MUBTADA’ DAN KHABAR
Mubtada”
Mubtada’ adalah isim yang dibaca rafa’, yang sepi dari amil-amil lafzhi.
Pembagian Mubtada’
Mubrada’ itu ada dua bagian, yaitu: Zhahir dan Mudhmar. Mubtada ‘ Mudhmar adalah mubtada’ yang terdiri dari isim dhamir munfashil, contoh:
– Dia (laki-laki satu) adalah orang yang alim.
-Mereka berdua (laki-laki) adalah dua orang yang alim.
– Mereka banyak (laki-laki) adalah orang-orang yang alim.
– Dia (perempuan satu) adalah orang yang alim.
– Mereka berdua (perempuan) adalah dua orang yang alim.
-Mereka banyak (perempuan) adalah orang-orang yang alim.
– Kamu (laki-laki satu) adalah orang yang alim.
– Kamu berdua (laki-laki) adalah dua orang yang alim.
– Kamu semua (laki-laki) adalah orang-orang yang alim.
– Kamu (perempuan saru) adalah orang yang alim.
– Kamu berdua (perempuan) adalah dua orang yang alim.
– Kamu semua (perempuan) adalah orang-orang yang alim.
– Saya seorang laki-laki’/perempuan adalah orang yang alim.
– Kami laki-laki adalah orang-orang yang alim.
– Kami perempuan adalah orang-orang yang alim.
Sedangkan mubrada’ isim zhahir itu ada dua bagian, yaitu:
- Mubtada’ yang mempunyai khabar. Contoh:
- Mubtada’ yang hanya mempunyai isim yang dirafa’kan, yang menduduki tempat khabar. Mubtada’ yang demikian ini adalah mubtada’ yang terdiri dari isim fail atau isim maf’ul, yang didahului oleh istifham atau nafi. Contoh:
Kata dalam kalimat , adalah mubtada”, sedangkan kata adalah fail yang menempati tempat khabar.
Kata dalam kalimat dalah mubtada’, sedangkan kata adalah naibul fail yang menempati tempat khabar.
Syarat-Syarat Mubtada’
Mubtada’ itu tidak boleh terdiri dari isim Nakirah, kecuali ada musawwigh (sebab). Musawwigh itu banyak, di antaranya:
- Mubtada’ Nakirah itu didahului oleh naft atau istifham. Contoh:
Kata dan meskipun isim nakirah, tapi boleh dijadikan mubtada” , sebab didahului oleh nafi berupa dan istifham berupa
- Mubtada’ Nakirah itu disifati. Contoh:
Kata adalah nakirah, meskipun demikian boleh dijadikan mubtada’, sebab disifati kata
- Mubtada’ Nakirah itu dimudhafkan. Contoh:
Kata adalah isim nakirah dan berkedudukan sebagai mubtada’, meskipun nakirah, tetapi ia mudhaf pada
- Mubtada’ Nakirah itu jatuh sesudah khabar yang berupa zharaf atau jer majrur. Contoh:
Kata dalam contoh pertama berkedudukan sebagai mubtada’, meskipun ia isim nakirah, sebab jatuh sesudah khabarnya, yang terdiri dari zharaf, berupa .
Kata dalam contoh kedua berkedudukan sebagai Mubrada’, meskipun ia isim nakirah, sebab jatuh sesudah khabarnya, yang terdiri dari jer majrur, berupa
Kadang-kadang Mubrada’ itu berupa Masdar Muawwal, yakni dari dan , contoh:
Kata yang terdiri dari dan fiil mudhari’ itu disebut Masdar Muawwal, kedudukannya adalah menjadi Mubrada’. Kata itu bisa dijadikan Masdar Shorih, yaitu:
Khabar
Khabar adalah bagian yang menyempurnakan pengertian kalimat bersama mubrada’. Dengan kata lain, khabar adalah bagian yang menyempurnakan arti mubtada’
Pembagian Khabar
Khabar itu ada dua bagian, yaitu khabar mufrad dan khabar ghairu mufrad.
- Khabar Mufrad. Khabar Mufrad adalah khabar yang tidak terdiri dari jumlah dan tidak pula terdiri dari Syibhul Jumlah. Contoh:
– Zaid adalah berdiri
– Dua Zaid adalah berdiri keduanya
– Beberapa Zaid adalah berdiri semua.
– Zaid adalah saudaramu.
Kata dalam contoh tersebut di atas adalah khabar mufrad.
- Khabar Ghairu Mufrad.
Khabar ghairu mufrad adalah khabar yang terdiri dari jumlah atau syibhul jumlah.
Khabar jumlah itu adakalanya terdiri dari:
- Jumlah (kalimat) ismiyah. Contoh:
– Zaid itu hamba perempuannya hilang
– Pakaian takwa, itulah yang lebih baik.
– Katakanlah Dia-lah, Allah Yang Maha Esa .
Kata dalam contoh pertama adalah mubtada ‘. Khabarnya berupa kalimat Kata menjadi mubtada’ yang khabarnya . Susunan kalimat mubtada’ dan khabar ini menjadi khabar mubtada’
Gabungan kata (susunan mudhaf dan mudhaf ilaih) adalah menjadi mubtada’. Khabarnya berupa kalimat . Kata menjadi mubtada’ yang khabarnya adalah . Susunan kalimat yang terdiri dari mubtada’ dan khabar ini, menjadi khabar mubtada’ .
Kata dalam contoh ketiga adalah menjadi mubtada’. Khabarnya berupa kalimat . Kata menjadi mubtada’ yang khabarnya . Susunan mubtada” dan khabar ( ) ini menjadi kkabar dari mubtada’
- Jumlah (kalimat) fi’liyah. Contoh:
– Zaid, telah berdiri ayahnya.
– Dan Tuhanmu menciptakan apa yang
– Dia kehendaki.
– Dan Allah menyempitkan dan N melapangkan rezeki.
– Allah itu mewafatkan jiwa.
Kata dalam contoh ke-1 berkedudukan menjadi mubtada’. Khabarnya berupa kalimat yang terdiri dari fiil dan fail, yaitu:
Kata dalam contoh ke-2 berkedudukan menjadi mubtada’. Khabarnya berupa kalimat yang terdiri dari fiil dan fail, serta maf’ul, berupa kalimat:
Kata dalam contoh ke-3 berkedudukan menjadi mubtada’. Khabarnya berupa kalimat yang terdiri dari fiil dan fail, yaitu:
Kata dalam contoh ke-4 berkedudukan menjadi mubrtada’. Khabarnya berupa kalimat yang terdiri dari fiil dan fail, yaitu:
Khabar itu harus mengandung dhamir yang berhubungan dengan mubtada’.
Adapun Khabar Syibhul Jumlah itu ada dua, yaitu:
- Zharaf. Contoh:
– Zaid berada di sampingmu.
– Pergi itu besok.
– Kafilah itu berada di bawah kalian.
Kata dalam contoh ke-1 berkedudukan sebagai mubrada’.
Khabarnya terdiri dari Zharaf Makan (keterangan tempat), yaitu:
Kata dalam contoh ke-2 berkedudukan sebagai mubtada’. Khabarnya terdiri dari Zharaf Zaman (keterangan waktu): yaitu:
- Jar Majrur. Contoh:
– Zaid berada di rumah.
– Segala puji milik Allah.
Zharaf dan Jar Majrur itu apabila berkedudukan menjadi khabar, maka pasti berhubungan dengan kata yang dibuang, yang perkiraannya berupa kata: atau
Syarat Khabar yang Terdiri dari Zharaf Zaman
Zharaf zaman (keterangan waktu) itu tidak boleh menjadi khabar dari mubtada’ yang terdiri dari isim dzar. Karena itu, tidak boleh ada kalimat seperti:
Zharaf zaman itu hanya boleh menjadi khabar dari mubtada’ yang berupa isim ma’ani, seperti:
– Puasa itu pada hari ini.
– Berangkat itu pada esok hari.
Adapun ungkapan para ahli nahwu yang berbunyi: , itu perlu ditakwil menjadi
Khabar dalam Kalimat
Khabar itu boleh lebih dari satu, sedangkan mubrtada’nya tetap satu, contoh:
– Zaid adalah seorang penulis dan penyair.
Dia-lah Yang Maha Pengampun lagi Maha Pengasih, yang mempunyai arasy, Maha Mulia lagi Maha Kuasa melakukan apa yang dikehendakiNya.
Kata dalam contoh pertama adalah menjadi mubtada’, yang khabarnya lebih dari satu, yaitu: dan .
Dhamir dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubrada’, yang khabarnya terdiri dari beberapa kata, yaitu:
Posisi Khabar dalam Kalimat .
Posisi khabar itu aslinya berada setelah mubrada’, sebagaimana dalam contoh-contoh di atas. Tetapi, kadang-kadang khabar itu boleh mendahului mubtada’. Contoh:
– Di dalam rumah ada Zaid.
Kadang-kadang khabar itu wajib mendahului mubtada’nya, contoh:
– Di mana Zaid?
– Di sisimu, hanyalah Zaid.
– Ataukah pada hati mereka terdapat kunci-kuncinya?
– Di rumah ada seorang laki-laki.
Kata dalam contoh ke-1 berkedudukan sebagai khabar yang mendahului mubtada’nya, yaitu: Tujuan mendahulukan khabar dalam kalimat ini adalah untuk mentakhsis.
Kata dalam contoh ke-2 berkedudukan sebagai khabar dari mubtada’ is . Khabar dalam susunan kalimat ini wajib mendahului mubtada”, sebab ia terdiri dari kata yang wajib berada di permukaan, karena terdiri dari istifham atau kata tanya.
Kata dalam contoh ke-3 berkedudukan menjadi khabar dari mubtada’ . Khabar dalam susunan kalimat ini wajib mendahului mubtada’, karena mubtada’ mengandung dhamir yang kembali pada khabar.
Kata yag dalam contoh ke-4 berkedudukan sebagai khabar dari mubtada’ . Khabar dalam susunan kalimat seperti ini, harus mendahului mubtada’, sebab dalam kalimat ini mubtada’ terdiri dari Isim Nakirah dan khabar terdiri dari jar majrur.
Membuang Mubtada’ dan Khabar
Kadang-kadang mubtada” itu dibuang. Begitu pula khabar, kadangkadang juga dibuang secara jaiz. Contoh:
Kata di atas berkedudukan sebagai mubtada’, yang khabarnya dibuang, berupa kata . Sedangkan kata berkedudukan sebagai khabar yang mubtada’nya dibuang, berapa kata:
Adapun asal susunan kalimat di atas adalah:
Khabar yang Wajib Dibuang
Khabar itu wajib dibuang, apabila berada:
- Sesudah kata Contoh:
– Kalau tidak karena kalian, pasti kami menjadi orang-orang yang beriman.
Kata dalam ayat di atas berkedudukan sebagai mubtada’ yang khabarnya wajib dibuang, sebab jatuh sesudah kata. Takdir susunan kalimat tersebut adalah:
- Sesudah Qosam (sumpah) yang jelas.
Contoh:
– Demi umurmu, sesungguhnya mereka adalah…
Kata berkedudukan sebagai mubtada’ yang khabarnya wajib dibuang, sebab terdiri dari kata sumpah atau qosam.
Asal susunan kalimat tersebut secara lengkap adalah:
- Sesudah Wawu Maiyyah. Contoh: Setiap yang berprofesi serta profesinya.
Susunan itu berkedudukan sebagai mubtada’ yang khabarnya wajib dibuang, berupa kata , karena jatuh sesudah Wawu Maiyyah.
- Sebelum Hal, yang tidak pantas dijadikan khabar. Contoh:
Pukulanku pasti mengenai Zaid, apabila dia berdiri.
Susunan berkedudukan sebagai mubtada’ yang khabarnya wajib dibuang, berupa kata , Sebab jatuh sebelum kata yang berkedudukan sebagai Hal (keterangan keadaan), yang apabila kata itu dijadikan khabar tidak pantas.








One Comment