Campuran

Terjemah Kitab As Sab’iyyat Fi Mawaidzil Bariyyat

PASAL YANG PERTAMA NABI IBRAHIM ALAIHISSALAM MENGHADAP RAJA MESIR

Setelah peristiwa api yang dibuat Namrudz untuk membakar Nabi Ibrahim itu dijadikan Allah dingin dan tak berdaya untuk mencelakakan Nabi Ibrahim alaihissalaam, maka Nabi Ibrahim lalu berangkat menuju ke negeri Mesir. Beliau berkata: “Aku pergi menurut kehendak Tuhanku, kelak Dialah Yang akan menunjuki aku. Beliau pergi bersama istrinya (Sarah)”.

Pada waktu itu Mesir merupakan suatu kerajaan besar yang dikuasai oleh seorang raja yang lalim. Di sepanjang jalan ia mempunyai pengawas.

Ibrahim alaihissalaam adalah seorang yang sangat pencemburu, padahal istrinya (Sarah) adalah wanita tercantik pada masa itu. Karena itulah ketika Beliau memasuki Mesir, Beliau masukkan isterinya ke peti lalu digemboknya dari luar. Peti itu diletakkannya di atas onta.

Ketika rombongan Nabi Ibrahim itu melewati para pengawas raja Mesir, maka mereka meminta bea serta ingin memeriksa peti yang dibawa oleh Nabi Ibrahim itu. Akan tetapi Nabi Ibrahim berkata: “Aku akan membayar berapa bea yang kalian pinta, namun peti itu jangan dibuka!”.

Tetapi mereka tetap memaksa akan membuka peti itu, hingga akhirnya mereka berhasil juga memaksa Nabi Ibrahim untuk membukanya. Maka tampak oleh mereka seorang wanita yang cantik jelita berada di dalam peti itu. Lantas mereka bertanya kepada Ibrahim: “Apakah ini istri Tuan?”.

Nabi Ibrahim menjawab: “Dia adalah saudariku”.

Mereka berkata pula: “Dia sesuai untuk raja!”.

Kemudian mereka membawa Sarah menghadap raja, sedang Ibrahim alaihissalam mereka cegah masuk bersama-sama. Maka

Allah membukakan hijab bagi Ibrahim sehingga Beliau dapat memandang apa yang sedang terjadi pada diri istrinya, dari balik hijab itu.

Ketika raja lalim itu hendak memegang siti Sarah, maka dengan kuasa Allah, tangan dan kakinya menjadi lumpuh. Lalu berkatalah si raja itu: “Engkau seorang tukang sihir, hingga tangan dan kakiku menjadi lumpuh”.

Siti Sarah menjawab: “Aku bukan tukang sihir, tetapi suamiku adalah Kholiilullaah, ia menyumpahimu, karena itu Allah lalu melumpuhkan kedua tangan dan kakimu. Maka bertobatlah kepada Allah, agar la menyembuhkan kelumpuhanmu itu!”.

Raja itu pun bertobatlah. Kemudian ia memandang Siti Sarah, maka kembali ia tidak dapat menahan diri, lalu diulurkannya tangannya sekali lagi. Maka Allah pun membutakan matanya. Si raja berkata: Engkau adalah seorang wanita tukang sihir!

Siti Sarah menjawab: Demi Allah, aku berlindung kepada-Nya, aku bukanlah seorang tukang sihir, namun suamiku Kholilullaah. Dan niatmulah yang menyebabkan engkau dibutakan Allah, karena engkau akan berbuat sesuatu yang tidak diridlai Allah. Maka bertobatlah engkau kepada Allah, dan bebaskanlah aku, agar engkau disembuhkannya kembali.

Setelah raja itu bertobat dari dosa-dosanya, maka Allah pun mengembalikan pandangannya seperti semula. Kemudian ia memandang kepada Sarah ketiga kalinya, timbul pula niat jahatnya, lalu ia mengulurkan tangannya untuk mengganggu Siti Sarah. Maka Allah melumpuhkan ke tujuh anggota tubuhnya. Lalu si raja itu berkata: “Hai wanita, kau sungguh seorang penyihir!”.

Siti Sarah berkata: “Aku bukan tukang sihir, namun suamiku adalah Kholiilullaah, ia telah menyumpahimu, karena itulah engkau menjadi lumpuh!”.

Kemudian raja itu memanggil Nabi Ibrahim, lalu ia meminta maaf kepada Beliau atas kejadian tersebut. Raja itu berkata: “Wahai Ibrahim, berilah aku hukuman menurut apa yang kau suka, dan mohonkanlah kepada Tuhanmu agar la menyembuhkan aku dari malapetaka yang menimpaku ini!”.

Maka berkatalah Nabi Ibrahim alaihissalaam: “Ini adalah urusan Tuhanku, karena itu aku tidak dapat menghukum sebelum mendapat izin dari Allah Ta’ala”.

Lantas turunlah Jibril alaihissalaam seraya mengatakan: “Wahai Ibrahim, Tuhanmu memberi salam kepadamu, dan la berkata kepadamu: Katakanlah kepada raja itu supaya ia mengeluarkan semua milik dan perbendaharaannya, lalu memberikan semuanya kepadamu! barulah kemudian engkau doakan ia”.

Maka Ibrahim memberitahukan kepada raja itu hukum yang ditetapkan Allah atas dirinya. Raja itu rela menerima hukuman tersebut, ia menyerahkan semua miliknya kepada Ibrahim alaihissalaam.

Ibrahim lalu mendoakannya, maka Allah pun menyembuhkannya dari penyakit lumpuhnya itu.

(Renungan): Sarah adalah wanita yang dicintai oleh Al Kholil (Ibrahim), maka ia lantas dipelihara Allah Ta’ala dari raja yang zalim, sehingga si raja tak dapat mengganggunya. Sedangkan kalimat tauhid yang ada di hati seorang mu’min itu adalah kalimat yang dicintai oleh Al Jaliil (Allah), jika musuh tidak mendapat jalan untuk menggoda kecintaan Al Kholiil, betapa pula setan akan mendapat jalan untuk menggoda kecintaan Al Jaliil.

(Kembali ke alur cerita): Ketika raja itu sembuh kembali dari penyakit lumpuhnya itu, maka ia memberikan Hajar kepada Siti Sarah. Tetapi Siti Sarah berkata: “Aku berikan ia kepada Ibrahim alaihissalaam, karena Beliau telah berduka karena aku”.

Nabi Ibrahim berkata: Janganlah bersedih hati, karena Allah telah membukakan hijab antara diriku dan dirimu, sehingga aku dapat menyaksikan semua apa yang terjadi atas dirimu!.

(Bila dikatakan): bahwa Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam itu lebih utama dari Ibrahim alaihissalaam, kenapa tidak terbuka hijab baginya, tatkala Siti A’isyah rodliyallaahu anha ketinggalan di belakang kafilah, sehingga orang-orang munafik menuduhnya dengan tuduhan yang tidak-tidak.

Jawabnya adalah: Seandainya terbuka hijab bagi Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam, dan Beliau dapat menyaksikan keadaan Siti A’isyah, maka Rasulullah akan merasa yakin atas kebenaran Siti A’isyah, sedangkan orang-orang munafik dan semua orang akan meragukannya. Mereka tentu akan mengatakan: “Muhammad tentu tidak akan merusak citra isterinya!”.

Karena itulah hijab tidak terbuka baginya. Akan tetapi Allah memberitahukan peristiwa itu dalam Kalam-Nya yang azali dengan wahyu samawi, tentang kesucian Siti A’isyah rodliyallaahu anha; sebagaimana yang difirmankan-Nya :

Artinya : ” …… Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), ini adalah dusta yang besar”. (QS. An Nuur.:16)

Dengan demikian, akan hilanglah keraguan di hati orang orang munafik dan orang-orang kafir.

(Jawab lainnya): Seakan-akan Allah hendak menyatakan: Ya Muhammad, Kami angkat hijab dari Ibrahim sehingga ia dapat memelihara sendiri istrinya; dan Kami tidak mengangkatnya hijab untukmu namun Kami sendiri yang memelihara isterimu.

Jadi yang memelihara Sarah adalah Al Kholiil, sedangkan yang memelihara Siti A’isyah adalah Al Jaliil.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker