PASAL YANG KETIGA PERNIKAHAN ANTARA NABI MUSA DAN SHAFROWA ALAIHIS SALAAM
Pernikahan antara Nabi Musa dan Shafrawa alaihissalam berlangsung pada hari Jumat.
Firman Allah:
Artinya : “Salah seorang dari kedua wanita itu berkata wahai Bapakku, ambillah ia sebagai orang yang berkerja (pada kita), karena sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang kuat lagi dapat dipercaya”. (QS. Al Qoshosh : 26)
(Jalan cerita): Tatkala Nabi Musa alaihissalaam tiba di Madyan, Beliau membantu memberikan minuman kepada ternak Nabi Syuaib alaihissalaam. Kemudian Beliau berteduh di bawah pohon sambil merenungkan nasibnya sebagai seorang asing yang miskin, lelah dan lapar, maka berkatalah ia: “Aku sakit, aku lemah, aku miskin!”.
Namun batinnya berseru: “Hai Musa, orang yang sakit itu ialah orang yang tidak memiliki tabib seperti aku; orang yang miskin itu ialah orang yang tidak memiliki bagian sepertiaku; dan orang asing itu ialah orang yang tidak memiliki kekasih seperti aku!”.
Setelah putri Nabi Syuaib pulang, ia lalu menceritakan kepada bapaknya tentang kisah Nabi Musa yang telah membantunya untuk mengambilkan air bagi ternaknya itu. Kemudian Nabi Syuaib menyuruh salah seorang putrinya untuk mengundang Musa ilaihissalaam.
Maka pergilah putrinya itu untuk mengundang Musa, sambil berjalan dengan malu-malu, namanya Shafrawa.
(Renungan): Bahwasanya, seandainya jalan seorang wanita dengan malu-malu itu tidak diridloi Allah, sudah tentu Allah tidak akan mewartakannya di dalam Al Qur’an.
Puteri Nabi Syuaib itu berkata kepada Musa alaihissalaam: “Sesungguhnya ayahku mengundang tuan untuk membalas jasa tuan yang telah memberi minuman kepada ternak kami!”.
Nabi Syuaib alaihissalaam mengutus putrinya kepada Nabi Musa alaihissalaam untuk membalas jasanya yang telah memberi minum kepada ternaknya. Sedangkan Allah Ta’ala telah mengutus Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam kepada hamba hambaNya mengajak mereka, untuk mengganjar mereka dengan pahala yang sangat besar.
Shafrawa berkata kepada bapaknya: “Wahai bapakku, jadikanlah ia sebagai buruh kita, karena sebaik-baik buruh itu adalah yang kuat dan dapat dipercaya”.
Maka berkatalah Syuaib alaihissalaam: “Aku belum melihat kekuatan dan kejujurannya?!”.
Shafrawa menjawab: “Dia telah mengangkat sebongkah batu yang besar seorang diri, yang hanya dapat diangkat oleh empatpuluh orang lelaki, dan aku telah berjalan di hadapannya, lalu ia berkata: Mundurlah ke belakang agar pandanganku tidak memandang anggota badanmu!”.
Ketika Syuaib mendengar keterangan putrinya itu, maka ia pun lalu ingin menjadikan Musa sebagai menantunya.
Kemudian berkatalah Syuaib kepada Musa alaihimassalaam: “Aku ingin menikahkan engkau dengan salah satu putriku ini!”.
Musa menjawab: “Aku adalah seorang yang miskin dan asing, aku tidak sanggup untuk membayar mas kawinnya!”.
Syuaib berkata: “Mas kawinnya adalah agar engkau bekerja denganku selama delapan tahun, dan jika engkau cukupkan sepuluh tahun, maka itu adalah suatu kebaikan darimu!”.
Kemudian Nabi Syuaib mengumpulkan penduduk negerinya, guna menyaksikan akad nikah putrinya dengan Nabi Musa alaihissalaam.
Setelah itu, ia lalu menyerahkan putrinya kepada Nabi Musa alaihissalaam. Hal ini terjadi pada hari Jum’at.
(Renungan): Bahwasanya tatkala Nabi Syuaib alaihissalaam menyaksikan sifat amanat dan agama Nabi Musa alaihissalaam, Beliau segera mengikat tali kekeluargaan dengannya, dengan mengangkatnya sebagai menantunya. Kata beliau: “Aku ingin menikahkan engkau dengan salah seorang putriku ini!”.
Demikian pula, ketika Allah Subhaanahu wa Ta’ala mengetahui kebaikan hamba-hamba-Nya, dan iman, takwa serta doa mereka, la lalu menggandengkan mereka dengan diri-Nya, firman-Nya: “Bukankah aku Tuhan kamu?”. Dan firman-Nya :
Artinya : “Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman, diri mereka dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka …. “. (QS. At Taubah : 111)
(Kembali ke alur cerita): Berkata Assuda rohmatullah alaihi: Bahwasanya satu malaikat datang ke tempat Nabi Syuaib alaihissalam dengan menyamar sebagai seorang manusia, ia menitipkan satu tongkat kepada Nabi Syuaib.
Adapun tongkat itu asalnya dari Sidrotul Muntaha, yang dibawa Nabi Adam dari dalam Surga. Ketika Adam wafat, tongkat itu diambil oleh Jibril alaihissalaam, sampai ke masa Nabi Syuaib alaihissalaam, kemudian dibawa turun lagi kepada Nabi Syuaib untuk Nabi Musa alaihissalaam.
Ketika akad nikah Nabi Musa alaihissalaam selesai, maka Nabi Syuaib berkata kepada Musa: Masuklah ke dalam rumah lalu ambillah sebuah tongkat buat dirimu di antara tongkat-tongkat yang ada, kemudian pergilah ke tempat kambing-kambing itu!.
Maka masuklah Nabi Musa kedalam rumah untuk mengambil tongkat seperti yang disuruh oleh Nabi Syuaib itu. Kemudian ia keluar kembali sambil membawa sebuah tongkat. Ketika Nabi Syuaib melihat tongkat yang diambil Musa itu, Beliau berkata: “Kembalikanlah tongkat itu ke tempatnya semula, sebab ia adalah barang titipan”.
Musa kembali masuk ke dalam rumah dan meletakkan tongkat itu ke tempatnya semula. Ketika Musa hendak mengambil tongkat yang lain, maka tongkat itu tadi masuk ke dalam tangannya, begitulah, setiap kali ia berusaha hendak mengambil tongkat yang lain, tidak dapat dilakukannya. Akhirnya Musa mengambil kembali tongkat itu, lalu ia keluar menuju ke tempat ternaknya.
Nabi Syuaib mengikutinya dari belakang, setelah bertemu dengan Nabi Musa, Beliau berkata: “Kembalikan tongkat itu!”.
Tetapi Nabi Musa tidak bersedia memberikannya, sehingga akhirnya mereka berdua berbantah-bantahan. Akhirnya mereka sepakat akan meminta pendapat kepada orang yang pertamatama mereka jumpai.
Mereka berjumpa dengan seorang malaikat yang menyamar sebagai manusia, mereka berkata kepada orang itu: “Tolong adili kami berdua!”.
Orang itu berkata: “Letakkanlah tongkat itu di atas tanah, barangsiapa yang sanggup mengangkatnya, maka dialah yang berhak memilikinya!”.
Kemudian Musa meletakkan tongkat itu di atas tanah.
Ketika Nabi Syuaib hendak mengambilnya, tongkat itu tidak bergeming sedikit pun, sekali pun ia berusaha dengan sekuat tenaganya. Lalu Musa mengambilnya, dengan mudah tongkat itu terangkat olehnya.
Dari tongkat inilah keluar mu’jizat-mu’jizat Nabi Musa.
Di antaranya, apabila Nabi Musa merasakan kelelahan dalam perjalanannya, maka Beliau lalu menunggang tongkat itu yang berubah seakan-akan seekor kuda yang tangkas. Jika lapar, Beliau memukulkan tongkat itu ke tanah, maka keluarlah berbagai macam makanan yang lezat-lezat. Jika Beliau ingin minum, maka dari tongkat itu memancar mata air yang jernih. Di waktu yang gelap gulita, keluarlah cahaya dari dalam tongkat itu ibarat sinar matahari.
Apabila Musa merasa kesunyian, tongkat itu berubah menjadi teman berbincang. Dan jika tongkat itu dilemparkan ke arah musuh, berubahlah ia menjadi seekor ular yang amat besar, dari mata dan mulutnya keluar nyala api, sedang suaranya bergemuruh seperti geledek.
Ketika Nabi Musa alaihissalaam telah menyelesaikan pengembalaan ternak Nabi Syuaib alaihissalaam selama delapan tahun sesuai dengan perjanjian, maka berkatalah Nabi Syuaib kepadanya: Wahai Musa, seandainya pada tahun ini ternak yang engkau gembalakan itu beranak betina, maka itu menjadi milikmu!
Adapun Musa alaihissalaam mengembalakan kambing kepunyaan Nabi Syuaib, memberinya rerumputan dan air. Ketika Beliau akan memberikan minuman kepada ternak gembalaannya itu, maka dilemparkannya tongkatnya ke dalam air, setelah itu barulah diberikannya air itu kepada kambing-kambing gembalaannya itu.
Maka selama satu tahun itu, kambing-kambing gembalaannya beranak betina semuanya.
Pada tahun ke sepuluh, Nabi Syuaib berkata pula kepada Musa alaihissalaam: “Setiap kambing yang beranak jantan pada tahun ini, maka itu adalah untukmu”.
Dengan kuasa Allah, kambing gembalaan Musa pada tahun itu beranak jantan semua. Dengan demikian Musa pun lalu memiliki ternak yang sangat banyak.
Kemudian Beliau bermaksud akan kembali ke negeri asalnya. bersama istri dan sejumlah kambing yang diberikan Syuaib kepadanya.
Di tengah perjalanan Beliau membutuhkan api, lalu tampak olehnya kilatan cahaya dari suatu tempat, sebagaimana yang diceritakan Allah di dalam Al Qur’an :
Artinya : “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan (yaitu : mengembalikan ternak Nabi Syuaib), dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, kemudian ia berkata kepada keluarganya : Tunggulah di sini!, sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepadamu dari tempat api itu atau membawakan seluruh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. (QS. Al Qoshosh : 29)






One Comment