Campuran

Terjemah Kitab As Sab’iyyat Fi Mawaidzil Bariyyat

PASAL YANG KEENAM MUSA ALAIHISSALAAM MASUK KE MESIR

Musa alaihissalam masuk Mesir pada hari Kamis, sebagaimana yang diceritakan Allah di dalam Al Qur’an sebagai berikut :

Artinya : “Dan Musa masuk ke kota, ketika penduduknya sedang lengah … “. (QS. Al Qoshosh : 15)

Para ulama berbeda pendapat tentang masuknya Musa ke Mesir ini.

Berkata As Sudaa rahimahullah: Ketika Musa telah dewasa, suatu hari Beliau menunggang kuda bersama Fir’aun, kemudian Beliau pulang kembali ke kota di waktu tengah hari.

Dan Muhammad bin Ishaq rohimahullah berkata: Bahwasanya tatkala Musa telah menginjak dewasa, Beliau baru menyadari akan kesesatan Fir’aun maka Beliau lalu melepaskan diri dan keluar dari kota diikuti oleh kaumnya Bani Israel. Pada suatu hari Beliau kembali ke kota dan memasukinya pada waktu tengah hari di kala orang-orang sedang istirahat siang.

Berkata pula Abu Yazid rohimahullah: Bahwasanya ketika

Musa alaihissalaam telah memukul Fir’aun, Beliau lalu dibuang Fir’aun ke luar kota, kemudian Musa masuk kembali ke kota pada waktu orang-orang sedang lengah. Dan menurut riwayat yang lebih kuat, pada waktu tengah hari.

Al Hasan Al Bashri rohmatullah alihi berkata: Musa masuk ke kota pada hari raya.

Dan Muqotil rohmatullah alihi berkata : “Antara Maghrib dan tengah malam”.

Baru saja Beliau masuk kota, maka Beliau melihat dua orang sedang berkelahi. Yang satu adalah seorang Bani Israel, sedang lawannya adalah golongan Fir’aun alaihilla’nah, yaitu bangsa Qibthi.

Si Bani Israel itu meminta tolong kepada Musa maka Musa pun menolongnya Beliau memukul orang Qibthi itu sampai mati.

Kemudian Musa merasa takut, Beliau berkata: “Ilaahii, aku bertobat, dan tidak akan melakukannya lagi”.

Namun Beliau tidak mengatakan Insya Allah. Hal ini diceritakan Allah sebagai berikut :

Artinya : “Musa berkata : Ya Tuhanku, demi nikmat yang telah Engkau anugerahkan kepadaku, aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa”. (QS. Al Qoshosh : 17)

Kemudian pada hari berikutnya Musa kembali lagi, maka Beliau melihat orang yang telah dibantunya kemarin berkelahi lagi dengan salah seorang Qibthi lain. Maka berkatalah Musa alaihissalam :

“Sesungguhnya kamu benar-benar orang yang sesat yang nyata kesesatannya”. (QS. Al Qoshosh : 18)

Musa melanjutkan perkataannya: “Kemarin aku telah membunuh seseorang karena engkau, dan sekarang kau berkelahi lagi!”.

Berkata Ibnu Abbas rodliyallaahu anhu: “Kemudian Musa mengangkat tangannya dengan maksud akan menyerang orang Qibthi itu, namun melihat kemarahan Musa seperti kemarin, si orang Israel ketakutan, dia menyangka Musa akan memukulnya, padahal sebenarnya Musa akan menyerang orang Qibthi itu. Si orang Israel berkata: Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana Kamu kemarin telah membunuh seorang manusia?”. (QS. Al Qoshosh : 19)

Ketika orang Qibthi itu mendengar perkataan si Israel, maka ia segera pergi melaporkan kepada Fir’aun, bahwa Musa telah membunuh seorang Qibthi. Maka Fir’aun lalu memerintahkan agar Musa dibunuh.

Karena itulah dikatakan bahwa musuh yang berakal itu lebih baik dari teman yang bodoh.

Musa adalah seorang yang mulia sedang si Israel itu seorang yang keji. Dan Musa memperlakukan orang itu dengan kemurahannya, tanpa memandang kekejian orang itu. Begitu pula Tuhan Yang Maha Pemurah memperlakukan hambanya dengan kemurahan-Nya jua, tanpa memandang kekejian si hamba.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 52 53 54 55 56Laman berikutnya
Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker