PASAL KETUJUHBELAS :
MAKSUD UNGKAPAN: “HENDAKNYA SEORANG HAMBA RELA DENGAN KETENTUAN ALLAH BAGINYA.”
Perlu diketahui bahwa kebanyakan orang-orang ahli tashawuf berpendapat bahwa setiap orang rela dengan apa saja yang ditetapkan oleh Allah bagi dirinya dan hendaknya ia tidak dikeluarkan dari ujian yang sesuai dengan hawa nafsunya dan ingin bebas dari segala kesulitan yang dihadapinya. Karena pilihan Allah bagi hamba- Nya lebih baik dari pilihan seorang hamba bagi dirinya sendiri dan rencana Allah bagi seorang hamba-Nya lebih indah dan lebih sempurna dari rencana seorang hamba untuk dirinya sendiri, karena Allah Maha Mengetahui dan Maha Bijaksana, Maha Lemah Lembut dan Maha Kasih Sayang. Akan tetapi sebagian orang yang lalai mengira bahwa segala kesulitan yang dihadapi olehnya sangat bertentangan dengan kehendak hawa nafsunya, padahal semua orang telah terikat dengan kebijaksanaan Allah tertentu, sehingga ada seorang yang mengeluh, protes dan menuduh Allah dengan tuduhan yang tidak baik. Bahkan ada sebagian penguasa yang melampiaskan kemarahannya kepada rakyatnya. Demikian pula orang-orang kaya yang melampiaskan kemarahannya kepada orang-orang miskin, sehingga mereka menghambur-hamburkan kekayaannya tidak pada tempatnya.
Tentunya perbuatan semacam itu adalah perbuatan yang sangat salah dan telah menyimpang dari jalan lurus, padahal semua ketetapan Allah yang diberlakukan bagi hamba-Nya menunjukkan bahwa Allah mencintainya dan meridhainya. Itu adalah syarat yang pertama.
Sedangkan yang kedua, seorang hamba harus tetap mentaati Allah dan berusaha menempuh jalan menuju keridhaan Allah walaupun kesulitan tetap menghadangnya.
Yang ketiga, hendaknya ia selalu berharap untuk mencapai kedudukan tertinggi di sisi Allah yang semuanya harus ditempuh dengan berbagai kesulitan. Manusia tidak dapat mencapai kedudukan tertinggi itu, kecuali dengan perjuangan yang sangat besar. Karena itu, Allah menjadikan cobaan baginya agar ia dapat mencapai kedudukan tertinggi di sisi Allah dengan tekad yang kuat dan dengan menekan hawa nafsunya.
Saudaraku, hendaknya kalian memperhatikan nasihatku di atas, karena nasihat ini sangat penting dalam kehidupanmu.
PASAL KEDELAPANBELAS :
SEHARUSNYA SEORANG MELAKUKAN AMAL KEBAJIKAN SEMAMPUNYA
Setiap mukmin diharuskan mempunyai harapan yang paling besar untuk mencapai ridha Allah, mendekatkan dirinya kepada Allah sedekatdekatnya, mendapat kemuliaan di sisi-Nya dan senantiasa berada di sisi Allah, sehingga setiap keutamaan atau ketaatan yang mendekatkan dirinya kepada Allah akan dijalaninya dengan sungguh-sungguh.
Di samping itu ada berbagai perbuatan kebajikan yang tidak dapat dikerjakan oleh orang lain, seperti shalat sunnah, berpuasa sunnah, membaca Al-Qur’an, berdzikir kepada Allah dan lain sebagainya. Adapula sebagian amal kebajikan yang tidak dapat dikerjakan, kecuali beberapa orang saja, tetapi ia tidak terhalang untuk melakukannya meskipun hanya sebagian saja dari perbuatan kebajikan yang ia lakukan, sehingga ia tidak dapat mengumpulkan antara apa yang dapat ia lakukan dengan apa yang tidak dapat ia lakukan.
Setiap kali engkau mendengar ada sejumlah amal kebajikan yang tidak dapat engkau lakukan atau engkau dapat melakukannya tetapi tidak sesempurna seperti yang diinginkan, maka hendaknya engkau berniat untuk melakukannya dengan baik dengan niatmu yang baik itu. karena Allah akan memberimu pahala, seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw. berikut:
“Niat seorang mukmin untuk berbuat kebaikan, maka nid! itu lebih baik daripada ia melakukannya.”
Bahkan dengan niatnya yang baik itu ia dapat mencapai kedudukan tertinggi yang tidak dapat ia capai dengan perbuatannya.
Misalnya, engkau mendengar keutamaan orang-orang yang berjihad di jalan Allah, sedangkan engkau tidak dapat melakukannya atau engkau mendengar keutamaan orang-orang yang bersedekah dan orang-orang yang memberi makan kepada orang lain, tetapi engkau tidak dapat melaksanakannya karena engkau bukan orang kaya atau engkau mendengar seorang yang menegakkan keadilan, menyuruh kebaikan
dan melarang dari kemungkaran, sedangkan engkau tidak dapat melakukannya karena engkau tidak mempunyai kekuatan apapun untuk melakukannya, tetapi jika engkau berniat ingin melakukan semua kebaikan itu, pasti engkau akan mendapat pahala seperti orang-orang yang telah melakukannya.
Hendaknya engkau senantiasa menolong orang-orang yang suka mengerjakan perbuatan baik semampumu meskipun engkau hanya berdoa bagi mereka atau mencintai mereka, karena mereka telah berbuat kebaikan sebanyak-banyaknya, hendaknya engkau mendoakan mereka dan menganjurkan orang lain untuk membantu mereka, karena seorang yang menganjurkan orang lain untuk berbuat baik, maka ia akan diberi pahala seperti orang-orang yang melakukannya, seperti yang disebutkan dalam sabda Nabi saw. berikut:
“Seorang yang menunjukkan kebaikan bagi orang lain, maka ia akan diberi pahala seperti pelakunya.”
Selain itu, beliau saw. juga bersabda:
“Barangsiapa yang menganjurkan orang lain untuk berbuat kebaikan, maka ia diberi pahala seperti orang-orang yang melakukannya tanpa menQur’angi sedikitpun dari pahala pelakunya.”
Selanjutnya, perlu diketahui bahwa tidak seorangpun yang mampu mengerjakan seluruh cabang amal-amal saleh, tetapi ia mencari amal saleh yang lebih utama, lebih sempurna dan yang mudah dikerjakan, sehingga ia dengan niatnya yang baik akan diberi pahala seperti orangorang yang melakukannya.
Selain itu, ada berbagai amal kebajikan yang tidak tergerak di hatimu untuk melakukannya, seperti mencari ilmu yang bermanfaat atau memperbanyak amal-amal sunnah, seperti shalat, puasa dan lain sebagainya. Dengan adanya berbagai macam amalan saleh seperti itu, hendaknya engkau berusaha sekuat tenagamu untuk melakukannya semampumu. Tetapi karena engkau tidak dapat melakukannya, maka niatmu yang baik itulah yang akan diberi pahala oleh Allah, seperti seorang yang melakukan berbagai amal kebajikan.
Nabi saw. pernah bersabda:
“Jangan seorangpun di antaramu ada yang meminta diberi kedudukan. Tetapi jika kedudukan itu diberikan untukmu tanpa memintanya, maka engkau akan ditolong untuk melaksanakannya dengan baik.”
Disebutkan pula bahwa Tsa’labah pernah minta didoakan menjadi orang kaya dari Rasulullah saw., karena ja berniat untuk menafkahkan harta kekayaannya kepada orang lain, tetapi setelah ia diberi kekayaan, ternyata ia tidak menepati janjinya sampai Allah menurunkan firmanNya berikut:
“Dan diantara mereka ada orang yang telah berikrar kepada Allah: “Sesungguhnya jika Allah memberikan sebahagian karuniaNya kepada kami, pastilah kami akan bersedekah.” (QS. AtTaubah: 75)
Jadi, setiap amal kebajikan yang akan engkau lakukan, maka hendaknya engkau berusaha melakukannya dengan baik, termasuk juga jika engkau mendengar adanya pahala yang besar yang diberikan bagi orang yang terkena musibah ataupun terkena suatu penyakit, kemudian ia bersabar, maka hendaknya engkau mempunyai niat mendapatkan cobaan seperti itu agar engkau mendapat karunia dari Allah, tetapi adakalanya engkau diuji dengan suatu kesulitan tetapi engkau tidak dapat bersabar, padahal Rasulullah saw. menyuruhmu agar selalu minta diberi keselamatan dari segala cobaan dan engkau cukup mempunyai niat saja yang ikhlas agar engkau diselamatkan dari berbagai cobaan, maka dari itu engkau diselamatkan dari cobaan dan niatmu yang ingin mengerjakan yang terbaik akan diberi pahala.
Kalian telah mengetahui keterangan yang kami terangkan di atas, karena itu setiap orang hendaknya melakukan berbagai amal kebajikan semampunya dan hendaknya ia memilih amal kebajikan yang paling mudah dan pahalanya paling besar, karena tidak seorangpun yang dapat melakukan seluruh amal kebajikan dengan baik.
Sebagai kesimpulannya, setiap mukmin harus mempunyai niat untuk melakukan segala macam amal kebajikan baik yang mudah maupun yang sulit, tetapi jika ia tidak
dapat melakukannya, maka hendaknya ia mempunyai niat untuk melakukannya agar ia diberi pahala seperti orang-orang yang telah melakukannya.









One Comment