MAF’UL BIH (OBJEK PENDERITA)
Definisi
Maf’ul Bih ialah isim yang menjadi sasaran pekerjaan (objek penderita). Contoh:
- – Saya telah memukul Zaid.
- – Saya telah menaiki kuda.
- – Takutlah kamu semua kepada Allah.
- – Mereka menegakkan shalat.
Pembagian Maf’ul Bih
Maf’ul Bih terbagi menjadi dua bagian, yaitu: Zhahir dan Mudhmar. Maf’ul Bih Zhahir adalah Maf’ul Bih yang terdiri dari Isim Zhahir, sebagaimana dalam contoh di atas: Adapun Maf’ul Bih Mudhmar ada dua bagian, yaitu:
- Terdiri dari Dhamir Murtashil, contoh:
- – Ia datang kepada dia (laki-laki). Sebagai fiil, fail-nya, berupa dhamir mustatir (yang disimpan pada lafal) , sedang dhamir hu ( ) sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada mereka berdua. Dhamir tb adalah sebagai maf’ul bih-nya, sedang fiil dan fail-nya sama dengan yang berada pada nomor satu.
- – Ia datang kepada mereka (laki-laki). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – ia datang kepada dia (perempuan). Dhamir 15 adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada mereka (perempuan). Dhamir an adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kamu (laki-laki), Dhamir ka ( ) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kamu berdua. Dhamir adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kamu sekalian (laki-laki) Dhamir ‘ adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kamu (perempuan). Dhamir ki ( ) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kamu sekalian (perempuan). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada saya. Dhamir ya’ ( ) dalam lafal adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- – Ia datang kepada kami/kita. Dhamir naa (. ) adalah sebagai maf’ul bih-nya.
- Terdiri dari Dhamir Munfashil, contoh:
- (Kepada dia (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih mugoddam (yang didahulukan dari fiil dan failnya), lafal adalah fiil, sedangkan lafal sebagai fail.
- (Kepada mereka berdua, Muhammad menghormati). Dhamir (. ) adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada mereka (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada dia (perempuan) Muhammad menghormati), Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada mereka (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai muf’ul bih.
- (Kepada kamu (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada kamu berdua, Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada kamu sekalian (laki-laki) Muhammad menghormati). Dhamir sebagai maf’ul bih.
- (Kepada kamu (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada kamu sekalian (perempuan) Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
- (Kepada saya Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
BAGAN
- (Kepada kami/kita Muhammad menghormati). Dhamir adalah sebagai maf’ul bih.
Posisi Maf’ul Bih dalam Kalimat
Posisi maf’ul bih yang asal dalam kalimat itu jatuh sesudah fail. Contoh:
– Dan Sulaiman telah mewarisi Dawud.
Tetapi kadang-kadang dibolehkan mendahului fail. Contoh: )
– Musa telah memukul Sa’da.
Kadang-kadang juga ada yang wajib mendahului fail-nya. Contoh:
– Bunga itu telah menghiasi pohonnya.
Kata dalam contoh di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang harus mendahului fail-nya, yaitu kata
Sebab, fail dalam kalimat ini mengandung dhamir yang kembali pada maf’ul bih.
Kadang-kadang maf’ul bih itu mendahului fiil dan fail. Contoh:
Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah nyata kesesatan bagi mereka.
Kata dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang mendahului fiil dan fail-nya.
Nama-nama mana saja yang kamu seru, Dia mempunyai nama-nama terbaik.
Kata dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan menjadi maf’ul bih yang mendahului fiil dan failnya. Fiil-nya berupa kata dan fail-nya berupa dhamir mustatir.
Maf’ul Bih yang Dibuang Amilnya
Di antara maf’ul bih itu ada yang amilnya boleh dibuang secara jawaz dan ada yang secara wajib. Contoh maf’ul bih yang amilnya boleh dibuang adalah:
Dalam firman Allah:
“Dikatakan kepada orang-orang yang bertakwa, apakah yang diturunkan Tuhan kalian? Mereka menjawab: (Dia menurunkan) kebaikan.”
Kata dalam ayat di atas dibaca nashab, berkedudukan sebagai maf’ul bih yang amilnya dibuang. Asalnya adalah . Sedangkan Maf’ul bih yang amilnya wajib dibuang itu terdapat pada tujuh tempat. Tetapi dalam bab ini hanya disebutkan dua tempat saja, yaitu:
- Pada Bab Isyrighal. Pada dasarnya isyrighal ialah mendahulukan isim dan mengakhirkan amil (fiil atau sifat) yang disibukkan dengan beramal pada dhamir isim yang mendahuluinya itu. Contoh:
Zaid, pukullah dia olehmu.
Zaid, sayalah yang memukulnya, sekarang atau besok.
Zaid, telah saya pukul pembantunya.
Dan tiap-tiap manusia, telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya.
Semua isim yang berada di permulaan dalam contoh-contoh di atas, dinashabkan oleh fiil yang wajib dibuang, yang dijelaskan oleh fiil yang jatuh sesudahnya. Bentuk susunan asli kalimat-kalimat di atas adalah sebagai berikut:
Pukullah Zaid, pukullah dia.
Saya orang yang memukul Zaid, saya orang yang memukulnya, sekarang atau besok.
Saya telah menghina Zaid, saya telah memukul pelayannya.
Kami telah menetapkan tiap-tiap orang, kami telah menetapkan amal perbuatannya pada lehernya.
Di antara maf’ul bih yang amilnya wajib dibuang adalah munada’ Contoh:
– Hai, Abdullah.
Bentuk susunan asli munada’ di atas adalah:
– Saya memanggil Abdullah.
Fiil dan failnya, yaitu kata , dibuang dan diganti dengan huruf nida’ yaa ( ), sehingga menjadi









One Comment