PASAL KETIGAPULUH EMPAT :
BAHAYANYA WAS-WAS SAAT BERIBADAH DAN KEWAJIBAN MENJAGA DIRI DARINYA
Ada tiga macam yang paling berbahaya yang menggangu orang dalam shalatnya, dalam membaca Al-Qur’an dan dalam dzikirnya yaitu perasaan was-was yang ada di dalam hati, banyak berpikir dan teringatnya kepada nafsu yang indah-indah yang telah lewat. Jika hati seorang telah sibuk oleh perasaan itu, maka seluruh ibadahnya akan punah dan tidak berarti apapun bagi dirinya, mungkin ibadahnya hanya terlihat secara lahiriyah saja, sehingga keadaannya seperti seorang yang tidak melakukan ibadah sama sekali atau bahkan keadaannya lebih buruk dari yang ia lakukan. Jika dalam hati seorang terlintas amal ibadah yang tidak ada kaitannya dengan ibadah yang sedang ia lakukan berarti masalah itu adalah tipu daya dari setan agar ia berpaling dari ibadah yang sedang ia kerjakan. Apalagi jika seorang sedang memikirkan halhal maksiat dalam ibadahnya, maka hal itu lebih buruk dan Allah murka kepadanya. Pokoknya seorang harus menghalangi pemikiran apapun yang mengganggu ibadah yang sedang ia lakukan.
Hendaknya setiap orang mewaspadai hal itu sebaik-baiknya, karena dirinya tidak pernah kosong dari was-was yang tidak membawa kebaikan bagi dirinya, sedangkan ia berdiri di hadapan Allah untuk bermunajat dan shalat karena Allah, apalagi jika ia membaca firman Allah berikut:
“Dan barangsiapa yang berjihad, maka sesungguhnya jihadnya itu adalah untuk dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kaya (tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.” (QS. Al-Ankabuut: 6)
Allah juga berfirman:
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkap kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar. Dan jika syetan mengganggumu dengan suatu gangguan, maka mohonlah perlindungan kepada Allah. Sesungguhnya Dia. lah yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (Os, Fushshilat: 35-36)
PASAL KETIGAPULUH LIMA :
ISTIOAMAH MERUPAKAN SIFAT YANG MENGUMPULKAN ILMU-ILMU YANG BERMANFAAT
Istiqamah dalam perjalanan yang lurus yang dapat menyampaikan dirinya kepada Allah tanpa menyimpang sedikitpun, karena masalah ini adalah masalah yang sangat berat untuk melakukannya, kecuali bagi para nabi yang maksum dan para wali yang benar-benar menjaga agamanya karena Allah, seperti yang disebutkan dalam firman- Nya berikut:
“Maka tetaplah kamu pada jalan yang benar, sebagaimana diperintahkan kepadamu dan (juga) orang yang telah taubat beserta kamu dan janganlah kamu melampaui batas. Sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan. Dan janganlah kamu cenderung kepada orang-orang yang zalim yang menyebabkan kamu disentuh api neraka, dan sekali-kali kamu tiada mempunyai seorang penolongpun selain daripada Allah, kemudian kamu tidak akan diberi pertolongan. Dan dirikanlah sembahyang itu pada kedua tepi siang (pagi dan petang) dan pada bahagian permulaan daripada malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan yang baik itu menghapuskan (dosa) perbuatan-perbuatan yang buruk. Itulah peringatan bagi orang- orang yang ingat. Dan bersabarlah, karena sesungguhnya Allah tiada menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat kebaikan.” (QS. Huud: 112. 115)
Allah juga berfirman:
“Dan tetaplah sebagai mana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: “Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintahkan supaya berlaku adil diantara kamu. Allah-lah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal-amal kami dan bagi kamu amal-amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu, Allah mengumpulkan antara kita dan kepada-Nyalah kembali (kita).” (QS. Asy-Syuura: 15)
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami jalah Allah,” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka
dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlah merasa sedih: dan gembirakanlah mereka dengan jannah yang telah dijanjikan Allah kepadamu.” Kamilah pelindung-pelindungmu dalam kehidupan dunia dan akhirat: di dalamnya kamu memperoleh apa yang kamu inginkan dan memperoleh (pula) di dalamnya apa yang kamu minta. Sebagai hidangan (bagimu) dari Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. Fushshilat: 30-32)
Allah juga berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita. Mereka itulah penghuni-penghuni surga, mereka kekal di dalamnya, sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (QS. Al-Ahgaaf:
13-14)
Rasulullah saw. bersabda:
“Hendaknya kalian selalu istiqamah dalam ibadah kalian dan jangan pernah menghitung ibadah kalian sedikitpun, tetapi luruskan dan perbaikilah sebaik-baiknya. Ketahuilah bahwa tidak seorangpun dapat selamat dari siksa Allah dengan amal kebajikannya.” Tanya para sahabat: “Apakah engkau juga ya Rasulullah?” Sabda beliau saw.: “Aku juga demikian, kecuali jika Allah memberiku rahmat dan keutamaan dari-Nya.”
Sufyan bin Abdillah ra. berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah, katakan kepadaku sebuah ucapan di dalam Islam dan aku tidak akan bertanya lagi kepada orang selainmu.” Sabda beliau saw.:
“Katakan: “Aku beriman kepada Allah,” kemudian tepatilah perintah-perintah-Nya.” Umar ra. berkata:
“Lakukanlah perintah-perintah Allah dengan tekun dan baik dan jangan menyimpang sedikitpun.”
Kalimat istiqamah adalah sebuah kalimat yang mengandung berbagai ilmu yang bermanfaat, akhlak yang mulia dan amal-amal yang saleh yang selalu dikerjakan dengan baik tanpa ragu, tanpa malas dan tanpa menyimpang dari perintah sedikitpun.
Seorang salaf saleh berkata kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulullah, sesungguhnya engkau pernah berkata ketika dikatakan kepadamu bahwa rambutmu telah beruban: “Sesungguhnya yang menyebabkan rambutku beruban adalah firman Allah yang terdapat di dalam surat Hud dan firman Allah yang lain.” Ayat apakah yang menyebabkan engkau beruban, ya Rasulullah?” Sabda beliau saw.: “Yang menyebabkan aku beruban adalah firman Allah yang artinya: “Istiqamahlah engkau seperti yang diperintah.”
Tentang adanya sejumlah hadits yang menyebutkan rambut beliau saw. beruban, karena surat Huud dan saudara-saudaranya. Karena di dalam surat Huud ada cerita dibinasakannya sejumlah umat terdahulu dan firman Allah:
“Ingatlah kebinasaanlah bagi kaum ‘Ad.” (QS. Huud: 60) “Ingatlah, kebinasaanlah bagi kaum Tsamud.” (QS. Huud: 68) “Ingatlah, kebinasaanlah bagi penduduk Mad-yan.” (QS. Huud: 95)
Jawaban Rasulullah saw. itu tidak bertentangan sedikitpun dengan orang yang melihat rambut putih yang ada di kepala Rasulullah saw., bahkan riwayat yang lain menyebutkan bahwa rambut beliau saw. semuanya berwarna putih.









One Comment