Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Mutammimah Al Jurumiyah

MAF’UL MA’AH

Definisi Maf’ul Ma’ah

Maf’ul Ma’ah adalah isim yang dibaca nashab, yang disebutkan sesudah wawu yang bermakna ma’a (serta), untuk menjelaskan bahwa “dilakukannya suatu pekerjaan adalah bersamaan dengan isim tersebut, dan jatuh sesudah jumlah fi ‘liyah atau ismiyah yang mengandung makna ful.

Contoh Maf’ul Ma’ah yang didahului oleh jumlah fi’liyah:

– Pemimpin itu datang bersamaan dengan para prajurit.

– Air itu telah merata bersama kayu.

Contoh Maf’ul Ma’ah yang didahului oleh jumlah ismiyah, yang mengandung makna fiil:

– Saya berjalan bersamaan Sungai Nil.

Penjelasan:

  1. Contoh pertama ( ) menunjukkan, bahwa pekerjaan ”datang” yang dilakukan oleh raja itu bersamaan dan beriringan dengan para prajurit. Artinya, kedatangan raja itu diiringi para prajurit. Dalam arti yang datang hanya raja, sedangkan para prajurit tidak ikut datang.
  1. Contoh kedua (. ) menunjukkan, bahwa saya yang melakukan pekerjaan berjalan adalah bersamaan dan beriringan dengan Sungai Nil, dalam arti bahwa yang berjalan adalah saya. Sedangkan Sungai Nil tidak ikut berjalan, hanya saja saya berjalan selalu beriringan dengan tepi Sungai Nil.

Hukum Isim yang Jatuh Sesudah Wawu

Hukum isim yang jatuh sesudah wawu itu ada tiga, yaitu:

  1. Wajib dibaca nashab menjadi maf’ul ma’ah, seperti dalam dua contoh terakhir di atas, yaitu: dan serta dalam contoh lainnya:

– Janganlah engkau melarang berbuat jelek serta melakukannya.

-Zaid meninggal dunia bersamaan dengan matahari terbit.

-Maka bulatkanlah keputusan kalian, serta simpanlah sekutu-sekutu kalian.

  1. Lebih baik dibaca nashab menjadi maf’ul ma’ah daripada di-arhafkan. Contoh:

– Aku telah berdiri bersama Zaid.

Kata dalam contoh di atas adalah jatuh sesudah wawu. Ia dibaca nashab menjadi maf’ul ma’ah itu lebih tepat daripada dibaca rafa’, athaf pada dhamir. Sebab, arhaf pada dhamir muttasil tanpa memisah dengan dhamir munfashil itu merupakan suatu cacat. Jadi, kalau kata   di-athaf-kan, maka susunan kalimatnya seharusnya berbunyi:         Oleh karena kalimat di atas tidak ada pemisah dhamir munfashil, maka kata yang jatuh sesudah wawu, yaitu kata   dibaca nashab.

  1. Lebih baik di-athaf-kan pada kata sebelumnya daripada dibaca nashab sebagai maf’ul ma’ah. Contoh:

– Pemimpin dan para prajurit telah datang.

– Zaid dan Amer telah datang.

Kata yang jatuh sesudah wawu dalam dua kalimat di atas, yaitu kata dan  lebih tepat dibaca rafa’, athaf pada kata sebelumnya, karena huruf wawu yang asal adalah untuk mengarthafkan.

Sifat-sifat yang Menyerupai Isim Fail

Lafal yang menyerupai maf’ul bih, adalah sifat-sifat yang menyerupai isim fail yang muta’addi pada satu maf’ul. Contoh:

 – Zaid orang yang tampan wajahnya.

Yaitu dengan dimashabkan lafal wajhu-nya. Adapun pembahasan : selengkapnya, akan diterangkan nanti.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker