PASAL YANG KEDUA PERNIKAHAN ANTARA YUSUF DAN ZULEKHA ALAIHISSALAAM
Siti Zulekha asalnya adalah isteri Aziz, pembesar Mesir.
Dahulu ia hidup dalam kemuliaan dan kemewahan, di samping rupanya yang elok dan ayu. Namun akhirnya setelah suaminya tiada, ia pun jatuh miskin, rupanya berubah menjadi tua, sedang matanya pun menjadi buta.
Namun demikian, kecintaannya terhadap Yusuf alaihissalaam tidak berkurang, malah tambah hari tambah mendalam.
Ketika keadaannya yang demikian itu telah mencapai puncaknya, maka hilanglah kesabaran dari dalam hatinya, ia yang sebelum itu sebagai penyembah berhala mengangkat sesembahannya itu lalu dibantingnya ke atas lantai hingga hancur berkeping-keping. Kemudian ia melepaskan diri dari penyembahan berhala dan beralih menjadi seorang yang beriman kepada Allah Al Hayyul Qoyyuum.
Pada suatu malam, yaitu di malam Jum’at, ia bermunajat kepada Allah, katanya: “Ilaahii, tidak tersisa sedikit pun sekarang bagiku harta maupun kekayaan, dan aku telah menjadi seorang yang tua renta, terhina dan papa, lalu Kau uji pula dengan rasa cinta terhadap Yusuf alaihissalam. Maka pertemukanlah aku dengannya, atau hilangkanlah rasa cinta terhadapnya dari dalam kalbuku”.”
Para malaikat yang mendengarkan munajatnya itu, lalu Mengatakan: “Wahai Tuhan kami, sesungguhnya Zulekha telah datang ke hadlirat-Mu memohon kepada-Mu dengan iman dan ikhlas!”.
Lantas Allah menjawab: “Wahai para malaikat-Ku, telah dekat masa keberuntungan dan kebebasannya”.
Pada suatu hari, Nabi Yusuf alaihissalaam berjalan melewati gubuk Zulekha bersama rombongan bala tentaranya. Maka keluarlah Siti Zulekha dari dalam gubuknya itu pergi mendekati rombongan Nabi Yusuf itu. Setelah dekat ia berteriak: “Maha Suci Dzat yang telah menjadikan dengan rahmat-Nya seorang budak sebagai raja!”.
Lalu Yusuf berhenti seraya bertanya: “Siapakah engkau?”.
Zulekha menjawab: “Aku adalah orang yang telah membelimu dengan permata, intan, berlian, emas, perak, misik dan kafoor. Akulah orang yang tidak pernah, kenyang dari makanan sejak aku mencintaimu, dan mataku tak dapat dipicingkan semenjak memandangmu!”.
Yusuf bertanya pula: “Mungkin engkau Zulekha?!”.
Jawab: “Yah, benar”.
Tanya: “Mana harta, kecantikan dan perbendaharaanmu dahulu?”.
Jawab: “Semuanya telah lenyap akibat cinta kepadamu jua”.
Tanya: “Bagaimana dengan cintamu itu sendiri?”.
Jawab: “Tetap tidak berubah seperti dahulu, malah setiap saat bertambah dalam!”.
(Renungan): Begitu pula keadaan seorang mu’min, tatkala ia sudah diletakkan di liang kuburnya, maka datanglah dua malaikat seraya bertanya kepadanya: “Mana hartamu?”.
Jawab: “Telah diambil alih oleh musuh”.
Tanya: “Mana ladang dan kebunmu?”.
Jawab: “Telah diambil alih oleh musuh”.
Tanya: “Mana tempat tinggal dan rumahmu?”.
Jawab: “Diperebutkan oleh anak-anak lelaki dan anak-anak perempuan”.
Kemudian kedua malaikat itu meneruskan pertanyaannya, mereka berkata: “Bagaimana tentang ma’rifahmu pada Allah?”.
Orang itu menjawab: “Allah adalah Tuhanku, Islam adalah agamaku dan Muhammad adalah Nabiku”.
(Kembali ke alur cerita): kemudian Nabi Yusuf berkata kepada Siti Zulekha: “Apakah yang kau ingini, Wahai Zulekha?”.
Zulekha menjawab: “Tiga perkara, aku menginginkan kecantikan, harta dan hubungan”.
Kemudian Yusuf bergerak hendak berlalu, namun Allah mewahyukan kepadanya: “Hai Yusuf, engkau telah berkata kepada Zulekha: Apa yang kau inginkan? akan tetapi engkau tidak memberi jawaban apa-apa atas keinginannya itu. Ketahuilah olehmu, bahwasanya Allah telah mengawinkan Zulekha denganmu, Dia telah mengucapkan khutbah sendiri, disaksikan oleh para malaikatnya, dan bidadari-bidadari pun telah menaburkan bunga bunga”.
Yusuf berkata kepada Jibril: “Wahai Jibril, Zulekha tidak lagi memiliki harta, kecantikan dan keelokan?”.
Jibril alaihissalaam menjawab: “Allah berkata kepadamu: Walaupun Zulekha sudah tidak memiliki harta dan kecantikannya lagi, namun Aku mempunyai kekuatan, kekuasaan dan kebesaran”.
Kemudian Allah memberikan kepada Zulekha kemudaan dan kecantikan melebihi yang sudah pernah dimilikinya dahulu, sehingga ia sekarang menjadi lebih cantik, elok dan ayu dari sebelumnya, seolah-olah anak gadis yang baru berusia empat belas tahun.
Lalu Allah menanamkan ke dalam hati Yusuf rasa cinta, kasih sayang, sehingga yang dahulunya sebagai yang dicinta (Yusuf) sekarang menjadi pecinta; dan yang dahulunya pencinta (Zulekha). sekarang menjadi yang dicinta.
Setelah itu Yusuf pun pulang kembali ke tempat tinggalnya.
Tatkala Yusuf hendak bermesra-mesraan dengan Zulekha, dilihatnya Zulekha baru saja mulai mengerjakan shalat, karena itu ia pun lalu menunggu sampai Zulekha selesai mengerjakan shalat. Setelah ia lama menunggu Zulekha belum juga selesai dari shalatnya, maka Yusuf pun kehilangan kesabarannya, lalu ia berseru: “Hai Zulekha, bukankah dahulu engkau telah merobek bajuku ketika aku hendak lari darimu?”.
Zulekha lalu memberi salam, kemudian ia berkata: “Memang dahulu aku berbuat begitu, namun sekarang hatiku sudah tidak seperti dahulu!”.
(Dihikayatkan): Tentang Asysyably rohmatullah alaihi bahwasanya pada akhir hayatnya beliau mengalami kebutaan. Pada suatu malam, Junaid berkunjung ke tempatnya, ia melihat Asysyably sedang berputar-putar mengelilingi rumah, sambil bermadah:
“Setiap hati yang engkau diami
Tidak membutuhkan kepada pelita
Wajah-Mu yang diharap, adalah hujjah kami.
Pada hari semua manusia datang dengan hujjah-hujjah mereka.
Semoga Allah menentukan untukku kelapangan.
Di hari ketika aku memohon dari-Nya kelepasan dari duka cita.
(Kembali ke alur cerita): Setelah menjawab ucapan Nabi Yusuf alaihissalaam itu, maka Siti Zulekha kembali hendak melanjutkan shalatnya. Lantas Yusuf menarik baju Zulekha dan ditariknya ke arahnya, maka baju itu menjadi robek. Kemudian Jibril turun seraya mengatakan: “Wahai Yusuf, baju dibalas baju, maka terangkatlah cercaan yang terjadi antara engkau dan Zulekha dahulu!”.






One Comment