PASAL KESEBELAS :
MEMPERBAIKI AMALAN LEBIH UTAMA DARIPADA AMAL ITU SENDIRI
Berbuat kebajikan dalam segala perbuatan baik termasuk suatu yang penting di kalangan orang-orang yang mengerti dengan benar tentang Allah. Orang semacam itu selalu mendirikan shalat dengan baik, selalu melakukan ibadah puasa dengan baik, selalu membaca Al-Qur’an dengan baik dan selalu berdzikir kepada Allah dengan baik. Meskipun demikian, ia senantiasa bertata krama, mengagungkan Allah, memfokuskan perhatiannya kepada Allah semata, karena ia selalu berkeyakinan bahwa Allah yang menakdirkan dirinya untuk berbuat baik, seperti yang disebutkan dalam sebuah hadits Nabi saw. berikut:
“Ada sejumlah orang yang senantiasa beribadah di malam hari, tetapi ibadahnya itu tidak menjadikannya sebagai orang yang suka beribadah, kecuali sebagai seorang yang begadang dan sulit. Ada pula sejumlah orang yang senantiasa berpuasa di siang hari, tetapi puasanya itu tidak menjadikannya seperti seorang yang berpuasa, kecuali rasa lapar dan dahaga.”
Semua itu dikembalikan kepada kebaikan yang biasa dilakukan seorang yang suka berbuat dosa, seperti yang biasa dilakukan oleh orang yang suka berbuat riya’, ia tidak pandai membaca bacaan dalam shalatnya, dalam ruku’nya, dalam sujudnya dan ia tidak menegakkan kewajibannya dengan baik, sehingga ia termasuk seorang yang beribadah dengan sia-sia, meletihkan dirinya dan mendatangkan dosa karenanya. Karena itu, jika engkau berbuat kebajikan, maka usahakanlah sebaik mungkin dan tujukan semua perbuatan kebaikanmu hanya kepada Allah semata.
Segala perbuatan baik hendaknya engkau tujukan lahir batinnya kepada Allah semata, lakukanlah dengan ikhlas dan fokus kepada Allah, bertata kramalah kepadanya, sehingga amal kebajikanmu meskipun sedikit, tetapi jika engkau melakukannya dengan baik, maka hal itu dinilai Allah lebih utama daripada seorang yang berbuat banyak ibadah tetapi tidak melakukannya dengan sempurna, tidak menegakkannya karena Allah semata, ia bagai seorang yang hanya disuruh ruku’ dan sujud saja. Karena itu, lakukanlah segala amal kebajikan karena Allah semata, seperti yang disebutkan dalam salah satu sabda Nabi saw. berikut:
“Sesungguhnya Allah senantiasa bersikap baik kepada segala sesuatu, karena itu jika engkau membunuh maka bunuhlah ia dengan baik dan jika engkau menyembelih binatang kurban maka sembelihlah ia dengan baik pula.”
Selanjutnya, perhatikanlah sabda Nabi saw. berikut:
“Sesungguhnya Allah mencatat segala perbuatan baik bagi segala sesuatu yang dilakukan oleh seorang hamba.”
Engkau sudah mengenal apa arti ihsan secara umum dalam segala sesuatu yang biasa engkau lakukan dengan baik, sehingga jika engkau melakukannya kurang sempurna maka hatimu akan kecewa, karena engkau tidak melakukannya dengan baik.
PASAL KEDUABELAS :
MELAKUKAN DAN MENINGGALKAN SESUATU DENGAN BAIK
Setiap orang diwajibkan berbuat kebajikan ketika ia melakukan kebaikan karena Allah. Demikian pula jika seorang meninggalkan perbuatan dosa, maka hendaknya ia melakukannya dengan perasaan baik.
Adapun arti ihsan adalah melakukan segala perbuatan baik hanya karena Allah semata, karena mengagungkan Allah, karena malu kepada Allah, karena takut terhadap siksa Allah. Ia tidak akan berbuat kebajikan karena takut kepada manusia atau karena riya’ kepada manusia dan tidak merasa takut kepada siapapun jika ia meninggalkannya. Demikian pula jika engkau melakukan suatu amal kebajikan secara lahiriyah, maka hendaknya tidak membicarakannya kepada orang lain, tidak merasa ghurur atas kebajikanmu, bahkan hendaknya engkau selalu merasa takut jika kebajikanmu tidak diterima oleh Allah.
Di antara perbuatan ihsan adalah ketika meninggalkan suatu amalan kebajikan, hendaknya engkau terdorong meninggalkannya karena takut terjadi pelanggaran dalam pekerjaanmu ketika melakukan perbuatan baik, hendaknya engkau merasa takut dapat dukungan dari orang-orang yang suka berbuat buruk dan ketahuilah perasaan semacam itu sukar untuk melakukannya.









One Comment