Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Fushul Al Ilmiyah Lengkap

PASAL KEDUAPULUH SEMBILAN :

LAKUKAN KEBAIKAN SEMAMPUMU DAN TINGGALKAN KEBURUKAN SEMAMPUMU

Siapapun yang tidak dapat berbuat amal kebajikan secara keseluruhan, maka ia tidak boleh meninggalkan amal kebajikan secara keseluruhan, hendaknya ia berusaha sekuat tenaga untuk melakukannya, karena satu kebaikan akan menarik pelakunya kepada kebaikan yang lain. Demikian pula sekecil apapun amal kebajikan, maka amal kebajikan itu akan mendorong untuk melakukan amal kebajikan yang lebih besar, bahkan amal kebajikan yang sedikit akan mendorongnya untuk melakukan amal kebajikan yang banyak.

Demikian pula siapapun yang tidak dapat meninggalkan seluruh perbuatan buruknya secara keseluruhan, maka hendaknya ia berusaha meninggalkan sebagian amal keburukannya dengan perbuatan yang baik, karena Nabi saw. bersabda bahwa amal- amal kebajikan akan menghilangkan dosa-dosa yang kecil, seperti yang disebutkan dalam hadits berikut:

“Jika engkau melakukan perbuatan buruk, maka tutupilah dengan perbuatan baik setelahnya, agar perbuatan buruk tidak terlihat, karena sembunyi akan ditutupi dengan yang sembunyi dan perbuatan yang terang akan ditutupi dengan perbuatan yang terang.”

Jika seorang diuji untuk berbuat keburukan atau kemaksiatan, maka ia tidak boleh menjauh dari Allah sedikitpun dan menjauh dari mengerjakan kebaikan dan ketaatan secara keseluruhan, agar perbuatan kebajikannya dapat menutupi dosa-dosanya, karena itu tidak ada jalan lain baginya kecuali harus berdamai dengan Tuhannya untuk mencapai kemaslahatan dirinya, hendaknya ia selalu ingat kepada k:sah seorang pencuri yang selalu mengganggu orang dalam perjalanannya, menumpahkan darahnya dan merampas harta kaum muslimin.

Maka ketika salah seorang saleh melihatnya sedangkan ia dalam keadaan berpuasa, maka orang saleh itu bertanya: “Wahai saudara, mengapa engkau merampas harta orang ini, padahal engkau sedang berpuasa ?” Jawab si pencuri: “Benar, aku masih menyisakan jalan untuk berdamai dan aku tidak memutus seluruh jalan antara aku dengan Tuhanku.” Orang saleh itu melanjutkan ceritanya: “Maka tidak lama setelah itu,  aku melihat  pencuri  itu  berthawaf  di  seputar  Ka’bah  dan  ia telah  bertaubat sehingga ketika aku melihatnya, maka ia berkata: “Sesungguhnya puasaku masih bisa menolongku untuk berdamai antara aku dengan Tuhanku.” Dari cerita di atas dapat disimpulkan bahwa jika seorang tidak dapat melakukan seluruh amal kebajikan, janganlah ia tidak — melakukannya meskipun sekecil apapun, hendaknya seorang hamba selalu berada dalam kebaikan dan ketaatan yang murni jika ia tidak mampu dan terhalangi oleh hawa nafsunya sehingga ia terjerumus dalam perbuatan maksiat, hendaknya ia memegang teguh perbuatan baik dan taat yang biasa ia lakukan. Dan Allah Yang Maha Menanggung lagi Maha Terpuji.

PASAL KETIGA PULUH :

DAMPAK POSITIF DARI PERGAULAN DAN PERBANDINGANNYA

Seorang yang bersahabat, bergaul dan berkawan duduk dengan orang lain, maka hal itu akan membawa pengaruh  yang besar dalam  kebaikan atau keburukan. Jika seorang senantiasa bersahabat baik dengan orang-orang saleh atau dengan orang- orang fasik dan orangorang yang buruk perangainya, maka ia akan terpengaruh dengan perilaku mereka, meskipun tidak sekaligus, tetapi lama kelamaan hatinya terpanggil untuk meniru perbuatan kawannya itu.

Nabi saw. bersabda:

“Seorang akan terpengaruh dengan kawan duduknya.” Di lain kesempatan Nabi saw. juga bersabda:

“Seorang akan terpengaruh dengan agama kawan dekatnya, karena itu perhatikan siapa yang dijadikan kawan dekat.”

Nabi saw. juga bersabda:

“Perumpamaan seorang yang selalu berkumpul dengan seorang yang berjual minyak wangi, maka ia akan diberi minyak wangi atau ia akan dapat membeli minyak harumnya, paling sedikitnya ia akan mencium bau harumnya. Demikian pula siapapun yang bergaul erat dengan orang yang buruk, maka ig akan berlaku seperti peniup besi di dalam api, ia bisa membakar pakaianmu atau paling tidak engkau akan mencium bau yang tidak sedap darinya.”

Siapapun yang ingin mengetahui siapakah kawan dekatnya, maka hendaknya ia melihat tebal atau tipis keimanannya, agamanya dan kebajikannya sebelum duduk sebagai kawan dekatnya. Demikianlah cara memeriksa keimanan seorang. Jika ia melihatnya bertambah teguh keimanan dan. perilakunya, maka ia dapat mengetahui bahwa persahabatan ini bermanfaat bagi agama dan hatinya dan jika persahabatan ini terus berlangsung, maka akan membawa banyak manfaat. Tetapi jika ia melihatnya

semakin berkurang keimanan dan perilakunya, maka ia harus sadar bahwa persahabatan ini membawa dampak negatif bagi agama dan hatinya dan jika persahabatan ini terus berlangsung, maka akan membawa bahaya dan keburukan yang lebih besar.

Dengan pertimbangan semacam itu, maka seorang harus menimbang keadaannya di dalam pergaulannya dengan seorang, kemudian ia mengetahui bahwa pada umumnya kawan dekat akan membawa pengaruh yang baik atau yang buruk. Maksudnya, jika kebaikannya lebih banyak dari keburukannya, maka diharap kebaikannya akan berpengaruh pada diri orang itu agar ia menjadi orang baik. Tetapi jika keburukannya lebih banyak, maka dikhawatirkan akan berpengaruh buruk seperti kawan dekatnya.

Itulah pengertian yang jelas dari orang-orang yang pandai bergaul dalam menilai pergaulan yang baik atau yang buruk.

Nabi saw. bersabda:

“Kawan duduk yang baik lebih baik dari duduk seorang diri, sedangkan duduk seorang diri lebih baik dari duduk dengan kawan yang buruk.”

Nabi saw. diberi karunia oleh Allah untuk berkata sedikit tetapi pengertiannya lebih dalam yang tidak pernah diberikan kepada kaum salaf saleh yang terdahulu maupun yang terkemudian selain beliau saw.

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker