DALIL ATAS KEAGUNGAN PERJALANAN MUHAMMAD SHALLALLAAHU ALAIHI WA SALLAM :
Orang yang datang sendiri, yaitu Musa alaihissalam, tidak sama dengan orang yang dijemput, yaitu Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam.
Allah berfirman tentang mi’roj Musa alaihissalaam :
Artinya : “Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang telah kami tentukan …. “. (QS. Al A’roof : 143)
Dan firman Allah tentang mi’roj Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam :
Artinya : “Maha suci Allah yang telah memperjalankan hambaNya pada suatu malam dari Al Masjidil Haram ke Al Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya agar Kami perlihatkan kepada-Nya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami, sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui …. “. (QS. Al Israa’: 1)
Perbedaan lainnya antara mi’roj Musa alaihissalaam dan mi’roj Mushthafa Shallallaahu alaihi wa sallam adalah: mi’roj Musa ke bukit Thursina, sedangkan mi’roj Mushthafa ke lautan cahaya.
Allah berfirman kepada Musa :
Artinya : “Mengapa kamu datang lebih cepat daripada kaummu, hai Musa?”. (QS. Thaahaa: 83)
Dan firman Allah untuk Muhammad :
Artinya : “Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam …. “.
Firman Allah kepada Musa ketika mi’rojnya :
Artinya : ” ….. Tanggalkanlah kedua terompahmu, sesungguhnya kamu berada di tempat yang suci, Thuwa”. (QS. Thaaha: 12)
Sedangkan kepada Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam, ketika mi’rojnya, Allah berfirman :
Artinya : “Janganlah kau tanggalkan kedua terompahmu itu!”.
Hal ini sebagaimana diriwayatkan bahwasanya Nabi Shallallaahu alaihi wa sallam berkata: “Pada malam aku dimi’ rojkan, aku ingin membuka kedua terompahku, namun tibatiba terdengar suara dari arah Allah Ta’ala: Janganlah kau tanggalkan kedua terompahmu itu, Hai Muhammad, agar Arsy dan kursi mendapatkan kehormatan berada di bawah terompahmu itu”.
Aku berkata: “Wahai Tuhanku, Engkau telah berkata kepada saudaraku Musa: Tanggalkanlah kedua terompahmu! karena engkau berada pada tempat yang suci, Thuwa?!”.
Allah menjawab: “Mendekatlah kepada-Ku wahai Abalqoosim, mendekatlah kepada-Ku wahai Ahmad!. Engkau tidak sama dengan Musa, Musa adalah kalim-Ku, sedang engkau adalah kekasih-Ku. Kalim tidaklah sama dengan kekasih”.






One Comment