Fiqh

Terjemahan Kitab Riyadhul Badi’ah

Ziarah Nabi Muhammad saw

Ziarah Nabi Muhammad saw adalah sunat muakad bagi setiap orang, termasuk bagi kaum wanita dengan ijmak ulama. Allah berfirman:

“Sesungguhnya jika mereka ketika menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima tobat lagi Maha Penyayang.” (QS. An Nisa”: 64)

Rasul memohonkan ampun tidak terputus oleh kematian beliau.

Ziarah sangat dianjurkan bagi jama’ah haji, sebab Nabi saw bersabda:

“Barangsiapa haji dan tidak ziarah aku, maka dia sungguh kasar kepadaku.”

Ziarah Nabi termasuk ibadah paling agung, sebab Nabi bersabda:

“Barangsiapa ziarah aku, maka pasti syafa ‘atku baginya.”

Hal itu berarti peziarah diberi syafa’at yang tidak diberikan kepada orang lain, baik berupa tambahnya nikmat atau ringannya prahara kiamat atau peziarah termasuk orang yang tidak dihisab atau hal lainnya. Syafa’at tersebut dinisbatkan kepada Nabi, berarti syafa’at Itu agung karena agungnya pemberi syafa’at. Hadis di atas merupakan berita gembira, bahwa peziarah Nabi mati mukmin dan muslim.

Karena itu, tidak ziarah kepada Nabi jika mampu adalah kerugian Yang besar dan pelakunya tidak memperoleh kebaikan yang banyak. Mengingkari ziarah kepada Nabi adalah kesesatan besar yang nyata. Yang terbaik bagi jama’ah haji adalah ziarah Nabi dahulu jika waktunya luas agar ziarah menjadi perantara hajinya mabrur. Mereka sunat menziarahi masjid-masjid Nabi yang ada di jalan mereka, seperti masjid Badar, masjid Khulaish di dekat Agabah dan masjid di Saraf yang di dekatnya ada kubur Umul Mukminin Maimunah. Juga sunat menziarahi para syahid Badar dan lainnya.

Orang yang menuju Madinah, khususnya yang ingin ziarah Nabi, di jalannya sunat untuk memperbanyak shalawat dan salam kepada Nabi Muhammad saw. Jika melihat tanah suci Madinah, pepohonannya dan kebun-kebunya sunat menambah banyak shalawat salam, sebab besar pahalanya. Sunat mengeraskan shalawat salam dan menambah kerinduan kepada Nabi serta mengucapkan:

“Ya Allah, ini tanah suci Rasul-Mu, maka jadikanlah ia penjaga bagiku dari neraka, keamanan dari siksa dan dari buruknya hisab. Ya Allah, bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu dan berilah aku dari ziarah Rasul-Mu apa yang Engkau berikan kepada para waliMu dan ahli taat-Mu. Ampunilah aku dan rahmatilah aku, wahai Harapan terbaik.”

Peziarah Nabi hendaknya bersesuci dan yang terbaik adalah mandi saat sampai Madinah sebelum masuk. Jika tidak bisa, maka setelah masuk Madinah sebelum masuk masjid Nabawi. Hendaknya memakai pakaian paling bersih dan memakai wewangian seperti akan Shalat Jum’at. Pakaian putih lebih utama daripada lainnya. Hendaknya memberikan sedekah meskipun sedikit kepada penduduk Madinah, lalu masuk Madinah sambil berkata:

“Dengan nama Allah. Ya Tuhan-ku, masukkanlah aku secara masuk yang benar dan keluarkanlah (pula) aku secara keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi Engkau kekuasaan yang menolong.”

Hendaknya berjalan ke Masjid Nabawi dengan tenang dan berwibawa sambil membayangkan, bahwa dia meletakkan telapak kaki di atas tempat telapak kaki Nabi Muhammad saw. Hendaknya masuk Masjid Nabawi lewat pintu Jibril as sambil berkata:

“Aku berlindung kepada Allah Yang Agung dan Zat-Nya yang mulia serta kekuasaan-Nya yang dulu dari setan yang terkutuk. Dengan nama Allah dan segala puji bagi Allah. Ya Allah, bershalawatlah kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad dan bersalamlah. Ya Allah, ampunilah bagiku dosa-dosaku dan bukalah untukku pintu-pintu rahmat-Mu.”

Saat keluar, ucapkan kalimat tersebut, hanya saja bagian akhir gantilah dengan:

“Dan bukalah pintu-pintu anugerah-Mu.”

Hal tersebut disunatkan pada tiap masjid, kaki kanan didahulukan saat masuk dan kaki kiri didahulukan saat keluar.

Setelah masuk Masjid Nabawi, hendaknya menuju Raudhah, yaitu antara kubur yang mulia dan mimbar dan hendaknya shalat tahiyat masjid di Raudhah, baik di tempat berdiri Rasulullah atau lainnya. Yang terbaik adalah shalat di tempat shalat Nabi saw. Jika tidak bisa, hendaknya di dekatnya arah mimbar. Setelah selesai shalat tahiyat masjid, hendaknya memuji Allah atas nikmat yang Allah berikan kepadanya dan meminta kepada-Nya agar ziarah ini diterima Allah. Berdoalah sesuai keinginan, baik untuk diri sendiri maupun untuk orang terkasih, baik orang tua, guru, kerabat maupun sesama muslim.

Kemudian hendaknya berdiri di hadapan Nabi Muhammad saw dan membelakangi kiblat, menghadap wajah beliau, berdiri kira-kira tiga hasta dari tembok kubur beliau dengan khusyu’, merendahkan diri, sopan dan meletakkan tangan kanan di atas tangan kiri seperti dalam shalat. Kosongkan hati dari hubungan duniawi sambil menghadirkan dalam hati, betapa agungnya Nabi Muhammad yang ada di hadapannya dan bahwa Nabi tahu dia, tahu kehadirannya dan berdirinya serta salamnya kepada beliau. Nabi mendengar salammu dan tahu berdirimu di hadapannya. Pandanglah tanah di bawahmu dengan memejamkan mata sambil mengagungkan dan memuliakan Nabi.

Ucapkan salam kepada makhluk terbaik itu dengan suara yang terdengar orang di sebelahmu, namun jangan sampai mengganggu. Pelankan suara dan tenangkan anggota badan serta hadirkan hati. Minimal salam kepada beliau adalah: “ Assalamu’alaikum, wahai Rasulullah saw.” Jika ingin panjang lebar, ucapkan: “Assalamu’alaikum, ya Rasulullah. Salam untukmu, ya Nabi Allah. Salam untukmu ya Kekasih Allah. Salam untukmu, wahai Pilihan Allah. Salam untukmu, wahai Junjungan para rasul yang suci dan bersih. Salam untukmu dan untuk istri-istrimu yang suci, ibu kaum muslimin. Salam untukmu dan untuk seluruh sahabatmu. Salam untukmu dan untuk para nabi dan rasul serta hamba-hamba Allah saleh lainnya. Salam untukmu, wahai Nabi Allah, rahmat dan berkah Allah. Semoga Allah membalasmu atas nama kami ya Rasulullah dengan balasan terbaik yang Dia berikan kepada nabi dan rasul atas nama umatnya.”

As Subki berkata: “Yang diriwayatkan dari ulama salaf mengenai salam kepada Nabi saw adalah sangat singkat. Imam Malik berkata saat salam: “Salam, rahmat dan berkah Allah untukmu, wahai Nabi.” Jika seseorang berpesan untuk salam kepada Nabi, ucapkan: “Salam untukmu ya Rasulullah dari Fulan bin Fulan” atau redaksi seperti ini.

Kemudian mundurlah ke arah kanan kira-kira sehasta untuk mengucapkan salam kepada Abu Bakar, sebab kepala Abu Bakar di dekat pundak Nabi saw. Ucapkan salam kepadanya dengan redaksi: “Salam untukmu, wahai Khalifah Rasulullah saw, orang pilihannya dan temannya di dalam Gua. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas nama umat Muhammad.”

Kemudian mundurlah ke arah kanan kira-kira sehasta untuk mengucapkan salam kepada Umar bin Khathab Al Faruq, sebab kepala Umar di dekat pundak Abu Bakar. Ucapkan salam kepadanya dengan redaksi: “Assalamu’alaikum, wahai Amirul Mukminin Umar Faruq, Orang yang menjayakan Islam. Semoga Allah membalasmu dengan kebaikan atas nama umat Muhammad.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker