Campuran

Terjemah Kitab As Sab’iyyat Fi Mawaidzil Bariyyat

PASAL YANG KELIMA PERNIKAHAN ANTARA NABI MUHAMMAD SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM DENGAN SITI KHODIJAH ALAIHASSALAM

Toggle

Pada suatu malam, Siti Khodijah bermimpi seolah-olah ia melihat matahari turun dari langit, lalu masuk ke dalam rumahnya. Kemudian sinarnya menyorot keluar, sehingga tak satu pun rumah di kota Mekah, melainkan mendapatkan cahayanya.

Ketika ia bangun dari tidur, ia lalu menceritakan mimpinya itu kepada pamannya yang bernama Waroqoh bin Naufel, seorang yang ahli dalam mena’birkan mimpi

Sang paman berkata: “Sesungguhnya seorang nabi akhir zaman akan menjadi suamimu!”

Siti Khodijah bertanya: “Wahai pamann nabi itu dari negeri mana?”.

Jawab: “Dari Mekah”

Tanya: “Dari kabilah apa?”

Jawab: “Dari kabilah Quraisy”.

 Tanya: “Dari puak mana?”

Jawab: “Bani Hasyim”

Tanya: “Siapakah namanya?”

Jawab: “Muhammad”

Sejak saat itu, Siti Khodijah senantiasa memperhatikan darimana kira-kira matahari itu akan muncul.

Pada suatu hari, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam berada di rumah pamannya Abu Tholib sedang makan.

Pamannya Abu Tholib dan bibinya Athikah sedang memperhatikannya, mereka melihat gerak-gerik, adab serta perilakunya yang mulia, maka berkatalah Abu Tholib: “Muhammad sekarang telah menjadi seorang pemuda dewasa, sedangkan kita tidak mempunyai biaya untuk menikahkannya, kita belum tahu bagaimana kemaslahatan dalam urusannya itu?!”.

Saudarinya Athikah menjawab: “Wahai saudaraku, aku mendengar bahwa Khodijah sekarang akan mengirimkan kafilah dagang ke negeri Syam, bagaimana kalau kita pekerjakan Muhammad kepadanya, sebab setahuku, setiap orang yang pernah berhubungan dengannya, akan diberkati Allah dalam penghidupannya. Dengan demikian kita akan mendapatkan biaya untuk pernikahannya kelak”.

(Renungan): Seakan-akan Allah mengatakan: “Athikah dan Abu Tholib mengatur bagi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam sebab-sebab penghidupannya, mereka tidak mengetahui bahwa Kami mengatur baginya sebab-sebab kenabiannya”.

(Persamaannya): Siti Zulekha dan Aziz pembesar Mesir mengatur bagi Yusuf alaihissalaam sebab-sebab penghambaan dan pengkhidmatan, mereka tidak mengetahui bahwa Kami mengatur baginya sebab-sebab kerajaan dan kenabian.

(Persamaannya): Bahwasanya putri Nabi Syuaib dan bapaknya mengatur bagi Nabi Musa alaihissalaam sebab-sebab untuk menjadi pengembala dan buruh, mereka tidak mengetahui bahwa Kami mengatur baginya sebab-sebab untuk menjadi Nabi Al Kaliim (yang diajak berdialog) dan berlayar.

(Kembali ke alur cerita): Kemudian mereka memusyawaratkan rencana mereka itu dengan Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam. Beliau pun menerima rencana tersebut.

Maka pergilah Athikah ke rumah Siti Khodijah untuk membicarakan tentang Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam yang ingin bekerja padanya.

Tatkala Siti Khodijah mendengar perkataan Athikah itu, ia berpikir: “Inilah ta’wil mimpiku, sebab pamanku Warogoh bin Naufel mengatakan bahwa calon, suamiku itu berasal dari Arab, sedangkan ia ini adalah orang Arab, dari Mekah, Suku Quraisy, Bani Hasyim, namanya pun cocok yaitu Muhammad, akhlaknya mulia dan penampilannya agung, sungguh ia tidak lain, melainkan penutup nabi-nabi”.

Lantas Siti Khodijah berkehendak untuk mengawininya pada saat itu, namun ia merasa kuatir kalau-kalau nanti timbul tuduhan yang tidak-tidak, karena itu ia berkata dalam hatinya: “Sekarang sebaiknya aku mengupahnya, dan aku bersabar dahulu dalam mencintainya, sampai Tuhan membukakan jalan bagi kami berdua”.

(Persamaannya): Bahwasanya ketika Shafrawa binti Syuaib Memandang Musa alaihissalaam, ia ingin dan suka sekiranya Musa menjadi suaminya, namun ia merasa malu untuk mengutarakan maksudnya itu, karena itulah ia lalu berkata kepada bapaknya:

“Wahai bapakku, pekerjakanlah ia, karena sebaik-baik orang yang engkau pekerjakan itu ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya!”.

(Dan persamaannya): Seakan-akan Allah mengatakan: “Wahai hamba-Ku, Aku tidak membutuhkan kebaktian dan kekhidmatanmu, akan tetapi perintah-Ku kepada kalian agar berbuat taat dan ibadah serta Aku timpakan ke atas kalian malapetaka dan kepayahan adalah supaya bertambah besar tuduhan dan cercaan orangorang kafir, sehingga apabila engkau meletakkan kepalamu diatas tanah dan engkau bersujud seraya mengucapkan Subhaana Robbiyal A’la, Aku jawab dan Aku katakan untukmu: Labbaik wahai hamba-Ku. Wahai hamba-Ku, Aku luaskan rohmat-Ku dan Aku beri engkau makanan kecintaan kepada-Ku serta Aku beri engkau minuman kerinduan-Ku, angkatlah kepalamu, sebab maksud-Ku adalah hubungan, bukan perbuatan!”.

(Kembali ke alur cerita): Kemudian Khodijah berkata kepada Athikah: “Wahai Athikah, sesungguhnya aku biasanya mengupah setiap buruh sebesar dua puluh dinar, namun bagi Muhammad, aku akan mengupahnya lima puluh dinar”.

Maka pulanglah Athikah dengan hati gembira, ia segera memberitahukan berita itu kepada kakaknya Abu Tholib. Lalu Abu Tholib berkata kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam: “Pergilah ke rumah Khodijah, dan bekerjalah menurut apa yang disuruhnya!”.

Dengan hati yang sedih dan air mata bercucuran Rasulullah pun pergilah ke rumah Siti Khodijah, sehingga para malaikat di langit ikut menangis karena kasihan melihatnya.

Ketika waktu keberangkatan kafilah dagang itu telah tiba, maka Maisaroh kepala rombongan kafilah itu berkata kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam: “Wahai Muhammad, pakailah pakaian wool, dan pakailah kopiah di kepalamu, kemudian ambil tali kekang kendaraan, hadapkan ke negeri Syam!”.

Rasulullah menuruti apa-apa yang disuruh oleh Maisaroh itu, sepanjang jalan Beliau menangis, sambil berkata di dalam hatinya: “Mana ayahku Abdullah, dan mana ibuku Aminah? supaya Beliau berdua melihat keadaan anaknya. Aduhai sengsaranya sebagai yatim dan sebagai orang asing, entah kembali atau tidak ke negeri tumpah darahku?!”. Karena tangis dan ratapannya itu, maka terdengarlah ratapan dan jeritan di antara para malaikat.

(Renungan): Wahai ummat Muhammad, tangisilah, tangisilah atas Nabi dan Rasul kalian, karena para malaikat di langit pun telah menangis sebelum kamu. Jika ummat Muhammad menangis ketika mengingat Beliau, maka para malaikat saling bertanya-tanya: “Ilaahana, wa Sayyidana wa Maulaana, apakah gerangan yang telah terjadi pada ummat Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam, karena kami lihat mereka sedang bertangis-tangisan?!”.

Lantas Allah mewahyukan kepada para malaikat itu: Bahwasanya ada seorang alim menceritakan kepada mereka tentang keadaan Rasul-Ku, tentang kesusahan dan penderitaan yang dialaminya itulah mereka menangis!

Kemudian Allah melanjutkan : “Saksikanlah wahai malaikatmalaikat-Ku, sesungguhnya Aku telah membebaskan mereka semua dari neraka dan siksaan-Ku!”.

(Kembali ke alur cerita): Allah mengirimkan awan putih guna menaungi di atas kepala Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dari terik matahari di negeri Hijaz.

Sebelum itu Siti Khodijah telah berpesan kepada Maisaroh agar ia memberikan pakaian yang paling baik kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam, serta memberikan tunggangan yang paling megah.

Maisaroh melaksanakan semua yang disuruh Khodijah kepadanya itu.

Rasulullah pulas tertidur di atas unta dinaungi oleh awan putih serta dihembus angin sepoi-sepoi, hingga akhirnya sampailah rombongan kafilah itu di gereja salah satu rahib yang terletak di tengah-tengah perjalanan kafilah. Rombongan itu pun lalu berhenti dan beristirahat di bawah pepohonan.

Rahib itu keluar dari gerejanya, ketika ia memandang, ke arah rombongan kafilah itu, tampak olehnya awan putih yang menaungi Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam itu, maka ia mendapat suatu firasat bahwa itu adalah seorang nabi.

Kemudian ia mempersilahkan rombongan itu singgah di tempatnya sebagai tamu, untuk mengetahui siapakah gerangan orang yang telah mendapatkan kemuliaan itu.

Mereka semua pergi memenuhi undangan tersebut, selain Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, Beliau menunggu di tempat kafilah itu meletakkan barang-barang bawaannya.

Kemudian rahib itu keluar lagi dari gerejanya menuju ke pepohonan itu, maka ia melihat awan putih itu masih tetap berada di tempatnya, lalu ia menanyakan kepada mereka, apakah masih ada orang lain di tempat barang-barang itu?

Mereka menjawab: “Tidak, selain seorang buruh yatim, sebagai pengembala onta”.

Lantas rahib itu pergi ke tempat Rasulullah berada, setelah ia dekat, Rasulullah bangkit seraya menyalaminya. Rahib itu menarik tangan Rasulullah diajaknya masuk ke gerejanya. Ketika Rasulullah bergerak hendak berjalan, maka rahib itu melihat awan putih itu pun turut bergerak. Dan ketika Rasulullah telah masuk ke dalam gereja dan duduk menghadapi hidangan, maka rahib itu keluar lagi untuk melihat awan putih itu, dilihatnya awan putih itu berhenti di atas pintu gerejanya. Maka ia pun masuk kembali ke dalam gerejanya.

Kemudian ia bertanya kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam : “Wahai pemuda, dari negeri manakah anda berasal?”.

Rasulullah menjawab: “Dari Mekah”.

Tanya: “Dari kabilah mana?”.

Jawab: “Dari kabilah Quraisy”.

Tanya: “Dari puak mana?”.

Jawab: “Dari Bani Hasyim”.

Tanya: “Siapakah nama anda?”.

Jawab: “Muhammad”.

Rahib itu lalu merangkul Rasulullah dan mencium di antara kedua matanya seraya mengucapkan: “Laa ilaaha illallaah Muhammad Rasulullah!”.

Kemudian rahib itu berkata kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam: “Tunjukkanlah kepadaku satu tanda lagi buat menentramkan hatiku dan menambah keyakinanku!”.

Rasulullah bertanya: “Apakah itu?”.

Si rahib menjawab: “Bukalah baju anda, supaya aku dapat melihat di antara kedua belikatmu, karena di situ ada cap kerasulanmu”.

Rasulullah lalu membuka bajunya, maka tampaklah oleh si rahib itu cap kenabian, bertuliskan :

Rahib itu mengusapkan mukanya ke atas cap kenabian itu sambil mengatakan: “Wahai penghias hari Kiamat, wahai pemberi syafaat kepada ummat, wahai yang tinggi kemauan, wahai penghapus kesusahan, wahai nabi pembawa rahmat!”.

Kemudian ia pun menyatakan keislamannya dan menjadi baik islamnya.

(Renungan): Rahib itu memandang cap kenabian itu hanya satu kali, namun Allah lalu memuliakannya dengan keimanan dan melepaskannya dari siksaan-Nya. Sedangkan orang mu’min, yang hatinya dipandang oleh Al Malikuddayyaan Arrauuful Mannaan (Allah) tiga ratus enam puluh kali, di mana tampak tauhid, kemurnian, kebaikan dan penyesalan atas dosa, betapa ia tidak akan melepaskannya dari api neraka dan memasukkannya ke dalam Surga, serta mengawinkannya dengan bidadari yang belum pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka, maupun oleh jin. Dan betapa pula tidak diberinya buah-buahan yang berpasang pasangan? Bahkan sudah tentu la akan memuliakannya dan mengaruniainya dengan memandang kepada wajah-Nya Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.

(Kembali ke alur cerita): Tatkala rombongan itu sampai di negeri Syam, maka mereka pun lalu mengadakan transaksi dagang dengan masyarakat di situ.

Suatu ketika, Rasulullah, Abubakar dan Maisaroh keluar menghadiri hari raya orang-orang Yahudi untuk melihat-lihat. Ketika mereka sampai di tempat ibadat orang-orang Yahudi itu, maka Rasulullah masuk ke tempat itu. Beliau memandang ke pelita- pelita yang bergelantungan, tiba-tiba rantai-rantai tempat menggantungkan pelita pelita itu menjadi terputus semuanya, sehingga menimbulkan keributan pada orang-orang Yahudi itu, mereka pun menjadi ketakutan.

Kemudian mereka menanyakan hal itu kepada alim ulama mereka: “Apakah yang telah terjadi sehingga timbul tanda-tanda ini?”.

Alim ulama itu menjawab: “Kami mendapatkan di dalam Kitab Taurat suatu keterangan bahwa Muhammad seorang Nabi akhir zaman, bila ia hadir pada hari raya orang-orang Yahudi, maka akan tampak tanda-tanda seperti sekarang ini. Mungkin sekarang ia berada di tempat ini!”.

Orang-orang Yahudi itu lalu mengadakan penyelidikan, mereka berkata: Kalau kita dapatkan dia, maka kita bunuh saja guna menolak kejahatannya!

Ketika Abubakar dan Maisaroh mendengar perkataan mereka itu, maka mereka bergegas-gegas untuk segera pulang ke Mekah. Akhirnya mereka pun kembali pulang ke Mekah.

Setelah dekat dari kota Mekah, lebih kurang pada jarak tujuh hari perjalanan. Maisaroh sebagai pimpinan rombongan itu, ingin mengutus seseorang untuk membawa kabar kepada Siti Khodijah memberitahukan kedatangannya. Kemudian Maisaroh berkata kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam: “Sekiranya aku mengutusmu untuk membawa kabar gembira kepada Siti Khodijah, sanggupkah kiranya engkau?”.

Rasulullah menjawab: “Ya, saya sanggup”.

Lalu Maisaroh memberikan kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam seekor unta, dengan diberi hiasan yang indah indah dari berbagai macam sutera. Rasulullah pun menunggangi unta itu menuju ke kota Mekah, sambil membawa sepucuk surat buat Khodijah yang isinya: “Wahai pemuka wanita Quraisy, perniagaan kita, tahun ini adalah perniagaan yang paling banyak memberikan laba, melebihi tahun-tahun sebelumnya!”.

Setelah Rasulullah mengendalikan untanya hingga lenyap dari pandangan mereka, maka Allah Ta’ala mewahyukan kepada malaikat Jibril alaihissalam agar melipat bumi yang dilalui oleh kaki-kaki unta yang ditunggangi Rasulullah tersebut. Malaikat Israfil disuruh menjaga di sebelah kanannya, dan malaikat Mikail disuruh menjaga di sebelah kirinya. Awan putih menaunginya.

Kemudian Allah mendatangkan rasa kantuk kepada Rasulullah sehingga akhirnya Beliau pulas tertidur dengan nyenyak.

Pada saat itu juga Allah menyampaikannya ke kota Mekah.

Ketika itu Siti Khodijah sedang duduk-duduk di serambi muka rumahnya sambil melayangkan pandangannya ke arah jalan yang menuju ke Syam. Tiba-tiba tampak olehnya satu penunggang unta sedang menuju ke jurusan Mekah, dilihatnya awan putih menaungi orang itu.

Maka berkatalah Siti Khodijah kepada hamba-hamba sahayanya yang ada di sekelilingnya: “Tahukah kalian siapakah gerangan yang datang itu?”.

Salah seorang dari mereka menjawab: “Orang itu mirip dengan Muhammad Al Amin”.

Siti Khodijah berkata pula: “Seandainya ia memang Muhammad Al Amin, maka aku akan memerdekakan kalian semuanya karena kedatangannya itu!”.

Akhirnya sampailah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam di pintu rumah Khodijah alaihassalaam. Siti Khodijah menyambutnya dengan gembira serta memuliakan dan menghormatinya. Kemudian ia berkata: “Aku berikan kepadamu unta tungganganmu itu serta segala yang ada padanya!”.

Setelah Rasulullah menyampaikan amanat yang dibawanya kepada Siti Khodijah, maka Beliau pulang ke rumah pamannya.

Beberapa hari kemudian, Rasulullah pergi ke rumah Siti Khodijah. Siti Khodijah berkata: “Wahai Muhammad, bicaralah, dan katakan kepadaku apa yang anda inginkan!”.

Rasulullah menjawab: “Paman dan bibiku menyuruh kemari untuk menanyakan tentang upahku, sebab mereka bermaksud hendak mengawinkan aku”.

Rasulullah mengucapkan itu dengan malu-malu dan sambil menundukkan muka.

Maka berkatalah Siti Khodijah: “Wahai Muhammad, sesungguhnya upahmu itu tidak akan mencukupi untuk mendapatkan sesuatu, akan tetapi bagaimana bila aku kawinkan anda dengan seorang wanita Arab yang paling mulia, dan yang paling baik keadaannya serta yang paling banyak hartanya. Raja-raja Arab dan ajam pun ingin menyuntingnya, namun ia telah menolak kehendak mereka itu. Aku akan mengusahakan pernikahan anda dengannya, hanya sayang, ia mempunyai satu aib, yaitu, ia telah pernah kawin. Bila anda menerima tawaranku ini, maka ia akan menjadi pelayan dan sahayamu!”.

Rasulullah bangkit berdiri tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Kemudian Beliau pulang kernbali menuju ke rumah paman dan bibinya.

Setelah tiba, Beliau berkata kepada mereka berdua: “Tadi Siti Khodijah telah memperolokku, ia mengatakan kepadaku begitu”.

Athikah berkata: “Jika apa yang dikatakannya itu benar, maka aku akan mendebatnya”.

Lalu pergilah ia menjumpai Siti Khodijah, katanya: “Hai Khodijah, jika engkau memiliki harta dan nasab, maka kami memiliki hasab dan nasab, maka kena apakah engkau memperolok keponakanku Muhammad?.

Siti Khodijah lalu berdiri dan meminta maaf kepadanya, seraya berkata: “Siapa berani menghina keturunan kalian. Sebenarnya aku mengajukan diriku kepadanya, bila ia menerima aku akan mengawininya, namun bila ia menolak, maka aku tidak akan kawin lagi dengan siapa pun hingga akhir hayatku!”.

Athikah bertanya: “Apakah pamanmu Warogoh bin Naufel telah mengetahui kehendakmu itu?”.

Khodijah menjawab: “Belum, namun katakan kepada abangmu Abu Tholib agar ia mengadakan jamuan, dengan mengundang pamanku Waroqoh bin Naufel, kemudian lamarlah aku darinya!”.

Maka pulanglah Athikah untuk memberitahukan kepada saudaranya Abu Tholib tentang maksud baik Siti Khodijah itu.

Lalu mereka pun mengadakan jamuan makan, mereka mengundang Waroqoh bin Naufel serta pemuka-pemuka Quraisy lainnya. Kemudian mereka melamar Siti Khodijah dari pamannya itu. Sang paman menjawab: “Aku terima lamaran ini, namun aku akan memusyawaratkannya lagi dengan Siti Khodijah”.

Setelah itu ia lalu pergi ke rumah Siti Khodijah untuk meminta pendapatnya. Siti Khodijah berkata: “Wahai pamanku, bagaimana aku dapat menolak lamaran Muhammad itu, sedangkan ia memiliki sifat amanat, terpelihara, mulia dan baik?”.

Warogoh berkata: “Yah, akan tetapi ia tidak memiliki harta!”. Maka Siti Khodijah menjawab: “Jika ia tidak memiliki harta, aku mempunyai harta yang tak terhitung, aku tidak membutuhkan harta, yang aku maui adalah seorang suami. Aku berikan hak kepadamu wahai pamanku, untuk mengawinkan aku dengannya!”.

Maka kembalilah Warogoh bin Naufel ke tempat Abu Tholib, dan akad nikah pun segera dilaksanakan. Ia berkhuthbah sendiri dengan khuthbah yang memadai dan menarik.

Setelah itu, Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memanggil Abubakar rodliallaahu anhu, lalu berkata: “Aku ingin agar anda menemaniku ke rumah Khodijah!”.

Abubakar menjawab: “Baiklah, dengan senang hati”.

Abubakar membawakan baju buatan Mesir dan Surban, lalu dipakaikannya pada Rasulullah.

Kemudian pergilah mereka berdua ke rumah Siti Khodijah.

Khodijah menyuruh seratus hamba sahayanya untuk berdiri di sebelah kanan pintu rumahnya. Setiap orang sahaya membawa satu baki yang penuh berisikan berlian, mira delima, dan zabarjad. Ketika Rasulullah datang, maka semua sahaya itu menaburkan isi bakinya itu ke atas Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Kemudian masuklah Rasulullah bersama Abubakar ke dalam rumah Khodijah, lalu dihidangkan kepada mereka makanan yang lezat-lezat.

Setelah selesai bersantap, Abubakar minta izin untuk pulang kembali ke rumahnya.           

Kemudian Siti Khodijah berkata kepada Rasulullah

Ya Muhammad, semua harta yang kumiliki, baik yang diam maupun yang bergerak, ladang-ladang, istana-istana, rumah rumah, sahaya laki-laki dan sahaya perempuan, harta baru dan harta pusaka, semuanya kuberikan kepadamu!.

Karena itulah turun firman Allah: “Kami dapatkan engkau miskin, lalu kami kayakan engkau (ya’ni dengan harta Khodijah)”.

Dikatakan bahwa Siti Khodijah alaihassalaam hidup bersama Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dua puluh empat tahun, lima bulan dan delapan hari. Diantaranya lima belas tahun sebelum turun wahyu, dan selebihnya setelah turun wahyu.

Usia Rasulullah ketika kawin dengan Khodijah itu adalah dua puluh lima tahun.

Siti Khodijah melahirkan dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam tiga putera, yaitu; Al Qoosim, Ath Thoohir dan Al Muthohhir, semuanya meninggal dunia di waktu kecil. Dan empat putri, yaitu: Fathimah, Zainab, Ruqayyah dan Umi Kultsum.

Fathimah dikawinkan dengan Sayyidina Ali bin Abi Tholib alaihimassalaam, Zainab dengan Abil’aash bin Arrobii’, dan Ummi Kultsum dengan Ustman bin Affan alaihimassalaam, setelah Ummi Kultsum meninggal, lalu Rasulullah mengawinkan pula Ruqayyah dengan Utsman.

Semua pernikahan itu terjadi pada hari Jum’at.

PASAL YANG KEENAM PERNIKAHAN RASULULLAH SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM DENGAN SITI AISYAH RODLIYALLAAHU ANHA

Pernikahan Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dengan Siti Aisyah rodliyallaahu anha berlangsung pada hari Jum’at, sebagaimana diriwayatkan sebagai berikut :

Tatkala Siti Khodijah telah berpulang ke rahmatullah, Rasulullah merasa sangat sedih dan kehilangan. Maka datanglah malaikat Jibril alaihissalaam membawa satu helai daun dari dedaunan Surga, terlukis di daun itu wajah Siti Aisyah rodliyallaahu anha, Jibril berkata: “Hai Muhammad, As Saalaam (Allah) memberi salam kepadamu, dan mengatakan: Aku kawinkan engkau di langit dengan seorang gadis perawan yang rupanya mirip dengan lukisan ini, maka kawinilah ia di dunia!”.

Lantas Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam memanggil mak comblang, Beliau menunjukkan lukisan itu kepadanya seraya bertanya: “Tahukah engkau seorang gadis perawan yang rupanya mirip dengan lukisan ini?”.

Mak comblang itu menjawab: “Lukisan ini mirip sekali dengan rupa putri sahabat Baginda Abubakar rodliyallaahu anhu!”.

Kemudian Rasulullah memanggil Abubakar, lalu Beliau berkata kepadanya: “Wahai Abubakar, sesungguhnya Allah Ta’ala telah mengawinkan putrimu Aisyah denganku di langit, dan la memerintahkan kepadamu supaya mengawinkannya denganku di bumi!”.

Abubakar menjawab: “Ya Rasulullah Shallallaahu alaika, semogaAllah memberi shalawat dan salam kepada Baginda, sebenarnya ia masih kanak-kanak, entah apakah ia sudah dapat untuk berkhidmat kepada Baginda?!”.

Maka Rasulullah berkata: “Seandainya ia tidak bisa berkhidmat kepadaku, tidak mungkin Allah akan mengawinkan ia denganku!”.

Kemudian dilakukanlah akad nikah antara Rasulullah dengan Siti Aisyah. Setelah itu Abubakar pulang ke rumahnya.

Lalu ia mengisi sebuah baki dengan buah kurma, kemudian ia berkata kepada putrinya Aisyah: “Pergilah bawa kurma ini ke rumah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam dan sampaikan kepada Beliau bahwa ayahku mengatakan untuk Tuan: bahwasanya yang dipinta oleh Rasulullah itu adalah ini, entah sesuai untuk Rasulullah atau tidak?!”.

Kemudian pergilah Siti Aisyah rodliyallaahu anha ke rumah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika itu Rasulullah sedang sendirian. Siti Aisyah meletakkan baki yang dibawanya itu di hadapan Rasulullah seraya menyampaikan pesan ayahnya untuk Rasulullah. Maka berkatalah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam: “Wahai Aisyah, aku terima, aku terima, aku terima!”.

Lantas Beliau mengambil ujung selendang Aisyah dan ditariknya ke arahnya, Siti Aisyah memandang kepada Beliau dengan muka marah seraya berkata: “Orang-orang akan mengatakan Tuan sebagai seorang pengkhianat!”.

Lalu ditariknya selendangnya dari pegangan Rasulullah, kemudian ia bergegas pulang ke rumah ayahnya. Ketika Abubakar melihat kedatangan putrinya itu, maka ia bertanya: “Wahai Aisyah, bagaimana engkau lihat Rasulullah itu?”.

Siti Aisyah menjawab: “Wahai ayahku, janganlah menanyakan tentang hal itu kepadaku, sebab ia telah memegang bajuku dan menariknya ke arahnya!”.

Maka berkatalah Abubakar: “Wahai putriku, janganlah engkau berprasangka jahat kepada Beliau, karena aku telah mengawinkan engkau dengannya”.

Mendengar perkataan ayahnya itu, Siti Aisyah menundukkan kepalanya dengan rasa malu.

Dikatakan oleh sebagian Ulama’, bahwasanya Siti Aisyah rodliyallaahu anha telah membanggakan dirinya atas istri-istri Rasulullah yang lain dengan tiga perkara, katanya: “Aku dikawini Rasulullah dalam keadaan perawan, dan aku dikawinkan Allah Ta’aladengan Rasulullah di langit, dan Allah Ta’ala telah menumenghinaku. runkan ayat tentang Sebagaimana aku untukku firman dan Allah mengutuk : orang-orang yang

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanitawanita yang baik-baik, yang lengah (ya’ni, wanitawanita yang tidak pernah terlintas dalam pikirannya untuk berbuat keji) lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (QS. An Nuur: 23)

(Adapun kisahnya sebagai berikut): Bahwasanya apabila Rasulullah akan bepergian, maka Beliau mengundi di antara istri istrinya, siapa yang keluar namanya, dialah yang ikut dalam perja lanan itu.

Berkata Aisyah rodliyallaahu anha: “Ketika terjadi peperangan Bani Mushtalaq, Rasulullah pun mengundi di antara kami, maka undiankulah yang keluar. Kemudian aku pun ikut Rasulullah dalam peperangan itu”.

Hal itu terjadi setelah turun ayat hijab yang berbunyi :

Artinya : “Hai orang-orang yang beriman janganlah kamu memasuki rumah yang bukan rumahmu sebelum meminta izin …. “. (QS. An Nuur: 27)

Rasulullah menyediakan bagiku sebuah sekedup, aku naik unta sambil duduk di dalam sekedup itu.

Tatkala Rasulullah pulang kembali dari peperangan, dan telah dekat dari kota Madinah, maka kami bermalam pada suatu tempat.

Aku keluar dari dalam sekedup, menuju ke tempat wudlu, setelah berwudlu aku kembali. Ketika aku meraba dadaku, ternyata perhiasan yang kupakai terjatuh, maka aku kembali ke tempat itu.

Sementara aku mencari cari itu, rombongan bergerak akan berangkat, aku terhalang oleh hilangnya perhiasan itu.

Orang-orang mengangkat sekedupku dan diletakkan di atas unta yang aku tunggangi. Mereka menyangka bahwa aku ada di dalam sekedup itu. Karena ketika itu aku masih muda dan langsing. Kemudian mereka pun berangkatlah.

Ketika aku kembali ke tempat rombongan itu, mereka sudah tidak ada lagi di tempat. Maka aku pun duduklah di tempatku semula, dengan harapan mereka akan mengetahui bahwa aku tidak berada di dalam sekedup, kemudian menjemputku kembali.

Sedang aku dalam keadaan yang demikian itu, maka mataku merasa kantuk, hingga akhirnya aku tertidur.

Pada saat itu Shafwan bin Mu’thal Assalmi menjaga di belakang pasukan. Setelah fajar menyingsing ia melihat sesosok tubuh manusia sedang tidur, ia lalu mendekatiku, maka ia pun mengenali aku, yang sebelumnya telah mengenal aku ketika belum diturunkan ayat hijab. Kemudian ia mundur kembali, dan aku pun terbangun.

Lantas aku menutup mukaku dengan kerudungku. Demi. Allah, ia sama sekali tidak berbicara sepatah kata pun terhadapku, dan aku tidak mendengar sepatah kata pun daripadanya selain gerakannya ketika terkejut itu.

Kemudian ia mendekatkan kendaraannya, lalu kunaiki, ia menuntun kendaraan itu hingga akhirnya berjumpa kembali dengan pasukan induk, setelah mereka turun beristirahat.

Adapun orang yang pertama-tama membuat suatu kedustaan dan fitnahan atas diriku ialah Abdullah bin Ubai bin Saluul, kepala orang-orang munafik lanatullah alihi, lalu Masthoh anak bibi Abubakar.

Akhirnya sampailah rombongan itu di kota Madinah.

Telah berlalu beberapa hari, Rasulullah tidak lagi seperti dahulu terhadapku, setiap kali Beliau masuk, Beliau hanya mengucapkan: “Apa kabarmu? Bagaimana keadaanmu?”.

Hal itu membuat sedih hatiku, dalam hal ini aku tidak berprasangka buruk.

Pada suatu malam, aku keluar karena sesuatu keperluan dengan ibu si Masthoh. Tiba-tiba ibu si Masthoh terpeleset, ia lalu berkata: “Celakalah si Masthoh”.

Aku berkata kepadanya: “Sungguh buruk apa yang engkau ucapkan itu!”.

Ia bertanya: “Tidakkah kau dengar apa yang telah dikatakannya?”.

Aku menjawab: “Apa yang dikatakannya itu? Beritahukanlah kepadaku!”.

Lalu ia menceritakan tentang perbuatan orang-orang ahlilifki. Setelah mendengar keterangan ibu si Masthah itu, aku pun jatuh sakit, yang tambah hari tambah berat. Ketika aku masuk kembali ke rumah, dan kemudian Rasulullah menyusul masuk, maka aku berkata kepada Rasulullah: “Apakah Tuan izinkan hamba pulang ke rumah ayahku?”.

Rasulullah mengizinkan. Maka aku pun pergilah ke rumah ayahku. Di sana kerjaku hanya menangis, siang maupun malam.

Pada suatu hari, ketika kedua orang tuaku sedang duduk berdua memperbincangkan keadaan diriku, maka datanglah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa salam, setelah Beliau duduk, lantas berkatalah Beliau: “Amma ba’du. Wahai Aisyah, telah sampai berita kepadaku begitu-begini, bila engkau tidak bersalah, maka Allah akan membersihkanmu dari isyu itu, namun bila engkau telah berbuat dosa, maka mintalah ampunan kepada Allah, karena apabila seseorang hamba itu mengakui dosa-dosanya lalu ia bertobat, Allah akan memberi ampun kepadanya!”.

Sementara Rasulullah berbicara itu, air mataku terus bercucuran di pipiku, lalu aku berkata kepada ayahku : “Jawablah perkataan Rasulullah itu!”.

Ayahku menjawab: “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah”.

Kemudian aku berkata kepada ibuku: “Jawablah perkataan Rasulullah itu!”.

Ibuku menjawab: “Aku tidak tahu apa yang harus kukatakan kepada Rasulullah”.

Maka aku pun menjawab, ketika itu aku masih kanak kanak dan belum banyak membaca Al Qur’an: “Demi Allah, aku telah tahu bahwa kalian telah mendengar berita itu, sehingga melekat di hati kalian dan kalian mempercayainya, jika kukatakan bahwa aku tidak bersalah, sedang Allah mengetahui bahwa aku memang tidak bersalah, kalian tentu tidak akan mempercayaiku, karena itu aku tidak akan mengatakan kecuali seperti apa yang telah dikatakan oleh ayah Yusuf kepada anak-anaknya: Fa Shobrun Jamiilun, Wallaahul mustaaanu ‘ala Maa Tashifuun (Sabar itulah yang paling baik, semoga Allah menolong atas apa-apa yang kamu katakan)”.

Kemudian aku berpaling dan membaringkan diri di atas kasurku, aku tidak menyangka akan turun ayat tentang diriku, wahyu yang dibaca dan dibicarakan Allah tentang aku, yang kuharap ketika itu hanyalah supaya Rasulullah mendapatkan suatu mimpi yang menjelaskan tentang kebersihan diriku.

Aisyah melanjutkan: Demi Allah, Rasulullah belum lagi bergerak dari tempat duduknya, dan penghuni rumahku belum juga pergi, tiba-tiba turunlah wahyu dari Allah Ta’ala, tampak keringat membasahi kening Rasulullah, dan mukanya pun berubah menjadi merah.

Pertama-tama ucapan yang terlontar dari mulut Rasulullah kepadaku adalah: Wahai Aisyah, bergembiralah, Allah telah membersihkan dirimu!.

Lantas ibuku berkata kepadaku: “Berdirilah menghadap Rasulullah!”.

Aku menjawab: “Demi Allah, aku tidak akan bangkit menghadapnya, dan tidak akan memuji seseorang, kecuali hanya kepada Allah yang telah membersihkan aku!”.

Kemudian Rasulullah membacakan ayat tersebut:

Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang menuduh wanitawanita yang baik-baik, yang lengah (ya’ni, wanitawanita yang tidak pernah terlintas dalam benaknya untuk berbuat keji) lagi beriman (berbuat zina), mereka kena laknat di dunia dan di akhirat, dan bagi mereka azab yang besar”. (QS. An-Nuur: 23)

Lalu Abubakar rodliyallaahu anhu berkata: “Demi Allah, aku tidak akan memberi nafkah lagi kepada si Masthah, setelah ia mengatakan perkataan dusta tentang Aisyah!”.

Sebelum itu ia memberikan bantuan nafkah kepada Masthah, karena masih kerabat dekatnya, lagi miskin.

Maka atas ucapan Abubakar itu, turunlah ayat yang berbunyi:

Artinya : “Dan janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka (tidak) akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat(nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah pada jalan Allah, dan hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin bahwa Allah mengampunimu? Dan Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang”. (QS. An Nuur: 22)

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker