Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Mutammimah Al Jurumiyah

‘ATHAF

Macam-macam ‘Athaf

Athaf itu ada dua macam, yaitu:

  1. ‘Athaf Bayan.
  2. ‘ Athaf Nasaq.

‘Athaf Bayan

‘Athaf Bayan ialah tabi’ (kata yang ikut) seperti halnya naat berfungsi menjelaskan matbu’ (kata yang diikuti)nya, jika terdiri dari isim makrifat dan untuk mentakhsish matbu’-nya, jika terdiri dari isim nakirah, seperti contoh:

– Telah bersumpah kepada Allah, Abu Hafash alias Umar.

Kata  dalam kalimat di atas menjelaskan maksud dari kata

-Ini cincin besi.

Kata   dalam kalimat di atas menjelaskan maksud kata   yang nakirah (umum).

Perbedaan antara naat dan ‘athaf bayan ialah ‘athaf bayan terdiri dari isim jamid yang tidak ditakwil musytaq, sedangkan naat terdiri dari isim musytaq atau isim jamid yang ditakwil musytaq.

Hukum ‘Athaf

‘Athaf, baik bayan maupun nasag itu harus sama dengan ma’thuf (yang di’athafi) dalam empat perkara dari sepuluh perkara, yaitu:

  1. Dalam segi i’rab-nya (rafa’, nashab atau jer).
  2. Dalam segi mudzakkar atau muannats-nya.
  3. Dalam segi makrifat atau nakirah-nya.
  4. Dalam segi mufrad, tatsniyah atau jamak-nya.

‘Athaf Bayan itu pada umumnya boleh dii’rabi sebagai badal kul min kulli.

‘Athaf Nasaq

‘Athaf Nasag ialah tabi’ (kata yang ikut) pada matbu’-nya (kata yang diikuti) yang memakai perantara salah satu dari sepuluh huruf sebagai berikut:

  1. Wawu( )
  2. Fa’ ( )
  3. Tsumma( )
  4. Hattaa ( )
  5. Am ( )
  6. Au ( )
  7. Immaa ( )
  8. Bal( )
  9. Laa ( )
  10. Laakin ( )

Fungsi Huruf-huruf ‘ Athaf

Tujuh huruf ‘athaf yang pertama ( dan ) itu berfungsi untuk menggabungkan kata yang di’athafkan (ma’thuf) dengan kata yang di’athafi (ma’thuf alaih) dalam segi i’rab dan makna. Sedangkan tiga huruf ‘athaf lainnya (   dan  ) berfungsi untuk menggabungkan ma’thuf dan ma’thuf alaih dalam segi i’rabnya. 

Apabila ma’thuf alaih dibaca rafa’, maka ma’thuf juga rafa’. Apabila ma’thuf alaih nashab, maka ma’thuf juga nashab, apabila ma ‘thuf alaih jer, maka ma’thuf juga jer, dan apabila ma’thuf alaih jazem, maka ma’thuf juga jazem, contoh:

– Benarlah Allah dan Rasul-Nya.

Kata , adalah ma’thuf (di’athafkan) pada kata   karena kata   (ma’thuf alaih atau yang di’athafi) rafa’, maka kata  , juga dirafa’kan. ,

Makna Tiap-tiap Huruf ‘Athaf

Arti huruf-huruf ‘athaf tersebut ialah:

  1. Wawu ( ) untuk muthlaqul jami’ (berkumpulnya ma’thuf dan ma’thuf alaih secara mutlak), contoh:

– Zaid dan Amar telah datang.

Dalam kalimat di atas diterangkan, bahwa Zaid dan Umar datang di suatu tempat, tanpa memperhatikan, apakah Zaid dulu atau Amar, bersamaan atau tidak.

  1. Fa’ ( ) untuk menunjukkan arti fartib (berurutan) dan ta’qib (susul-menyusul), contoh:

– Dia mematikannya, lalu menguburkannya.

 Kata    adalah fiil madhi berkedudukan menjadi ma’thuf   (di’athafkan) pada kata   yang juga fiil madhi,dengan perantara huruf ‘athaf  yang menunjukkan arti tertib atau berurutan, yakni setelah mematikan, lalu menguburkan.

  1. Tsumma ( ) untuk menunjukkan arti tertib (berurutan) dengan tenggang waktu beberapa lama. Contoh:

– Kemudian bila Dia menghendaki, maka dia membangkitkannya kembali.

  1. Hattaa ( ), huruf ‘athaf ini jarang dipakai, jika dipakai harus memenuhi beberapa syarat, yaitu:
  2. Lafal yang di’athafkan berupa isim zhahir.
  3. Lafal yang di’athafkan bagian dari yang di’athafi.
  4. Lafal yang di’athafi menjadi sasaran atau tujuan terakhir, contoh:

– Saya telah makan ikan hingga kepalanya.

Kata  dalam kalimat di atas dibaca nashab, ‘athaf pada kata   dengan perantara huruf ‘athaf ‘Athaf yang demikian ini telah memenuhi syarat di atas. Kata   boleh juga dibaca jer dengan memfungsikan sebagai huruf jer, sebagaimana telah diuraikan pada Bab Isim-isim yang Dibaca   Jer. Selain itu, kata   boleh dibaca rafa’ dengan memfungsikan sebagai ibtidaiyyah, sehingga kata  sesudahnya menjadi permulaan kalimat dan berkedudukan sebagai mubtada’, yang khabar-nya dibuang, susunannya adalah:

  1. Am ( ), untuk menunjukkan arti mencari ketegasan, jika jatuh sesudah hamzah yang masuk pada salah satu dua hal yang sama, contoh:
  1. Au ( ), untuk menunjukkan arti: – Takhyir (pilihan). Contoh:

– Kawinilah Hindun atau saudaranya.

– Pergaulilah ulama atau orang-orang yang zuhud.

Keraguan (ketidak jelasan) atau melebihkan, jika sesudah kalimat berita. Contoh:

– Kami berada di sini sehari atau setengah hari.

– Dan sesungguhnya kami atau kalian, pasti berada dalam kebenaran.

-Hendaklah kalian menjadi penganut Yahudi atau Nasrani.

  1. Immaa ( ), bermakna seperti Au ( ), baik sesudah kalimat perintah maupun kalimat berita. Contoh:

– Kawinilah Hindun atau saudaranya.

– Belajarlah fikih atau nahwu.

– Telah datang Zaid atau Amar.

Konon   dalam kalimat-kalimat di atas, bukan huruf yang – meng’athafkan kata sesudahnya pada kata sebelumnya yang  mengathafkan itu adalah huruf wawu ( ). Sedangkan huruf  adalah huruf tafshil, seperti dalam kalimat pertama.

  1. Bal ( ) menunjukkan arti idhrab dari pokok bahasan (pembetulan), contoh:

– Telah berdiri Zaid, bahkan Amer.

  1. Laakin ( ), untuk menunjukkan arti istidrak (pembetulan). Contoh:

– Saya tidak bertemu seorang laki-laki saleh, tetapi seorang lakilaki yang jahat.

  1. Laa ( ), untuk menunjukkan arti peniadaan hukum lafal sesudahnya, contoh:

– Telah datang Zaid, bukan Amer.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker