PASAL YANG PERTAMA JURJAIS ALAIHISSALAM DIBUNUH
Jurjais bin Falthin hidup pada masa raja Dardiyaanah. Raja ini adalah seorang penyembah berhala.
Pada suatu hari, ia mendirikan suatu singgasana, lalu ia meletakkan berhalanya itu di atas singgasana tersebut. Ia menghiasi berhalanya itu dengan beraneka ragam permata, dan diberinya wangi-wangian berupa misik dan kafuur. Setelah itu, ia menyalakan api di samping singgasananya itu. Maka orang-orang yang mau menyembah kepada berhalanya itu, dibiarkannya berlalu, sedangkan orang yang tidak mau, dicemplungkannya ke dalam api itu.
Kemudian Allah mengutus Jurjais alaihissalaam kepada raja itu, dengan tugas menyeru kepada ibadat hanya kepada Allah Ta’ala.
Jurjais berkata kepada raja itu: “Kenapa anda menyembah kepada yang tidak melihat dan mendengar sama sekali, serta tidak dapat memberikan manfaat sedikit pun kepadamu?”.
Raja itu berkata: “Sesungguhnya harta, kerajaan dan kenikmatan yang ada padaku tak terhingga banyaknya semenjak aku menyembah berhala. Dan manakah hasil peribadatanmu kepada Tuhanmu itu? Tidak tampak satu kenikmatan pun ada padamu”.
Jurjais alaihissalaam menjawab: “Bahwasanya kenikmatan dunia itu tidak kekal dan akan musnah, sedang Allah akan memberikan untukku kenikmatan akhirat yang abadi di dalam Surga”.
Kemudian terjadilah perdebatan sengit antara keduanya, yang berakhir dengan perintah Raja itu untuk membunuh Jurjais.
Raja itu lalu memerintahkan supaya menggodok biji sawi dan cuka, dan setelah mendidih lalu dituangkan ke seluruh badan Jurjais, juga diperintahkannya agar menyisir badan Jurjais dengan sisir besi, sehingga tidak tertinggal di badannya daging sedikit pun, kecuali tulang-belulang.
Kemudian Allah menghidupkan Jurjais kembali seperti sediakala, bahkan lebih bagus dari sebelumnya. Lalu Jurjais berteriak: “Ya kafir, katakan: Laa ilaaha illallaah!!”.
Kemudian raja itu memerintahkan supaya mendatangkan enam pasak dari besi. Setelah pasak-pasak itu didatangkan, maka dipasaknyalah kedua tangan Jurjais dengan dua buah pasak, kedua kakinya dengan dua pasak, di kepalanya satu pasak, dan di ulu hatinya satu pasak.
Allah lalu memerintahkan kepada malaikat untuk mencabut semua pasak yang ada di badan Jurjais alaihissalaam itu. Setelah semuanya dicabut, maka dengan kuasa Allah, Jurjais pun hidup kembali seperti sediakala. Kemudian ia berteriak: “Ya Kafir, katakan: laa ilaahaa illallaah!”.
Melihat upayanya lagi-lagi tidak berhasil, maka raja itu lalu memerintahkan supaya Jurjais dimasukkan ke dalam sebuah belanga besar yang berisi minyak yang mendidih, sedang di bawahnya dinyalakan api yang sangat besar.
Namun Allah menjadikan suatu mata air yang dingin di dalam belanga itu, sehingga Jurjais sedikit pun tidak merasakan panas sama sekali, dan tidak satu helai pun rambut di tubuhnya mendapat mudlarat. Kemudian Jurjais keluar dari dalam belanga itu dengan sehat dan segar bugar, selamat tak kurang suatu apa.
Raja itu mencobakan lagi beberapa macam siksaan buat mencelakakan Jurjais, sampai tujuh puluh macam siksaan, dan malah disebutkan dalam salah satu kitab, bahwa siksaan yang ditimpakan atas diri Jurjais itu mencapai seratus macam siksaan. Tetapi dengan kuasa Allah, tak ada satu pun dari bermacam-macam siksaan itu yang dapat mencelakakan Jurjais.
Tatkala raja itu merasa bahwa semua daya upayanya sia-sia belaka, maka ia memanggil Jurjais, lalu ia berkata: “Wahai Jurjais, aku mempunyai hajat darimu, apabila engkau menuruti aku sesuai dengan permintaanku, maka aku pun akan menurutimu sesuai dengan apa yang kau perintahkan”.
Tetapi Jurjais alaihissalaam hanya diam saja mendengarkan perkataan raja itu, tanpa memberikan jawaban sama sekali. Maka si raja kafir itu mengira bahwa Jurjais mau menerima permintaannya itu.
Kemudian ia berkata: “Wahai Jurjais, aku telah menyiksamu dengan bermacam-macam siksaan, dan aku telah banyak menyakiti dirimu, sekarang marilah engkau ikut ke rumahku untuk beristirahat malam ini!”.
Maka pergilah Jurjais alaihissalaam ke istana raja itu. Semalammalaman itu ia gunakan untuk shalat dan membaca Kitab Zabuur hingga terbit fajar. Bacaan Jurjais itu telah memberikan bekas yang mendalam di hati istri raja itu, sehingga ia menangis dengan tersedu sedu. Lalu ia berdiri di belakang Jurjais alaihissalaam, dengan suara perlahan ia menyatakan tobatnya. Jurjais mengusulkan agar ia mau masuk Islam, ia menerima ajakan Jurjais itu, maka masuk Islamlah ia ..
Ketika Jurjais keluar dari istana raja, raja itu lalu memerintahkannya agar ia sujud kepada berhala, tetapi ditolak oleh Jurjais. Maka raja itu lalu memenjarakannya pada rumah seorang perempuan tua. Si perempuan tua ini mempunyai seorang anak yang tuli, bisu dan buta. Jurjais tidak diberi makanan maupun minuman.
Adapun di rumah perempuan tua itu ada satu tiang. Kemudian Jurjais berdoa, maka dengan tiba-tiba tiang itu menjadi berdaun dan berbuah dengan bermacam-macam buah-buahan.
Tatkala perempuan tua itu datang dan melihat mu’jizat Jurjais itu, ia lalu menyatakan keislamannya. Kemudian ia meminta kepada Jurjais agar mendoakan anaknya yang cacat itu. Jurjais berdoa, maka dengan kuasa Allah, anak perempuan tua yang cacat itu pun kembali normal, dapat mendengar, berbicara dan melihat.
Kemudian Jurjais memanggil anak itu: “Ya ghulaam!!”
Anak itu menjawab: “Labbaik, Ya Rasulullah!”
Jurjais berkata kepada anak itu: “Pergilah engkau ke rumah berhala-berhala itu, dan katakan kepada berhala-berhala itu bahwa Jurjais alaihissalaam memanggil kalian!”.
Maka pergilah anak itu ke rumah berhala tersebut, di situ terdapat tujuh puluh berhala. Ketika anak itu menyampaikan pesan Jurjais, maka berhala-berhala itu menjatuhkan diri dan dengan kuasa Allah berjalan di atas kepala mereka menuju ke tempat Jurjais alaihissalaam.
Ketika Jurjais melihat berhala-berhala itu, Beliau lalu memerintahkan bumi untuk menelannya. Kejadian itu tampak oleh isteri raja. Lalu ia naik ke atas istana dan berteriak: “Wahai penduduk kota, sayangilah diri kalian, dan masuk Islamlah kalian!!”.
Si raja suaminya berkata kepadanya: “Sudah sejak tujuh puluh tahun aku menyaksikan banyak sekali mu’jizat, namun aku tidak mau masuk Islam. Tetapi engkau hanya menyaksikan satu mu’jizat saja, sudah menyatakan diri memeluk agama Islam!?”.
Maka dijawab isterinya: “Hal itu karena kemalanganmu dan keberuntunganku jua!”.
Raja kafir itu murka, lalu ia memerintahkan agar isterinya itu dibunuh.
Kemudian Jurjais alaihissalaam bermunajat kepada Tuhannya: “Ilaahii, Selama tujuh puluh tahun aku telah mengalami penyiksaan orang-orang kafir itu, dan sejak hari ini tidak ada lagi kesanggupan pada diriku. Maka karuniailah aku syahaadah (mati syahid), dan azablah mereka dengan azab yang pedih!”.
Baru saja Jurjais menyelesaikan munajatnya, tiba-tiba turunlah api dari atas langit. Ketika api itu mendekati kaum yang kafir itu, mereka lalu mencabut pedang-pedang mereka dan membunuh Jurjais. Api itu terus turun, lalu memusnahkan mereka semuanya dalam waktu yang singkat.
Kejadian ini terjadi pada hari Selasa.






One Comment