Fiqh

Terjemahan Kitab Riyadhul Badi’ah

Shalat sunat

Shalat sunat tidak terhitung jumlahnya, namun ada empat kelompok:

  • Shalat sunat yang dibatasi waktu.
  • Shalat sunat yang sebabnya dahulu.
  • Shalat sunat yang sebabnya nanti.
  • Shalat sunat mutlak, yaitu shalat sunat yang tak dibatasi waktu dan tidak bersebab.

Shalat sunat yang dibatasi waktu ada dua macam:

  • Shalat sunat yang disunatkan jama’ah, misalnya shalat id, shalat tarawih dan witir di bulan Ramadhan.
  • Shalat yang tidak disunatkan jama’ah, misalnya witir di luar Ramadhan dan shalat sunat rawatib.

Shalat sunat rawatib (qabliyah dan ba’diyah) ada dua puluh dua raka’at dan sepuluh raka’at di antaranya muakkad (sangat dianjurkan), yaitu:

  • Dua raka’at sebelum subuh. Pada shalat ini dianjurkan membaca surat Alam Nasyrah atau Qul Ya pada raka’at pertama, sedangkan pada raka’at kedua Al Fil atau Al Ikhlas.
  • Dua raka’at sebelum zuhur.
  • Dua raka’at sesudah zuhur.
  • Dua raka’at setelah maghrib.
  • Dua raka’at setelah isya’.

Shalat-shalat tersebut disebut muakkad, sebab Nabi saw selalu melakukannya.

Dua belas raka’at tidak muakkad, yaitu:

  • Dua raka’at sebelum zuhur.
  • Dua raka’at setelah zuhur sebagai tambahan atas yang muakkad. Dasarnya sabda Nabi saw:

“Barangsiapa selalu melakukan empat raka’at sebelum zuhur dan empat raka’at sesudahnya, maka Allah mengharamkannya atas neraka. ”

Shalat Jum’at sama dengan zuhur, sehingga qabliyah dan ba’diyahnya empat raka’at.

  • Empat raka’at sebelum asar. Dasarnya hadits:

“Semoga Allah merahmati orang yang shalat empat raka’at sebelum asar.”

Maka sebaiknya empat raka’at ini dilakukan dengan harapan dalam doa Nabi saw.

  • Dua raka’at sebelum maghrib.
  • Dua raka’at sebelum isya’.

Shalat witir adalah shalat sunat yang mandiri dan bukan termasuk watib. Shalat witir lebih utama daripada seluruh shalat rawatib. minimalnya satu raka’at dan tidak makruh jika selalu satu raka’at, hanya khilaful aula. Maksimalnya sebelas raka’at, sehingga tidak boleh lebih dari itu. Minimal sempurna adalah tiga raka’at. Waktu witir adalah setelah melakukan shalat isya’ dan tidak sah sebelum melakukan shalat isya’. Sunat menjadikan witir sebagai shalat terakhir di malam hari. Waktunya memanjang sampai terbitnya fajar shadiq. Jika dilakukan di luar waktunya tanpa alasan, maka makruh dan jika tidak dilakukan sama sekali, maka lebih makruh.

Peringkat shalat sunat adalah sebagai berikut:

  1. Idul Adha.
  2. Idul Fitri
  3. Gerhana matahari.
  4. Gerhana rembulan.
  5. Istisqa’.
  6.  
  7. Qabliyah subuh.
  8. Rawatib lainnya.
  9.  
  10.  
  11. Shalat sunat yang berhubungan dengan perbuatan, seperti shalat thawaf, shalat ihram dan tahiyat masjid.
  12. Shalat sunat wudlu.
  13. Sunat zawal, sunat awwabin.
  14. Shalat sunat mutlak, misalnya tahajud.

Termasuk shalat sunat yang tidak dianjurkan jama’ah adalah sebagai berikut:

  1. Shalat isyraq. Dua raka’at setelah matahari bersinar dan tinggi.
  2. Shalat dhuha. Minimal dua raka’at, yang terbaik delapan raka’at dan maksimal delapan raka’at. Waktunya mulai matahari naik sampai tergelincir.
  3. Shalat awwabin. Waktunya setelah melakukan shalat maghrib sampai masuknya isya”. Jika shalat isya’ dilakukan jama’ taqdim, maka awwabin dilakukan setelah melakukan isya”. Minimal dua raka’at dan maksimal dua puluh raka’at.

Shalat sunat yang sebabnya dahulu ada dua macam:

  1. Yang dianjurkan jama’ah. Di antaranya shalat gerhana dan shalat istisqa’.
  2. Yang tidak dianjurkan jama’ah. Di antaranya:
  3. Tahiyat masjid.
  4. Shalat sunat wudlu. Dilakukan setelah wudlu dan belum lama berselang.
  5. Shalat thawaf. Dilakukan setelah thawaf.
  6. Shalat kembali dari bepergian. Dua raka’at dan dilakukan di masjid sebelum masuk rumah. Jika dilakukan setelah masuk rumah, tidak masalah.
  7. Shalat sunat adzan. Dua raka’at dengan niat sunat adzan.
  8. Shalat sunat zifaf (malam pertama). Dilakukan oleh suami dan istri setelah bersatu dan bclum senggama. Niatnya sunat zifaf
  9. Shalat hajat. Dua raka’at dengan niat keinginan terkabul.

Shalat sunat yang sebabnya belakangan tidak dianjurkan jama’ah, Di antaranya:

  1. Shalat taubat. Dua raka’at sebelum bertaubat dan niatnya sunat taubat. Namun juga boleh dilakukan setelah taubat.
  2. Shalat istikharah. Dilakukan untuk setiap hal yang mubah.
  3. Shalat ihram. Dilakukan sebelum ihram.
  4. Dua raka’at saat keluar dari rumah untuk bepergian. Niatnya sunat safar.
  5. Dua raka’at sebelum akad nikah.
  6. Dua raka’at malam Jum’at setelah maghrib untuk memudahkan mati dan porahara setelahnya.
  7. Dua raka’at setelah maghrib untuk menjaga iman.

Shalat sunat mutlak di antaranya adalah:

  1. Shalat malam. Shalat ini bisa diperoleh dengan shalat apapun, meskipun shalat sunat isya” atau witir atau fardlu qadla atau nadzar.
  2. Shalat tasbih. Empat raka’at dan caranya seperti shalat lainnya. Cuma sebelum ruku’ sebaiknya mengucapkan 15 kali:

“Maha Suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan selain Allah, Allah Maha Besar, tiada daya maupun upaya kecuali denga” Allah Yang Maha Tinggi dan Agung.”

Pada saat ruku’ 10 kali, i’tidal 10 kali, sujud pertama 10 kali, duduk antara dua sujud 10 kali, sujud kedua 10 kali, duduk istirahat 10 kali dan setelah tasyahud 10 kali. Jumlah pada tiap raka’at adalah 75 tasbih. Sebelum tasbih tersebut, bacalah zikir yang sudah maklum.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker