut bisa beramal seperti kaana ( ), yaitu merafa’kan mubtada’ sebagai isimnya dan menashabkan khabar sebagai khabarnya. Hanya saja khabar Al-Af’al Al-Muqarabah itu harus terdiri dari fiil mudhari’ yang jatuh sesudahnya, dan umumnya merafa’ kan isim dhamir yang merujuk pada isimnya.
Hampir saja kemiskinan itu menjadi kekafiran.
Kata dalam contoh pertama berkedudukan sebagai isim kaada, dan khabarnya berupa fiil mudhari’ , yang mengandung dhamir yang merujuk pada kata
Kata dalam contoh kedua berkedudukan sebagai isim (bentuk mudhari’ kata ), dan khabarnya berupa fiil mudhari’ yang mengandung dhamir yang merujuk pada kata
Hukum Memasukkan An ( ) pada Khabar AI-Af’al Al-Muqarabah
Khabar Al-Af’al Al-Muqarabah itu harus dimasuki kata an apabila fiil. Muqarabah berupa dan . Contoh:
-Pantas Zaid berdiri.
– Hampir saja langit menurunkan hujan
Kata dalam contoh pertama berkedudukan menjadi khabar Fiil muqarabah , Sedangkan isimnya adalah kata
Kata dalam contoh kedua berkedudukan menjadi khabar Fiil muqarabah , Sedangkan isimnya adalah kata Apa Apabila Af’alul Mugarabah berupa kata , maka khabarnya tidak boleh dimasuki (. ). Contoh:
– Dan mulailah keduanya menutupinya.
Kata , berkedudukan menjadi khabar fiil mugarabah , sedangkan isimnya berupa Dhamir Mustatir.
Apabila fiil mugarabah itu berupa kata dan maka umumnya khabarnya dimasuki An ( ). Contoh:
– Mudah-mudahan Allah memberi kemenangan.
– Hampir orang itu terjerumus pada perbuatan yang dilarang.
Sedangkan fiil muqarabah dan khabarnya itu umumnya tidak dimasuki An ( ) Contoh:
– Dan hampir saja mereka tidak melakukan perintah itu.
“Hampir saja hati ini hancur, karena sedih, ketika para pengadu domba itu mengatakan, bahwa Hindun sangat marah.”









One Comment