Kitab Tasauf

Terjemah Kitab Fushul Al Ilmiyah Lengkap

PASAL KEEMPAT PULUH :

KEHIDUPAN ZUHUD KALANGAN KHULAFAUR RASYIDIN DAN SALAF SALEH

Diriwayatkan bahwa jika Abu Bakar ra. bernafas, maka akan tercium bau hati yang terbakar. Ada yang mengatakan bahwa itu terjadi karena betapa besar rasa takutnya kepada Allah, ada juga yang mengatakan karena menahan rasa sedih setelah Rasulullah saw. wafat, ada juga yang mengatakan karena bekas racun ular yang menggigitnya ketika ia meletakkan kakinya di sebuah lubang untuk menjaga Rasulullah saw. di dalam gua Tsaur dan ada juga yang mengatakan karena ja makan makanan yang mengandung racun. Ada seorang lelaki yang bernama Harits yang mempunyai pengetahuan tentang ilmu kedokteran, ketika ia merasakan racun yang ada  dalam makanan itu, maka  ia  berkata  kepada  Abu  Bakar ra.:  “Makanan  ini mengandung racun, dalam waktu setahun kita akan mati karenanya.” Dan keduanya meninggal dunia pada hari yang sama. Ketika Abu Bakar ra. sakit, maka para sahabat berkata: “Maukah kami panggilkan seorang tabib untukmu?” Jawabnya: ” Tabib itu sudah melihatku dan berkata: “Sesungguhnya aku boleh melakukan apa yang aku kehendaki.” Dalam riwayat lain ia berkata: “Tabib itu yang memberiku sakit.” Maksudnya tabib itu adalah Allah. Ketika sakitnya bertambah parah, maka ia menyerahkan kekhalifahannya kepada Umar bin Khathab ra.

Adapun ketika di masa kekhalifahan Umar ra., ia hanya makan gandum dan tidak malu menambal pakaiannya sendiri. Ketika ia menjalankan shalat malam, ia membaca satu ayat Al-Qur’an sampai ia merasa ketakutan hingga pingsan dan sakit, karena itu ia tidak dapat keluar rumah.

Adapun Utsman bin Affan ra., ia selalu menyajikan hidangan yang biasa dimakan oleh para penguasa bagi para tamunya, sedangkan ia sendiri hanya makan roti dengan minyak. Ketika para pemberontak mengepung ke dalam rumahnya, mereka masuk dan membunuhnya. Pada saat itu ia berkata: “Ya Allah, persatukanlah umat Muhammad.” Ketika itu ia sedang memangku Al-Qur’an, sehingga darahnya menetes pada ayat berikut:

“Maka Allah akan memelihara kamu dari mereka. Dan Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. AlBaqarah: 137)

Abdullah bin Salam berkata: “Andaikata ia tidak berdoa agar Allah menyatukan umat ini, maka umat ini tidak akan bersatu setelah kematiannya.”

Adapun Ali bin Abi Thalib ra., sifat-sifatnya telah disebutkan dalam cerita temannya yang bernama Dhirar ketika ia ditanyai oleh Muawiyah. Pada masa pemerintahannya, ia hanya memakan gandum dan memendekkan lengan gamisnya hingga di pergelangan tangannya, sehingga ia pernah ditegur karena tata cara hidup dan berpakaiannya yang kasar. Setelah mendengar teQur’an itu, maka ia berkata: “Aku melakukan ini agar orang muslim akan meniruku dan orang kafir tidak merendahkan kefakirannya.”

Itulah pola kehidupan orang-orang terdahulu dari kaum Muhajirin dan Anshar. Mereka lebih memilih hidup sederhana dan merasa cukup dengan kebutuhan hidup yang sewajarnya saja dari banyaknya kemewahan duniawi, seperti Ammar, Abu Ubaidah Ibnul Jarrah, Mu’adz bin Jabal, Abu Dzar, Hudzaifah, Khabbab Ibnul Arrat dan Itban bin Malik.

Demikian pula dengan para imam tabi’in, seperti Al-Imam Ali bin Husain Zainal Abidin, putranya Al-Bagir, putranya Ja’far, Sa’id bin Musayyab, Umar bin Abdul Aziz, Uwais Al-Qarni, Haram bin Hayyan,

Hasan Al-Bashri, Abu Hazim Al-Madani dan Atha’ bin Saib. Demikian pula dengan para tabiut tabi’in, seperti keempat Imam Madzhab, Fudhail bin Iyadh, Ibrahim bin Adham, Ibrahim At-Taimi, Malik bin Dinar dan para imam yang setara dengan mereka, terutama generasi tiga abad yang telah disebutkan oleh Rasulullah saw. berikut:

“Sebaik-baik abad adalah abadku, kemudian generasi sesudah mereka.” Nabi saw. juga bersabda:

“Setiap abad generasi umatku pasti ada orang-orang yang senantiasa yang berlomba- lomba dalam amal kebajikan.”

Seperti itulah mereka diperintah. Akan tetapi kebanyakan orang merubah kebiasaan hidup zuhud, mereka bersembunyi di balik berbagai masa, mereka tidak perhatian terhadap sabda Nabi saw. berikut:

“Tidak akan binasa suatu umat jika aku yang pertama dan Isa putra Maryam yang terakhir.”

Kami telah menerangkan sekilas tentang biografi kaum salaf saleh di akhir kitab Ad- Da’watut Tammah dan kami juga menyebutkan tentang mereka dalam kasidah berikut:

“Wahai orang yang menanyaku tentang tetesan air mataku dan teriakan yang membuat persendianku goyang.”

Kasidah tersebut telah diterangkan oleh Sayyid Al-Alim Ak Allamah Ash-Shufi yaitu Al-Habib Ahmad bin Zein Al-Habsyi Alawi dengan keterangan yang jelas. Kemudian beliau pernah menyebutkan sebagian dari tata cara hidup mereka di dalam kasidah yang kami terangkan dalam kitab kami ini. Kami hanya menerangkannya sedikit saja, tetapi kehidupan mereka yang panjang menerangkan tentang keadaan mereka. Semuanya telah dipraktekkan oleh kaum salaf saleh dan telah diceritakan dalam kitab Majma’ul Ahbab, kitab Outhul Oulubi oleh Imam Abu Thalib dan kitab Ihya’ karya tulis Hujjatul Islam Imam Ghazali. Selain itu, keadaan orang-orang baik itu juga diceritakan dalam berbagai kitab kaum salaf saleh, para sahabat dan tabi’in serta tabiut tabi’in yang mengikuti perjalanan baik kaum salaf saleh yang lebih mengutamakan akhirat daripada dunia. Mereka selalu merasa puas dengan dunia yang sedikit yang mereka miliki. Mereka tidak pernah tertipu dengan keindahan dunia, bahkan mereka tidak ingin bersenang-senang sedikitpun dengan keindahan dunia meskipun mereka dapat melakukannya dengan cara yang halal.

Seorang penyair berkata:

“Sesungguhnya Allah memiliki sejumlah orang yang pandai. Mereka meninggalkan kehidupan dunia karena takut terjadi fitnah. Mereka melihat kehidupan ini bukanlah tempat  untuk  bersenangsenang  bagi  orang  yang  hidup.  Karena  itu,  mereka

menjadikan kehidupan ini sebagai alat untuk mencapai kebahagiaan di dunia dengan memperbanyak amal-amal saleh sebagai perahunya.”

Abul Atahiyah berkata:

“Wahai para pecinta harta, tinggalkanlah harta bagi orang-orang yang membutuhkannya. Apa yang akan engkau perbuat dengan harta jika kehidupan sedikit telah dapat mencukupi hidupmu?”

Basyar bin Al-Harits berkata:

“Aku bersumpah dengan nama Allah yang dapat menumbuhkan segala biji-bijian, dapat menurunkan air ke dalam biji-bijian, sehingga manusia sangat mengharapkan untuk mendapatkannya dan mereka pun berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Menurutku cukup baginya seorang mempunyai kekayaan secukupnya tetapi ia bergembira dengan perdagangan yang menguntungkan. Putus asa itu merupakan kemuliaan. Ketakwaan itu merupakan jalan lurus. Sedangkan mengikuti hawa nafsu akan mendatangkan keburukan. Siapapun yang menjadikan dunia sebagai kesenangannya, pasti pada suatu hari ia akan menyesal.”

Laman sebelumnya 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30Laman berikutnya
Show More

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Back to top button

Adblock Detected

Please consider supporting us by disabling your ad blocker