PASAL YANG KELIMA KEBINASAAN KAUM SHALEH
Kaum Shaleh telah dibinasakan Allah dengan suara jeritan Jibril alaihissalaam, terjadi pada hari Rabu. Sebagaimana firman Allah :
Artinya : “Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumputan kering (yang dikumpulkan oleh) yang punya kandang binatang”. (QS. Al Qomar : 31)
(Jalan cerita) : Dikisahkan bahwa pada suatu hari Nabi Shaleh alaihissalaam memberitakan kepada kaumnya bahwa pada masa itu akan lahir di tengah-tengah mereka seseorang yang akan menjadi sebab kebinasaan kaum itu.
Maka para pemuka kaum itu lalu mengadakan perundingan untuk membahas persoalan tersebut. Akhirnya mereka memutuskan, mereka berkata: “Kita harus memisahkan diri dari isteri-isteri kita, dan bila ada yang hamil, maka kita bunuh anaknya yang laki-laki”.
Kemudian keputusan mereka itu mereka laksanakan.
Salah seorang wanita melahirkan anak laki-laki, akan tetapi tidak dibunuhnya, sebab ia belum pernah mempunyai anak. Anak itu dinamakannya Qodaron.
Sebanyak sembilan kaum telah membunuh anak laki-laki mereka.
Maka tatkala mereka melihat Si Qodaron telah menjadi seorang pemuda, mereka merasa menyesal telah membunuhi anak-anak mereka dahulu. Kemudian mereka pun lalu berunding untuk membunuh Shaleh alaihissalaam, sebagaimana firman Allah Ta’ala:
Artinya : “Dan adalah di kota itu sembilan orang laki-laki yang membuat kerusakan di muka bumi, dan mereka tidak berbuat kebaikan”. (QS. An Naml: 48)
Mereka berkata: “Sebaiknya kita pergi ke luar kota dahulu, kemudian kita kembali secara sembunyi-sembunyi, pada saat itulah Shaleh kita bunuh, lalu kita bersumpah dengan nama Allah pada kerabatnya bahwa kita tidak membunuhnya dan kita tidak tahu menahu tentang pembunuhan itu”.
Pada waktu itu umur si Qodaron lima belas tahun. Ketika mereka sedang minum-minum arak, mereka membutuhkan air, sedangkan pada hari itu adalah giliran onta untuk mendapatkan air.
Mereka mencari air ke sana ke mari namun tidak mereka dapatkan, akhirnya si Qodaron bangkit, seraya berkata: “Menurut pendapatku sebaiknya kita bunuh saja onta Shaleh itu, karena kita dalam kesulitan!”.
Kawan-kawannya menjawab: “Itu benar!”.
Kemudian ia pun lalu mengambil sebilah pedang, lalu keluar dengan sembunyi-sembunyi di rumput-rumput gunung. Pada waktu itu adalah saat onta kembali dari gilirannya minum air. Tatkala onta itu telah mendekat, maka dengan segera si Qodaron menyergap dan membunuhnya. Ketika ia akan membunuh pula anak onta itu, maka anak onta itu pun berlari ke gunung tempat ibunya dahulu keluar, maka dengan kuasa Allah gunung itu terbelah, dan masuklah anak onta itu ke dalamnya.
Sa’id bin Al Musayyab rohmatullaah alaihi berkata: “Adapun sebab terbunuhnya onta Nabi Shaleh itu adalah minuman keras”, dan fitnah Haaruut dan Maarut juga karena minuman keras; sebab terbunuhnya Nabi Yahya juga karena minuman keras; dan kaum Nuh mengganggu Nuh alaihissalaam juga disebabkan minuman keras; dan sebab penyembahan anak sapi pada bangsa Israel juga minuman keras; dan pembunuhan terhadap Usman rodliyallaahu anhu juga disebabkan minuman keras; juga pembunuhan terhadap Sayyidina Husein rodliyallahu anhu disebabkan oleh minuman keras. Karena itulah Rasulullah Shallallaahu alaihi wa sallam bersabda :
Artinya : “Minuman keras itu adalah raja kejahatan”.
(Kembali ke alur cerita): Ketika Nabi Shaleh alaihissalam mengetahui terjadinya pembunuhan atas onta mu’jizatnya itu, maka Beliau mengatakan kepada kaumnya: “Kalian boleh berlehaleha di rumah kalian selama tiga hari, setelah itu akan datang siksaan kepada kalian, alamatnya adalah muka-muka kalian pada hari pertama akan menjadi kemerahan, dan pada hari kedua menjadi kekuningan dan pada hari ketiga menjadi hitam legam.
Tatkala mereka melihat tanda-tanda seperti yang diucapkan Shaleh itu, maka mereka berkata: “Mari kita bunuh Shaleh seperti kita bunuh ontanya”.
Mereka lalu menuju ke tempat tinggal Shaleh alaihissalaam. Hal itu terjadi pada hari Rabu. Kemudian Jibril alaihissalaam datang sambil mengambil tembok-tembok kota itu lalu digoncanggoncangnya dengan keras, setelah itu ia menjerit dengan sekeraskerasnya, sehingga mereka semuanya mati seketika.
(Renungan): Allah yang telah mengeluarkan onta dari dalam gunung karena doa Nabi Shaleh alaihissalaam tentu dapat pula untuk menyelamatkan onta itu dari pembunuhan orang-orang kafir itu, namun Ia sengaja membiarkan orang-orang kafir itu, sehingga akhirnya onta itu mereka bunuh. Dengan demikian orang-orang Islam akan merasa berduka dengan adanya pembunuhan itu, maka berhaklah mereka mendapat pahala. Sedangkan orang-orang kafir itu merasa gembira dengan pembunuhan itu, maka mereka berhak mendapatkan azab dan siksa.
Dan Allah pun dapat menyelamatkan Sayyidina Husein dari pembunuhan, namun Allah membiarkan mereka membunuhnya, sehingga orang-orang yang membunuhnya itu berhak mendapatkan azab, sedangkan orang yang merasa berduka karena pembunuhan itu akan mendapatkan pahala..
(Suatu pertanyaan) : Jika dikatakan bahwa Sayyidina Husein itu lebih afdlol dari onta, kenapa ketika onta itu dibunuh lantas turun azab, sedangkan ketika Sayyidina Husein dibunuh tidak turun?
Jawab: Sebab onta itu sebagai fitnah bagi kaum Sholeh, sebagaimanafirmanAllah dalam surah Al Qomar ayat 27, yang berbunyi :
Artinya : “Sesungguhnya Kami akan mengirimkan onta betina sebagai fitnah (cobaan) bagi mereka, maka tunggulah (tindakan) mereka dan bersabarlah!”. (QS. Al Qomar: 27)
(Dapat pula dijawab): Ketika Nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa sallam diutus ke dunia, maka azab pun terangkat dari seluruh makhluk, sebagaimana firman Allah :
Artinya : “Dan Allah sekali-kali tidak akan mengazab mereka, sedang kamu berada diantara mereka … ” (QS. Al Anfaal: 33)
Sedangkan Sayyidina Husein rodliyallaahu anhu adalah putera dari orang yang diutus sebagai rahmat bagi semesta alam. Dan di masa Nabi Shaleh alaihissalaam pintu azab itu masih terbuka, sebagaimana firman Allah :
Artinya : ” ….. Aku takut kamu akan ditimpa azab hari yang besar”. (QS. Al A’raaf : 59)
Sedangkan di masa Nabi Muhammad Shalallaahu alaihi wa sallam pintu rahmatlah yang terbuka, sebagaimana firman Allah:
Artinya : “Dan tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”. (QS. Al Anbiyaa’: 107)






One Comment