PASAL KEDUAPULUH SATU :
MANUSIA YANG TERBAIK ADALAH ORANGORANG YANG BERTAKWA DAN PERUMPAMAAN MEREKA DENGAN YANG LAIN
Perlu diketahui bahwa manusia yang paling mulia, tinggi kedudukannya dan paling utama keberadaannya di dunia dan di akhirat adalah seorang yang diberi ilmu sehingga ia dapat mengenal Allah dengan baik dan seorang yang diberi ketaatan dan ketakwaan karena Allah. Yang sedemikian itu adalah bukti kenyataan yang tidak perlu diperdebatkan, karena segalanya telah diketahui secara khusus maupun secara umum. Tetapi ketika seorang diwajibkan mentaati Allah dan bertakwa kepada-Nya, maka orang itu merasa berat untuk melakukannya, terutama untuk menentang hawa nafsunya. Kebanyakan orang lebih condong memilih untuk tidak mentaati Allah meskipun mereka mengetahui bahwa mentaati dan bertakwa kepada Allah akan mendapatkan kemuliaan dan karunia yang besar di dunia dan di akhirat, tetapi mereka lebih condong kepada kepentingan nafsunya dan kesenangan syahwatnya, bahkan mereka lebih condong untuk melakukan segala yang diharamkan oleh Allah, karena segala yang bertentangan dengan larangan Allah sangat cocok dengan hawa nafsu meskipun seorang yang melakukan perbuatan dosa akan terhina, tidak berguna dan menjadi orang yang terburuk.
Ketahuilah bahwa ahlul ma’rifat dan orang yang taat kepada Allah perumpamaannya bagai seorang hamba yang mengabdi kepada seorang penguasa, sehingga ia menjadi orang kepercayaan bagi sang penguasa untuk memegang segala rahasia dan kekayaannya, sedangkan orangOrang yang berdiri di hadapan sang penguasa untuk berbicara dengannya ataupun untuk mengabdi kepadanya perlu mendapat izin khusus dari Sang penguasa. Siapakah yang pantas untuk dijadikan seorang yang mengabdi kepada sang penguasa? Demikian pula Allah Ta’ala juga memilih sebagian hamba-Nya scbagai orang-orang yang diberi kepercayaan tersendiri oleh-Nya.
Adapun oran g-orang yang suka memenuhi hawa nafsunya, Suka lalai dan suka menentang, maka perumpamaan mereka seperti sebagian hamba Allah yang dijadikan sebagai budak yang terhina yang menjaga gudang binatang piaraan dan menyapu kotorannya, pokoknya ia dijadikan sebagai orang yang hina dan kotor.
Karena itu, bedakan baik-baik antara dua perbedaan ini dan pilihlah untuk dirimu yang terbaik dalam masyarakat.
Ketahuilah, andaikata engkau tidak kembali kepada Allah dan tidak ingin mendapatkan janji Allah di akhirat, maka engkau tidak akan diberi kemuliaan di dunia di sisi Allah, padahal Allah telah menjanjikan bagi orang-orang pilihan-Nya segala kesenangan yang tidak pernah disaksikan oleh mata, tidak pernah didengar oleh telinga dan tidak pemah tergerak di hati seorangpun.
Demikian pula andaikata Allah tidak mengancam kepada seorang yang suka memenuhi syahwat nafsunya, suka berbuat dosa dan tidak dijanjikan perhitungan di hari akhirat dan siksa di akhirat, tentu mereka termasuk orang-orang terhina dan terjauhkan dari rahmat Allah.
Inilah yang perlu engkau renungi baik-baik tentang dijadikannya manusia sebagai orang-orang pilihan Allah.
PASAL KEDUAPULUH DUA :
MENCINTAI ORANG-ORANG SALEH ADALAH TANDA KEBERUNTUNGAN
Jika ahli dunia dan orang-orang yang lalai suka berkumpul dengan orang-orang baik dari para ulama, auliya’ dan orang-orang saleh serta mengagungkan mereka, tentunya kecintaan mereka terhadap orang-orang baik itu akan berdampak positif, kebahagiaan dan kesuksesan, adakalanya pula akan menyebabkan mereka menjadi orang-orang yang baik, masuk dalam taregat mereka, mengikuti jejak amal saleh mereka, mengikuti sifat-sifat baik mereka dan kejadian seperti itu cukup banyak jumlahnya.
Di antara mereka ada sekelompok orang yang lalai yang berkumpul di suatu tempat, kemudian mereka mengutus salah seorang di antara mereka untuk membeli buah- buahan dengan harga 20 dirham, agar mereka dapat merasakan buah-buahan secara bersama. Setelah salah seorang di antara mereka pergi ke pasar untuk membeli buah- buahan, maka ja akan mendapatkan banyak orang berkumpul dan berebut untuk membeli buah semangka, karena buah semangka itu telah dipegang oleh Basyar bin Al-Harits, maka semua orang ingin membelinya agar mendapat berkah dari buah semangka itu, tetapi orang yang disuruh membeli buah-buahan dengan harga 20 dirham itu segera membeli buah semangka tersebut dan ia membawanya ke tempat berkumpulnya kawan-kawannya. Ketika ia datang, kawan-kawannya bertanya: “Mengapa engkau lambat datangmu dan engkau hanya membawa satu buah semangka?” Maka jawab orang itu: “Sesungguhnya buah semangka ini adalah buah semangka yang mengagumkan.” Tanya mereka: “Mengapa buah semangka ini mengagumkan?” Jawab orang yang disuruh: “Buah semangka ini telah dipegang oleh Basyar bin AlHarits. Ja adalah seorang yang selalu mentaati Allah, sehingga Allah memberinya kemuliaan.” Maka kawan-kawannya menyadari dan berkata: “Jika yang memegang buah semangka ini seorang yang taat kepada Allah. pasti buah semangka ini akan mengandung karomah dari sisi Allah seperti buah semangka ini ketika di dunia, lalu bagaimanakah jika buah semangka ini di akhirat?” Maka orang-orang yang berkumpul tadi semuanya bertaubat dan mereka meninggalkan segala perbuatan dosa mereka.
Sesungguhnya kejadian semacam itu sering terjadi pada diri orangorang yang lalai ketika mereka berkumpul dengan orang-orang yang bertakwa meskipun mereka mengagungkan orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang saleh.
Selain itu, jika orang-orang yang bertakwa dan mentaati Allah mencintai sebagian orang-orang yang lalai dan suka bergaul serta condong kepada mereka dan menganggap baik perbuatan mereka, pasti orang-orang yang baik tadi akan mencintai kesenangan duniawi dan mereka akan berbalik dari mencintai Allah menjadi mencintai dunia dan hawa nafsu. Meskipun nilai dunia sangat rendah, tetapi banyak orang yang tetap mencintai harta dan kesenangan duniawi. Jika orangorang yang bertakwa dan mencintai Allah dapat berbalik keadaannya menjadi orang-orang yang mencintai dunia, itulah akibat mereka mencintai kesenangan duniawi, sehingga mereka dipandang rendah oleh Allah, padahal dulunya mereka selalu dimuliakan oleh Allah.
Perumpamaan dunia dan kesenangannya tidak lebih dari bangkai seekor binatang yang telah membusuk dan dibuang di tempat sampah, seperti yang disebutkan dalam salah satu sabda Nabi saw. dan dikatakan oleh para ulama saleh bahwa dunia itu bagai bangkai binatang yang busuk. Beliau saw. mengumpamakan kesenangan duniawi bagai kotoran yang keluar dari perut seorang yang baunya busuk.
Fudhail bin Iyadh berkata: “Andaikata ada seorang berkata kepadaku: “Sebaiknya engkau mau menerima harta yang halal tanpa engkau menghitungnya.” Pasti aku akan menjawabnya: “Sungguh aku merasa jijik kepada harta sebagaimana salah seorang dari kalian merasa jijik ika melewati bangkai suatu binatang yang mati atau jika pakaiannya tersentuh bangkai tersebut.”
Al-Imam Al-Yafi’i menyebutkan dalam salah satu karya tulisnya bahwa ada seorang menteri keluar dari istananya dengan diiringi para prajurit yang berpakaian indah, sehingga orang-orang yang tidak mengenalnya bertanya: “Siapakah orang ini dan mengapa ia diagungkan seperti ini?” Jawab salah seorang wanita yang kebetulan berada di tengah jalan: “Orang ini adalah orang yang terhina di mata Allah dan ia diuji dengan kesenangan yang kalian lihat pada dirinya.” Ketika menteri itu mendengar ucapan wanita itu, maka ia kembali kepada sang penguasa dan menyatakan pengunduran dirinya dari kedudukannya sebagai menteri, kemudian ia pergi ke kota
Mekkah untuk bertaubat dan ia tetap dalam keadaan taubatnya sampai ia meninggal dunia.
Bagi seorang yang mentaati Allah dan menginginkan kesenangan akhirat, jika melihat orang-orang kaya yang sibuk mengumpulkan harta, hendaknya ia menyayangkan keadaan orang-orang itu dan berdoa bagi mereka: “Semoga Allah menyelamatkan mereka dari segala murkaNya,” karena mereka telah berpaling dari Allah dan menyibukkan diri mereka untuk kepentingan dunianya. Mereka telah menukar kesenangan akhirat dengan kesenangan duniawi dan karena mereka tidak mengetahui nilai duniawi jika dibandingkan dengan nilai akhirat.
Rasulullah saw. telah memperingatkan umatnya dalam sabdanya berikut:
” Jika nilai dunia di pandangan Allah seimbang dengan satu sayap seekor nyamuk,
maka Allah tidak akan memberi minum kepada seorang kafirpun.”
Cerita-cerita seperti itu cukup banyak dan hanya Allah Yang mengetahuinya, karena semua yang ada hanyalah dengan izin Allah dan tiada Tuhan selain Allah.









One Comment