PASAL YANG KEEMPAT PERNIKAHAN NABI SULAIMAN DENGAN RATU BALQIS ALAIHISSALAM
Pernikahan Ratu Balqis dengan Nabi Sulaiman alaihissalaam terjadi tatkala ia datang ke tempat Nabi Sulaiman berikut singgasananya karena doa Ashif bin Barkhiya.
(Diriwayatkan): bahwasanya Ratu Balqis itu adalah seorang wanita yang sangat cantik dan sempurna akalnya, karena itulah golongan jin merasa iri terhadapnya. Mereka mengatakan bahwa Balqis itu mempunyai dua aib, pertama pendek, dan kedua betisnya seperti betis unta.
Maka Nabi Sulaiman memerintahkan supaya para jin itu merubah sedikit singgasana Ratu Balqis, lalu Beliau menyuruh pula untuk dibangunkan sebuah mahligai yang terbuat dari kaca, yang di sebelah bawah dan sekitarnya dialiri sungai dengan isi ikan ikan dan katak-katak. Dan di atas air itu dibuatkan suatu jembatan dari kaca.
Tatkala Ratu Balqis dan rombongannya tiba, Nabi Sulaiman bertanya kepadanya: “Apakah ini singgasana anda?”. Ratu Balqis menjawab: “Mungkin!”.
la tidak mengatakan ya, karena dilihatnya ada sedikit perubahan. Juga tidak mengatakan bukan, sebab dilihatnya ada kemiripan dengan singgasananya. Dari jawaban Balqis itu, tahulah Sulaiman alaihissalam bahwa ia adalah seorang wanita yang berakal sempurna lagi bijaksana.
Kemudian Nabi Sulaiman mempersilahkan tamunya itu untuk memasuki istana. Ketika Ratu Balqis melihat ke dalam istana itu, tampak olehnya seakan-akan ada genangan air, maka ia pun mengangkat gaunnya sehingga betisnya tersingkap. Nabi Sulaiman melihat kepada betisnya itu, maka tak tampak satu aib pun sebagaimana yang diisyukan oleh golongan jin.
Sulaiman berkata kepada Balqis: “Ini adalah sebuah mahligai yang licin yang terbuat dari kaca!”.
Tatkala Ratu Balqis menyaksikan semua kehebatan Nabi Sulaiman itu, ia pun berkata dalam hatinya: “Walaupun kerajaanku luas, singgasanaku indah dan besar, bala tentaraku banyak, namun jika dibandingkan dengan semua yang aku saksikan ini, seakan akan tiada berarti sama sekali”.
Karena itulah kemudian ia berkata, seperti yang dikisahkan Allah di dalam Al Qur’an :
Artinya : “Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah berbuat zalim terhadap diriku dan aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan semesta Alam”. (QS. An Naml: 44)
Setelah itu ia pun kawin dengan Nabi Sulaiman alaihissalam. Siapakah yang akan dapat menggambarkan kebesaran kerajaan Nabi Sulaiman alaihissalam, yang ingin sebagai kendaraannya, manusia dan jin sebagai bala tentaranya, burung sebagai pembantu dan teman bicaranya, binatang buas sebagai pekerjanya, dan para malaikat sebagai utusannya?!.
Nabi Sulaiman mempunyai suatu lapangan yang sebagian tanahnya terbuat dari emas dan sebagian lagi dari perak. Dan jika bala tentaranya itu dibariskan di lapangan itu, maka panjang barisannya itu tidak kurang dari seratus parsakh. Adapun luas tempat tinggalnya adalah sebulan perjalanan.
Golongan jin menganyamkan baginya sebuah permadani dari emas dan perak, pada permadani itu terdapat dua belas ribu mihrob, pada setiap mihrob itu terdapat kursi dari emas dan perak, duduk di atas tiap-tiap kursi itu seorang alim dari ulama Bani Israel.
Setiap hari dimasak kira-kira seribu unta, empat ribu sapi dan empat puluh ribu kambing. Dan Nabi Sulaiman mempunyai piring piring yang besar laksana kolam, dan periuk yang senantiasa tetap berada di atas tungku. Seperti yang dikisahkan Allah dengan firman-Nya :
Artinya : “Para jin itu membuat untuk Sulaiman apa yang dikehendakinya dari gedung-gedung yang tinggi dan patung-patung dan piring-piring yang (besarnya) seperti kolam, dan periuk yang tetap (berada diatas tungku) … “, (QS. Saba’: 13)
(Suatu isyarat): Wahai ummat Muhammad, sesungguhnya bagi kamu di dalam Surga tersedia tempat-tempat tinggal dan derajat-derajat, kebun-kebun, sungai-sungai, dan buah-buahan. Di dalamnya terdapat apa-apa yang disukai jiwa dan disenangi mata, dan di dalamnya juga terdapat apa-apa yang tidak pernah terlintas pada pikiran manusia.
Dikatakan bahwa serendah-rendah derajat tempat tinggal ummat Muhammad di dalam Surga itu adalah seluas kerajaan Nabi Sulaiman seratus kali. Malah lebih baik, karena Surga adalah tempat yang abadi, di dalamnya tidak ada matahari, dingin, awan, kilat, kelelahan, keruwetan, kerakusan, kepayahan. Abadi tanpa batas, pemberian tanpa hitungan, penerimaan tanpa tolakan, serta penyampaian kepada Yang Maha Esa, Maha Tunggal, tidak ada yang menyerupai dan menandingi-Nya.
Ada Surga yang dinamakan Darussalaam, di dalamnya terdapat keselamatan tanpa kebinasaan, keni’matan tanpa malapetaka, ketenteraman tanpa kepayahan, kecintaan tanpa permusuhan, kemuliaan tanpa kehinaan, kecocokan tanpa pertentangan, dan juga ada kegembiraan, kemuliaan, mahligai, buah-buahan dan bidadari.
Ada pula Surga yang dinamakan Jannatun na’im, sebagaimana yang difirmankan Allah: “Sesungguhnya bagi orang-orang yang bertakwa tersedia di sisi Tuhan mereka Surga keni’matan. Di dalamnya si hamba bertempat tinggal, para nabi menjadi sahabatnya, ganjaran di dalamnya besar, tinggal kekal di dalamnya, dengan karunia, yang berlimpah-limpah, tidak ada kesusahan di dalamnya, yang menjamu Pemurah, keni’matannya abadi, kasurnya bersusunsusun, pembaringannya terhampar, bidadarinya cantik jelita, mahligainya tinggi-tinggi dan naungannya luas.
Ada lagi yang disebut surga firdaus sebagai firman Allah:
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan beramal saleh bagi mereka adalah surga Firdaus menjadi tempat tinggal”. (QS. Al Kahfi: 107)
Surga ini disediakan bagi orang-orang yang tidak menyekutukan atau menyerupakan Tuhannya dengan sesuatu, yang mengikhlaskan bagi-Nya perkataan serta perbuatannya, menjauhkan diri dari segala ma’siat, dan tidak berpaling kepada selain-Nya. Maka Tuhan menjadikannya sebagai kekasih, dan dijadikan-Nya Surga Firdaus sebagai tempat tinggalnya.
Di dalam Firdaus itu ada empat sungai, ada sungai dari air tawar, ada pula sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, ada pula sungai dari air arak yang lezat cita rasanya, dan ada pula sungai dari air madu yang tersaring. Dan mereka mendapatkan di dalamnya segala macam buah-buahan. Ada lagi empat mata air, yaitu, salsabil, zanjabil, rohiiq, dan tasniim. Ada pula dua mata air yang mengalir dan dua mata air yang memancar, yang pertama disebut al kaafuur, dan yang lain disebut al kautsaar. Dan di dalamnya pula terdapat apa-apa yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga dan tidak pula pernah terlintas dalam hati manusia.
Seperti yang difirmankan Allah Ta’ala:
Artinya : “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu didalam taman-taman dan sungai-sungai, di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang Maha Kuasa”. (QS. Al Qomar: 54-55)






One Comment