Nahwu & Sharaf

Terjemah Kitab Mutammimah Al Jurumiyah

ISIM-ISIM YANG DIBACA JER

Isim-isim yang dibaca jer itu ada tiga, yaitu:

  1. Isim yang dijerkan dengan huruf.
  2. Isim yang dijerkan dengan idhafah.
  3. Isim yang dibaca jer karena mengikuti isim yang dibaca jer.

I Isim yang Dibaca Jer

Isim yang dibaca jer karena huruf, adalah tiap-tiap isim yang dimasuki oleh huruf jer:     dan.

Pembagian Huruf Jer

Huruf Jer yang Masuk pada Isim Zhahir dan Dhamir

Tujuh huruf jer yang pertama, yaitu:   dan  bisa masuk pada isim zhahir dan isim dhamir, seperti dalam contoh:

Darimu dan dari Nuh.

 Hanya kepada Allah kamu semua kembali.

Sesungguhnya kita milik Allah dan kepada-Nya kita akan kembali.

Sesungguhnya kalian melalui tingkat demi tingkat (dalam kehidupan).

Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya.

Dan di atas punggung binatang-binatang ternak dan di atas perahu.

Dan di dalam surga terdapat segala yang disukai hati.

– Dan di bumi ada tanda-tanda kekuasaan Allah.

– Berimanlah kepada Allah.

– Berimanlah kalian kepada-Nya.

– Milik Allah-lah segala yang ada di langit.

– Milik-Nya-lah apa saja yang ada di langit.

Huruf Jer yang Masuk pada Isim Zhahir Sedangkan tujuh huruf jer terakhir, yaitu:   dan   khusus mengjerkan isim zhahir saja, tidak bisa masuk pada isim dhamir. Huruf jer yang hanya bisa mengjerkan isim zhahir ini terbagi menjadi empat, yaitu:

  1. Mengjerkan isim zhahir secara umum, yaitu: dan Contoh:

– Zaid seperti singa.

– Malam itu malam kesejahteraan sampai fajar terbit.

– Saya makan ikan hingga kepalanya.

– Demi Allah.

– Demi Yang Maha Pengasih.

  1. Khusus masuk isim zhahir yang berupa lafal Allah dan Rabbi yang mudhaf pada kata   atau ya’ mutakallim. Huruf jer yang demikian adalah , contoh:

–  Demi Allah.

– Demi Tuhan Ka’bah.

– Demi Tuhanku.

Jika  masuk pada isim zhahir selain isim zhahir tersebut, dihukumi janggal. Contoh:

– Demi Yang Maha Pengasih.

– Demi kehidupanmu.

  1. Khusus masuk pada isim yang menunjukkan arti waktu, yaitu: dan . Contoh:

– Saya tidak melihatnya sejak hari Jumat.

– Saya tidak melihatmu sejak dua hari.

  1. Khusus masuk pada isim nakirah, yaitu . Contoh:

– Banyak laki-laki di rumah.

Kadang-kadang   masuk pada dhamir ghairu mufrad mudzakkar (kata ganti orang ketiga tunggal laki-laki) disertai penjelasan berupa Tamyiz sesudahnya. Contoh:

– Banyak sekali pemuda itu.

Membuang Huruf Jer  dan Menetapkan Amalnya

Huruf Jer  itu kadang-kadang dibuang dan masih tetap beramal (berpengaruh) pada kata sesudahnya. Biasanya sesudah:

  1. Wawu ( ). Contoh:

Dalam syair tersebut ada  , yang dibuang sesudah huruf wawu , (  ) dan amalnya masih tetap. Asalnya:

  1. Fa’ (9 ). Contoh:

Dalam syair tersebut ada   yang dibuang sesudah huruf fa’ ( ) dan amalnya masih tetap. Asalnya:

  1. Bal ( ), tetapi jarang terjadi. Contoh:

Dalam syair tersebut ada yang dibuang sesudah huruf Bal   . ( ) dan amalnya masih tetap. Asalnya:

Membuang dan menetapkan amalnya tanpa didahului oleh huruf-huruf tersebut sangat jarang terjadinya. Seperti dalam syair:

“Banyak (sering) sekali aku berhenti di bekas-bekas reruntuhan rumah kekasihku, hampir saja usiaku kuhabiskan untuknya.”

Menambahkan Huruf Maa (. ) pada Huruf Jer

Huruf Maa (  ) itu boleh ditambahkan pada huruf jer:   dan huruf-huruf tersebut tetap beramal mengjerkan kata yang . dimasukinya. Contoh:

Huruf Maa (  ) itu juga boleh ditambahkan pada huruf jer   dan   , dan menurut umumnya tidak bisa beramal lagi. Biasanya, keduanya masuk pada kalimat. Contoh:

“Dia saudara yang mulia, tidak pernah membuatku sedih, di kala peperangan, seperti pedang Amer yang tidak pernah mengecewakannya tentang pukulan-pukulannya.”

“Banyak sekali sudah aku selesaikan lugas keilmuan, sehingga dapat mengangkat bajuku ………”

Tetapi kadang-kadang masih tetap bisa beramal. Contoh:

“Banyak sekali pukulan pedang yang berkilau dan tusukan tombak di sekitar kota Basra.” 

“Kami membela tuan kami, sedangkan kami mengerti, bahwa dia sama dengan manusia lain, yang kadang teraniaya dan kadang menganiaya.”

II Al-Idhafah (Mudhaf dan Mudhaf Ilaih)

Isim yang dibaca jer karena /dhafah, seperti dalam susunan kata:

– Pelayan Zaid.

Susunan di atas disebut susunan Idhafah. Susunan Idhafah itu mesti  terdiri dari mudhaf (   ) dan mudhaf ilaih (   ).

Ketentuan-Ketentuan Mudhaf

Mudhaf itu harus dibebaskan dari tanwin, Nun Tatsniyah, Nun Jamak dan Al . Contoh:

– Pelayan Zaid.

– Dua pelayan Zaid.

– Para sekretaris Amer.

Susunan pertama, berasal dari   dan   . Setelah digabungkan, maka tanwin kata   harus dibuang.

Susunan kedua, berasal dari   dan   . Setelah digabungkan, maka nun tatsniyah pada kata   harus dibuang.

Susunan ketiga, berasal dari  dan   . Setelah digabungkan, maka nun jamak pada kata   harus dibuang.

Pembagian Idhafah dari Segi Makna

Susunan /dhafah ditinjau dari segi maknanya, terbagi menjadi tiga, yaitu:

  1. Mengandung arti lam (. milik). Contoh:

– Pelayan Zaid. Artinya: Pelayan milik Zaid.

– Baju Bakar. Artinya: Baju milik Bakar.

  1. Mengandung arti Min ( ). Contoh:

– Kain sutera. Artinya: Kain dari bahan sutera.

– Pintu kayu. Artinya: Pintu terbuat dari bahan kayu.

– Cincin besi. Artinya: Cincin terbuat dari bahan besi.

Mudhaf ilaih dalam susunan kata di atas (  )  itu boleh dibaca nashab menjadi tamyiz, sebagaimana telah diterangkan pada Bab Tamyiz. Boleh juga dibaca rafa”, mengikuti mudhaf, sehingga Susunan tersebut menjadi:

  1. Mengandung arti . Contoh:

– Tetapi tipu daya di waktu malam.

 -Wahai, kedua temanku di dalam penjara.

Pembagian Idhafah dari Segi Pengaruh pada Mudhaf

  1. Idhafah Lafihiyyah

Susunan idhafah itu ada dua, yaitu Lafzhiyyah dan Maknawiyyah. Idhafah Lafzhiyyah itu dibatasi dua perkara, yaitu:

  1. Mudhaf berupa isim sifat.
  2. Mudhaf ilaih berupa ma’mul isim sifat yang menjadi mudhaf.

Pengertian isim sifat di sini adalah isim fail, isim maf’ul dan sifal musyabbahah.

Contoh yang mengandung isim fail.

– Orang yang memukul Zaid.

Contoh yang mengandung isim maf’ul:

– Orang yang pembantunya dipukul.

Contoh yang mengandung isim sifat musyabbahah:

– Orang yang tampan wajahnya.

Idhafah Lafzhiyyah itu tidak memberikan pengaruh pada mudhaf dalam Ta’rifatau Takhsish. Idhafah lafazhiyyah ini hanya memberi faedah Takhfif (meringankan bacaan). Idhafah lafazhiyyah disebut juga dengan idhafah ghairu mahdhah.

  1. Idhafah Maknawiyyah

Idhafah Maknawiyyah ialah idhafah yang tidak mengandung dua perkara dalam idhafah lafzhiyyah di atas (mudhaf tidak terdiri dari isim sifat dan mudhaf ilaih tidak menjadi ma ‘mul mudhaf),   atau salah satunya, artinya mudhaf bukan isim sifat, meskipun mudhaf  ilaih-nya menjadi ma ‘mul mudhaf, seperti   atau mudhaf terdiri dari isim sifat, tetapi mudhaf ilaih-nya tidak menjadi ma’mul mudhaf, seperti: 

Idhafah Maknawiyyah disebut juga dengan idhafah mahdhah dan dapat mengubah status mudhaf yang nakirah menjadi makrifat, apabila mudhaf Ilaih terdiri dari isim makrifar, seperti  dan mentakhsish  mudhaf, jika mudhaf ilaih terdiri dari isim nakirah,seperti   Kata   dalam susunan   adalah isim nakirah yang menjadi makrifat sebab mudhaf pada isim makrifat, berupa kata:

Sedangkan kata   dalam susunan   adalah isim   nakirah, yang menjadi terbatas pengertiannya karena mudhaf pada isim  nakirah  

I’rab Mudhaf Ilaih

Prab mudhaf ilaih itu selalu jer, dijerkan oleh mudhaf, bukan karena susunan idhafah. Adapun i’rab mudhaf itu tergantung kedudukannya dalam kalimat.

Isim  yang dibaca jer sebab mengikuti kata sebelumnya, insya Allah akan dibahas dalam Bab Tawabi .

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker