PASAL YANG KETUJUH HARI WAFAT RASULULLAH SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam wafat pada hari Senin tanggal tiga belas Rabiul awwal.
Dari pada Ibni Mas’ud rodliyallaahu anhu, bahwasanya ia berkata: “Tatkala ajal Rasulullah sudah dekat datangnya, Beliau mengumpulkan kami di rumah ibu kita A’isyah rodliyallaahu anha, kemudian Beliau memandang kami sambil berlinangan air mata, lalu Beliau berkata: Marhaban bikum, semoga Allah memanjangkan umur kalian, semoga Allah menyayang, menolong dan memberi petunjuk kepada kalian. Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah, Aku titipkan kalian kepada Allah. Sesungguhnya aku bagi kalian adalah sebagai pemberi peringatan. Janganlah kalian berlaku sombong terhadap Allah. Allah berfirman: Negeri Akhirat (Kebahagiaan dan kenikmatan di Akhirat) Kami jadikan untuk orang-orang yang tidak ingin menyombongkan diri dan berbuat kerusakan di (muka) bumi”.
Dan kesudahan (yang baik/Surga) itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.
Kami bertanya: “Kapankah ajal Baginda, Ya Rasulullah?”.
Beliau menjawab: “Telah dekat datangnya ajal, dan kepindahan ke hadlirat Allah, dan ke Sidrotulmuntaha, dan ke Jannatulma’wa, dan ke Arsyila’la!”.
Kami bertanya: “Siapakah yang akan memandikan Baginda, Ya Rasulullah?”.
Jawab: “Salah seorang dari ahli baiti”.
Tanya: “Bagaimana nanti kami mengafani Baginda?”.
Jawab: “Dengan bajuku ini atau pakaian yamaniyah”.
Tanya: “Siapakah yang menshalati Baginda dari antara kami?”.
Kami menangis dan Rasulullahpun ikut menangis, kemudian Beliau berkata: “Tenanglah, semoga Allah mengampuni kalian apabila kalian telah memandikan dan mengafani aku, maka letakkanlah aku di atas tempat tidurku, di dalam rumahku ini, di tepi liang kuburku, kemudian keluarlah kalian dari sisiku. yang pertama-tama akan menshalati aku adalah sahabatku alaihissalaam, kemudian Mikail, kemudian Israfil, kemudian Izraail, malaikat maut beserta bala tentaranya, kemudian masuklah kalian sebarisan-sebarisan, shalatlah atasku dan berilah salam dengan sebaik-baiknya. Dan hendaklah yang mulai shalat adalah kaum lelaki dari pihak keluargaku, kemudian wanita-wanita mereka, barulah kemudian kalian menyusul.
Sejak hari itulah Rasulullah mulai sakit agak gawat, selama delapan belas hari. Tiap-tiap hari orang-orang menengok Beliau. Sampai datang hari Senin di mana Beliau menghembuskan nafas terakhir.
Satu hari sebelumnya, ya’ni hari Ahad, penyakit Rasulullah bertambah sangat. Pada hari itu, setelah Bilal selesai mengumandangkan adzannya, ia berdiri di muka pintu Rasulullah, seraya berucap: “Assalaamu alaika Ya Rasulullah”.
Kemudian ia melanjutkan: “Ash Shalaah, yarhamukallaah!”. Fathimah rodliyallaahu anhaa menjawab: “Rasulullah dalam keadaan payah, disebabkan penyakit yang menimpanya”.
Maka kembalilah Bilal ke dalam masjid, ketika hari mulai bercahaya, maka Bilal kembali lagi berdiri di muka pintu Rasulullah, lalu ia berkata seperti perkataannya tadi. Suara Bilal kedengaran oleh Rasulullah, lalu Rasulullah memanggilnya, katanya: “Masuklah, Wahai Bilal!”.
Setelah Bilal masuk, Rasulullah berkata pula: “Saya sekarang dalam keadaan payah karena sakit. Kau perintahkan saja Wahai Bilal Abu Bakar, agar ia shalat bersama-sama kalian sebagai imam”. Maka keluarlah Bilal sambil meletakkan tangannya di atas kepalanya seraya berseru: “Aduhai, alangkah baiknya bila aku tidak dilahirkan ibuku!”.
Kemudian ia memasuki masjid, dan berkata kepada Abu Bakar: “Wahai Abu Bakar, Rasulullah Shalallaahu alaihi wa sallam memerintahkan Tuan agar shalat bersama orang-orang sebagai imam mereka”.
Ketika Abu Bakar rodliyallaahu anhu melihat ke tempat Rasulullah yang kosong, sebagai seorang lelaki yang lemah lembut, ia tidak dapat menahan dirinya lagi, lalu ia menjerit dan akhirnya ia jatuh tak sadarkan diri. Maka orang-orang yang berada di dalam mesjid menjadi ribut, sehingga, terdengar oleh Rasulullah. Beliau bertanya: “Wahai Fathimah, suara apakah ribut-ribut ini?”.
Siti Fathimah rodliyallaahu anha menjawab orang-orang ribut karena ketiadaan Rasulullah!
Lantas Rasulullah memanggil Ali bin Abi Tholib dan Abbas rodliyallaahu anhuma, sambil bersandar pada mereka berdua, keluarlah Beliau menuju ke mesjid. Kemudian Beliau shalat dua rakaat yang ringan, setelah itu Beliau memalingkan mukanya ke arah orang banyak dan berkata: “Ya ma-aasyirol muslimiin, kalian semua berada dalam pemeliharaan dan perlindungan dari Allah, sesungguhnya Dia adalah penggantiku atas kalian setelah aku tiada. Aku berwasiat kepada kalian agar bertakwa kepada Allah Ta’ala, karena aku segera akan meninggalkan dunia yang fana ini. Hari ini adalah hari pertamaku menginjak alam akhirat, dan sebagai hari terakhirku berada di alam dunia!”.
Keesokan harinya, yaitu hari Senin, Allah mewahyukan kepada malaikat maut supaya ia turun menjumpai Rasulullah dengan berpakaian sebaik-baiknya. Dan supaya ia mencabut nyawa Rasulullah dengan lemah lembut, seandainya Rasulullah menyuruhnya masuk, maka ia dibolehkan masuk, namun bila Rasulullah tidak mengizinkannya masuk, ia tidak boleh masuk, dan hendaklah ia kembali saja.
Maka turunlah malaikat maut itu untuk menunaikan perintah Allah Subhaanahu wa Ta’ala. Ia menyamar sebagai seorang Arab desa yang bagus rupanya. Setelah tiba di muka pintu tempat tinggal Rasulullah, malaikat maut itu berkata: “Assalaamualaikum Wahai ahli rumah kenabian, sumber wahyu dan risalah!”.
Lalu Fathimah rodliyallaahu anha keluar menemuinya, ia berkata kepada tamunya itu: “Wahai Abdullah (Hamba Allah), Rasulullah sekarang dalam keadaan yang payah!”.
Kemudian malaikat maut itu berkata lagi: “Assalaamualaikum, Saya harus masuk!”.
Akhirnya Rasulullah mendengar suara malaikat maut itu, lalu Beliau bertanya kepada putrinya Fathimah: “Wahai Fathimah, siapakah yang ada di muka pintu itu?”.
Fathimah rodliyallaahu anha menjawab: Seorang laki-laki memanggil Baginda, saya katakan kepadanya bahwa Baginda dalam keadaan sakit payah, kemudian ia memanggil sekali lagi dengan suara yang menggetarkan sukma. Kemudian Rasulullah berkata: “Tahukah engkau siapakah dia?”. Fathimah menjawab:
“Tidak”.
Lalu Rasulullah menjelaskan: “Wahai Fathimah, ia adalah pengusir kelezatan, pemutus keinginan, pemisah jamaah dan yang meramaikan kuburan!”.
Kemudian Rasulullah berkata: “Masuklah wahai malaikat maut!”.
Maka masuklah malaikat maut itu sambil mengucapkan: “Assalamualaika Ya Rasulullah!”.
Rasulullah menjawab: “Wa alaikassalaam Ya malaikat maut!.
Engkau datang untuk berziarah atau untuk mencabut nyawa?!”.
Jawab: “Saya datang sebagai penziarah dan pencabut nyawa, bila Tuan izinkan, kalau tidak saya akan kembali”.
Rasulullah bertanya: “Wahai malaikat maut, di mana engkau tinggalkan kecintaanku Jibril?”.
Jawab: “Saya tinggalkan ia di langit dunia”.
Baru saja malaikat maut itu selesai bicara, tiba-tiba Jibril alaihissalaam datang, lalu ia duduk di dekat kepala Rasulullah. Maka berkatalah Nabi kita Shallallaahu alaihi wa sallam: “Wahai
Jibril, tidakkah engkau mengetahui bahwa ajal telah dekat?”.
Jibril menjawab: “Ya, wahai kekasih Allah”.
Rasulullah berkata pula: “Beritahukanlah aku wahai Jibril, apakah yang telah disediakan Allah bagiku di sisi-Nya?”.
Jawab: “Bahwasanya pintu-pintu langit telah dibuka, sedangkan malaikat malaikat telah berbaris untuk menyambut ruhmu”.
Rasulullah berkata: “segala puji dan syukur bagi Tuhanku. Wahai Jibril, apalagi yang telah disediakan Allah bagiku?”.
Jawab: “bahwasanya pintu-pintu surga telah terbuka dan bidadari-bidadari telah berhias, sungai-sungainya telah mengalir, dan buah-buahannya telah merunduk, semuanya menantikan kedatangan rohmu”.
Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam berkata: Segala puji dan syukur untuk Tuhanku. Beritahukanlah lagi kepadaku wahai Jibril, apa lagi yang diperuntukkan Allah bagiku?.
Jawab: “Aku memberikan kabar gembira buat Tuan. Tuanlah yang pertama-tama sebagai pemberi syafaat dan yang pertama-tama diizinkan untuk memberikan syafaat pada hari Kiamat kelak”.
Rasulullah berkata: “Puji dan syukur aku panjatkan untuk Tuhanku. Wahai Jibril, berilah aku kabar yang menggembirakan aku!”.
Jibril bertanya: “Tuan akan menanyakan tentang apa?”.
Jawab: “Tentang kegelisahanku. Apakahyang akan didapatkan oleh orang-orang yang membaca Al Quran sesudahku? Apakah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang berpuasa di bulan Ramadlan sesudahku? Apakah yang akan didapatkan oleh orang-orang yang berziarah ke Baitul Haram sesudahku?”.
Jibril menjawab: “Saya beritahukan kabar gembira buat Tuan. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah berfirman: Aku telah mengharamkan Surga bagi semua nabi dan ummat, sampai engkau dan ummatmu memasukinya lebih dahulu”.
Maka berkatalah Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam: “Sekarang tenanglah sudah hatiku. Wahai malaikat maut, mendekatlah kepadaku!”.
Lalu malaikat maut pun mendekat.
Ali rodliyallaahu anhu bertanya: “Siapakah yang akan memandikan Baginda, dan siapakah yang akan mengafani Baginda?”.
Rasulullah menjawab: “Ada pun yang memandikan aku adalah engkau, sedang Ibnu Abbas menyiramkan airnya, dan Jibril akan membawakan hanuuth (semacam balsem) dari dalam Surga. Jika kalian telah selesai memandikan dan mengafaniku, maka keluarlah kalian. …. “
(Lalu Rasulullah mengatakan seperti apa yang telah dijelaskannya di atas tadi).
Kemudian malaikat maut mulai mencabut nyawa Rasulullah, ketika ruh Beliau sampai di pusat perut, Beliau mengucapkan: “Wahai Jibril, alangkah pedihnya maut!”.
Mendengar ucapan Rasulullah itu, Jibril memalingkan mukanya, Lalu Rasulullah bertanya: “Wahai Jibril, apakah engkau tidak suka memandang mukaku?”.
Jibril, menjawab: “Wahai kekasih Allah, siapakah yang tega hatinya memandang muka Tuan, sedang Tuan sedang merasakan sakitnya maut?!”.
Akhirnya ruh yang mulia itu pun keluar meninggalkan jasad Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam.
(Berkata) Anas rodliyallaahu anhu: “Ketika aku lewat di muka pintu Aisyah rodliyallaahu anha, kudengar ia sedang menangis sambil mengatakan: Wahai orang yang tidak pernah memakai sutera!. Wahai orang yang tidak pernah tidur di atas kasur yang empuk!. Wahai orang yang keluar dari dunia dengan perut yang tidak pernah kenyang dari gandum!. Wahai orang yang telah memilih tikar daripada ranjang!. Wahai orang yang jarang tidur di waktu malam karena takut Neraka Sa’ir!”.
(Dihikayatkan): Dari Sa’id bin Ziyad dari Kholid bin Sa’ad, bahwasanya Muaz bin Jabal rodliyallaahu anhu telah berkata:
“Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam telah mengutusku ke negeri Yaman untuk memberikan pelajaran agama di sana. Maka berdiamlah aku di sana selama dua belas tahun. Pada suatu malam, aku bermimpi didatangi oleh seseorang, orang itu berkata kepadaku: Apakah anda masih enak tidur juga wahai Mu’az, padahal Rasulullah telah berada di bawah tanah?”.
Sahabat Mu’az terbangun dengan ketakutan, lalu ia bangkit dan mengucapkan : “Audzubillaahi minasy syaithoonir rojiim!”.
Setelah itu ia lalu shalat.
Pada malam berikutnya, ia bermimpi persis seperti mimpinya malam yang lalu. Maka berkatalah Mu’az: “Kalau begitu, ini bukanlah dari setan”.
Kemudian ia menjerit dengan sekeras-kerasnya, sehingga didengar oleh sekalian penduduk Yaman.
Keesokan harinya orang-orang berkumpul, lalu Mu’az berkata kepada mereka: “Tadi malam dan malam sebelumnya saya bermimpi yang sulit untuk dipahami. Dahulu, seingat saya bila Rasulullah bermimpi yang sukar dipahami, Beliau membuka mushhaf (Al-Qur’an). Maka berikanlah mushhaf kepadaku!”.
Setelah Muaz menerima mushhaf, lalu dibukanya, maka tampaklah firman Allah :
Artinya : “Sesungguhnya kamu akan mati dan sesungguhnya mereka pun akan mati (pula) (QS. Az Zumar: 30) Maka menjeritlah Muaz, lalu ia jatuh tak sadarkan diri.
Setelah ia sadar kembali, ia membuka mushhaf kembali, tampak firman Allah :
Artinya : “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh telah berlalu sebelumnya beberapa orang Rasul, apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtadz)? Barangsiapa yang berbalik ke belakang, maka ia tidak dapat mendatangkan mudlarat kepada Allah sedikit pun, dan Allah akan memberikan balasan kepada orang-orang yang bersyukur”. (QS. Ali Imraan : 144)
Maka Muaz pun menjerit lagi: “Aduhai Abalqoosim, Aduhai Muhammad!”.
Kemudian ia keluar meninggalkan negeri Yaman menuju ke Madinah. Tatkala ia akan meninggalkan penduduk Yaman, ia berkata: “Seandainya apa yang kulihat ini benar, maka akan meranalah para janda, anak-anak yatim dan orang-orang miskin, dan kita akan menjadi seperti kawanan domba yang tidak ada pengembalanya”.
Kemudian ia berteriak: “Aduhai sedihnya berpisah dengan Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam”.
Lalu ia pun pergi meninggalkan mereka.
Ketika ia berada pada jarak lebih kurang dari tiga hari perjalanan dari kota Madinah, tiba-tiba terdengar olehnya suara halus dari tengah-tengah lembah, yang mengucapkan firman Allah: “Kullu Nafsin Dzaaiqotul Maut!” (tiap-tiap yang bernyawa pasti akan merasakan maut). Lalu Muaz mendekati sumber suara itu. Setelah berjumpa, Muaz bertanya kepada orang itu: “Siapakah Tuan?”.
Orang itu menjawab: “Saya adalah salah seorang Anshor, nama saya Abdullah!”.
Mu’az bertanya lagi: “Bagaimana kabar Rasulullah?”.
Jawab: “Wahai Muaz, sesungguhnya Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam telah meninggalkan dunia!”.
Mendengarkan ucapan orang itu, Mu’az jatuh tak sadarkan diri.
Lalu orang itu menyadarkannya, ia memanggil: “Wahai Muaz, sadarlah!”.
Ketika Mu’az sadar kembali, orang itu lalu menyerahkan sepucuk surat untuknya yang berasal dari Abu Bakar Ashshiddiq rodliyallaahu anhu, dengan stempel dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam. Tatkala Mu’az melihatnya, ia lalu mencium stempel itu dan diletakkannya di matanya, kemudian ia menangis dengan tersedu sedan. Setelah puas menangis ia pun melanjutkan perjalanannya menuju ke kota Madinah.
Ia sampai di kota Madinah pada waktu fajar menyingsing. Didengarnya Bilal sedang mengumandangkan adzan Subuh, Bilal mengucapkan: “Asyhadu An Laa Ilaaha Illallaah”. Mu’az menimpali: “Wa Asyhadu Anna Muhammadur Rasuulullaah”. Kemudian ia menangis dan akhirnya ia jatuh pingsan.
Pada saat itu, di dekat Bilal ada Salman Al Faarisi rodliyallaahu anhuma, lalu ia berkata kepada Bilal: “Wahai Bilal, sebutlah nama Muhammad dengan suara keras di dekatnya, ia adalah Mu’az, tak sadarkan diri”.
Ketika Bilal selesai azan, ia mendekati Muaz, lalu ia berkata: “Assalaamu alaika, angkatlah kepalamu wahai Muaz, aku telah mendengar dari Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, Beliau berkata: Sampaikanlah salamku kepada Muaz”.
Maka Muaz pun mengangkatkan kepalanya sambil menjerit dengan suara keras, sehingga orang-orang menyangka bahwa ia telah menghembuskan nafas terakhir. Kemudian ia berkata: ?Demi ayah dan ibuku, siapakah yang mengingatkan aku pada Beliau ketika Beliau akan meninggalkan dunia yang fana ini, wahai Bilal?. Marilah kita pergi menuju ke rumah ibu kita Aisyah rodliyallaahu anha”.
Ketika sampai di muka pintu Aisyah, Mu’az berkata: “Assalaamualaikum ya ahli bait, wa rohmatullaahi wa baarokaatuh!”.
Yang keluar adalah Raihanah, ia berkata: “Aisyah sedang pergi ke rumah Siti Fathimah rodliyallaahu anha”.
Kemudian Mu’az menuju ke rumah Fathimah, dan mengucapkan: “Assalaamu alaikum ya ahla bait!”.
Siti Fathimah menyahut: “Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam berkata: Orang yang paling alim diantara kalian tentang perkara halal dan haram adalah Mu’az bin Jabal, ia adalah kekasih Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam”.
Kemudian Fathimah berkata pula: “Masuklah wahai Mu’az!. Tatkala Mu’az melihat Siti Fathimah dan Aisyah rodliyallahu anhuma, ia jatuh pingsan tak sadarkan diri. Ketika ia sadar kembali, Fathimah lalu berkata kepadanya: “Saya mendengar Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam berkata: Sampaikanlah salam saya kepada Mu’az dan beritahukan kepadanya bahwasanya ia kelak di hari Kiamat sebagai imam ulama””‘.
Kemudian keluarlah Muaz dan pergi menuju ke kuburan Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam






One Comment