Campuran

Terjemah Kitab As Sab’iyyat Fi Mawaidzil Bariyyat

PASAL YANG KEENAM DISEMBELIHNYA SAPI BANI ISRAIL

Allah Subhaanahu wa Ta’ala berfirman :

Artinya : “Sesungguhnya Allah memerintahkan kalian agar. memotong sapi betina …. “. (QS. Al Baqoroh : 67)

Adapun sebabnya adalah sebagai berikut

Diantara bangsa Israel, ada dua orang bersaudara yang miskin. Mereka mempunyai seorang paman yang kaya raya bernama Amil. Si Paman tidak mempunyai ahli waris selain dari mereka berdua, namun ia tidak pernah berbuat kebajikan kepada kedua keponakannya itu. Akhirnya mereka berdua sepakat untuk membunuh sang paman, untuk mendapatkan warisnya.

Setelah mereka melaksanakan niat jahatnya itu lalu mayat sang paman mereka lemparkan di antara dua desa, dari desa desa bangsa Israel, kemudian mereka berdua pulang kembali.

Mereka lalu menyebarkan isyu, kata mereka: “Paman kami mati di suatu tempat antara desa A dan desa B!”.

Kemudian mereka berdua menuntut diat (denda) kepada kedua desa itu, sehingga timbullah permusuhan di antara penduduk kedua desa tersebut. Sebagaimana firman Allah Ta’ala :

Artinya : “Dan (ingatlah) ketika kamu membunuh seorang manusia lalu kamu saling tuduh-menuduh tentang (perkara) itu, dan Allah hendak menyingkapkan apa yang selama ini kamu sembunyikan”. (QS. Al Baqoroh : 72)

Penduduk kedua desa itu akhirnya pergi menjumpai Nabi Musa alaihissalaam guna menjernihkan persoalan tersebut. Mereka berkata: “Berdoalah kepada Tuhanmu agar la menerangkan dengan sebenarnya tentang perkara pembunuhan ini!?.

Musa lalu berkata kepada mereka: (sebagaimana yang diceritakan Allah di dalam Al Quran): “Sesungguhnya Allah menyuruh kamu menyembelih seekor sapi betina!”.

Mereka berkata: “Apakah kamu hendak menjadikan kami buah ejekan?!”.

Musa menjawab: “Aku berlindung kepada Allah akan termasuk golongan orang-orang yang jahil”.

Mereka bertanya: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami, agar Dia menerangkan kepada kami, sapi betina apakah itu?”.

Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi itu adalah sapi betina yang tidak tua dan tidak muda; pertengahan antara itu; maka kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu!”.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar Dia menerangkan kepada kami apa warnanya?”.

Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang kuning, yang kuning tua warnanya lagi menyenangkan orang-orang yang memandangnya”.

Mereka berkata: “Mohonkanlah kepada Tuhanmu untuk kami agar dia menerangkan kepada kami bagaimana hakikat sapi betina itu, karena sesungguhnya sapi itu (masih) samar bagi kami dan sesungguhnya kami insya Allah mendapat petunjuk?.

Musa menjawab: “Sesungguhnya Allah berfirman bahwa sapi betina itu adalah sapi betina yang belum pernah dipakai untuk membajak tanah dan tidak pula untuk mengairi tanaman, tidak bercacat, tidak ada belangnya”.

Mereka berkata: “Sekarang barulah kamu menerangkan hakikat sapi betina yang sebenarnya”.

Kemudian mereka menyembelihnya, dan hampir saja mereka tidak melaksanakan perintah itu. (QS. Al Baqoroh : 67-71)

Kemudian Allah memerintahkan kepada Nabi Musa agar memukul orang yang terbunuh itu dengan lidah sapi itu. Setelah dipukul oleh Nabi Musa, maka seketika itu juga orang yang terbunuh itu hidup kembali seraya berkata kepada orang-orang Bani Israel: “Yang membunuhku adalah keponakanku!”.

Artinya : “Lalu Kami berfirman : Pukullah mayat itu dengan sebagian anggota sapi betina itu!, demikianlah Allah menghidupkan kembali orang-orang yang telah mati, dan memperlihatkan kepadamu tanda-tanda kekuasan-Nya agar kamu mengerti”. (QS. Al Baqoroh : 73)

Mungkin timbul pertanyaan : Hikmat apa yang terkandung dalam perintah Allah tersebut di atas?  

Jawab: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memerintahkan penyembelihan sapi betina itu, dan tidak yang lainnya, adalah karena kaum Musa sebelumnya pernah menyembah anak sapi. Dengan perintah penyembelihan sapi betina itu, seakan-akan Allah hendak memberitahukan bahwasanya jenis sapi tidaklah patut selain untuk disembelih”.

Demikian pula halnya, Allah mengazab orang-orang kafir dengan api, tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwasanya api itu hanyalah salah satu dari sekian banyak makhluk-makhluk Allah.

Dikatakan bahwa sapi itu adalah milik seorang anak yatim yang sangat berbakti kepada kedua orang tuanya. Sapi itu dibeli oleh orang-orang Bani Israel dengan emas seberat timbangan sapi itu.

Sebelum itu, ketika ayah si anak yatim itu mendekati ajalnya, ia bermunajat kepada Tuhannya, katanya: “Ilaahii, aku tidak mempunyai apa-apa selain sapi betina ini yang akan diwarisi oleh anak tunggalku, maka kutitipkan ia kepadamu, supaya kelak Kau berikan kepada anakku bila ia membutuhkannya!”.

Setelah sapi betina itu ia titipkan kepada Allah, maka Allah memeliharanya bagi anak orang itu, dan kelak dijual dengan harga emas seberat timbangan sapi betina itu.

Hal ini adalah untuk menjadi pelajaran bahwa barangsiapa menitipkan sesuatu kepada Allah Ta’ala, maka Allah akan mengembalikannya kepadanya.

Ada pula suatu kejadian yang mirip dengan peristiwa sapi betina di atas. (Dihikayatkan) bahwa ada seorang laki-laki datang menghadap kepada Umar Ibnul Khattab rodliyallaahu anhu, orang itu datang bersama anaknya. Wajah sang anak mirip sekali dengan wajah sang bapak, sehingga Umar merasa keheranan, lalu ia berkata: “Tidak pernah saya melihat seekor gagak pun yang mirip bapaknya, seperti ini.?”.

Orang itu menjelaskan: “Ya amiril mu’miniin, sesungguhnya anakku ini pernah mengalami kejadian yang mena’jubkan, yaitu, ia terpendam dalam tanah selama sembilan bulan! kemudian dengan kuasa Allah ia keluar kembali ke permukaan bumi”.

Maka Umar terlompat karena terkejut, seraya bertanya: “Apa yang kau katakan?”.

Orang itu menjawab: “Dahulu tatkala anak ini masih berada dalam kandungan ibunya, aku bermaksud akan berlayar. Maka. aku pun berwudlu dan shalat dua rakaat, setelah itu aku mengangkatkan tangan ke arah langit seraya berdoa: Tuhanku, aku titipkan anakku yang berada dalam perut ibunya ini kepada Engkau, dan kembalikanlah ia dengan selamat bila aku kembali kelak!”.

Kemudian aku berlayar, yang lamanya sembilan bulan.

Sekembalinya dari pelayaran aku mendapatkan istriku telah meninggal dunia, maka menangislah aku sejadi-jadinya. Kemudian aku pergi ke kuburnya, tiba-tiba terdengar suara yang aneh dari dalam kubur itu. Aku merasa heran, lalu aku berkata dalam hati: Lebih baik aku buka kembali kuburnya, agar dapat kuketahui suara apa gerangan yang kudengar ini. Setelah kuburan itu kubongkar kembali, maka terlihatlah mayat istriku telah membusuk, seluruh jasadnya telah rusak, kecuali payudaranya, di mana anakku ini tampak sedang menyusu. Lalu aku angkat anak itu, dan aku berkata: Tuhanku, Engkau telah mengaruniai aku dengan mengembalikan anakku ini, maka bila Engkau kembalikan pula isteriku, alangkah besarnya karunia-Mu kepadaku!”.

Tiba-tiba terdengar suara tanpa rupa (Hatif) mengatakan: “Engkau dahulu telah menitipkan anakmu kepada Allah, maka sekarang ia kembalikan kepadamu; seandainya dahulu itu engkau juga menitipkan isterimu, maka tentu sekarang akan dikembalikannya pula, seperti la mengembalikan anakmu dengan selamat”.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker