Bab Shalat Id, Gerhana Dan Istisqa’
Masing-masing dari ketiga shalat di atas sunat muakkad bagi tiap orang, baik bepergian maupun tidak, baik lelaki maupun lainnya, baik jama’ah maupun munfarid. Shalat id fardlu ain menurut Imam Abu Hanifah dan fardlu kifayah menurut Imam Ahmad. Pada madzhab Syafi’i juga ada pendapat fardlu kifayah karena memandang, bahwa shalat id termasuk syiar Islam. Jika penduduk suatu daerah sepakat tidak melakukannya, mereka diserang menurut pendapat ini. Juga ada pendapat demikian mengenai shalat gerhana.
Yang terbaik bagi kaum wanita yang bergaya adalah melakukan ketiga shalat tersebut di dalam rumah sendirian dan yang terbaik bagi kaum lelaki adalah melakukan ketiganya di masjid. Ada pendapat, bahwa lebih baik melakukan ketiganya di tanah lapang, sebab lebih leluasa bagi pengendara dan lainnya. Itu jika masjid cukup untuk kaum muslimin. Jika tidak cukup, maka lebih baik di tanah lapang untuk shalat istisqa”. Makruh shalat id di masjid jika sempit karena desakan mengganggu dan makruh shalat istisqa’ di tanah lapang jika hujan atau salju turun. Sunat melakukan shalat gerhana di masjid, meskipun sempit, sebab keluar ke tanah lapang menyebabkan terlambat. Kaum wanita yang tidak bergaya sunat melakukan shalat gerhana di masjid jami” bersama imam.
Shalat id
Shalat id dilakukan dua raka’at dengan niat idul fitri atau idul adha. Minimal shalat id adalah seperti shalat qabliyah zuhur, sedangkan maksimalnya adalah takbir tujuh kali pada raka’at pertama sebelum setelah membaca doa iftitah dan sebelum membaca a’udzu serta baslamah, Tujuh kali takbir adalah selain takbiratul ihram dan lakbir ruku’. Pada setiap takbir sunat mengangkat tangan, seperti takbiratul ihram. Dan takbir lima kali pada raka’at kedua selain takbiratul ihram dan ruku’. Masing-masing dua takbir sunat dipisah dengan zikir, misalnya:
“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar.”
Jika bimbang mengenai jumlah takbir, gunakanlah yang paling sedikit. Takbir ini termasuk sunat haiat, sehingga tidak sunat sujud sahwi jika tidak dilakukan, baik salah satu atau keseluruhan, baik sengaja atau lupa.
Dalam niat shalat id, harus ditentukan, apakah idul fitri atau idul adha, sebab shalat ini termasuk shalat sunat yang dibatasi dengan waktu. Tidak sah niat shalat id saja, meskipun Izzuddin bin Abdus Salam berpendapat, bahwa sah berniat shalat id untuk tujuan kifarat. Pada raka’ at pertama, setelah membaca Fatihah, sunat membaca surat Qaf dan pada raka’at kedua sunat membaca surat Al Qamar. Atau membaca surat Al A’la pada raka’at pertama dan surat Al Ghasyiyah pada raka’at kedua.
Setelah shalat id yang dilakukan dengan jama’ah, disunatkan khutbah dua kali, meskipun jama’ ahnya hanya dua orang. Rukun dan sunat khutbah tersebut sama dengan khutbah Jum’at, namun syaratnya tidak sama, seperti syarat berdiri, menutup aurat, thaharah dan duduk di antara dua khutbah. Sunat duduk tepat sebelum dua khutbah untuk beristirahat. Untuk menghasilkan sunat dan sahnya khutbah, khathib harus memperdengarkan khutbahnya dan ada orang yang mendengar khutbah, meskipun hanya seorang. Khutbah harus menggunakan bahasa Arab dan khathib lelaki, meskipun jama’ahnya wanita.
Pada permulaan khutbah pertama, hendaknya khathib membaca takbir sebanyak sembilan kali secara berturut-turut dan masing-masing takbir diucapkan dengan satu nafas. Pada permulaan khutbah kedua, khathib hendaknya takbir sebanyak tujuh kali berturut-turut dan masing-masing takbir diucapkan dengan satu nafas.
Setiap orang disunatkan bertakbir dalam hari raya Idul Fitri sejak terbitnya matahari pada akhir Ramadhan. Dasarnya adalah ayat:
“Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah.” (QS. Al Baqarah: 185)
Hendaklah kalian mengagungkan Allah saat bilangan itu lengkap. Idul Adha dikiaskan dengan Idul Fitri dan tiap lelaki sunat bertakbir pada sejak tenggelamnya matahari malam Idul Adha dengan suara keras di jalan, di pasar dan di rumah serta masjid, baik berjalan maupun berkendara, baik duduk maupun berdiri atau berbaring. Bahkan sunat takbir dalam keadaan bagaimanapun, kecuali buang air.
Sunat takbir dua hari raya terus berlaku sampai imam memulai shalat id. Ini bagi orang yang shalat menjadi makmum. Bagi orang yang shalat sendirian, akhir perintah takbir adalah takbiratul ihram dirinya sendiri. Bagi orang yang tidak shalat id sama sekali, akhir perintah takbir adalah matahari tergelincir. Ini disebut takbir mutlak dan takbir mursal, sebab tidak terbatas oleh shalat maupun lainnya.
Pada idul adha, sunat takbir setelah shalat fardlu, shalat sunat, shalat jenazah dan shalat yang dinazari. Tidak sunat setelah sujud syukur dan sukur tilawah. Permulaan takbir tersebut adalah sejak shalat subuh hari Arafah meskipun tidak melakukan, sampai matahari terbenam pada hari tasyrik terakhir menurut pendapat Ar Ramli. Sedangkan menurut pendapat Ibnu Hajar, permulaannya adalah setelah melakukan shalat subuh hari Arafah dan akhirnya adalah melakukan shalat asar pada hari tasyrik terakhir. Hal tersebut berlaku bagi selain orang yang melakukan ibadah haji. Orang yang melakukan ibadah haji Sunat membaca takbir pada hari raya idul adha jika mereka tahalul dari ihram menurut pendapat Ar Ramli. Takbir orang haji berakhir pada tenggelamnya matahari hari tasyrik terakhir menurut pendapat Ar Rasyidi. Sedangkan menurut Ibnu Hajar, orang haji sunat takbir sejak zuhur hari raya idul adha sampai subuh hari tasyrik terakhir, baik dia berada di Mina atau tidak. Takbir ini disebut takbir muqayyad.
Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa takbir mursal ada pada hari raya idul fitri dan idul adha dan bahwa takbir mugayyad hanya ada pada idul adha. Dan bahwa tidak ada takbir setelah shalat idul fitri, sebab tidak ada takbir mugayyad. Mursal idul fitri lebih utama daripada mursal idul adha dan mugayyad idul adha lebih utama daripada kedua mursal. Setelah takbir, sunat membaca shalawat Nabi, misalnya:
“Ya Allah, bershalawatlah kepada junjungan kami Muhammad, kepada keluarga Muhammad, kepada sahabat junjungan kami Muhammad, kepada istri-istri junjungan kami Muhammad, kepada anak cucu junjungan kami Muhammad dan bersalamlah dengan banyak.”









One Comment