PASAL YANG KEDUA KEPERGIAN MUSA ALAIHISSALAM KE TURSINA
Nabi Musa alaihissalaam telah pergi ke gunung Thursina pada hari Senin, sebagaimana yang diberitakan Allah dalam Al Qur’ an:
Artinya : “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat denganKami) pada waktu yang telah Kami tentukan …. “(QS. Al A’raaf : 143)
Nabi Musa alaihissalaam telah melakukan tujuh macam perjalanan yang semuanya terjadi pada hari Senin, yaitu: safarul ghodlob, safarul harob, safaruth tholab, safarus sabab, safarul’ujub, safarul adab dan safaruth thorbi.
Adapun yang pertama, yaitu, safarul ghodlob (perjalanan karena murka), adalah perjalanan Musa alaihis salaam ketika Beliau dihanyutkan oleh ibunya ke dalam sungai karena takut akan kemurkaan Fir’aun alaihilla’nah. Seperti yang diceritakan Allah dalam Al Qur’an surah Al Qoshosh ayat 7, yang berbunyi :
Artinya : “Dan Kami ilhamkan kepada Ibu Musa : “Sesungguhnya dia, dan apabila khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia kedalam sungai (nil), dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para Rasul”.
Yang kedua atau safarul harob, adalah perjalanan Musa ketika melarikan diri dari Mesir ke Madyan, sebagaimana yang diceritakan. Allah dalam Al Qur’an, surah Al Qoshosh ayat 21:
Artinya : “Maka keluarlah Musa dari kota itu (Mesir) dengan rasa takut (kalau-kalau ada orang yang menyusul untuk menangkapnya), menunggu-nunggu dengan rasa khawatir, dia berdo’a : Ya Tuhan-ku selamatkan lah aku dari orang-orang yang zalim itu”.
Artinya : “Dan tatkala ia menghadap ke jurusan negeri Madyan, ia berdo’a (lagi) : mudah-mudahan tuhanku memimpinku ke jalan yang benar”.
Yang ketiga, yaitu, safaruth tholab (perjalanan menuntut sesuatu), adalah perjalanan Nabi Musa ketika pulang dari negeri Madyan dan Beliau memerlukan api, kemudian Beliau melihat cahaya api, maka didekatinya. Hal ini diceritakan Allah Ta’ala
dalam Al Qur’an dengan Firman-Nya:
Artinya : “Maka tatkala Musa telah menyelesaikan waktu yang ditentukan dan dia berangkat dengan keluarganya, dilihatnyalah api di lereng gunung, ia berkata kepada keluarganya : Tunggulah (disini) sesungguhnya aku melihat api, mudah-mudahan aku dapat membawa suatu berita kepada-Mu dari (tempat) api itu atau membawa seluruh api, agar kamu dapat menghangatkan badan”. (QS. Al Qoshosh : 29)
Yang keempat, safarus sabab (perjalanan disebabkan sesuatu), yaitu, perjalanan Musa alaihissalaam keluar dari Mesir menuju ke jurusan sungai (Nil) dikejar oleh Fir’aun dan bala tentaranya. Perjalanan itulah yang menjadi sebab kebinasaan Fir’aun alaihilla’nah. Allah menceritakan peristiwa ini dengan FirmanNya:
Artinya : “Dan Kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya. Dan Kami tenggelamkan golongan yang lain itu”. (QS. Asy Syu’aroo : 65-66)
Yang kelima, safarul ‘ujub (perjalanan ujub), yaitu, perjalanan Musa alaihissalaam bersama kaumnya ketika tersesat di padang belantara, selama empat puluh tahun. Mereka diberi Allah makanan berupa “manna” dan “salwa” dan dikeluarkan Allah air dari batu-batuan untuk minuman mereka. Hal ini diceritakan Allah dalam Al Qur’an pada surah Al Baqoroh ayat 57 :
Artinya : “Dan Kami naungi kamu dengan awan, dan Kami turunkan kepadamu “manna” dan “Salwa” … “
Dan firman Allah dalam surah yang sama ayat 60, yang berbunyi :
Artinya : “Dan (ingatlah) ketika Musa memohon air untuk kaumnya, lalu Kami berfirman : “Pukullah batu itu dengan tongkatmu”. Lalu memancarlah daripadanya dua belas mata air. Sungguh tiap-tiap suku telah mengetahui tempat minumnya masing-masing”.
Makan dan minumlah rezki (yang diberikan) Allah, dan janganlah kamu berkeliaran di muka bumi dengan berbuat kerusakan”.
Dikatakan bahwa kaum Nabi Musa yang ikut bersamanya di padang belantara itu semuanya berjumlah tujuh puluh ribu orang:
Yang keenam, safarul adab (perjalanan pendidikan), yaitu, perjalanan Nabi Musa ke tepi sungai untuk berjumpa dengan Khidir alaihissalaam. Firman Allah, Ma’nanya :
“Dan (ingatlah) ketika Musa berkata kepada muridnya : Aku tidak akan berhenti berjalan sebelum sampai ke pertemuan dua buah lautan, atau aku akan berjalan sampai bertahun-tahun, maka tatkala mereka sampai ke pertemuan dua buah laut itu, mereka lupa akan ikannya, lalu ikan itu melompat mengambil jalannya ke laut itu, maka tatkala mereka berjalan lebih jauh, berkatalah Musa kepada muridnya : bawalah kemari makanan kita, sesungguhnya kita telah merasa letih karena perjalanan kita ini. Muridnya menjawab : Tahukah kamu tatkala kita mencari tempat berlindung di batu tadi, maka sesungguhnya aku lupa (menceritakan tentang) ikan itu dan tidak adalah yang melupakan aku untuk menceritakannya kecuali setan dan ikan itu mengambil jalannya ke laut dengan cara yang aneh sekali, Musa berkata : Itulah (tempat) yang kita cari, lalu keduanya kembali mengikuti jejak mereka semula, lalu bertemu dengan seorang hamba diantara hamba-hamba kami telah Kami ajarkan kepadanya ilmu dari sisi Kami.
Musa berkata kepada Khidir : bolehkah aku mengikutimu supaya kamu mengajarkan kepadaku ilmu yang benar diantara ilmu-ilmu yang telah diajarkan kepada-Mu?”.
Yang ketujuh, safaruth thorbi (perjalanan suka cita), yaitu, perjalanan Nabi Musa ke bukit Thursina guna bermunajat dengan Tuhannya. Firman Allah : . ..
Artinya : “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan …. “. (QS. Al A’roof : 143)






One Comment