PASAL KEDUAPULUH EMPAT :
KEBAIKAN DI BALIK SIKAP LEMAH LEMBUT DAN SIKAP KASAR
Perlu diketahui bahwa bersikap lemah lembut dalam setiap haj sangat dianjurkan dan dicintai menurut syariat dan akal, karena akan membawa kebaikan dimana tidak dapat terwujud jika diterapkan dengan cara yang kasar. Lemah lembut merupakan sifat para hamba Allah pilihan yang bijaksana dan penyayang.
Allah berfirman:
“Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.” (QS. Ali Imran: 159)
“Jadilah engkau pema’af dan suruhlah orang mengerjakan yang ma’ruf, serta berpalinglah dari pada orang-orang yang bodoh.” (QS. Al-A’raaf: 199)
“Dan hamba-hamba Tuhan yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.” (QS. Al- Furgaan: 63)
Nabi saw. bersabda:
“Sesungguhnya Allah Maha Lembut mencintai kelembutan dalam setiap hal.” Nabi saw. juga bersabda:
“Tidaklah kelembutan terdapat pada sesuatu, kecuali menambah keindahannya dan tidaklah kelembutan tidak terdapat pada sesuatu, kecuali tampak keburukannya.”
Sabda Nabi saw. di atas mengisyaratkan bahwa segala sesuatu harus dilakukan dengan lemah lembut, kasih sayang dan kesopanan. Sebuah hadits menyatakan bahwa Nabi saw.:
“Tidaklah Nabi saw. diberi pilihan dalam dua perkara, kecuali beliau saw. akan memilih yang paling ringan dari keduanya, tetapi Jika pilihan itu suatu keburukan maka beliau saw. adalah orang yang paling menjauhi keburukan.”
Diperlukan kelembutan secara khusus, terutama yang berhubungan dengan kepentingan orang banyak yaitu orang-orang mulia, seperti para wali dan orang-orang yang mempunyai kedudukan di dunia dan dalam agamanya. Karena itu, mereka harus bersikap lemah lembut agar dapat menyatukan pendapat di antara mereka dan dapat menambah jumlah pengikuti. Siapapun yang tidak mempunyai sifat lemah lembut terhadap para pengikutnya dan bersikap keras, maka setiap kesepakatan akan terpecah belah. Demikian pula jika ada ketidak cocokan di antara para pengikutnya, maka akan timbul perpecahan secara lahir bukan secara batin, sehingga selalu diiringi kebencian dan kemarahan rakyat.
Perlu diketahui bahwa sikap lemah lembut adalah kebaikan yang murni. Seorang yang berakal tidak boleh melakukan sesuatu, kecuali dengan sikap lemah lembut, terutama segala sesuatu yang berhubungan dengan manusia, baik orang yang khusus, anak, pembantu atau orang umum yang selain mereka. Seseorang tidak boleh mengubah sikap lemah lembut ini, sedangkan ia dapat memperoleh keinginannya melalui sikap ini meskipun dalam waktu yang lama.
Jika sikap lemah lembut tidak dapat digunakan untuk menghadapi sebagian orang yang selalu bersikap sewenang-wenang, maka ia harus bersikap keras dengan maksud memperbaiki dan meluruskan perilaku mereka, seperti yang dikatakan oleh seorang Anifbillah: “Sesungguhnya sebagian orang tidak mempunyai akal yang sempurna. Jika engkau tidak dapat menundukkannya, maka mereka akan menundukkanmu.”
Al-Mutanabbi berkata dalam bait syairnya:
“Jika engkau memuliakan orang mulia, maka engkau dapat menundukkannya. Tetapi jika engkau dapat memuliakan orang yang hina, maka ia akan berlaku sewenang- wenang terhadapmu. Ibarat seorang meletakkan embun di atas pedang, tentunya hal itu akan berbahaya, seperti meletakkan pedang di tempat embun.”
Tetapi masalah ini sangat jarang terjadi, apalagi terhadap orangorang awam. Mereka tidak mempunyai kebaikan sedikitpun, karena otak mereka lemah, kebodohan dan kebengalan menguasai diri mereka. Perbuatan kasar tidak boleh dilakukan, kecuali terhadap orang-orang yang bersifat kasar dengan maksud memperbaiki perilaku mereka dan menahan kejahatan mereka. Maka dengan alasan inilah sebagian ulama besar bersikap keras pada saat tertentu terhadap sebagian orang.
Sikap lemah lembut adalah asal mula segala sesuatu dan sikap itu yang dikehendaki oleh semua orang, kecuali jika sikap itu dapat memperburuk keadaan dan menambah kerusakan, maka tidak ada jalan lain yang dapat menghapusnya kecuali dengan kekerasan dan hal itu boleh ia lakukan.
Rasulullah saw. selalu bersikap lemah lembut dalam perilakunya sehari-hari, seperti terhadap seorang lelaki yang kencing di dalam masjid dan terhadap seorang yang telah diberi sesuatu oleh beliau saw. tetapi orang itu tidak terima dan berkata buruk, sehingga para sahabat beliau saw. ingin menghajarnya, tetapi beliau saw. menegur mereka dan beliau saw. menambahkan hadiah kepada orang itu sehingga ia puas dan bertutur kata yang baik.
Disebutkan bahwa ada seorang pemuda yang minta izin kepada Rasulullah saw. untuk berbuat zina, maka beliau saw. bertanya: “Apakah engkau rela jika ada lelaki lain berbuat zina dengan putrimu?” Jawab pemuda itu: “Tidak.” Tanya Nabi saw.: “Begitu juga dengan orang lain, mereka tidak rela hal ini menimpa putri mereka.” Dalam percakapan itu beliau saw. berhasil menenangkan keinginan jahat pemuda itu, karena beliau saw. tahu bahwa tidak ada perbuatan yang lebih buruk dari perbuatan zina.
Adapun berita-berita semacam itu banyak dilakukan oleh Rasulullah saw., seperti yang dilakukan oleh para pemimpin agama, ulama, orang-orang saleh setelah beliau
saw. tiada. Karena itu, hendaknya engkau bersikap lemah lembut dalam segala tindaktandukmu, karena hal itu akan membawa keberkahan tersendiri dan akan menimbulkan kebaikan tersendiri, seperti yang disebutkan dalam firman Allah berikut:
“Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar dan tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang mempunyai keuntungan yang besar,” (QS. Fushshilat: 35)









One Comment