PASAL YANG KETUJUH TERBUNUHNYA HABIL PUTERA ADAM ALAIHISSALAM
Allah berfirman :
Artinya : “Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putra Adam (Habil dan Qobil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qobil) … “. (QS. Al Maaidah : 27)
Sebab terjadi peristiwa di atas adalah sebagai berikut: Ibu kita Hawa alaihassalaam, melahirkan anak berjumlah seratus dua puluh orang; dalam riwayat lain, seratus delapan puluh; dan dalam riwayat lainnya, lima ratus. Setiap kali melahirkan, sekaligus kembar, laki-laki dan perempuan. Pertama sekali melahirkan, ia melahirkan putranya yang bernama Qobil dan saudara kembarnya, perempuan bernama Iqlima. Kemudian setelah itu lahir putranya yang kedua bernama Habil dan saudara kembarnya, juga perempuan bernama Damiiman, (ada juga yang mengatakan namanya Labura).
Setelah mereka berdua meningkat dewasa, lantas Allah Ta’ ala mewahyukan kepada Adam alaihissalaam supaya mengawinkan Damim dengan Qobil dan Iqlima dengan Habil. Habil menerimanya, namun Qobil menolaknya.
Qobil berkata: “Saudara perempuanku lebih cantik, karena itu aku tidak mau menggantikannya”
Adam allaihissalam menasehatinya: “Wahai anakku, janganlah engkau menentang perintah Allah”.
Qobil menjawab: “Allah tidaklah menyuruhmu demikian, akan tetapi karena engkau lebih mencintai Habil, maka kau kawinkan ia dengan putrimu yang paling cantik”.
Maka berkatalah Adam alaihissalaam: “Pergilah kalian berdua meminta keputusan dari Allah dengan jalan berkurban. Barangsiapa kurbannya diterima Allah, maka ia lebih berhak”.
Kemudian pergilah kedua saudara itu ke tempat yang telah dibangun Adam alaihissalaam. Qobil sebagai seorang petani, membawa hasil tanamannya, sedangkan Habil sebagai seorang peternak, membawa seekor kambing kibas. Lalu mereka masingmasing meletakkan kurban mereka di atas sebuah gunung, yaitu gunung Mina.
Lalu mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, terimalah kurban kami ini!”.
Tiba-tiba turunlah nyala api dari langit yang menghanguskan kurban Habil, sedang kurban Qobil dibiarkannya saja.
(Renungan): Ada tujuh hakim pada masa tujuh nabi, yaitu:
- Kurban, sebagai hakim pada masa Adam alaihissalaam. Barangsiapa kurbannya hangus terbakar, artinya ia benar; dan barangsiapa kurbannya tidak hangus terbakar, tandanya ia salah.
- Kapal, sebagai hakim pada masa Nuh alaihissalaam. Barang siapa meletakkan tangannya di atas kapal itu, ia tidak bergerak, tandanya orang itu benar; dan bila bergerak tandanya salah.
- Rantai, sebagai hakim pada masa Dawud alaihissalaam. Barangsiapa berhasil mengambil rantai itu maka tandanya ia benar, dan barangsiapa tidak berhasil tandanya ia bersalah.
- Api, sebagai hakim pada masa Ibrahim alaihissalaam. Barangsiapa meletakkan tangannya di api dan tidak terbakar, tandanya ia benar, tetapi bila terbakar tandanya ia salah.
- Gantang, sebagai hakim pada masa Yusuf alaihissalaam. Barangsiapa memegang gantang itu, lalu gantang itu bersuara tandanya orang itu benar; dan bila dipegang ia tidak mengeluarkan suara, maka tandanya orang itu bersalah.
- Perigi, sebagai hakim pada masa Sulaiman alaihissalaam. Perigi itu terletak di tempat ibadat Sulaiman alaihissalaam. Barangsiapa meletakkan kakinya di perigi, perigi itu tidak menyambarnya, maka tandanya ia benar; tetapi bila perigi itu menyambarnya, maka tandanya ia salah.
- Anak Panah, sebagai hakim pada masa Zakariya alaihissalaam. Firman Allah :
Artinya: ” …. Padahal kamu tidak hadir berserta mereka, ketika mereka melemparkan anak-anak panah mereka (untuk mengundi) siapa diantara mereka yang (lebih berhak) akan memelihara Maryam … “. (QS. Ali Imraan : 44)
Mereka menuliskan nama orang yang bersengketa pada anak panah itu, kemudian melemparkannya ke dalam sungai. Apabila anak panah itu berjalan di permukaan air, tandanya orang yang namanya tercantum pada anak panah itu benar, dan bila anak panah itu tenggelam tandanya orang itu bersalah.
Tatkala kenabian itu sampai kepada Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam, maka keterangan (bukti nyata) diwajibkan atas pendakwa, sedangkan sumpah diharuskan atas orang yang mengingkari, hingga tidak sampai terbuka rahasia orang yang berdusta.
Jika demikian halnya bagi si pendusta di dunia, betapa pula orang yang mengucapkan syahadat dengan jujur, akan terbuka rahasianya di akhirat?!
Di dalam khabar disebutkan: apabila hari Kiamat telah tiba, maka Allah Ta’ala memerintahkan supaya tiap-tiap nabi dihisab bersama-sama dengan ummatnya. Tetapi khusus bagi Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam Allah berkata: “Engkau tidak dihisab bersama-sama ummatmu!”.
Kemudian Rasulullah memohon: “Ilaahii, jadikanlah hisab ummatku itu ada di tanganku, agar tidak diketahui oleh orang lain selain diriku!”
Allah menjawab: Ya Muhammad, engkau ingin agar keburukan ummatmu tidak ada yang mengetahuinya selain dirimu, sedang Aku menginginkan agar tidak ada yang mengetahui keburukan Mereka selain Aku sendiri, tidak engkau maupun malaikat yang terdekat sekalipun.
(Kembali ke jalur cerita): Tatkala kurban Habil telah diterima, maka saudaranya merasa iri kepadanya, ia (Qobil) berkata: “Aku akan membunuhmu!”.
Lalu dijawab oleh Habil, sebagaimana yang diceritakan Allah di dalam Al Quran surah Al Maaidah ayat 27, yang berbunyi :
Artinya: ” ….. Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa”.
(Renungan): Tujuh perkara yang senantiasa menjadi idaman ummat manusia, namun Allah hanya menjanjikannya bagi orangorang yang bertakwa saja.
Pertama : Setiap manusia menginginkan supaya Allah menghapuskan kesalahan-kesalahannya, namun hal ini Allah menjanjikan hanya bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya
Artinya : ” ….. Dan barangsiapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Dia akan menutupi kesalahan-kesalahannya dan akan melipat gandakan pahala baginya”. (QS. Ath Thalaaq : 5)
Kedua : Setiap orang menginginkan agar selamat dari Neraka,
tetapi Allah menjanjikan hal itu hanya bagi orang-orang yang
Artinya : “Dan Allah menyelamatkan orang-orang yang bertakwa karena kemenangan mereka, mereka tiada disentuh oleh azab (neraka dan tidak pula) mereka berduka cita”. (QS. Az Zumar : 61)
Ketiga : Setiap orang menginginkan hasil yang baik, namun Allah menjanjikannya hanya bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : ” ….. Dan kesudahan yang baik adalah bagi orangorang yang bertakwa”. (QS. Al A’raaf : 128)
Keempat : Setiap orang menginginkan untuk mendapatkan kerajaan Surga, namun Allah menjanjikannya hanya kepada orang-orang yang bertakwa. Allah berfirman:
Artinya : “Itulah surga yang akan Kami wariskan kepada hamba-hamba Kami yang selalu bertakwa”. (QS. Maryam : 63)
Kelima : Setiap orang menginginkan untuk mendapatkan kemenangan dan pertolongan dari Allah, namun hal itu hanya diberikan Allah kepada orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya :
Artinya : “Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan”. (QS. An Nahl: 128)
Keenam : Setiap orang menginginkan kecintaan dari Allah Subhaanahu wa Ta’ala, namun Allah menjanjikan hal itu hanya bagi orang-orang yang bertakwa, sebagaimana firman-Nya:
Artinya : ” …. Maka sesungguhnya Allah mencintai orangorang yang bertakwa”. (QS. Ali Imraan : 76)
Ketujuh : Setiap orang menginginkan agar Allah menerima dan mengabulkan amal bakti dan doanya, namun Allah menjanjikan hal itu hanya bagi orang-orang yang bertakwa. Firman-Nya :
Artinya : ” .. …. sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa”. (QS. Al Maaidah : 27)
(Kembali ke alur cerita): Tatkala Qobil berkata: “Aku sungguhsungguh akan membunuhmu!”.
Maka Habil menjawab: “Sungguh kalau kamu menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku sekali-kali tidak akan menggerak tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Se sungguhnya aku takut kepada Allah, Tuhan seru sekalian alam”. (QS. Al Maaidah : 2 8)
Kemudian Qobil pun senantiasa mencari kesempatan untuk membunuh Habil, saudaranya.
Pada suatu hari, ketika ia sedang mencari saudaranya itu, tampaklah olehnya Habil sedang tidur di antara ternak-ternaknya. Lalu diambilnya sebongkah batu dan dilemparkannya ke atas kepala saudaranya hingga mati, seperti yang diajarkan oleh Iblis alaihilla’nah kepadanya.
Kejadian itu terjadi pada hari Selasa.
Ketika ia telah menumpahkan darah saudaranya itu, maka berdatanganlah burung-burung garuda untuk memangsa mayat tersebut.
Sehingga ia kebingungan, bagaimana cara untuk menyembunyikan mayat saudaranya itu? Akhirnya mayat itu dipanggulnya dan dibawanya berkeliling beberapa saat lamanya.
Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Qobil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayat saudaranya. Burung itu berhasil membuat sebuah lobang, lalu ia menyembunyikan sesuatu ke dalamnya, dan kemudian lobang itu ditimbunnya kembali dengan tanah.
Tatkala Qobil melihat kejadian itu, maka berkatalah ia: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak sanggup berbuat seperti burung gagak itu, lalu aku dapat menguburkan mayat saudaraku ini?”
Karena itulah ia menjadi menyesal. Bukan menyesal karena telah membunuh saudaranya, melainkan menyesal karena ketidak mampuannya untuk menyembunyikan mayat saudaranya itu. Sebab bila ia menyesali perbuatannya membunuh itu, tentu hal itu menjadi tobat baginya, padahal ia mati tanpa tobat.
Setelah ia menguburkan mayat saudaranya, maka ia pun kembali pulang. Tak berapa lama Adam pun kembali juga dari perjalanannya ke Baitullah, maka anak-anaknya semua berkumpul mengelilinginya, mereka berkata: “Sejak beberapa hari ini Habil lenyap, dan kami tidak mengetahuinya, di mana ia berada?”.
Mendengar laporan anak-anaknya itu, Adam menjadi berduka cita, malamnya ia bermimpi melihat anaknya Habil yang berseruseru memanggilnya: “Wahai ayah, tolooong … !”.
Adam pun terkejut dan akhirnya ia terjaga dari tidurnya, ia bangkit dengan gemetar dan menangis tersedu-sedan, sehingga akhirnya jatuh tak sadarkan diri.
Maka malaikat Jibril turun dengan segera, diambilnya kepala Adam dan diletakkannya di pangkuannya. Ketika Adam sadar, ia segera melihat Jibril berada di sampingnya, lalu ia bertanya: “Wahai Jibril, di manakah anakku Habil?”.
Jibril alaihissalaam menjawab: “Wahai Adam, aku menyatakan turut berduka cita atasmu, Habil telah dibunuh oleh Qobil!”.
Adam berkata: “Aku berlepas tangan dari perbuatan Qobil!”.
Jibril pun berkata pula: “Aku pun berlepas tangan dari perbuatan Qobil!”.
Kemudian Adam bangkit lalu berkata kepada Jibril: “Wahai Jibril, tunjukkanlah kepadaku tempat di mana Habil dikubur!”.
Setelah Jibril menunjukkan tempat itu, maka tampak oleh Adam kuburan anaknya itu berlumuran dengan darah, maka menjeritlah ia, seraya berkata: “Aduhai sedihnya, wahai anakku, wahai jantung hatiku!”.
Kemudian menangislah Adam, sehingga seluruh malaikat yang berada di tujuh lapis langit pun ikut menangis, mereka berkata: “Wahai Tuhan kami, dahulu Adam telah menangis selama tiga ratus tahun, belum lagi ia beristirahat dari hal itu, sekarang ia telah menangis lagi”.
Maka Allah berfirman: “Ya, memang dunia adalah tempat yang fana, tempat malapetaka, tempat susah payah dan tempat menangis”.
Sejak saat itu, kemana saja Adam pergi, ia selalu menangis, sehingga benda-benda yang ada sekitarnya pun ikut menangis. Bila ia tiba pada suatu lembah sambil menangis, lembah itu pun turut menangis; bila ia naik ke atas gunung sambil menangis, gunung itu pun turut menangis. Apabila ia bertemu dengan sekelompok binatang buas, maka binatang-binatang itu berlarian menjauhinya, seraya mengatakan: “Manusia itu tidak setia, orang yang tidak kasihan terhadap saudaranya, bagaimana ia akan kasihan kepada kami!”






One Comment