Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Mutammimah Al Jurumiyah

Inna ( ) dan Saudara-saudaranya

Inna (.   ) dan saudara-saudaranya itu beramal me-nashab-kan mubrada’ menjadi isimnya dan merafa’kan khabar menjadi khabarnya.

Saudara-saudara Inna dan Maknanya

Inna dan saudara-saudaranya itu ada enam, yaitu:

  1. Inna/Anna ( ), keduanya untuk mengukuhkan (taukid) hubungan antara subjek dan predikat. Contoh:

– Sesungguhnya Allah itu Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

-Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah Tuhan yang hak.

  1. Ka-anna ( ) untuk menyerupakan pengertian yang dikukuhkan. Contoh:

– Sepertinya Zaid itu singa.

  1. Laakinna ( ) untuk Istidrok (menyebutkan suatu kata sesudah kalimat yang mendahuluinya, untuk meniadakan suatu pengertian yang diduga ada, atau menetapkan adanya suatu pengertian yang diduga tidak ada). Contoh:

– Zaid itu pemberani, tetapi kikir.

  1. Laita ( ) untuk menunjukkan pengertian famanni, yaitu mengharapkan sesuatu yang tidak mungkin terjadi. Contoh:

– Andai masa muda itu kembali lagi.

  1. La’alla ( ), untuk menunjukkan pengertian tarajji, yaitu mengharapkan s-suatu yang diinginkan. Contoh:

– Mudah-mudahan Zaid itu datang.

Selain itu La’alla juga menunjukkan pengertian rawaqqu’, yaitu mengenai terjadinya sesuatu yang tidak diinginkan. Contoh:

– Barangkali Amar celaka.

Posisi Khabar Inna dan Saudara-saudaranya dalam Kalimat

Khabar Inna (            ) dan saudara-saudaranya tidak boleh mendahului inna dan saudaranya serta tidak boleh berada di tengah-tengah antara inna dan isimnya, kecuali jika khabarnya berupa zharaf atau jar majrur.Contoh:

– Sesungguhnya di sisi kami ada belenggu-belenggu.

Kata adalah menjadi khabar inna. Ia boleh berada di tengah antara inna dan isimnya, yaitu kata  , karena  adalah zharaf.

– Sesungguhnya dalam hal yang demikian itu terdapat pelajaran.

Kata   adalah menjadi khabar inna. Ia boleh berada di tengah antara inna dan isimnya, yaitu kata  , karena   adalah

Hamzah         harus dibaca kasrah

Hamzah lafal   itu harus dikasrah, apabila:

  1. Inna (. ) berada di permukaan kalimat. Contoh:

– Sesungguhnya Kami telah menurunkan Algur-an pada malam Lailatul Qadar.

  1. Inna (. ) jatuh sesudah lafal yang menjadi pembuka kalimat. Contoh:

 – Ingat, sesungguhnya wali-wali Allah itu tidak pernah khawatir.

  1. Inna ( ) jatuh sesudah lafal . Contoh:

– Saya duduk di tempat Zaid benar-benar duduk.

  1. Inna ( ) jatuh sesudah Qosam. Contoh:

– Demi Kitab yang menjelaskan, sesungguhnya Kami telah menurunkannya.

  1. Inna ( ) jatuh sesudah kata Qalla. Contoh: .

– Isa berkata: Sesungguhnya saya adalah hamba Allah.

6: Khabar Inna ( ) dimasuki huruf Lam Ibtida’. Contoh:

– Dan Allah mengetahui, bahwa sesungguhnya engkau benar-benar utusan-Nya.

– Dan Allah menyaksikan, bahwa sesungguhnya orang-orang munafik benar-benar pendusta.

Hamzah  Harus Dibaca Fathah

Hamzah         itu harus difathah, apabila:

  1. Anna ( ) berkedudukan sebagai fail. Contoh: .

– Apakah belum cukup bagi mereka, bahwa sesungguhnya Kami telah menurunkan …

  1. Anna (. ) berkedudukan sebagai naibul fail. Contoh:

“Katakanlah: Telah diwahyukan kepadaku, bahwa sesungguhnya sekumpulan jin telah mendendengarkan Alqur-an.”

  1. Anna ( ) berkedudukan sebagai maf’ul. Contoh:

– Padahal kamu tidak takut, bahwa sesungguhnya kamu , mempersekutukan Allah.

  1. Anna ( ) berkedudukan sebagai mubtada’. Contoh:

“Di antara tanda-tanda-Nya, bahwa sesungguhnya engkau melihat bumi kering tandus.”

  1. Anna ( ) dimasuki huruf jar. Contoh:

– Yang demikian itu, karena sesungguhnya Allah, Dia-lah yang hak.

Hamzah   Boleh Dibaca Fathah atau Kasrah

Hamzah boleh dikasrah atau difathah, apabila:

  1. Berada sesudah fa’ ( ) jawab. Contoh:

“Barangsiapa yang berbuat kejahatan di antara kamu lantaran kejahilan, kemudian dia bertobat setelah mengerjakannya dan mengadakan perbaikan, maka sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

Kata dalam ayat tersebut boleh dibaca Artinya, hamzah   boleh dibaca fathah dan boleh dibaca kasrah.

  1. Berada sesudah Idzaa ( ) fujaiyyah. Contoh:

Hamzah dalam kalimat di atas, boleh difathah dan boleh dikasrah, karena jatuh sesudah huruf    fujaiyyah.

  1. Berada pada tempat yang memberi pengertian ta’lil. Contoh:

– Kami menyembah-Nya, karena sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.

– Kupenuhi panggilan-Mu karena sesungguhnya segala puji dan nikmat itu milik-Mu.

Hamzah  dalam kalimat di atas. boleh dibaca kasrah dan boleh dibaca fathah.

Memasukkan Lam Ibtida’ pada Kata Sesudah Inna ( )

Lam Ibrida’ itu boleh masuk pada kata yang berada sesudah huruf   Inna (yang hamzahnya dibaca kasrah). Kata sesudah Inna yang boleh uimasuki Lam Ibrida’ itu adalah:

  1. Khabar Inna yang diakhirkan dan mutsbar. Contoh:

– Sesungguhnya Tuhan sangat cepat siksaan-Nya.

– Sesungguhnya Dia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

  1. Isun Inna yang jatuh sesudah khabarnya. Contoh:

– Sesungguhnya pada yang demikian itu  terdapat pelajaran.

Kata adalah isim inna, yang jatuh sesudah khabarnya, yaitu   kata

  1. Dzamir Fashl. Contoh:

– Sesungguhnya ini adalah kisah yang nyata.

Kata   dalam ayat di atas berkedudukan menjadi isim  Kata adalah dhamir fashl yang dimasuki lam ibrida’. Sedangkan  kata berkedudukan sebagai khabar inna.

  1. Ma’mul khabar yang mendahului khabar inna itu sendiri. Contoh:

– Sesungguhnya Zaid adalah orang yang memukul Amar.

Kata  , berkedudukan sebagai isim inna. Kata  adalah ma’mul (maf’ul) kata   , yang berkedudukan sebagai khabar inna. Asal  susunan kalimat tersebut adalah:

Menambahkan Huruf , pada Inna dan Saudaranya

Inna dan saudara-saudaranya itu boleh ditambah maa (  ) zaidah dan amalnya menjadi batal. Artinya, Inna dan saudaranya yang dimasuki maa (4 ) itu tidak bisa beramal, kecuali Laita ( ), boleh beramal dan boleh tidak beramal. Contoh: 

– Hanya Allah-lah, Tuhan Yang Maha Esa.

– Seakan-akan Zaid berdiri.

– Terapi Zaid berdiri.

– Barangkali Zaid berdiri.

Kata  ,   dan   dalam contoh-contoh tersebut, berasal dari   dan Ia yang dimasuki maa (  ) zaidah. Karena itu, tidak beramal menashabkan mubtada’ dan merafa” kan khabar.

Adapun Laita (   ), meskipun dimasuki maa (. ), maka ia tetap boleh beramal menashabkan mubtada’ dan merafa’ kan khabar atau tidak beramal. Contoh:

– Seandainya Zaid berdiri.

Kata   dibaca nashab menjadi isim , dan menjadi khabarnya. Kata : dalam contoh ini masih tetap beramal.

Boleh juga tidak beramal, dan kata   dibaca rafa”, sehingga susunannya menjadi

Hukum Mentakhfif Nun Inna ( )

Inna (   ) itu boleh ditakhfif nunnya. artinya nun inna itu disukun, tidak ditasydid. Apabila inna itu di-takhftf, maka yang paling banyak tidak beramal dan sedikit sekali yang masih beramal. Contoh yang di-takhfif, yang tidak beramal:

– Sesungguhnya setiap orang yakin. ada penjaganya.

Huruf dalam ayat di atas berasal dari   yang di-takhfif. Ia tidak lagi beramal menashabkan mubtada”. Karena itu, kata sesudahnya tetap dibaca rafa’.

Contoh  yang di-takhfif dan tetap beramal:

Kata dibaca nashab menjadi isim in ( ) yang mukhaffa dari  

Hal yang demikian itu menurut qiraat orang yang mentakhfif dan , yang terdapat dalam dua ayat di atas.

Apabila hal yang dimaksud di-muhmal-kan (meniadakan pengamalan in), maka khabarnya wajib disertai lam ibrida’.

Hukum Mentakhfif Nun Anna (  )

Anna ( ) yang difathah hamzahnya itu, nun-nya boleh di-rakhfif menjadi An (   ) dan masih tetap beramal, dengan syarat:

  1. Isimnya harus berupa dhamir sya-an yang dibuang.
  2. Khabarnya berupa jumlah atau kalimat. Contoh:

Huruf dalam kalimat di atas berasal dari   , yang tetap beramal. Adapun isimnya berupa dhamir sya-an yang telah dibuang, sedangkan khabarnya berupa jumlah atau kalimat.

Hukum dan yang Di-takhfif Nun-nya

Ka-anna ( ) itu nun-nya boleh di-rakhfif dan masih tetap beramal. Dalam keadaan yang demikian ini, isimnya boleh dibuang dan boleh disebutkan. Contoh:

“Seakan-akan seekor kijang itu memanjat pohon berduri yang lebat daunnya.”

Kata  adalah dari   , yang nun-nya di-takhfif dan ia masih . tetap beramal. Kata  adalah isim

Adapun Laakinna ( ) apabila di-nun-nya di-takhftf, maka tidak bisa beramal.

Laa ( ) Nafi Jinsi

Adapun Laa (  ) Nafi Jinsi yang dimaksud di sini adalah meniadakan semua jenis secara pasti. Contoh: 

– Tidak seorang laki-laki pun di dalam rumah.

Amal Laa (  ) Nafi Jinsi

Laa (  ) nafi jinsi itu bisa beramal seperti amal inna ( ), yaitu menashabkan mubtada’ menjadi isimnya dan merafa’kan khabar menjadi khabarnya, dengan syarat:

  1. Isim dan khabarnya terdiri dari isim nakirah.
  2. Isimnya sambung langsung dengannya.

Apabila isim laa ( ) berupa kata yang mudhaf atau serupa dengan mudhaf, maka hukum isim  Itu mu’rab dan dibaca nashab. Contoh:

– Tidak ada seorang pun yang berilmu terkutuk.

– Tidak ada seorang pendaki gunung pun  hadir.

Pengertian Serupa Mudhaf

Pengertian serupa mudhaf ialah isim yang berhubungan dengan isim lain yang menyempurnakan maknanya. Apabila isim laa (  ) mufrad, maka dimabnikan menurut alamat nashabnya ketika mu’rab.

Penpertian mufrad dalam bab ini sama dengan pengertian mufrad dalam Bab Munada, yaitu kata yang tidak mudhaf dan tidak serupa dengan mudhaf, meskipun berupa tatsniyah atau jamak.

Apabila isim laa (  ) berupa isim mufrad atau jamak taksir, maka harus dimabnikan fathah. Contoh:

– Tidak ada seorang laki-laki pun datang.

– Tidak ada orang-orang laki-laki datang.

Apabila isim laa ( ) berupa isim tatsniyah atau jamak mudzakkar salim, maka dimabnikan pada huruf ya”. Contoh:

– Tidak ada dua laki-laki dalam rumah.

– Tidak ada orang-orang laki-laki berdiri di pasar.

Apabila isim laa (   ) berupa jamak. mu’annats salim, maka dimabnikan kasrah. Contoh:

– Tidak ada orang-orang perempuan Islam Io datang.

Boleh juga dimabnikan fathah.

Apabila laa (  ) itu diulang atau disebut dua kali dalam satu kalimat, seperti   , maka isim Laa (. ) yang pertama boleh dibaca fathah atau rafa”.

Apabila isim laa (   ) yang pertama dibaca fathah, maka isim laa (  ) yang kedua boleh dibaca fathah, nashab dan rafa”. Contoh:

  1. Dibaca fathah keduanya:
  1. Dibaca fathah dan nashab:
  1. Dibaca fathah dan rafa’:

Apabila isim laa (   ) yang pertama dibaca rafa’, maka isim laa (   ) yang kedua boleh dibaca rafa’ dan fathah. Contoh:

  1. Dibaca rafa’ keduanya:
  2. Dibaca rafa’ dan fathah:

Hukum Isim yang Di-athaf-kan pada Isim Laa (  )

Apabila ada isim di-arhaf-kan pada isim laa (  ) tanpa mengulang laa (  ), maka isim laa ( ) yang nakirah itu wajib difathah.

Sedangkan isim yang di-athaf-kan padanya boleh dibaca rafa’ dan nashab. Contoh:

  1. Dibaca rafa’:
  1. Dibaca nashab:

Hukum Na’at Isim Laa (  )

Apabila Isim Laa yang mufrad disifati dengan isim yang mufrad dan antara sifat dan yang disifati tidak ada pemisah, maka sifat atau na’al isim laa tersebut boleh dibaca fathah, nashab dan rafa’. Contoh:

  1. Contoh sifar isim laa yang dibaca fathah:
  1. Contoh sifat isim laa yang dibaca nashab:
  1. Contoh sifat isim laa yang dibaca rafa’:

Apabila antara sifat dan isim yang disifati terdapat pemisah atau isim yang menyifati itu ghairu mufrad, maka isim yang menyifati isim laa ini boleh dibaca rafa’ dan nashab. Contoh sifat dan yang disifati terpisah:

  1.  
  2.  

Kata   dalam contoh di atas berkedudukan sebagai isim laa. Kata   adalaah sifat dari kata Sedangkan kata adalah khabar laa yang memisah antara isim laa dan isim yang menyifatinya.

Contoh sifat yang ghairu mufrad.

  1.  
  2.  

Kata  dalam contoh di atas berkedudukan menjadi isim laa   adalah sifat ghairu mufrad dari (. ). Kata   adalah sifat dari isim laa, sedangkan kata adalah khabar laa. Hukum Khabar Laa (  )

Apabila khabar laa tidak diketahui, maka harus disebutkan, sebagaimana dalam contoh-contoh yang telah disebutkan dan seperti sabda Nabi saw.:

– Tidak ada seorang pun yang lebih cemburu daripada Allah.

Apabila khabar laa itu telah diketahui, maka biasanya dibuang. Contoh:

Kata  adalah isim laa. Khabarnya dibuang, karena telah diketahui, yaitu kata . Asalnya

Kata  adalah isim laa. Khabarnya dibuang, karena telah diketahui, yaitu  . Kalau disebutkan, maka menjadi:

Kata   adalah isim laa, khabarnya dibuang, karena telah diketahui, yaitu . Kalau disebutkan, maka menjadi

Laa ( y ) yang Tidak Beramal

Apabila ada laa (  ) masuk pada isim makrifat atau antara laa (  ) dan isimnya terdapat pemisah, maka Jaa tidak bisa beramal. Sedangkan kata yang jatuh sesudahnya, harus dibaca rafa’ menjadi mubtada’ atau khabar dan laa harus diulang. Contoh:

– Tidak ada Zaid di dalam rumah dan tidak ada pula Amer.

 Kata  dalam contoh di atas adalah isim makrifat yang jatuh sesudah /aa. Ia tidak boleh dibaca fathah menjadi isim laa, tetapi ia  harus dibaca rafa’ menjadi mubtada’ yang khabarnya berupa kata 

– Di dalam rumah tidak ada seorang laki-laki pun-dan tidak ada pula seorang perempuan.

Kata   adalah kata yang berada di antara laa dan isim-nya, yaitu kata  . Karena itu, laa tidak beramal. Adapun kata sesudahnya ye di-Irab menjadi khabar dan   menjadi mubtada’, sedangkan laa harus diulang.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker